
Malam itu suasana di Panti sangat sunyi, sehingga Mariyati merasa ada yang janggal. Ia keluar dari persembunyian, lalu berkeliling di sekitar Panti. Malam itu hanya ada ke empat hantu lansia. Mariyati dengan tubuh renta nya berkeliling mencari hantu nek Dijah dan nek Siti. Namun ia tak dapat menemukan keduanya. Ke empat hantu lansia juga tak ada yang tau kemana keduanya pergi. Dengan keadaannya yang seperti itu, Mariyati tak dapat melakukan apapun termasuk menerawang melalui batin. Ia mendongakkan kepala ke atas, melihat sinar bulan purnama yang sangat terang. Mariyati menggelengkan kepala, merasa apa yang ia lakukan sia-sia dan tak ada gunanya. Perwujudan hantu kakek Bimo datang memberitahu, jika ada hantu diluar Panti yang memberi info, kalau hantu nek Dijah dan nek Siti sedang beradu kekuatan di hutan wingit belakang Panti.
Nampak raut wajah Mariyati berubah cemas. Ia seakan memikirkan sesuatu yang membuatnya curiga. Akhirnya Mariyati berjalan tertatih ke kamar Sintia dan Dina. Ia melihat dari balik jendela, hanya terlihat kamar kosong tanpa penghuni. Mariyati menjadi semakin cemas, ia berpikiran jika dua gadis yang diceritakan kakek cangkul adalah Sintia dan Dina. Lalu kenapa kedua hantu lansia itu bisa sampai disana, apakah mereka mengikuti kedua gadis muda itu.
__ADS_1
"Apa kau tau apa yang direncanakan Siti dan Dijah?" Tanya Mariyati pada kakek Bimo, dan dijawab gelengan kepala olehnya.
Mariyati mengepalkan kedua tangan dengan membulatkan kedua mata.
__ADS_1
"Berdasarkan informasi dari hantu kakek cangkul, dia melihat Dijah dan Siti sedang memperebutkan seorang gadis. Menurutnya gadis itu baru saja selamat dari siluman harimau. Namun yang satunya lagi berhasil tertangkap. Entah kenapa mereka sampai berkeliaran sampai ke hutan sana!" Jelas hantu kakek Bimo.
Nampak raut wajah Mariyati berubah cemas. Ia seakan memikirkan sesuatu yang membuatnya curiga. Akhirnya Mariyati berjalan tertatih ke kamar Sintia dan Dina. Ia melihat dari balik jendela, hanya terlihat kamar kosong tanpa penghuni. Mariyati menjadi semakin cemas, ia berpikiran jika dua gadis yang diceritakan kakek cangkul adalah Sintia dan Dina. Lalu kenapa kedua hantu lansia itu bisa sampai disana, apakah mereka mengikuti kedua gadis muda itu.
__ADS_1
Sementara Sintia yang berada diluar sana, masih berusaha mencari petunjuk jalan. Meski ia berhasil menghindari kedua hantu perempuan yang ia lihat, sesekali ia tetap harus bersembunyi dari binatang buas. Entah itu sungguhan binatang atau hanya makhluk jadi-jadian. Kini ia sedang menghindari binatang melata yang sedang menghadang langkahnya. Sintia menghentikan langkah dan menahan nafas. Ia sengaja membiarkan binatang melata itu melewati jalan setapak terlebih dulu, daripada dirinya. Binatang bersisik dengan racun di tubuhnya telah berhasil ia hindari. Sintia kembali menapaki jalanan yang basah karena hujan. Ia menoleh ke berbagai arah, mencari lakban hitam yang ditempelkan Dina di batang pohon. Tiba-tiba sosok kuntilanak dengan rambut putih panjang melesat mendahuluinya. Hantu itu seakan memberi penunjuk jalan untuknya. Sesuai dengan petunjuk kuntilanak itu, Sintia berhasil keluar dari hutan belantara. Ia menoleh ke sekitar, dan tak ada siapapun disana. Ia terus berjalan dengan langkah gontai, karena luka di betisnya sudah mulai memerah infeksi.
Samar-samar terdengar suara sepatu kuda, nampak pak Kirun mengemudikan delman dari kejauhan. Seketika Sintia menghadang di tengah jalan. Ia setengah mati mempertahankan kesadarannya, sampai akhirnya delman itu berhenti tepat di depannya. Pak Kirun turun dari delman, melihat ke atas pohon beringin. Ia memejamkan kedua mata, dan mendapat penglihatan gaib dari sosok kuntilanak nek Siti. Rupanya nek Siti meminta tolong, supaya ia membawa cicitnya pergi dari Panti. Namun pak Kirun terlihat ragu, karena nantinya ia pasti akan berurusan dengan Mariyati. Dan ia sudah terlanjur terikat janji pada adiknya itu, tapi akankah pak Kirun menuruti permintaan kuntilanak nek Siti.
__ADS_1