
"Bukankah sudah ku bilang, kau jangan terlalu senang dulu karena anakmu lebih dulu ditemukan. Aku sudah memperingatkan mu, jika menghilang nya anak-anak kita karena hal gaib yang tak pernah kita duga. Tapi kau tak mau bekerja sama denganku untuk pergi ke dukun. Kalau sudah begini apa yang akan kau lakukan?" Bentak seorang wanita seumuran ibu Sintia, ia berpenampilan layaknya anak muda mengenakan celana jeans ketat dengan kemeja kotak berwarna putih.
"Sudahlah jangan sangkut pautkan semuanya! Mungkin Sintia sedang pergi ke suatu tempat, aku akan mencarinya ke sekitar rumah sakit ini!" Sahut ibu Sintia seraya menyeka air matanya.
"Sadarlah! Aku bukannya menakutimu, karena Dina juga belum ditemukan sampai sekarang! Pasti ada kekuatan jahat yang menyandera nya, itu yang dikatakan dukun yang ku temui kemarin. Kita masih bisa menyelamatkan anak-anak kita, jika kau bekerja sama denganku!"
"Sintia belum hilang seperti anakmu! Dia hanya pergi sebentar, dan aku yakin bisa menemukannya!" Serunya seraya berjalan pergi.
Nampak ibu Dina kesal melihat nya, ia berjalan pergi ke lorong panjang yang sepi pengunjung. Disana ia bertemu dengan seorang wanita yang mengenakan jubah hitam. Ia diberi beberapa gepok uang, dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Apa kau yakin dia gak akan kenapa-napa? Apa aku bisa bertemu dengannya?" Tanyanya dengan mengaitkan kedua alis mata, dan dibalas dengan anggukan kepala.
Wanita berjubah hitam itu pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Terlihat ibu Dina sibuk memasukan gepokan uang ke dalam tas jinjing nya.
*
*
Malam itu Mariyati sibuk mempersiapkan segala keperluan ritual. Hanya ada Dina yang kerepotan membantunya, ia sudah termakan omongan manis Mariyati untuk mendapatkan berbagai ilmu yang akan diturunkan padanya. Belum lagi iming-iming jika ia mau menyerahkan bayi yang akan dilahirkan nya. Mungkinkah Dina akan selamat dari perjanjian gaib yang sudah membuat jiwanya tergadaikan? Sementara nek Dijah harus bersabar menunggu sampai satu tahun ke depan? Ataukah justru Dina akan menjadi penerus semua ilmu sesat itu?
Terdengar suara benda yang diseret di lantai. Nampak Mariyati sedang menyeret paksa tubuh Widia. Ia dalam keadaan lemas tak bertenaga. Kali ini ada yang berbeda dari ritual sebelumnya, karena Dina mengikuti setiap prosesi ritual. Dari awal ia ikut menyiapkan segalanya, bahkan ia menata rapo berbagai sesajen dan dula di atas meja kayu.
__ADS_1
Terdengar suara mbah Gito komat-kamit membaca rapalan mantra. Ia bertanya pada Mariyati, apakah ia sudah selesai membersihkan tubuh Widia.
"Tunggu aku sedang melepaskan semua pakaiannya, hanya perlu ku basuh dengan bunga kantil ini saja." Jelas Mariyati seraya melepaskan satu persatu pakaian yang dikenakan Widia.
Tiba-tiba ada aroma anyir darah yang menyengat, sangat amis tidak seperti darah segar pada umumnya.
"Apa kau sudah memulai ritual dan menyayat tangannya?" Pekik mbah Gito yang sedang duduk menyilangkan kedua kakinya.
Seketika Mariyati melotot setelah mendengar perkataan mbah Gito. Ia tal merasa melakukan apapun, bahkan ia belum selesai melucuti pakaian Widia. Lalu terdengar suara jeritan Dina, ia terlihat menunjuk ke bawah dipan kayu yang menjadi tempat berbaring Widia.
"Hmm i itu... Ada darah yang menetes dari sana!" Seru Dina, tangannya menunjuk ke bawah lantai.
Seketika Mariyati agak menundukkan badannya ke bawah dipan kayu, ia melihat tetesan darah berceceran di lantai. Dengan panik ia membuka celana panjang yang dikenakan Widia, ia terkejut dengan apa yang dilihatnya. Mariyati menjadi kesal seraya mengepalkan kedua tangannya.
