
Lelaki jelmaan kuda itu melesat menghindari cambuk yang terus menerus dipecutkan ke arahnya. Sintia yang masih berada dalam dekapannya diam dengan tatapan bingung. ia masih berada di alam bawah sadarnya, memikirkan keajaiban yang baru pertama kali dilihatnya.
"Jadi lelaki ini manusia jadi-jadian si kuda delman. Apa dia gak jahat seperti siluman lainnya." Batin Sintia di dalam hatinya.
Tiba-tiba lelaki itu menyahuti isi hatinya, dengan mengatakan jika ia tak sama seperti siluman pada umumnya. Karena ia adalah utusan dari jin muslim yang dihadiahkan untuk pak Kirun, karena telah menjadi abdi setia pangeran jin.
"Lepaskan gadis itu, sebelum aku membinasakan mu!" Pekik Mariyati berdiri mengambang di tengah udara.
"Hanya atas ijin Allah, aku bisa binasa. Dan dari pengamatan ku, kau tak akan bisa membinasakan ku begitu saja. Aku adalah peliharaan yang paling setia untuk pangeran jin muslim. Kalau kau berani mencelakai ku, lawanmu akan semakin berat! Kai hanyalah manusia sesat dengan sedikit ilmu yang tak seberapa!" Sahut jelmaan kuda itu.
Terjadi perkelahian gaib, secara kasat mata keduanya hanya diam dengan saling menatap. Namun pada kenyataannya, keduanya sedang beradu ilmu di alam antah berantah. Sintia diminta pergi meninggalkan hutan itu, karena kini Mariyati harus berhadapan dengan jelmaan kuda pak Kirun. Sementara pak Kirun sendiri masih beradu kekuatan dengan mbah Gito. Ini adalah kesempatan yang bagus supaya Sintia bisa melarikan diri dari kedua manusia sesat yang ingin menumbalkan nyawa nya. Namun lagi-lagi ia berjumpa dengan Dina. Dina nampak berjalan tertatih seraya berteriak memanggil nama Sintia berulang kali.
"Kalau bu Mariyati sedang melawan kuda jelmaan pak Kirun, berarti dia adalah Dina. Tapi kenapa tadi dia berubah seakan bukan dirinya sendiri. Atau mungkin dia dipengaruhi kekuatan jahat?" Batin Sintia di dalam hati.
__ADS_1
"Kalau lu emang Dina, gak mungkin lu bersikap kayak tadi ke gue. Lu ngomongin hal-hal gaib yang gak pernah lu omongin sebelumnya!"
"Hahaha gue emang Dina... Tapi gue bukan Dina yang dulu lu kenal. Bu Mariyati udah kasih tau semua ke gue. Kalau gue berhasil ngehalangin lu pergi dari Panti, gue bakal diberi ilmu awet muda dan juga ilmu pelet. Dan buat gue itu sangat menguntungkan Sin. Apa susahnya sih ngegagalin rencana lu buat kabur dari sini!" Jelas Dina seraya mencengkeram tangan Sintia, lalu menodongkan sebilah pisau di lehernya.
Seketika Sintia tak bisa memberikan perlawanan. Karena Dina tiba-tiba mendekapnya dari belakang. Sintia kembali mengingatkan nya mengenai tumbal, yang akan menjadikannya salah satu korban. Namun Dina tak percaya dengan ucapan Sintia. Ia justru terperdaya dengan iming-iming yang Mariyati berikan.
Tanpa diduga seseorang mendorong tubuh Dina, hingga ia terpelanting ke tanah lalu tak sadarkan diri. Sintia menoleh ke belakang, dan tercekat melihat sosok nek Siti lah yang membebaskan nya dari Dina. Sintia berlinang air mata lalu memeluk nenek buyutnya. Ia menumpahkan semua kesedihan, membuat nek Siti dipenuhi rasa bersalah.
"Sudah Sin, jangan menangis lagi. Kau harus segera pergi sebelum Mariyati ataupun Gito datang. Nenek hanya bisa membantumu sejauh ini saja, karena nenek tak memiliki kemampuan apapun jika matahari sudah terbit." Pungkas nek Siti seraya menyeka air mata Sintia.
