Tulang Rusuk Dan Tulang Punggung

Tulang Rusuk Dan Tulang Punggung
BEDA


__ADS_3

"Kamu gak apa-apa ...?" Tanya Lean kepada Aza yang terlihat masih syok.


"Dih ... lebay banget sih, gak usah di tanya segala!" Taqwin langsung menyambar pertanyaan Lean, sedangkan Aza hanya menggeleng pelan.


"Ih ... Kenapa sih Wim, iri Lo sama Aza?" Ucap Erza pada Taqwim dengan sengit.


"Ngapain juga Gua iri, lagian Lo pada aneh! Gua yang kejedot, Dia yang di tanya!" Taqwim langsung menimpali dengan ketus ucapan teman-temannya itu.


Sedangkan Alfi, Basil dan Aza hanya bisa menatap bingung ke arah tiga orang yang sedang berdebat itu.


Mimpi apa semalam kok bisa ada di antara orang-orang aneh ini? Ucap Aza dalam hati sambil memainkan jemarinya grogi.


Perlahan Aza mulai menggeser tubuhnya pelan, ia mencoba menjauhi tiga pemuda yang masih berdebat itu. Alfi yang melihat gerak-gerik Aza, langsung dengan cekatan menarik tangan gadis itu.


"Kita di sini aja, biarin orang-orang itu mau cepet kena darah tinggi!" Alfi berucap seraya membawa Aza duduk di sofa yang ada di pojok ruangan itu.


"Kamu laper? Kita makan dulu, ini tadi udah di beliin makanan!" Basil mengajak Aza makan, ternyata Basil juga sudah asik ikut nimbrung.


"Emm ... enggak usah repot-repot kak," Ucap Aza seraya mengangkat telapak tangannya menandakan iya menolak.


"Jangan gitu, Kamu harus makan ... biar cepet sembuh!" Basil berucap sambil tangannya membukakan kotak yang berisikan makanan itu untuk Aza.


"Bener kata A'a Basil, Kamu harus makan ... Ok!" Alfi juga ikut-ikutan meminta Aza makan, sepertinya ketiga orang ini tidak memperdulikan lagi suara berisik dari tiga orang yang tengah beradu mulut di samping mereka.


Aza mengernyitkan keningnya heran, apa ...? A'a, gak salah tu ...? Ahahaha ...! Ucap Aza berusaha menahan tawanya akibat ucapan Alfi.


"Iss ... apaan si Lo Fi? Pakek acara A'a segala, liat tu jadi senyum Dianya ...!" Basil langsung angkat bicara, ia melihat ekspresi Aza yang sedang menahan tawa.


"Oh ya ..., kenalin nama Kakak Alfi Prensi Komarinsa. Biasanya di panggil Sayang, ahahahah ...!" Tutur Alfi memperkenalkan dirinya sambil sedikit menggoda Aza di tengah-tengah acara makan bersama mereka.


Aza langsung menyunggingkan tawa kecilnya dan itu berhasil membuat gigi gingsulnya terlihat,

__ADS_1


"Gila ... manis banget! Ada gingsulnya, ih gemes ...!" Seketika Basil berteriak histeris sambil menunjuk ke arah Aza yang kaget karna ulah pemuda itu.


Sifat ceplas-ceplos Basil itu, seketika membuat tiga pemuda yang asik beradu argumen tadi menoleh ke arah datangnya suara. Mereka terperanjat, setelah melihat Aza sudah duduk manis di sana dengan dua teman mereka.


"Ehh ..., ga ada ahlak makan gak ajak-ajak!" Seketika Erza berkomentar.


"Maaf Kak, sudah lancang ...!" Ucap Aza langsung memberhentikan aktivitas makannya, ia tidak enak mendengar ucapan Erza.


Lean langsung menampol mulut ketus Erza, sambil matanya menatap pedas. Sedangkan Taqwim hanya memutar bola matanya malas, sambil berjalan mendekati tempat Aza berbaring tadi.


"Sorry, bukan gitu maksudnya ... Heheh!" Erza tertawa kecut sambil mendekati Aza.


"Aza mau pulang Kak, makasih sudah bawa Aza brobat! Permisi ...," Aza berkata seraya berdiri akan meninggalkan pemuda-pemuda itu.


