TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 47 BERTEMU SILUMAN.


__ADS_3

Kini Sintia dan Dina sudah berada diluar bangunan Panti. Keduanya telah bersusah payah memanjat tembok tinggi. Terdengar deru nafas kencang mereka di tengah heningnya malam. Dina memberikan senter dan sebilah pisau pada Sintia. Meski ia berniat meninggalkan Sintia di tengah hutan, Dina masih memperdulikan keselamatan temannya itu.


"Kita mau nyari kemana dulu Din? Di pelosok desa kayak gini, kalau malam pasti sepi banget tauk!"


"Ke sekitar sini aja dulu, kalau gak ketemu kita masuk ke area hutan Sin."


"Emang lu gak takut kalau ketemu penjahat? Apalagi di hutan, gak cuma orang jahat aja yang bisa kita temui. Ada binatang buas, bahkan makhluk gaib juga ada Din!"


"Udah sih santai aja! Kalau lu takut mending kita balik aja lagi ke dalam, mumpung belum kemana-mana juga!" Seru Dina mengaitkan kedua alis mata.


Sintia menarik tangan Dina seraya menggelengkan kepala. Ia mengangguk lalu mengajak Dina melakukan pencarian. Keduanya berjalan berkeliling di sekitar Panti. Hantu yang bersliweran diluar Panti saling berbisik. Mereka membicarakan kedua calon tumbal hantu lansia. Dari hantu dengan bentuk utuh sampai yang tak berbentuk pun mengetahui jati diri Sintia dan Dina. Jiwa seperti mereka sangat suka menakut-nakuti para manusia. Namun mereka tak ingin mengganggu kedua gadis itu. Para hantu diluar Panti tak ingin ada masalah dengan Mariyati. Mereka tau jika Mariyati bukan lawan mereka, sehingga semua hantu itu memilih mengacuhkan Sintia dan Dina. Beberapa kali keduanya mengusap belakang leher karena bulu halus yang meremang. Mereka melihat ke berbagai arah, namun mereka tak mendapati apapun.


"Sin, lu ngerasa gak sih ada yang ngawasin kita?"

__ADS_1


"Gue ngerasa kok Din, makanya dari tadi gue noleh terus. Tapi gak ada apa-apa disini, jangan-jangan para demit penunggu tempat ini terganggu dengan kehadiran kita!"


"Jangan ngaco deh kalau ngomong! Bentar lagi kita harus masuk ke dalam hutan sana. Kalau lu udah bahas yang gaib gitu, gue jadi ragu jalan kesana!" Seru Dina dengan bergidik.


"Ya udah gue gak ngomong gitu lagi. Kita cari Widia ke hutan yuk, lebih cepat lebih baik sebelum tengah malam nanti. Kan bahaya kalau kita belum balik juga, yang ada kita bisa hilang juga kayak Widia!" Kata Sintia seraya menyorotkan cahaya senter ke jalan setapak.


Dina sedang mencari celak untuk meninggalkan Sintia seorang diri. Ia sudah memberikan tanda di sekitar jalanan yang mereka lewati supaya nantinya ia tak tersesat dan bisa kembali ke Panti.


"Begitu Sintia lengah dan gak merhatiin, gue harus cepat-cepat ninggalin dia. Gue bakal ngikutin tanda yang gue tinggalin di sepanjang jalan. Tapi gue gak boleh ceroboh, karena kalau sampai gue lupa ngambilin tanda yang gue lewatin, nantinya Sintia bisa ikutin tanda itu dan balik ke Panti dengan selamat." Batin Dina dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Lu nyembunyiin apa an Din? Apa lu ada niat lain ya?"


"Nyembunyiin apa sih? Gue gak ada niat apapun kok. Ini loh gue sengaja nempelin lakban hitam di pohon, buat penunjuk jalan pulang kita nanti. Lu gak cerdik banget sih, kalau gak gini gimana kita pulangnya. Kalau sampai nyasar kan bisa ribet. Makanya dari tadi gue motongin lakban dan nempelin di pohon-pohon yang kita lewatin, biar gampang pulangnya!"

