Tulang Rusuk Dan Tulang Punggung

Tulang Rusuk Dan Tulang Punggung
EMANG ENAK?


__ADS_3

"Nahh ... Gitu dong, yang akur ... Hehehehhe."


Basil malah cengar-cengir melihat teman-temannya mulai akur kembali.


Keempat pemuda itu seketika memalingkan wajah ke sembarang arah, setelah mendengar ucapan Basil yang terdengar sangat menggelikan di telinga mereka.


10 menit berlalu, mereka semua terlihat sedang asik sendiri-sendiri dengan mata menatap fokus ke handphone yang mereka pegang.


" Ckkkk ..., kok itu anak gak bangun-bagun ya?"


Erza berdecak kesal, ia sudah merasa bosan menunggu Aza yang tak kunjung sadarkan diri.


"Namanya aja orang pingsan, kalo bangun namanya tidur Za!"


Alfi merespon ucapan Erza, tapi matanya terus melihat ke layar handphone yang ada di genggamannya. Erza berjalan mendekati Aza yang masih terbaring di atas tempat tidur rumah sakit itu.


Dengan mengenakan baju kaos panjang berwarna merah, yang di padukan dengan rok panjang di bawah lulut yang terbuat dari bahan kain tebal berwarna hitam. Membuat penampilan Aza terlihat sangat sederhana, namun Aza tetap sangat mempesona.


"Ehhh ... Liat deh mukanya imut banget,"


Erza menatap kagum wajah tidur menggemaskan Aza. Dan karna ulah Erza, Alfi dan Basil yang memang play boy merasa jiwanya terpanggil untuk melihat kebenaran yang di ucapkan Erza barusan.


Mereka bertiga mendekati tubuh Aza, sambil menatap lekat.


" Wah ... Iya, liat deh mukanya gak sama sekali ada dempul nya Bro. Gila ini yang namanya produk ori dari pabrik ...!"


Alfi dan Basil membenarkan ucapan Erza, sambil terus berdecak kagum melihat gadis yang mereka hakimi saat sedang pingsan itu.


"Ehhh ... Gak ada akhlak mandangin orang yang gak berdaya, mending keluar cari makan sapa tau Dia bangun kelaparan!"


Lean memberikan saran kepada 3 temannya yang sedang asik menelaah penampilan Aza.


"Iya ini udah mau sore, Gua juga laper,"


Timpal Alfi sambil mengusap perut six-pack nya.


"bener itu ..., Gua tadi juga belom sempet makan di warung mang Kodir."

__ADS_1


Erza ikut menimpali usulan Lean, tanpa fikir panjang Erza, Alfi dan Basil langsung keluar dari ruangan itu untuk mencari makan di restoran terdekat.


Sedangkan Lean dan Taqwim masih asik duduk santai di sofa yang ada di ruangan itu, mereka saling mengacuhkan satu sama lain. Sampai suara handphone milik Lean berbunyi menandakan ada telepon masuk, dan itu membuat Taqwin merasa risih. Dengan cepat Taqwim meminta Lean untuk keluar mengangkat teleponnya.


"Ehhh ..., brisik tau gak? Angkat dulu sono ...!"


Taqwim menatap lekat ke arah Lean.


"Iya bawel banget sih Wim ...!"


Lean langsung keluar dan menutup pintu pelan dengan membawa handphonenya yang terus berbunyi.


Suasana kembali hening, hanya ada Taqwim dan Aza yang masih pingsan di ruangan itu. Cukup lama Taqwim bediam diri hanya menatap Aza dari posisi duduknya, lama- kelamaan entah kenapa rasa penasaran mulai menyeruak timbul di benak Taqwim.


Taqwim berjalan mendekat dengan sedikit mengendap-endap ke arah pintu, mencoba melihat keadaan di luar dan mengunci pintu ruangan itu dari dalam. Taqwim tidak mau sampai ada yang memergokinya penasaran pada gadis yang menurutnya kampungan itu.


Setelah pintu terkunci dengan sempurna, Taqwim melanjutkan perjalanannya menuju tempat Aza di baringkan. Sorot tajam Taqwim terus beredar dari ujung kepala sampai ujung kaki menatap serius Aza.


"Kayak begini di bilang imut-imut, amit - amit mah iya!"


Bibir Taqwin terus mengeluarkan kata-kata hinaan untuk gadis itu, tapi di dalam hatinya terus berbanding terbalik dengan yang terucap di bibir.


Taqwim yang merasa penasaran, mulai memberanikan diri untuk menyentuh permukaan kulit Aza yang memar itu.


"Awhhhhhh ...," lenguh Aza, mulai sadar.


