TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 73 DIBERI PENGLIHATAN BATIN.


__ADS_3

"Ngapain tuh cewek jongkok disana Ran?" Tanya Dahayu penasaran.


"Gak tau gue mbak, bentar deh gue lihatin kesana dulu!" Jawab Rania seraya melangkahkan kakinya.


Namun baru beberapa langkah berjalan, Adit langsung menarik tangan Rania. Karena ia mendapatkan telepon dari sopir travel.


"Kau mau kemana Rania? Mobil travelnya udah nunggu di depan nih, gak bisa parkir lama-lama katanya. Udah diteriakin satpam soalnya!" Seru Adit seraya menarik tangan Rania.


Dengan terpaksa Rania menuruti perkataan Adit untuk segera pergi. Sesekali ia menoleh ke belakang, melihat wanita muda yang berjongkok di taman tadi. Namun wanita tersebut sudah tak ada disana. Sontak saja perasaan Rania makin tak karuan, tapi ia tak dapat berbuat apa-apa.


"Kalian berdua hati-hati di jalan ya, kalau ada apa-apa hubungi aku saja. Kalau masalah disini udah selesai aku akan kembali ke Jakarta kok." Jelas Adit pada Rania dan Dahayu.

__ADS_1


Akhirnya kedua gadis itu pergi, nampak raut wajah Rania berubah cemas. Ia berusaha menerawang melalui batinnya, namun ia tak dapat melihat apapun.


"Lagi nyari tau apa lagi Ran?"


"Itu tadi loh mbak, wanita tadi. Perasaan gue janggal aja sama dia!"


"Masalahnya gue juga gak lihat apa-apa, jadi ya gak punya feeling negatif."


Terlihat beberapa keluarga berdatangan ke sebuah Panti Jompo. Mereka mengantarkan beberapa orang tua untuk dititipkan disana. Sejak awal kedatangan para lansia itu, tak pernah sekalipun ada yang datang mengunjungi mereka. Para lansia seakan terbuang dari keluarga mereka sendiri. Hingga terjadi kebangkrutan dengan pengelolaan dana operasional. Satu persatu sanak keluarga mereka tak membayar biaya bulanan, hingga pengelola Panti itu terpaksa mencari donatur dari beberapa orang. Hingga suatu kejadian petaka terjadi. Kebakaran melahap salah satu bangunan Panti, hingga menewaskan beberapa lansia yang tinggal disana. Seorang perempuan paruh baya datang dengan berderai air mata. Ia terlihat kepayahan serta histeris. Ia meratapi nasib para orang tua yang tinggal di Panti tersebut. Baru saja ia kembali setelah mendapatkan donatur untuk kelangsungan hidup para lansia disana, ia justru disuguhkan pemandangan memilukan. Ia mengutuk semua keturunan para orang tua itu, perempuan itu bersumpah akan membalaskan dendam. Sejak saat itu, banyak hal yang terjadi di Panti. Ada beberapa ritual aneh yang dilakukan, dan perlahan kehidupan disana berubah lebih baik. Ada perjanjian aneh yang pengelola Panti itu lakukan bersama para lansia. Mereka membungkus kain putih lusuh dan mengikatnya membentuk seperti pocong. Ada beberapa nama-nama yang dituliskan di atas kain kafan lusuh itu. Rania berusaha membaca dengan lebih jelas, namun fokusnya tiba-tiba terpecah. Saat sekelebatan suar berwarna hitam menutupi mata batinnya. Rania terbangun dari tidurnya, nafasnya terengah-engah dengan peluh yang membasahi keningnya.


"Lu kenapa Ran?"

__ADS_1


"Gue lihat sesuatu mbak!"


"Ini minum dulu, tenangin diri lu." Kata Dahayu seraya memberikan sebotol air mineral.


"Kayaknya gue dapat penglihatan mengenai Panti Jompo yang diceritakan Sintia deh mbak! Kayaknya ada yang sengaja ngasih penglihatan itu ke gue. Gue ngelihatnya jadi sedih tauk! Para lansia yang tinggal di Panti itu kayak ditelantarkan keluarganya. Dan si ibu pengelola Panti pontang-panting memenuhi kebutuhan mereka. Beliau nyari donatur kemana-mana, karena biaya operasional yang membengkak dan gak ada pemasukan dari pihak keluarga para orang tua itu. Ada ritual aneh yang dilakukan, entah tujuannya untuk apa saja. Gue belum bisa lihat detailnya, yang jelas gue kasihan lihat pemandangan menyedihkan itu. Ada tragedi kebakaran juga yang menewaskan beberapa lansia, dan gue tau banget gimana perasaan pengelola Panti itu. Dia susah payah mempertahankan Panti Jompo dengan nyari dana kemana-mana, tapi pas balik malah ada tragedi kayak gitu." Jelas Rania berlinang air mata.


Nampak raut wajah Dahayu berubah pilu. Kedua matanya berkaca-kaca mendengar cerita Rania. Ia menghembuskan nafas panjang sebelum mengatakan sesuatu.


"Udah Ran, lu fokus aja sama pekerjaan lu. Setelah ujian sekolah selesai, biar gue yang cari tau semuanya. Dengar cerita lu barusan, gue ngerasa ada yang perlu diluruskan. Sepertinya pengelola Panti itu melakukan ritual sesat dan ada perjanjian gaib yang ia sepakati dengan sosok gaib. Gue gak bisa diem gitu aja sih, karena gue sendiri juga jauh dari orang tua sejak kecil. Gue gak tega lihat para orang tua yang ditelantarkan keluarga nya, semoga aja kita masih bisa menyelamatkan mereka." Pungkas Dahayu dengan menghembuskan nafas panjang.


Rania langsung menyentuh pundak Dahayu. Ada keraguan di dalam hatinya, mengenai para lansia yang tinggal di Panti Jompo Muara Hati. Ia curiga, jika sebenarnya para penghuni Panti itu adalah para sosok jiwa tanpa raga. Tapi ia juga belum memiliki cukup bukti untuk membenarkan kecurigaan nya, sehingga Rania mengurungkan niatnya untuk memberitahu Dahayu mengenai apa yang sedang ia pikirkan.

__ADS_1


__ADS_2