"Sial! Gadis ini datang bulan disaat yang tidak tepat! Kita tidak bisa menumbalkan nya dalam keadaan kotor seperti ini! Selain persembahan kita tak akan diterima, para jiwa tanpa raga lansia itu tak akan mendapatkan manfaat yang sesuai. Akupun juga tak mau memangsa organ dalam dengan aroma darah kotor, akan lebih baik jika kita mempersembahkan nya dalam keadaan bersih!" Seru Mariyati murka.
Terlihat mbah Gito merubah posisi duduknya. Ia turun dari singgasana tempatnya bersemedi, lalu menuruni anak tangga sebelum berjalan ke arah dipan kayu. Ia membuka lebar telapak tangannya, untuk menetralisir energi yang ada di dalam tubuh Widia.
"Kau benar, tumbal dalam keadaan kotor seperti ini beresiko untuk ditolak. Jika kita nekat melakukan nya, ada kemungkinan penolakan dari makhluk gaib yang kita sembah. Memberikan persembahan jiwa dengan keadaan kotor hanya akan merugikan kita sendiri. Lantas apa yang harus kita lakukan, untuk memberikan hadiah pada Windu? Ia akan salah paham dengan maksud kita!" Pungkas mbah Gito, lalu ia memijat pangkal hidungnya.
Mbah Gito dan Mariyati sama-sama terdiam, jam sudah hampir menunjukkan pukul dua belas tengah malam.
__ADS_1
"Apakah hantu para lansia itu akan mengamuk jika tak mendapatkan apa yang mereka mau?" Tanya Dina dengan mengusap belakang tengkuknya.
"Tentu saja mereka akan mengamuk. Apa kau takut pada hantu seperti mereka?" Jawab Mariyati dengan pertanyaan.
Dina hanya menelan ludahnya kasar, ia menoleh ke berbagai arah merasakan hawa dingin yang tiba-tiba memasuki ruangan itu. Terdengar Mariyati membentak Dina, ia meminta perempuan itu untuk membiasakan diri melihat wujud asli para lansia yang ada disana.
"Jika kau ingin memiliki ilmu yang kami miliki, belajarlah membuang rasa takutmu. Mereka hanya jiwa tanpa raga yang bisa mendominasi rasa takut para manusia untuk membuat manusia lemah iman. Jika kau bisa mengatasi rasa takutmu, kau baru bisa menjadi seperti kami. Ingatlah apa yang akan kau dapat setelah ini. Dan kami ingin kau membuktikan ketulusan dan kesetiaan mu sekarang juga. Kau harus memberikan apa yang ku perintahkan!" Ucap Mariyati dengan sorot mata tajam.
"Apa lagi yang harus ku berikan? Apa kau memintaku memberikan hidupku untuk menggantikan posisi Widia saat ini?" Dina mengaitkan kedua alis mata, nampak raut wajahnya pucat dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya.
Mariyati menyeringai seraya berjalan memutari Dina. Nampaknya Dina ketakutan, sampai tubuhnya bergetar. Mbah Gito tersenyum miring menatap Dina dengan sorot mata penuh makna.
"Kenapa mereka melihatku dengan tatapan begitu? Apakah mereka benar-benar ingin menjadikan ku tumbal sebagai pengganti Widia?" Batin Dina di dalam hatinya cemas.
Tak ada jawaban dari kedua manusia sesat itu. Dina semakin ketakutan ketika angin kencang datang, hingga membuka lebar jendela kayu. Tak berselang lama terdengar suara eraman, dan sesuatu yang terjatuh di lantai. Suara utu terdengar sangat keras, hingga Dina berjongkok di lantai dengan menutupi wajahnya.
"Hahaha apa yang seharusnya ada memang harus kembali ke tempat aslinya. Tapi kita masih harus mencari cara untuk mendapatkan apa yang telah hilang!" Mariyati tertawa bahagia, membuat Dina penasaran dan memberanikan diri melihat apa yang telah terjadi.
...Hai mau kasih info, othor ada novel baru yang release hari ini ya. Judulnya Pesan Kematian, mampir baca di novel baru juga yuk. Kalau ada rejeki di novel itu insyaallah ada giveaway lagi. Bantu doa aja supaya novel baru ada rejekinya, dan othor bisa adain giveaway lagi 🤲💕...
__ADS_1