
"Tanya sendiri sama orangnya ...!" Lanjut Erza Tanpa di pinta.
"Yak betul, gak usah takut. Kakak itu sebenarnya baik kok, cuma emosian doang!" Ucap Basil santai sambil mengunyah makanan. Sedangkan Erza, Lean, dan Alfi langsung mengangguk tanda setuju dengan ucapan Basil.
Aza hanya tersenyum kecut di saat semua orang di sana menyakinkannya untuk berkenalan sendiri dengan macan yang sedang tidur itu. Bisa di sembur kalo ngajak kenalan! Ucap Aza dalam hati.
Lima belas menit berlalu, keadaan sudah tenang. Aza yang sudah selesai dengan acara mengisi perutnya, sedari tadi tengah asik memandang diam-diam Taqwim yang sedang tidur.
Cukup lama, tiba-tiba terjadi pergerakan pada pemuda yang asik tidur itu. Sepertinya ia akan mulai terjaga, dengan cepet Aza memalingkan pandangannya.
"Huaaaap ...!" Ucap Taqwim menguap pelan sambil meregangkan ototnya.
Pemuda itu langsung turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu keluar ruangan itu. Tanpa memperdulikan orang-orang yang ada di sana, Taqwim melewati Mereka dengan cuek.
"Hoy ... Wim, mau ke mana Lo?" Tanya Lean dengan cepat, seketika membuat Taqwim mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.
"Pulang, Gua ngantuk." Jawab Taqwim datar.
"Ya udah, kalo gitu sekalian anter Aza pulang!" Pinta Lean, mendengar Itu Taqwim langsung menatap Aza dalam.
"Gak!" Jawab Taqwim tanpa memalingkan pandangannya dari Aza. Sedangkan Aza hanya diam, jantungnya bedegup kencang.
"Sekalian Wim, lagian kasian sama Aza kalo pulang bareng Kita." Bujuk Lean sambil menatap ke arah teman-temannya.
"Kalo Lo tetep gak mau ya gak papa, Lo yang bawa pulang mereka, Gua yang amter Aza pulang! Masak Lo gak mau tanggung jawab? Padahalkan yang bikin Aza sakit itu Lo!"
Taqwin terdiam, matanya menatap teman-temannya yang sedang membalas tatapannya dengan tatapan hangat. Pemuda itu bergidik ngeri, hih ... Kalo gak karna pilihan yang kayak buah simalakama, gak mau Gua pulang sama ni cewek. Ucap Taqwim dalam hati, lalu memutar matanya malas.
"Cepet!" Ucap Taqwim kuat memeberi kode pada Aza.
Sedangkan Aza masih bingung, ia masih enggan untuk berdiri mengikuti pemuda itu. Melihat tingkah Aza, dengan cepat Lean, Erza, Alfi dan Basil memberi kode pada Aza untuk dengan segera mengikuti Taqwim sebelum pemuda itu berubah fikiran.
"Sekali-kali kita harus kerjain Taqwim, dia harus belajar tanggung jawab." Ucap Lean di sela-sela keheningan, sekarang Aza dan Taqwim sudah keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Yah ... Bener tu, sekalian juga siapa tahu Aza bisa bikin Taqwim berubah, bisa bikin dia lupa cewe brengsek itu." Ucap Erza menanggapi.
"Gue juga ngerasa gitu, Taqwim kayaknya ada sesuatu sama Aza cuma dia belom sadar aja." Lanjut Alfi santai dan di setujui yang lainnya.
Aza berlari kecil mengimbangi langkah Taqwim yang cepat, namun sepertinya kaki pendek Aza sedikit kesulitan. Di tambah dengan memar yang ada di betisnya itu, berhasil membuat langkah Aza beberapa kali tertahan.
"Cepet masuk!" Ucap Taqwim dengan nada paling datar, namun Aza malah menatap dalam ke arah mata Taqwim.
"Ngapain Lo melototin Gue kayak gitu?" Tanya Taqwim sengit.
"Kak, itu ... anu---" Ucapan Aza tertahan karna Taqwin langsung menyambar Ucapannya.
"Anu nya siapa? Lo kecil-kecil fikirannya udah ke mana-mana!" Ucap Taqwim kuat sambil menoyor kepala Aza pelan.
Kepala gadis itu sedikit terhuyung ke samping akibat kelakuan Taqwim, gadis itu hanya mengernyitkan dahinya menatap aneh. Aza tidak memperpanjang perlakuan Taqwim padanya, ia malah melanjutkan ucapnya yang sempat tertunda tadi.
