
Sintia ketakutan melihat wujud pocong Kakek Dodit. Ia menelan ludah kasar sebelum berusaha bangkit berdiri. Namun sosok pocong yang ada di depannya melesat cepat mendekatinya. Dari kejauhan terdengar suara Riko yang berteriak.
"Baca doa Sin, inget sama Allah. Selama ini kita terlalu jauh dari Allah sampai gak sadar dengan keadaan sekitar. Jangan takut Sin, lawan aja dengan ayat-ayat suci!" Pekik Riko yang berada di dalam galian tanah.
Tubuh Sintia bergetar hebat dengan keringat dingin yang bercucuran. Ia menghembuskan nafas panjang seraya menengadahkan tangan ke atas.
Bismillahirrahmanirrahim.
"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum..." Ucap Sintia membaca ayat kursi, namun bacaannya tak pernah tuntas sampai selesai.
Dengan bingung Sintia berlari menuju ruang tamu, namun langkahnya kembali di hadang pocong itu. Kali ini ia kembali menyemburkan ludah ke arah Sintia. Namun sayangnya lengannya terkena percikan ludah pocong itu. Lengan Sintia melepuh mengeluarkan asap tipis, yang membuat kulitnya menganga memperlihatkan daging berwarna kemerahan bercampur darah yang berwarna hitam. Sontak saja Sintia menangis sejadi-jadinya, ia memegangi lengannya yang sakit tak tertahankan. Dari balik jendela kayu terlihat sebuah mata yang mengintip.
__ADS_1
"Lawan Sin... Jangan takut! Lu pasti gak akan bisa selesaikan bacaan doa kalau di dalam hati lu masih ada ketakutan. Lu baca doa bukan untuk meminta perlindungan pada Allah, tapi lu baca doa karena merasa takut dengan sosok pocong itu. Karena itulah lu gak akan pernah bisa menuntaskan bacaan doa. Ayo Sin lawan rasa takut lu, dan hadapi makhluk itu dengan berani!" Jerit Rania diluar jendela sana.
Mendengar ucapan Rania membuat keberanian Sintia muncul. Ia menyeka air mata dan keringat yang membasahi keningnya. Ia berpasrah diri seraya menengadahkan tangan ke atas. Di awali dengan bacaan basmallah, akhirnya Sintia mengucapkan ayat kursi itu dengan tenang dan ikhlas. Matanya terpejam meminta perlindungan dan kuasa Allah untuk melindungi dirinya dari pocong Kakek Dodit. Begitu ia menuntaskan bacaan ayat kursi sampai selesai, terdengar bisikan lembut seorang lelaki yang asing di telinganya.
"Semua yang berasal dari api harus menjadi api." Bisik seseorang yang tak terlihat wujudnya.
Sintia akhirnya paham, jika ia harus membakar sosok yang ada di depannya tanpa rasa takut seperti sebelumnya, sewaktu sosok Kakek Bimo terbakar karena sebatang korek api yang tak sengaja mengenainya. Dan begitu Sintia memantik api dengan doa yang tulus, api benar-benar membakar tubuh hampa sosok pocong Kakek Dodit. Ia menggelepar sebelum akhirnya hangus menjadi abu.
"Sin kita tukar posisi saja. Gue udah menggali tanah, dan menemukan beberapa bungkusan yang dibentuk pocong. Tapi gue gak bisa nemuin korek dimanapun. Nah ini kok ada asap bekas kebaran, darimana asalnya api ini Sin?" Kata Riko yang nafasnya terengah-engah karena lelah menggali tanah.
"Gak ada waktu buat jelasin Ko, gue bawa korek api nya. Lu congkel aja pintu itu, biar gue yang bakar semua bughul nya!" Ucap Sintia seraya berlari ke taman belakang.
__ADS_1
Terdengar suara jeritan Widia yang mengganggu konsentrasi nya. Sintia bimbang dan ingin berlari ke ruang ritual itu. Namun ia ingat pesan nenek buyutnya.
"Fokus Sin! Lu harus selesaikan tugas lu! Widia pasti akan baik-baik aja!" Batin Sintia di dalam hatinya.
Terlihat beberapa bughul di samping gundukan tanah yang berhasil di gali Riko. Semua bughul itu nampak basah, sehingga Sintia kesulitan untuk membakarnya. Akhirnya ia membawa semua bughul ke dapur, beberapa balok kayu di ambil untuk menghidupkan api di tungku. Dan semua bughul dimasukan bersamaan dengan kayu ke dalam tungku. Strategi nya pun berhasil. Api membesar dengan sempurna, meskipun semua bughul itu belum hangus menjadi abu. Setelah memastikan api tak padam, Sintia membuka paksa pintu ruangan ritual. Nampak pemandangan yang menyayat hatinya. Widia sudah tergeletak lemas di atas dipan kayu. Di sisi kiri dan kanannya ada beberapa batok kelapa yang digunakan untuk menampung darah yang mengalir cukup deras dari pergelangan tangannya. Widia masih setengah sadar, ia terdengar meminta tolong dengan suara lirih. Ada sosok hantu berpakaian kebaya yang menghisap darahnya. Dengan cepat Sintia mengambil tindakan dengan membaca lantunan ayat suci seraya berpasrah diri, lalu menyalakan sebatang korek api yang dilemparkan ke arah sosok Nek Windu.
Whuuusd...
Api membakar hantu lansia itu hingga menjadi abu. Terdengar jeritan Mariyati yang histeris. Ia menangis pilu melihat satu sosok lansia yang berhasil dihanguskan oleh Sintia. Ia murka dan memerintah Dina untuk menangkap Sintia. Mariyati membaca rapalan mantra guna untuk memantrai jiwa Sintia yang terhubung dengan bughul yang ia kira masih ada. Namun sayangnya semua bughul itu sudah hancur menjadi abu. Mariyati memiringkan kepala seraya berjalan mendekati Sintia. Dari jarak sepuluh langkah, Mariyati berhenti lalu mencengkeram leher Sintia. Secara ajaib meski tak menyentuh lehernya, Sintia dapat merasakan cekikan yang membuatnya kesulitan bernafas. Tubuhnya terangkat ke udara, dan ia hampir mati lemas. Namun ada dua sosok hantu yang melesat menembus tembok ruangan. Dua hantu lelaki yang mencoba menghentikan Mariyati mencekik Sintia.
Bruuugh...
__ADS_1
Sintia jatuh tersungkur, ia tak memperdulikan sakit di tubuhnya tapi justru berusaha melepaskan tali yang mengikat kaki dan tangan Widia. Dina tak tinggal diam saja, ia langsung menjambak rambut Sintia. Terjadi pergulatan di antara keduanya. Dan tanpa sengaja Sintia menendang bagian perut Dina. Dina memekik merasakan sakit, lalu berguling di lantai. Darah mengalir di betisnya, membuat Dina menjerit histeris. Mariyati masih sibuk mengendalikan kedua sosok hantu yang berusaha menyerangnya, sehingga ia tak sadar jika Dina dalam keadaan yang membutuhkan pertolongan. Sementara Sintia menjadi shock melihat kondisi Dina. Ia berdiri mematung melupakan tujuan awalnya untuk menolong Widia.