TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 40 JEBAKAN BERHASIL?


__ADS_3

"Kau tak akan bisa pergi kemanapun, aku akan selalu menghantuimu hahaha." Ucap perempuan tua itu seraya melesat mengikuti langkah kaki Sintia.


Sintia berlari tak tentu arah, sesekali ia menoleh ke belakang melihat sosok tua itu masih memburunya. Namun langkah kakinya terhenti ketika melihat ada yang menghadang langkahnya. Nampak seseorang yang tak asing di matanya, ia berdiri dengan berkacak pinggang.


"Pergilah, naik delman itu. Kau akan kembali ke dunia nyata." Pungkasnya seraya menarik tangan Sintia.


"Ta tapi Pak, tempat apa ini?"


"Sudahlah tak perlu banyak tanya, kau tak aman berada disini. Jiwamu bisa disesatkan, dan tinggal di alam ini sampai waktu pengorbanan datang. Mungkin aku belum mampu menolong mu lepas dari perjanjian mereka, setidaknya aku bisa menolong mu pergi dari alam ini."


Sintia mengernyit, ia heran kenapa bisa ada Pak Kirun di dalam mimpinya. Namun mimpi yang ia rasa tak seperti mimpi pada umumnya. Ia merasa benar-benar pergi ke tempat antah berantah. Ditengah kebingungan nya, tangannya ditarik paksa naik ke atas delman. Delman itu berjalan sendiri tanpa seorang pun yang mengemudikan. Karena Pak Kirun masih menghadang perempuan tua yang berniat mencelakai Sintia. Tak tau apa yang terjadi selanjutnya, karena setelah Sintia menyeberangi sebuah jembatan kayu. Delman itu berhenti mendadak, hingga membuat tubuh Sintia terpelanting ke tanah.


Bruuugh.


Sintia membuka kedua matanya. Sayup-sayup ia melihat teman-teman nya duduk mengelilinginya. Nampak Widia langsung mendekap nya dengan berlinang air mata.


"Syukurlah lu udah bangun, gue takut lu kenapa-napa Sin!" Kata Widia sesegukan.


Hening. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Sintia. Ia masih kebingungan mencerna keadaan, karena seingatnya ia pingsan di dekat dapur setelah sesosok kuntilanak menabrak tubuhnya.


"Gue kenapa Wid?" Tanya Sintia seraya menyenderkan tubuhnya di tembok.


"Segitu cari perhatiannya ya lu, sampai gak mau bangun dari tempat tidur berhari-hari. Apa lu segitu kecewanya sama Riko? Tapi gue kasih tau aja ya, selama lu gak sadarkan diri. Gue sama Riko udah sama-sama ngikat janji. Ya kan sayang?" Jelas Dina seraya menarik paksa tangan Riko, supaya mendekat ke arahnya.


Riko gelagapan tak tau harus berkata apa, namun Widia memilih untuk mengatakan yang sebenarnya pada Sintia.


"Setelah lu pingsan, ada banyak hal yang terjadi di Panti. Salah satunya hubungan Dina dan Riko yang terkuak. Mereka diam-diam berbuat yang gak senonoh, dan bu Mariyati sendiri yang mergokin mereka. Takutnya Dina hamil karena perbuatan mereka waktu itu. Makanya mereka terpaksa membuat perjanjian, yang menyatakan kalau Dina sampai berbadan dua, artinya itu adalah anaknya dengan Riko. Gue tau lu pasti bakal sangat shock, tapi gue harap lu bisa menerima kenyataan ya Sin." Widia menepuk pundak Sintia dengan menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


Terlihat raut wajah Sintia berubah sendu, matanya berkaca-kaca menahan kesedihan. Tangannya bergetar, namun ia berusaha bersikap wajar. Ia bangun dari tempat tidur, lalu berjalan ke kamar mandi.


"Gue cuci muka dulu Wid, kepala gue masih agak pusing." Ucap Sintia tak menoleh ke belakang.


Dina tersenyum penuh kemenangan, ia masih merangkul tangan Riko, tak memberinya kesempatan untuk berbicara dengan Sintia.


"Ingat ya Ko, lu udah berbuat sesuatu sama gue. Lu harus lupain Sintia mulai sekarang!" Seru Dina menatap Riko dengan wajah serius.


Widia melihat keduanya seraya menggelengkan kepala. Ia mengetuk pintu kamar mandi, berharap Sintia segera keluar dari sana. Ia tau betul, saat ini perasaan Sintia pasti sedang tak menentu.


Cekleek.