"Eee ..., gak bisa gitu! Biarin Kami tanggung jawab sama ulah konyol Kami ke Kamu." Lean dan lainnya langsung menatap penuh harap ke rah Aza, kecuali Taqwim.


"Aza juga mau cari jualan Aza tadi Kak, jadi harus buru-buru." Ucap Aza sambil menunduk.


"Iya Kak, Aza tadi bawa gorengan buat di jual." Jelas Aza pada kelima pemuda itu.


"Udah, masalah itu gak usah Kamu fikirin. Nanti biar jualannya Kakak yang ganti uangnya, itung-itung Kakak yang beli. Sekarang Kamu duduk lagi di sini lanjutkan makannya!" Ucap Lean panjang lebar dan langsung di setujui oleh teman-temannya.


"Tapi ... Kak, Az---" suara Aza tertahan.


"Hoy ...! Lo jadi orang gak usah bawel kenapa?! Di kasih enak malah mau ngeribet, duduk di sana lanjutin makan Lo!" Taqwim membentak Aza, mendengar Ucapan Taqwim Aza langsung menurut tanpa menjawab lagi.


Suasana hening, tak ada yang sanggup menjawab ucapan Taqwim. Aza kembali duduk dan melanjutkan menghabiskan makanannya begitu juga dengan Lean, Alfi, Basil dan Erza. Sedangkan Taqwim, ia malah asik tiduran di atas kasur rumah sakit sambil menutup wajahnya dengan lengan.


"Lanjutin lagi makannya, di kenyangin!" Ucap Erza ramah.


"Ehh ... , nama Kamu siapa? Kita, kan belom kenalan." Tanya Basil penasaran, begitu juga dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Aurum Vaza Hayyu, tapi lebih sering di panggil Aza Kak." Jawab Aza malu-malu, sambil menyunggingkan senyuman.


"wah ..., namanya sama-sama cantik kayak orangnya." Ucap Alfi menggombali Aza, sedangkan Lean menggeleng pelan melihat tingkah memalukan temannya itu.


"Is ..., kek gitu senyum? Coba sama Gua, kek orang bisu!" Ucap Taqwim mendengus pelan sambil memutar bola matanya malas, melihat gadis itu bersikap manis hanya pada teman-temannya.


Taqwim terus memperhatikan gerak-gerik orang-orang di pojok ruangan itu, secara diam-diam dari balik lengannya yang menutupi wajah tampan Taqwim.


"Ok Aza, mari Kaka kenalin Kamu dengan yang lainnya satu persatu ya!" Ucap Basil sambil memegang pundak Erza.


"Ini namanya Kak Erza, lebih tepatnya Erza Alias Pikal. Dia ini orangnya paling sok keren di antara Kakak yang lain, padahal ya pesonanya gak jauh lebih keren di banding si kancil anak nakal." Jelas Basil agak nyeleneh, mendengar itu Ica hanya tersenyum lucu.


"Next ..., ke Kakak yang paling ganteng. Panggil saja kak Basil," ucap Basil percaya diri menunjuk dirinya sendiri dan itu berhasil membuat semua temannya berekspresi seolah sedang muntah.


"Sirik Lo pada, sama kegantengan Gua?!" Ucap Basil sebal ke arah teman-temannya.


"Nama panjangnya?" Tanya Aza antusias, entah kenapa ia menjadi nyaman di antara pemuda-pemuda aneh itu.


"Basil Irvanda Anadir." Jawab Basil cepat.


"Ok lanjut kalo yang Ini Na---," tiba-tiba suara Basil terhenti setelah telapak tangan Lean mengusap pelan wajah Basil tanpa permisi.


"Dah ..., kelamaan Lo tu. Bertele-tele kayak nenek-nenek nawar gorengan!" Ucap Lean yang sudah muak melihat tingkah konyol temannya itu.


"Itu yang Gua tungguin dari tadi," lanjut Alfi tertawa puas melihat Basil yang menatap tajam ke arah mereka.


"Kita percepat aja, kenalin nama Kakak Lean Varid Sailendra. Kaka di sini yang paling senior Umurnya di bandingkan junior-junior ini." Ucap Lean sambil tersenyum bangga.


"Sekarang udah kenal semuakan?" Lanjut Lean, namun Aza langsung menatap ke arah Taqwim.


"owhh ...! Kalo yang itu namanya---," Lean menggantungkan Ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2