__ADS_1


"Astaga. Sorry Din, gue udah negatif thinking sama lu. Habisnya kan lu emang sering tiba-tiba berubah moodnya."


Dina menyeringai melihat kepolosan Sintia. Sementara Sintia tak menaruh curiga dengan sikap Dina. Meski ia tau temannya itu sering berubah sifatnya. Kini mereka sudah ada di tengah hutan yang gelap. Hanya dengan bantuan senter saja, yang bisa membantu mereka melangkahkan kakinya dengan tenang. Nampak binatang-binatang malam sudah keluar dari persembunyiannya. Hewan melata juga terlihat di sekitar mereka. Suara-suara aneh mengganggu pendengaran mereka.


"Masak di tengah hutan gini ada ayam berkokok sih. Jangan-jangan itu pertanda..." Ucap Dina tak melanjutkan kata-katanya, karena Sintia langsung membekap mulutnya.


"Jangan asal kalau ngomong. Gue tau lu mau ngomong apa an. Kita jauh dari manapun, kalau bisa hati-hati dalam berucap. Gue hawatir ucapan kita bisa jadi kenyataan. Makanya kalau bisa lu jangan asal ngomong Dina!"


Dina hanya bisa menelan ludah kasar. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia justru ketakutan setelah mendengar penjelasan Sintia. Entah kenapa ia begitu bodoh menjalankan rencana penjebakan untuk Sintia, tanpa memikirkan keselamatannya sendiri.


"Sial. Gue gak mikir panjang lagi! Kalau gue bisa selamat dari para buronan, bisa jadi kan gue malah ketemu hantu penunggu hutan ini." Batin Dina seraya mengusap keringat yang membanjiri wajahnya.


Samar-samar terdengar suara auman harimau. Keduanya saling menatap, dengan raut wajah ketakutan. Mereka berlari bersembunyi dibalik semak belukar. Tak lama setelah itu nampak harimau besar berjalan di jalan setapak. Langkahnya pelan, dan terlihat waspada dengan sekitar. Seluruh tubuh Dina bergetar, ia menahan rasa takut yang luar biasa. Namun Sintia berusaha membuat Dina tak takut. Ia menggenggam tangan Dina, namun Dina langsung menepis nya. Tiba-tiba harimau yang ada di depan mereka berubah wujud. Harimau besar itu menjadi sesosok laki-laki tinggi besar, dengan bulu-bulu yang menutupi seluruh tubuhnya. Matanya menyalang merah dengan kuku panjang yang runcing. Ternyata itu adalah siluman harimau yang menghuni wilayah itu. Sintia membuka mulutnya lebar. Ia tercengang melihat pemandangan yang ada di depannya. Siluman harimau itu melihat ke berbagai arah, dengan hidung yang terus mengendus. Sintia dan Dina tak berani beranjak sedikitpun. Baru pertama kalinya keduanya melihat wujud siluman.

__ADS_1


"Kenapa gue harus terjebak disini dengan Sintia sih! Maksudnya kan gue mau buat jebakan untuk Sintia. Tapi kenapa gue ikutan kena imbasnya? Aaaarggh... Sial banget sih!" Batin Dina di dalam hatinya menyesali rencananya.


Dina berjalan mengendap, ia berusaha meninggalkan Sintia seorang diri. Suara rumput yang bergesekan karena pijakan kakinya, memancing perhatian siluman harimau itu. Siluman harimau berjalan ke arah Dina dengan perlahan. Seakan ia tak mau mangsanya mengetahui pergerakannya. Sedangkan Sintia yang baru saja menyadari jika Dina tak ada di sampingnya, baru saja melihat jika siluman harimau sudah beberapa langkah lagi akan sampai di dekat Dina. Sintia tak ingin jika siluman itu sampai mengetahui keberadaan Dina. Ia mencari cara, supaya siluman harimau itu tak sampai ke arah temannya itu. Hingga ia memikirkan sebuah cara yang kemungkinan justru akan membuat dirinya sendiri celaka.


__ADS_2