TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 89 RANIA DILEMA.


__ADS_3

Bayangan tadi berubah menjadi seseorang yang sangat ia segani dalam hidupnya. Sesepuh desa yang selalu melindunginya dulu. Ya, jiwa mbah Karto datang untuk memberikan mustika yang harus ia berikan untuk orang yang nanti akan ditemuinya. Nampak aura hangat terpancar dari jiwa lelaki tua itu, membuat Rania merasa damai dan tenang ketika berhadapan dengannya.


"Berikan itu pada Abdul nduk, supaya ia dapat dengan mudah mengembalikan ingatan pemuda yang sedang ada di tempat nya." Ucap sosok mbah Karto dengan senyum teduhnya.


"Mustika apa ini mbah?" Rania menerima mustika yang berbetuk seperti batu pada umumnya. Ia mengaitkan kedua alis mata penasaran.


"Mustika batu itu milik Kebo Iwa, dapat mengembalikan segala bentuk kenangan di masa lalu seseorang. Baik kenangan dan masa lalu dari kehidupan yang sekarang ataupun dari kehidupan lampau sebelum bereinkarnasi. Bukankah ini yang kau butuhkan untuk menolong orang-orang itu nduk?"


Setelah menjelaskan segalanya pada Rania, jelmaan sesepuh desa Rawa belatung itu langsung berpamitan untuk kembali ke alamnya. Beliau meminta Rania untuk tetap menjaga diri, dengan tak meninggalkan ibadahnya pada Yang Maha Kuasa. Terlihat Rania menangis sesegukan, ia tak menyangka jika mbah Karto menepati janjinya untuk tetap melindungi dirinya maupun orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Beliau bukanlah orang biasa seperti eyang buyutnya. Meski raganya sudah tak ada di dunia, jiwa mereka akan selalu ada untuk melakukan kebaikan. Lantas dimanakah tempat jiwa-jiwa tanpa raga seperti mbah Karto itu? Ya, arwah mereka yang sesungguhnya mungkin sudah tenang di alam keabadian. Namun Qorin mereka masih tetap hidup sampai akhir jaman.


Angin dingin berhembus, bersamaan dengan hilangnya sosok sesepuh desa itu. Mbak Ayu berjalan perlahan menghampiri Rania, melihat sesuatu yang sedang ia genggam.


"Syukurlah ada pertolongan datang! Ternyata mbah Karto masih tetap ngawasin lu ya Ran. Jadi sekarang gue gak perlu hawatir biarin lu pergi kesana sendiri. Karena akan ada banyak kebaikan yang mendampingi lu dimanapun. Gue udah dengar semua yang kalian bicarakan, jadi tunggu apalagi, cepetan istirahat dan bangun pagi buat berangkat!"

__ADS_1


Rania menyunggingkan senyum seraya memasukan mustika itu ke dalam saku bajunya. Ia kembali ke kamar, lalu menghubungi Adit melalui panggilan telepon. Ia mengutarakan maksdunya untuk mengajak Adit pergi keluar kota menemui seseorang yang dimaksud orang dalam mimpinya. Namun sepertinya Adit sedang ada pekerjaan, ia menjelaskan jika ada sebuah kasus janggal yang menyebabkan kematian seorang wanita. Dan terduga nya sudah tua, membuat penyelidikan agak tersendat.


"Jadi kau tak bisa menemani ku mas? Kalau gitu besok aku langsung ke kantor saja, buat minta ijin ke pak bos. Sebenarnya aku gak enak kebanyakan ijin daripada waktu kerjanya! Tapi mau bagaimana lagi, gak ada pilihan lain!" Rania menghembuskan nafas panjang, agak sungkan harus menemui atasannya.


"Hmm gini aja Ran, kau berikan bahan berita aja dulu sebelum menemui atasanmu. Kayaknya kasus yang sedang aku tangani ada kejanggalan. Berkali-kali terduga mengatakan jika ada bayangan yang terbang di atas nya, lalu tiba-tiba terjadi kecelakaan yang tak ia duga-duga sampai mengakibatkan korban meninggal dunia."


"Maksudnya gimana sih mas?" Tanya Rania menggaruk kepala yang tak gatal.


Nampak Rania mengacak rambutnya kasar, ia terlihat lebih frustasi lagi setelah mendengar penjelasan Adit dari seberang telepon sana.


"Mas sebenarnya kau ingin memberiku bantuan atau menambah beban masalah sih! Aku belum selesai menyelesaikan satu masalah, tapi kau berniat memberiku satu masalah lagi!" Seru Rania tertunduk.


"Ayolah Ran! Selain kau akan mendapat bahan untuk berita, kasus ini memang perlu kau telusuri. Bukankah atasanmu paling suka dengan berita kayak gini. Pasti dia gak akan masalah jika kau pergi selama beberapa hari, jika kau memberikan bahan bagus buat di release di media nya." Bujuk Adit.

__ADS_1


"Gimana ya mas, aku jadi dilema kan!"


"Ya udah pikirkan saja dulu, aku tutup telepon nya ya. Kalau jadi datang ke kantor polisi hubungi aku dulu, supaya aku dapat meminta persetujuan saksi ataupun terduga buat diwawancarai." Ucap Adit sebelum mengakhiri panggilan telepon itu.


Rania duduk di samping jendela memandang ke arah luar. Mbak Ayu datang membawakan segelas susu hangat untuknya.


"Ini diminum dulu, biar tidur lu nyenyak. Gimana tadi, Adit bisa gak nemenin lu pergi?"


Rania menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan itu. "Boro-boro nemenin mbak, yang ada gue harus ngeliput berita dulu deh! Tapi sebenarnya gak cuma ngeliput, feeling gue sih bisa aja gue malah terjerumus dengan hal yang akan gue liput nantinya. Entah gue harus dengerin kata mas Adit atau enggak!" Jelas Rania seraya meneguk susu hangat itu sampai tersisa setengah gelas.


"Maksudnya ada kasus yang sedang ditangani Adit, dan berhubungan dengan hal gaib gitu? Lalu Adit minta bantuan lu buat ngeliput sekaligus menelusuri apa yang sebenarnya terjadi?"


"Iya mbak... Gimana ya baiknya!" Rania kembali terdiam, ia sedang menimbang-nimbang keputusan yang terbaik. Entah ia akan datang untuk mewawancarai kasus yang sedang Adit tangani, ataupun ia akan langsung pergi menjalankan misinya.

__ADS_1


__ADS_2