Sintia menatap Widia dengan mengembangkan senyumnya. Ia bertanya bagaimana keadaan para lansia.


"Mereka lagi kumpul di kamar nek Siti, karena dia lagi gak sehat. Makanya kita juga milih lihat keadaan lu. Btw lu di apain sama kuntilanak yang kemarin itu Sin? Sorry ya gue kabur ninggalin lu, gue takut banget soalnya.


Sintia memilih mengacuhkan Dina dan Riko, meski keduanya berada tepat di depan matanya. Rencana Dina untuk merebut Riko akhirnya berhasil berkat bantuan Mbah Gito. Baru beberapa langkah tak jauh dari kamarnya


Sintia menghentikan langkah. Ia memegangi sebelah dadanya yang terasa sesak. Ia terbayang wajah bahagia Dina saat berhasil mendapatkan Riko.


"Lu kenapa Sin?"


"Gue gak apa-apa kok Wid, gue cuma keinget mimpi buruk."


"Mimpi apa Sin?" Tanya Widia mengaitkan kedua alis mata.


Sintia menarik nafas dalam sebelum menceritakan segalanya. Dengan detail Sintia menceritakan semuanya, termasuk pertemuan nya dengan sosok perempuan tua dan juga pak Kirun.

__ADS_1


"Lu ngapain mimpi aneh kayak gitu? Terus bagian seremnya dimana Sin?"


"Lu gak lihat sih gimana wajah perempuan tua itu. Dia itu auranya masih manusia, tapi kok perasaan dia lebih menyeramkan dari kuntilanak yang kita lihat. Dan ada satu hal lagi, perempuan tua itu kayaknya bisa ngendaliin kuntilanak itu deh. Mungkin gak sih, sebenarnya perempuan tua itu Tuan nya? Dan dia gak jauh dari kita. Nyatanya ada Pak Kirun juga di mimpi gue. Katanya kalau dia gak selamatin gue, selamanya gue bakal ada di alam itu sampai waktunya pengorbanan tiba."


"Hah. Pengorbanan? Maksudnya apa Sin?"


"Gue juga gak paham Wid, malahan kuntilanak itu sempat berbicara sesuatu ke gue. Dia bilang maafkan nenek buyutmu ini ya Sin. Masak iya kuntilanak itu nenek buyut gue?"


Tap tap tap.


Mariyati baru saja keluar dari ruang ritual. Peluh nampak membasahi keningnya, bahkan nafasnya seperti terengah-engah. Ia membulatkan kedua mata, menatap para gadis muda itu dengan tatapan membunuh.


"Akhirnya kau bisa kembali dengan selamat." Kata Mariyati dengan tersenyum melalui sudut bibirnya.


"Jadi bu Mariyati tau kalau Sintia bermimpi buruk, dan terancam tak bisa kembali ke dunia nyata?" Celetuk Widia.


Sintia langsung menyikut lengan Widia. Ia merasa tak nyaman berada di hadapan pengelola Panti itu. Barulah ia berpamitan ingin menjenguk nek Siti di kamarnya.


"Pergilah! Siti pasti akan segera sembuh setelah melihat wajahmu. Ia pasti senang bisa melihatmu lagi." Ucap Mariyati menatap Sintia tanpa berkedip.


Tak menunggu lama, Sintia bergegas pergi dari sana. Meski secara visual usia Mariyati tak berbeda jauh darinya, namun pada kenyataannya ia tetap memiliki rasa segan ketika berhadapan langsung dengan pengelola Panti Jompo itu. Widia mengejar Sintia, dan mengatakan hal yang sama pada Sintia.


"Lu ngerasa gak sih, kalau kita terlalu sopan di depan perempuan itu? Padahal kan umurnya gak berbeda jauh dari kita. Tapi kok kita kayak segan banget ya sama dia?" Kata Widia dengan menggaruk kepala yang tak gatal.


"Udahlah Wid, gak usah dibahas. Kita masuk ke dalam sekarang yuk, sebentar lagi udah mau jam sebelas malam nih. Keburu kita gak dibolehin berkeliaran diluar kamar!"


Sintia berniat menarik gagang pintu yang ada di depannya. Namun suara tawa dari dalam kamar itu mengurungkan niatnya. Beberapa orang yang ada di dalam sedang membicarakan Dina yang akan segera memiliki keturunan. Sintia merasa jika semua orang di Panti itu merasa senang dengan hubungan Dina dan Riko. Sehingga ia merasa semakin dihianati oleh banyak orang. Namun tiba-tiba seseorang membuka pintu dari dalam, dan membuatnya terperanjat.

__ADS_1


__ADS_2