
Telapak tangan Aza menggantung di udara bergerak kekiri dan kanan dengan cepat. Sedangkan bibir ranumnya tak mau kalah ikut berucap "Emm ..., itu ..., anu Kak ...? Emmm Aza bisa sendiri kok, Kakak gak perlu repot-repot." Ucap Aza mencoba menolak tawaran Hamza dengan sangat halus.
"Loh kenapa? Biasanya, kan Kakak bantuin Kamu dek!" Jelas Hamza mencoba membela diri agar Aza bersedia menerima bantuannya.
"Emmm, nggak usah Kak. Udah selesai kok beneran!" Ucap Aza berkilah, sedangkan Taqwim sudah tak tahan mendengar hamza yang terus merengek.
Sampai akhirnya terjadilah tragedi itu, dimana pertemuan antara Taqwim dan Hamza tanpa di sengaja dan itu berhasil membuat suasana menjadi menegangkan bagi Aza.
"Kalo Aza udah nolak, harusnya Anda sadar diri!" Ucap Taqwim tegas sambil berjalan keluar dari persembunyiannya, ia sudah tak tahan melihat adegan itu.
Kehadiran Taqwim yang tiba-tiba itu, soantak membuat Hamza dan Aza terkejut. Wajah Aza menjadi pucat pasi, ia bingung bagaimana menjelaskan ini semua pada Hamza. Sedangkan Hamza, ia bertanya-tanya di dalam hati siapakah Pria sok keren yang berani masuk ke dalan rumah Aza.
"Anda siapa? Berani sekali masuk ke rumah Aza sepagi ini!" Tanya Hamza penuh penekanan dan mulai mencoba mendekati Taqwim.
Taqwim hanya diam tak bergeming dengan ucapan dan pertanyaan Hamza yang di tujukan untuknya. Mata elangnya terus menatap tajam dan penuh keberanian ke arah Hamza, seolah ia sedang menabuh genderang perang.
"Siapa Dia, Aza?!" Tanya Hamza pada Aza dengan tatapan penuh amarah, Aza yang mendengar pertanyaan dengan nada membentak membuat tubuhnya seketika bergetar.
__ADS_1
"Emm, itu namanya Kak Marmot. Ehhh, ma-mak-maksudnya Aza namanya Kak Ta-," tiba-tiba suara Aza terhenti.
"Taqwim," Ucap Taqwim santai sambil merangkul pundak Aza mesra di depan Hamza, setelah memotong ucapan gadis itu.
"Apa-apaan ini? Singkirkan tangan Anda sekarang juga!" Tutur Hamza memanas, sambil menahan deru napas yang terdengar semakin kasar.
Sedangkan Aza, ia terus saja berusaha melepaskan diri namun tangan kekar Taqwim terlalu kuat merangkulnya. Bukannya terlepas, tapi usahanya itu malah membuat tubuhnya semakin erat dan semakin dekat dengan Taqwim.
"Saya Taqwim calon suami Aza!" Ucap Taqwim brani, seketika itu juga dua pasang bola mata mendadak terbelalak akibat ucapan Taqwim.
"Enggak Kak Hamza, bukan gitu ...!" Ucap Aza langsung menyangkal ucapan Taqwim tadi, mencoba menjelaskan pada Hamza.
"Astagfirullah, Anda sudah terlalu berharap." Ucap Hamza yang semakin panas, rasanya darah di sekujur tubuhnya seolah mendidih.
"Tidak ada salahnya bukan?" Tanya Taqwim santai dengan ekspresi wajah yang menyebalkan, membuat Hamza langsung mengepalkan jemarinya.
"Kak, tolonglah jangan memperkeruh keadaan! Ini masih pagi nanti tetangga pada kumpul ke sini!" Aza berusaha menyadarkan kedua Pria yang terlihat tengah asik bermain-main dengan amarah.
__ADS_1
Tak ada yang menghiraukan ucapan gadis itu, bahkan sekarang Taqwim semakin berani menantang Hamza yang sudah naik pitam.
"Heh ...!" Suara Taqwim berdehem dengan nada mengejek ke arah Hamza.
Tanpa fikir panjang Hamza langsung melayangkan gempuran keras ke arah Taqwim, namun anehnya Taqwim tak bergeming atau menghindar sedikitpun entah apa rencananya.
"Aaaaaak ...!" pekik Aza kuat sambil berusaha menutup mulutnya, agar suara itu tak terlalu melengking.
Gadis itu tak sanggup melihat kedua Pemuda di hadapannya baku hantam, tanpa memperdulikan kehadirannya.
"STOP KAK ...!" Teriak Aza sambil menahan tangan Hamza agar tak kembali berulah.
Darah segar mengalir dari ujung bibir merah Taqwim, pemuda itu meringis dengan ujung jarinya mencoba menyeka darah yang terlihat mulai menetes.
"Kalian ini apa-apaan sih? Kayak anak kecil tau gak!" Tutur Aza mulai tak tahan melihat tingkah kedua pemuda yang memperrebutkannya itu.
"Tapi Dek, liat Dia kurang ajar sama Kamu!" Ucap Hamza sambil terengah-engah menyetabilkan nafasnya.
__ADS_1
"Huuuuuh ...!" Aza membuang napas, mencoba menjernihkan fikirannya.