"Dina berubah karena rasa iri dengki dan keegoisan nya sendiri. Dia tak dalam pengaruh hipnotis sama sekali. Setelah ini pergilah tanpa memperdulikan siapapun yang akan menghalangi mu. Dan kau tak perlu gelisah memikirkan nasib Widia dan Riko. Keduanya tak akan kembali ke kota, karena mereka sudah kembali ke Panti. Kau hanya perlu mencari bantuan ke orang yang tepat Sin. Karena ada kemungkinan kau juga akan kembali lagi seperti mereka." Ucap nek Siti menangis.
Perlahan nek Siti melepaskan genggaman tangan Sintia. Ia meminta cicitnya untuk segera meninggalkan hutan itu, namun tak diduga nek Dijah beserta kakek Bimo dan kakek Dodit berdiri menghadang langkahnya. Sintia tercekat dengan menelan ludahnya kasar.
__ADS_1
"Teruslah melangkah Sin, lewati saja ketiga lansia itu. Di pagi hari seperti ini, mereka hanyalah orang tua yang tak memiliki kekuatan apapun!" Seru kakek Ridho dari kejauhan.
Sintia menoleh ke segala arah, mencari jalan yang bisa ia lewati. Nek Siti dan kakek Ridho sama-sama menghadang ketiga lansia itu, seraya memegangi tangan mereka. Namun nek Dijah berhasil terlepas, karena tenaga nek Siti tak terlalu kuat untuk menahannya. Kini nek Dijah berdiri tepat di depan Sintia, ia menyeringai membuat Sintia bergidik ngeri.
"Jangan takut Sin, lawan saja lansia itu. Dijah hanyalah nenek-nenek jompo yang tak memiliki tenaga besar untuk melawanmu. Kami hanya akan menjadi kuat di malam hari, dengan wujud asli kami yang sebenarnya!" Teriak nek Siti yang masih memegangi tangan kakek Dodit.
Sintia menuruti ucapan nenek buyutnya, dan berjalan melewati nek Dijah. Tangan keriput nek Dijah mencengkeram tangan Sintia, namun Sintia bisa melepaskan nya dengan mudah.
"Nenek tak bisa menghentikan ku, atau membawaku ke hutan yang dipenuhi sundel bolong lagi. Lebih baik nenek beristirahat dengan tenang di alam yang sesungguhnya!" Ucap Sintia sebelum melangkahkan kakinya pergi.
Nek Dijah berusaha menghentikan Sintia dengan mengatakan hal-hal yang menyedihkan mengenai nek Siti. Lansia itu terus berusaha mempengaruhi Sintia, karena ia tau jika Sintia memiliki hati yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Jangan dengarkan dia Sintia... Nenek tak keberatan jika kau pergi. Justru nenek bisa lega dan tenang untuk kembali ke alam keabadian setelah kau bisa selamat dari perjanjian terkutuk itu!" Seru nek Siti seraya mengibaskan tangannya, supaya Sintia segera pergi.
__ADS_1
Melihat raut wajah tulus dari nenek buyutnya, membuat Sintia ingin segera pergi dari sana. Ia mengacuhkan nek Dijah, dan melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia pergi dari hutan belantara itu tanpa menolehkan kepalanya ke belakang. Sintia terus berlari dengan berlinang air mata. Perasaannya campur aduk tak menentu. Disisi lain ia senang bisa berjumpa dengan nenek buyutnya, namun ada perasaan sedih dan gelisah, mengetahui jika ia tak akan bisa bertemu lagi dengan nek Siti. Belum lagi nasib teman-temannya yang ada dalam bahaya.
Dari kejauhan terlihat sorot lampu mobil yang berjalan ke arahnya. Pandangan matanya buram karena kabut yang menghalangi penglihatannya. Sintia terus melambaikan tangannya, berharap jika mobil yang ada di depan sana akan berhenti untuk memberikan tumpangan. Namun mobil itu tak kunjung mendekat, dan terkesan semakin jauh jaraknya. Akhirnya Sintia belari berusaha menghampiri mobil itu supaya lebih dekat lagi jaraknya.