
Tanpa fikir panjang, Taqwim langsung mencengkram tangan pendek Aza dengan tangan kanannya kuat. Sedangkan tangan kirinya, dengan sigap membungkam mulut mungil Aza agar gadis itu berhenti berteriak.
"Lo mau kita kena grebek lagi ya?!" Tutur Taqwim gemas melihat Aza ketakutan.
"Aza takut ...!" Ucap Aza yang sekarang sedang memeluk tubuh Taqwim dengan tubuh yang gemetar.
"Sengaja ya modus? Biar bisa peluk-peluk Gua! Hihihi ...," Taqwin terkekeh bahagia karna pelukan manja Aza.
Aza yang mendengar suara itu langsung terkejut, dan menengadahkan wajahnya menatap Wajah tampan Taqwim. Setelah beberapa kali mata indahnya mengerjab, akhirnya Aza benar-benar tersadarkan dan dengan segera melepaskan pelukannya.
"Eng-eng-enggak!" Aza berkata dengan nada yang terbata-bata, dengan kepala yang menggeleng kuat.
"Kakak sendiri ngapain ke sini? Subuh-subuh kayak gini lagi?!" Aza yang tak mau kalah dengan cepat ia melontarkan pertanyaan yang terdengar sepele, namun berhasil membuat Taqwim kalang-kabut dibuatnya.
Sesaat Taqwim terlihat gugup, namun jangan panggil Taqwim jika dia tak pandai mencari alasan. Dengan lihai bibir merah pemuda itu merangkai kata, mengalihkan pembicaraan.
"Ehh ..., liat kening Lo sampek berdarah gitu!" Taqwim berkata sambil langsung mengusap darah yang menetes di kening Aza.
"Lukanya kebukak lagi, ini pasti gara-gara kejedot spatula tadi!" Ucap Aza sambil menekan luka yang ada di jidatnya agar tak mengeluarkan darah.
"Dimana kotak P3K-nya? Biar Gua ambilin ...!" Ucap Taqwim sigap, karna ia sendiri juga merasa khawatir melihat kondisi Aza.
"Gak ada Kak, ini Aza bersihin pakek tisu aja." Aza dengan cepat menjawab pertanyaan Taqwim, lalu berjalan mengambil tisu yang ada di kamarnya.
Sedangkan Taqwim masih tercengang dengan jawaban Aza. astagfirullah, kotak P3K aja gak punya? Ucap Taqwim di dalam hati dengan tubuh yang masih diam terpaku.
Setelah cukup lama Taqwim terperanjat keheranan, ia sepertinya mulai lelah dengan diamnya. Mata tajamnya beredar meneliti setiap sudut ruangan itu. Semua prabotan di dalam rumah ini sudah terlihat usang, ucap Taqwim dalam hati.
Taqwim mulai melangkahkan kakinya menyusri setiap ubin yang di pijaknya, sesekali tangan kekarnya mengusap benda-benda yang ada di sekitarnya.
"Astga! TV model apa ini? Kenapa semua yang ada di dalam rumah ini terlihat sangat kuno?" Tutur Taqwim berdecak keheranan saat ia memasuki salah satu ruangan di rumah itu.
__ADS_1
Entah apa maksud dan tujuan Taqwim, di saat matahari belum menampakkan sinarnya ia malah sudah datang berkunjung ke kediaman Aza. Bahkan sekarang ia asik berkomentar, sampai tanpa Taqwim sadari tingkahnya itu sedang di awasi Aza sedari tadi.
"Emm ..., itu foto Aza waktu sama Papa dan Mama." Ucap Aza tiba-tiba sambil bersender di bingkai pintu, dan Kalimat itu berhasil membuat Taqwim merasa tertangkap basah.
"Papa sama Mama sudah lama pergi ninggalin Aza," tutur Aza melanjutkan ucapannya namun dengan wajah suram.
Sedangkan Taqwim yang melihat itu hanya bisa terdiam. Tangan kekarnya perlahan mengembalikan sebuah bingkai yang sedari tadi di genggamannya, ke atas nakas. Taqwim merasa tidak enak, karena telah membuat Aza mengingat hal yang menyedihkan di dalam hidupnya.
"Maaf," Jawab Taqwim sangat pelan, namun masih bisa di dengar.
Aza menyunggingkan seyuman sambil menatap kilas ke arah Taqwim, " Iya kak, gak apa-apa kok." Ucap Aza menimpali.
