Tulang Rusuk Dan Tulang Punggung

Tulang Rusuk Dan Tulang Punggung
TERNYATA


__ADS_3

Aza yang mendengar itu langsung ingin tertawa namun masih di tahanannya. Astagfirullah, ternyata Kak Marmod ini pintar sekali ekting ya ...! Ucap Aza di dalam hati sambil mengangguk pelan membantu melancarkan ekting Taqwim.


"Ahh masak ...? Itu cuma alasan!" Tutur laki-laki itu tak percaya.


"Astagfirullah, lihat ini pak! Ini baju saya di penuhi muntahan istri saya barusan, karna Dia juga masih merasakan mual. Iya, kan Sayang?" Taqwim mencoba meyakinkan dengan memberikan bukti palsu. Sambil melontarkan pertanyaan pada Aza, untuk meyakinkan orang-orang itu.


"Saya bisa melaporkan bapak-bapak pada pihak berwajib karena sudah memfitnah Saya dan Istri saya!" Lanjut Taqwim dengan sedikit mengancam. Mendengar ucapan Taqwim itu seketika membuat nyali sekumpulan bapak-bapak itu menjadi ciut.


"Bener nih Mas? Kalo begitu kami minta maaf ya Mas, Mbak, karna sudah menuduh yang bukan-bukan." Ucap laki-laki itu merasa tidak enak. Akhirnya sekumpulan orang-orang itu benar-benar berhasil masuk tipuan Taqwim.


"Iya gak apa-apa." Jawab Taqwim datar, tanpa rasa bersalah sedikitpun karna sudah berbohong.


Setelah perdebatan cukup menguras fikiran akhirnya Taqwim dan Aza dapat bernafas lega, semua laki-laki itu sudah pergi. Taqwim dan Aza berhasil lolos dari gerebekan warga. Kedua insan itu membuang nafas sembarangan, sambil terkekeh berbarengan tanpa sadar.


"Hahahah ..., astagfirullah!" Ucap Aza sambil tertawa dengan mata yang tertutup.


Sedangkan Taqwim, matanya terus memandangi gadis polos yang sering di panggilnya kampungan itu. Entah kenapa, tanpa ia sadari bibirnya pun ikut membentuk lengkungan manis sama seperti yang di lakukan gadis di sebelahnya.


"Manis ...," Ucap Taqwim tiba-tiba di sela ke sibukan Aza yang terus tertawa.


Pemuda itu berhasil dibuatnya terpana karna aura kecantikannya, suara pujian lembut sampai berhasil keluar dari mulut pedas seorang Taqwim.


"Haaah ...?" Tutur Aza seolah bingung dengan kata yang di ucapkan Taqwim tadi.


Taqwim yang tertangkap basah mencuri pandang pada gadis lugu itu, langsung dengan cepat memalingkan wajah menutupi rasa groginya.


"Kakak tadi bilang apa? Manis? Siapa yang manis Kak?" Ucap Aza memberikan pertanyaan yang berentet sambil menatap wajah Taqwim.


"Apaan? Bawel banget si!" Jawab Taqwim ketus sambil menggeser-geserkan tubuhnya mencari kenyamanan untuk menormalkan jantungnya.


"Tadi Kakak tiba-tiba bilang manis? Aza yang manis?" Ucap Aza terus bertanya.


"Astagfirullah percaya dirinya!" Tutur Taqwim sambil menggelengkan kepalanya, "Ini lo bibir Saya manis!" Lanjut Taqwim berucap memberikan penjelasan yang penuh kebohongan.

__ADS_1


"Oooo ...!" Ucap Aza sambil menganggukkan kepalanya, lalu kembali fokus ke arah jalan.


Dih ..., Gua di cueki. Cuma jawab o lagi, kan jadi nyebelin. Tutur Taqwim di dalam hati menahan rasa kesalnya karna jawaban singkat gadis polos itu.


"Lo gak pernah naik mobil ya?" Tanya Taqwim penasaran.


"Hihihi, iya Kak. Ini pertama kali, maaf ya Kak!" Ucap Aza setengah tertawa malu sambil menutupi bibirnya.


"Huuuu ...! Dasar orang kampungan, naik mobil aja mabok!" Taqwim berkata dengan tatapan menghina, namun Aza tidak menghiraukan tatapan itu.


"Ya udah sekarang Lo duduk diam, nikmatin musik yang Gue putar ok!" Ucap Taqwim memberikan printah.


"Tapi, biar apa Kak?" Ucap gadis itu kembali bertanya penasaran.


"Biar lo gak ngotorin badan dan mobil Gue lagi!" Tutur Taqwim datar namun sangat ketus.


"Tapi Aza tetap di izinkan untuk ngomong, kan Kak?" Aza kembali berkata dengan penuh semangat dan itu berhasil membuat Taqwim terheran-heran di buatnya.