"Aza boleh minta tolong ga? Tolong anterin Aza ke tempat warung tadi siang Kak!" Ucap Aza pelan meminta bantuan Taqwim.
"Mau ngapain? Lo kira Gue supir Lo, apa?" Jawab Taqwim ketus.
"Yak ampun! Lo masih mempermasalahkan gorengan Lo yang udah di bayar Lean? Apa masih kurang uangnya?" Tanya Taqwim marah.
"Bukan kayak gitu Kak," jawab Aza cepat takut Taqwim semakin marah.
"Aza cuma mau cari keranjangnya aja, bukan masalah uang yang udah di bayar kak Lean." Lanjut Aza menjelaskan.
"Gampang nanti Gue beliin yang baru, Gue males mau muter-muter ke sana." Tolak Taqwim cepat pada permintaan Aza.
"Tapi Ka---," ucapan Aza lagi-lagi terhenti karna Taqwim kembali menyerobot.
"Sekarang gak usah ngebawel, masuk ke dalam mobil duduk diam yang manis dan kasih alamat rumah Lo!" Ucap Taqwim memberi printah sambil jari telunjuknya menyentuh bibir Aza tanpa permisi, tanda meminta gadis itu berhenti berceloteh.
Aza hanya mengangguk, tubuhnya berdesir akibat perlakuan Taqwim yang tiba-tiba itu. Sedangkan Taqwim langsung tersenyum bangga karna berhasil membuat gadis dingin itu bersuara, bahkan kikuk di depannya.
__ADS_1
Setelah mengetahui alamat lengkap gadis itu, dengan cepat Taqwim berlari menuju kursi pengemudi dan masuk kedalam mobil. Tapi Taqwim merasa heran dan bertanya dalam hati, loh mana tu bocah? Kenapa kursi samping Gue masih kosong?
"Woy ...! Ngapain gak cepet masuk?!" Ucap Taqwim berteriak dari dalam mobil, dengan kaca terbuka.
"Aza gak tau cara buka pintunya Kak," Ucap Aza pelan sambil tersenyum kecut.
Taqwim yang mendengar penjelasan gadis polos itu langsung menepok jidatnya tanda tak percaya, ia langsung buru-buru membukakan pintu dan membawa gadis itu masuk ke dalam mobil.
"Huuu, udah norak! Kampungan! Manja pula!" Taqwim berkata seraya terus memperhatikan laju mobilnya.
"Maaf Kak." Ucap Aza terus menunduk, Taqwim yang mendengar ucapan lembut gadis itu hanya melirik iba.
Sudah hampir Tiga puluh menit mereka dalam perjalanan, tapi dari tadi tak ada suara dari dua insan itu. Taqwim sedari tadi terus saja asik mengemudi dengan di temani lagu yang di setelnya kuat, sedangkan gadis di sampingnya itu sedang bersusah payah menahan gejolak di lambungnya.
Sepertinya sesuatu akan keluar dari perutnya, dirinya sudah tak kuat menahan gelombang yang terus melilit lambungnya itu.
"UWEKKK ...!" Suara khas itu keluar dari bibir merah gadis itu, mata sang elang langsung melirik tajam ke arah sumber suara.
"Lo kenapa? Mabok?!" Tanya Taqwim sedikit berteriak karna suaranya kalah dengan suara bising musik.
"Aza muwu munta kuku ...!" Ucap Aza tak jelas, sambil menutup mulutnya yang menggembung.
"Lo ngomong apa sih?!" Ucap Taqwim kesal setelah mematikan musik.
"Aza Muwu munta Kuku, uwekkk!" Aza mengulang ucapannya sambil di barengi dengan ekspresi menahan gejolak itu.
"Yak ampun ...!" Taqwim berdecak kesal lalu meminggirkan mobilnya dengan tatapan penuh amarah.
"Cepet buka jendelanya!" Ucap Taqwim memberikan printah sambil menunjukkan ekspresi kesal, namun Aza dengan cepat menggeleng yang artinya ia tak tahu cara membuka kaca pintu mobil itu.
Walaupun kekesalan Taqwim pada gadis ini semakin meninggi dengan sabar pemuda itu bersedia membantu membukakan jendela, namun naas sikap baik Taqwim malah di respon buruk oleh tubuh Aza.
"UWEKKKK ...!" Seketika mulut mungil gadis itu terbuka dan mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi meronta untuk keluar.
__ADS_1
Mata Taqwim langsung mendelik menatap pundaknya yang di penuhi cairan aneh itu, wajahnya menjadi merah padam. Sedangkan Aza langsung membungkam mulutnya kuat, jantungnya berdegup kencang ia tahu ini kesalahan fatal.