"Em ..., gimana lukanya?" Tanya Taqwim mencoba mencairkan suasana yang terasa sangat canggung untuknya.
"Udah beres, darahnya udah gak keluar lagi." Jelas Aza singkat sambil memegang tisu yang menutup luka di keningnya agar tak jatuh.
"Lo lagi mikirin apa, kok spatula Lo ajak berantem?" Tanya Taqwim dengan nada yang mulai kembali seperti biasa.
"Kok Kakak tau Aza kejedot spatula?" Ucap Aza yang malah balik bertanya.
"Heheh ..., iya Aza lupa!" Jawab Aza sambil tersenyum malu.
Sedangkan Taqwim berucap dalam hati, sambil terkekeh pelan. Sebenarnya Gua liat sendiri kalo Lo kejedot, kan Gua dari tadi ngawasin Lo.
"Aza lucu ya Kak?" Tanya Aza tiba-tiba karna melihat Taqwim tertawa sambil menutup mulutnya menggunakan tangan.
Mendengar penuturan Aza yang terdengar ke PD-an membuat Taqwim mengernyitkan keningnya sambil berkata. "Astaga, Lo kok ke GR-an banget ya?" Tanya Taqwim heran.
Namun Aza malah tidak menanggapi perkataan Taqwim, ia malah berjalan menuju dapur dan melanjutkan kegiatannya membuat adonan gorengan.
"Gak ada ahlaknya tu Bocah!" Grutu Taqwim kesal sambil mengekor di belakang Aza.
__ADS_1
Lama tak ada suara di antara Taqwim dan Aza, Taqwim masih diam memperhatikan Aza yang terlihat sangat lihai mengolah bahan makanan itu sampai menjadi gorengan yang sangat enak. Jelas, karna aroma gorengan itu sangat menggoda.
Cahaya matahari perlahan mulai menerangi bumi, cahaya hangatnya menembus kaca tipis itu sampai membuat seseorang di sana sedikit terganggu karna kesilauannya.
"Kakak apa gak kerja?" Tanya Aza memecahkan keheningan pagi itu.
"Lo ngusir Gua?" Tutur Taqwim dengan nada sedikit meninggi.
"Bu-bukan gitu Kak, Maksu-"
"Tok ..., tok ..., tok!
suara Aza tertahan karna suara pintu rumahnya terdengar seperti di ketuk. Taqwim yang juga mendengar suara itu langsung melirik ke arah sumber suara, dan beralih melirik Aza sekilas.
"Dek ...! Assalamualaikum." Suara seorang pria terus memanggil Aza dari luar sambil tak berhenti mengetuk pintu.
Taqwim yang mengetahui jika seorang laki-laki yang memanggil Aza, membuatnya langsung bertanya-tanya di dalam hati. Mata tajamnya menatap Aza seolah meminta penjelasan, Taqwim bertingkah seolah Aza yang membuat onar di situ.
"Biar Aza yang liat!" Aza yang merasa di tatap tajam langsung berinisiatif mengajukan diri.
Taqwim hanya diam tak menggubris perkataan Aza, ekor matanya mengikuti pergerakan gadis itu. Entah kenapa rasa sesak memenuhi relung dadanya, ia merasa curiga pada Aza karna kehadiran laki-laki itu.
"Ehh ..., Kak Hamza ternyata." Ucap Aza sedikit gugup setelah membukakan pintu.
"Kok lama dek? Ada kerjaan ya?" Tanya Hamza heran, dan mulai menunjukkan kecurigaan.
"I-i-iya Kak, biasa nyelesain gorengan untuk hari ini." Jawab Aza cepat sambil mengalihkan pandangannya.
Sedangkan Taqwim, sedari tadi ia diam-diam melangkah mengekor di belakang Aza. Taqwim terus saja menyadap semua obrolan Aza dan pria itu dari balik kursi yang terlihat usang. Wajah Taqwim mulai berubah menjadi merah padam, tatkala Hamza memaksa Aza untuk memberikan akses masuk ke rumahnya.
"Kalo gitu Kakak bantu aja!" Ucap Hamza bersemangat.
__ADS_1
"ENGGAK!" Tutur Aza cepat dengan nada sedikit berteriak, dan itu berhasil membuat Hamza terkejut begitu juga dengan Taqwim.
Hamza mengernyitkan dahinya, tanda ia merasa ada yang aneh dengan Aza.