"Suka-suka Lo! " Jawab Taqwim tanpa menoleh Aza.


Taqwim mulai melajukan mobil mewahnya menuju salah satu perkampungan tempat Aza tinggal. Sepanjang jalan hanya keheningan yang menemani mereka, walau suara musik terus berdentum beralunan silih berganti tapi itu tidak berpengaruh apapun pada suasana saat itu.


"Ohh ya Kak ...! Kenalin nama panjangnya Aza, Aurum Vaza Hayyu. Kalo Kakak namanya siapa?" Ucap Aza memperkenalkan diri, agar Taqwim mau ikut memperkanalkan diri juga padanya.


Namun, harapan Aza terbuang sia-sia. Tangannya seolah membeku karna terlalu lama menggantung di udara. Taqwim sama sekali tidak menghiraukan polah gadis itu, ia terus saja asik dengan kegiatannya.


"Humz ...!" Ucap Aza pelan membuang nafasnya sembarangan, ia merasa sedikit kesal karna tidak di tanggapi.


Pandangan Taqwim sesekali di alihkannya pada gadis yang sedang duduk di sampingnya itu, Entah kenapa setiap mata tajam Taqwim memandang kilas Aza seketika prasaan nyaman ikut muncul. Bahkan saat gadis mungil itu bersikap acuh dan terlihat sangat kesal padanya, rasa bahagia terus saja memenuhi relung hatinya.


"Kenapa jadi manyun gitu?" Ucap Taqwim setelah mereka sampai di rumah yang berukuran sangat kecil itu.


"Gak apa-apa, makasih ya Kak udah anterin Aza." Tutur gadis itu saat kakinya menginjak halaman rumahnya.

__ADS_1


"Udah cuma itu doang?" Ucap Taqwim tiba-tiba, entah apa sebenarnya yang di inginkan Taqwim.


"Ha ...?" Jawab Aza sedikit tercengang, Taqwim yang melihat itu langsung meradang.


"Ahhh udah lah, terserah Lo! Gua balik." Ucap Taqwim lalu masuk kedalam mobil meninggalkan Aza yang sedang kebingungan.


Saat mobil Taqwim sudah benar-benar pergi, barulah Aza masuk ke dalam rumah sederhananya itu.


Namun saat di jalan menuju keluar perkampungan, tiba-tiba laju mobil Taqwim di hentikan oleh sekumpulan emak-emak yang tadi dari di lewati Taqwim dan Aza.


"Stop ...!" Tutur salah satu wanita dengan tangan memegang pinggang.


Taqwim sedikit merasa heran, namun ia tetap memberhentikan laju mobilnya karna menurutnya sangatlah berbahaya urusannya jika berhubungan dengan yang namanya Emak-emak.


"Iya, ada apa Buk?" Tanya Taqwim sopan sambil menyunggingkan senyuman.


"Kamu siapanya Aza?" Tanya Ibu itu dengan tatapan tajam mencoba mengintrogasi Taqwim. Sedangkan ibu-ibu yang lain malah asik memandang kagum ketampanan dan kekayaan Taqwim yang terlihat dari jenis mobil pemuda itu.


"Memangnya kenapa Buk?" Jawab Taqwim malah balik bertanya.


"Yahh ... Gak kenapa-kenapa si, cuma saran Saya jangan sering-sering main ke rumahnya! Takutnya nanti malah timbul salah faham." Ucap ibu itu dengan nada yang sedikit di lebay-lebaykan.


"Saya, kan hanya mengantarnya pulang Buk!" Ucap Taqwim bingung.


"Ya terserah si! Secara Si Aza itu, kan yatim piatu. Jadi wajar lah ya ...! Sering di anter cowok-cowok kaya bisa jadi juga nanti Om-om, biar bisa lanjutkan hidup. Ya gak Ibu-ibu?" Tutur Ibu itu menjelaskan panjang lebar dan terdengar sedikit meremehkan Aza.


"Ahahahah ..., ya iya lah. Bentar lagi juga paling ketahuan hamil di luar nikah itu anak. Ahahaha ...!" Suara sekumpulan Emak-emak itu riuh menertawakan Aza, dan Taqwim yang melihat tingkah ibu-ibu itu merasa sangat geram.


"Jaga bicara anda!" Ucap Taqwim penuh penegasan, entah kenapa mendengar gadis itu di jelek-jelekan amarahnya menjadi terbakar.


"Uuuu ..., marah? Ayok lah Ibu-ibu, Kita pergi aja ...!" Ucap ketua Emak-emak itu lalu mulai pergi meninggalkan Taqwim yang sedang jengkel karna ulah mereka.


Taqwim pergi meninggalkan perkampungan itu dengan sejuta fikiran, ia terus menancap gas menembus keramaian seolah tak memperdulikan keselamatan. Pemuda itu sangat kesal, sulit baginya untuk mengendalikan diri jika sudah emosi.

__ADS_1


__ADS_2