Mata Taqwim langsung membulat sempurna, karana ulah jailnya itu malah berhasil membuat Aza tersadar dari pingsannya. Dengan tergesa-gesa Taqwim berlari menuju sofa yang ada di pojok ruangan itu, Ia tak mau Aza sampai melihatnya.


Mata Indah Aza pelan-pelan mulai terbuka, Ia mencoba menyentuh dahinya untuk memastikan keadaannya.


Ehhh ... Rupanya udah di obatin, batin Aza sambil mengelus pelan perban di kepalanya. Aza mencoba melihat keadaan di sekelilingnya, Ia tahu jika dirinya sedang berada di rumah sakit.


Ihh ... Kok Kakak Marmod itu ada di sini?! Apa jangan-jangan dia yang bawa Aku brobat? Batin Aza sambil menggigit ujung bibirnya, merasa bingung dan kaget.


"Apa Lo liat-liat Gue?! dasar cewe kampungan!"


Taqwim langsung mengeluarkan kata-kata kasar pada Aza, saat mata Mereka bertemu saling tatap.

__ADS_1


Aza langsung tertunduk lesu, Ia mencoba untuk tidak meladeni ucapan Kasar Taqwim tadi. Karna yang ada di fikiran Aza saat ini adalah dagangan yang di tentengnya sebelum pingsan tadi sekarang berada dimana?.


Perlahan Aza menurunkan kakinya untuk menyentuh lantai, Gadis itu berjalan sedikit terseok-seok ke arah pintu. Sedangkan Taqwim masih diam tak menghiraukan Aza, Ia kesal karna Aza mengacuhkannya tadi.


Entah kenapa Taqwim malah menunjukkan sikap seolah-olah tak ingin di cueki Aza, tapi dengan cara yang salah.


"Ehhh ... mau kemana Lo ...?!" tanya Taqwim sedikit berteriak.


"Hah ...!" Aza tersentak kaget dan melepaskan genggaman tangannya pada kenop pintu dengan ragu-ragu.


"Woy ..., Gue nanya sama Lo!" seru Taqwim mulai mendekat.


Sedangkan Aza malah semakin menjauh dan terus menundukkan kepalanya sampai rambut sebahunya menutup sebagian wajahnya, entah di mana ikat rambutnya tadi.


"Lo gak denger?! Apa emang sengaja gak mau jawab haaa ...?!" sikap temperamental Taqwin kembali.


Aza hanya menggeleng pelan, membuat helaian rambut lembutnya bergerak ke kiri dan kekanan.


"Dasar cewe norak, gak tau cara ngomong ya Lo?!" lagi-lagi Taqwin mengeluarkan kalimat hinaan.


Aza yang mendengar Taqwim tetus meneriakinya hanya bisa memejamkan matanya. Aza memang paling tidak bisa jika di bentak, air matanya akan langsung menetes.


Merasa terus di acuhkan oleh Gadis di depannya ini, membuat Taqwim semakin geram. Ia terus mencoba mendekati aza, sampai tubuh gadis itu terhantuk di dinding yang berda di balik pintu yang sedang tertutup itu.


"Akkkkkk ...!"


Tiba-tiba Taqwin berteriak kesakitan, tubuhnya terhuyung ke depan memeluk tubuh Aza erat. Sedangkan Aza langsung tersentak kaget akibat ulah Taqwim yang tiba-tiba itu, pandangan Aza tiba-tiba menjadi gelap padahal matanya sedang terbuka lebar.


"Emmmm ... emmm ...!" Suara teriakan Aza terdengar sayup seperti orang tak niat bicara, karna wajahnya terbenam di dada Taqwim.


Kepala Taqwim terbentur di daun pintu yang tiba-tiba di buka kuat oleh ke-empat temannya yang baru masuk, semua pasang mata menatap heran ke arah dua insan yang tengah asik berpelukan.


Aza yang merasa sangat tidak nyaman dengan posisinya itu langsung berusaha melepaskan diri, namun usahanya itu belum membuahkan hasil. Tubuh kekar Taqwim terlalu dekat dengannya, sampai-sampai Aza bisa menghirup aroma maskulin dari tubuh Taqwim.


Wajah Aza berada tepat di dada bidang Taqwim, wajar saja gadis itu memang memiliki tubuh yang mungil apa lagi jika di bandingkan dengan Taqwim.


Sedangkan Taqwim tidak menyadari bahwa dirinya tangah menjepit tubuh mungil Aza, Taqwim sedari tadi hanya mengelus kepalanya yang terasa nyeri akibat hantaman pintu.

__ADS_1


Momen menegangkan itu terhenti setelah Lean menarik paksa tubuh Taqwin ke belakang, karna Lean melihat Aza terus mencoba melepaskan diri dari jepitan Taqwim.


__ADS_2