
Pagi itu Sintia sudah menyiapkan berbagai hidangan. Di atas meja tertata rapi beberapa menu makanan, tak lupa nasi tumpeng yang dipesan Mariyati. Ke enam lansia bersama-sama menuju meja makan. Meski merasa ada keanehan, Sintia hanya bisa diam mematung. Nek Windu mendapat ucapan selamat dan sambutan hangat oleh Mariyati. Lagi-lagi Sintia heran, gadis muda seperti Mariyati terlihat sangat dihormati oleh para lansia yang notabene lebih tua darinya.
"Maaf jika hadiah yang sudah disiapkan untukmu jadi tertunda. Dan kondisi mu jadi begini, tak begitu sehat seperti teman-temanmu yang lainnya." Ucap Mariyati seraya memeluk nek Windu.
Nek Windu menjawab dengan terbatuk-batuk, jika ia akan sabar menunggu dalam satu minggu. Karena ia tak sabar ingin memiliki tubuh yang sehat dan bugar.
Sementara Sintia yang kebingungan dengan apa yang terjadi disana. Nek Siti juga menjaga jarak darinya. Bahkan untuk sekedar menatap wajah Sintia saja ia tak mau. Nek Siti takut jika kasih sayangnya pada cicitnya terlalu besar, dan akan membuat semua keturunannya celaka. Sehingga ia memilih menjauhi Sintia. Mariyati tersenyum licik melihat raut wajah sendu nek Siti. Begitu pula dengan Sintia yang terlihat bodoh, tapi merasa ada kejanggalan yang tak ia ketahui.
*
*
Sesampainya di Jakarta, Adit mendapatkan telepon dari ibunya Sintia. Ia menjelaskan kronologi hilangnya putrinya. Barulah disitu sang ibu curiga, jika hilangnya Sintia berhubungan dengan hal gaib. Dengan detail ibunya mengatakan, jika pihak rumah sakit sudah melakukan pengecekan melalui cctv, Dan hasilnya Sintia tak pernah meninggalkan rumah sakit. Sintia tak terlihat melalui pintu keluar masuk, dan ia hanya terlihat keluar dari ruang perawatan nya saja.
"Bagaimana ini pak Adit, dengan mata kepala saya menyaksikan kalau Sintia berjalan ke depan taman saja. Namun tiba-tiba dia hilang bagaikan di telan bumi. Setelah melihat rekaman cctv, saya dan beberapa petugas keamanan mengecek ke sekitar lokasi. Di taman tak ada jalan lain yang bisa mengarah keluar, tapi bagaimana mungkin Sintia bisa hilang tanpa jejak. Hanya di taman itu saja, terakhir kalinya Sintia terlihat." Ucap sang ibu menangis sesegukan.
"Baiklah, ibu tenangkan diri dulu. Ibu buat saja laporan kehilangan setelah 1x24 jam. Biar petugas setempat yang akan melakukan pencarian. Sementara itu saya akan memberitahu Rania dan mbak Ayu. Hanya mereka berdua yang mengerti dengan dunia gaib. Mendengar penjelasan ibu, saya jadi curiga ada yang tidak beres dari hilangnya Sintia. Tidak masuk akal jika Sintia tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Kalau begitu saya tutup dulu telepon nya, biar saya minta bantuan ke mereka untuk mencari dimana keberadaan Sintia."
__ADS_1
Setelah mengakhiri panggilan telepon, Adit bergegas mendatangi Rania di tempat kost nya.
"Loh udah sampai sini aja, tadi katanya baru sampai?" Sapa Rania di depan pintu kamarnya.
"Kau baru pulang meliput? Dimana mbak Ayu?"
"Kami kemarin baru menyelesaikan kasus pembunuhan. Niatnya mau healing di hotel bintang lima, kenyataannya malah harus menelusuri kasus lagi. Kok kelihatannya ada yang serius sih, mas Adit ngapain datang tanpa ngabarin dulu?"
Adit mengusap wajahnya lalu menghembuskan nafas panjang. Ia mengatakan jika Sintia tiba-tiba hilang, dan gak ada yang tau dimana keberadaan nya. Sontak saja Rania terkejut, ia mengaitkan kedua alis mata nampak berpikir keras.
"Jangan-jangan sosok dari alam kegelapan membawanya kembali ke Panti jompo itu. Sebenarnya aku sudah konsultasi dengan pak Jarwo, dan beliau bilang kalau yang menggadaikan jiwa Sintia dan teman-temannya adalah keluarga mereka sendiri. Tapi pak Jarwo belum bisa menerawang dengan jelas, entah keluarga mana yang dimaksud. Kelompok pemuja iblis ini sangat tertutup dan tersembunyi identitasnya, tak sama seperti para sekte ilmu hitam yang dipimpin tante Ajeng. Mereka terang-terangan mengambil tumbal siapapun tanpa ada garis keturunan. Sedangkan yang menggadaikan jiwa Sintia dan teman-temannya, mengarah ke orang-orang tertentu saja. Harus ada ikatan darah yang sama untuk menumbalkan calon korbannya." Pungkas Rania dengan memijat pangkal hidungnya.
"Iya mas, kata pak Jarwo sih gitu. Tapi tunggu dulu deh, kok jadi curiga gini ya aku." Rania bangkit berdiri, berjalan mondar-mandir di depan teras kamarnya.
Ia membuat kesimpulan, jika ada kemungkinan keluarga Sintia ada yang tinggal di Panti jompo itu. Dan merekalah yang membuat para keturunannya tergadaikan jiwanya.
"Mungkin aja sih Ran, kemarin aku sempat dengar Sintia membahas nenek buyutnya. Dia nanya ke ibunya, siapa nama nenek buyutnya dari sang ayah. Meski gak dengar jelas, tapi aku tau jika ayah dan pamannya hilang sampai sekarang. Kayaknya keluarga mereka menelantarkan orang tua itu. Sehingga menyebabkan tragedi penumbalan para keturunan."
__ADS_1
"Yang bikin penasaran, dimana ya letak Panti jompo itu. Harusnya sih gak jauh dari lokasi sewaktu kita nabrak Sintia. Tapi pas kemarin dalam perjalanan pulang kesini, aku sama mbak Ayu gak ada lihat Panti jompo di daerah sana. Mungkin gak sih kalau Panti nya udah tutup, dan mereka dalam pengaruh ilmu hitam. Jadinya mereka gak tau kalau semua yang ada di Panti itu berbau gaib."
"Berbau gaib? Emangnya gimana sih bau nya?" Celetuk Adit cengengesan.
"Ish malah bercanda lagi! Bukan gitu loh maksudku! Intinya kayak dalam pengaruh ilmu gaib gitu, jadi mereka yang ada disana gak sadar kalau tempat itu bukanlah Panti jompo pada umumnya. Dan ada kemungkinan para penghuninya juga makhluk astral gitu. Coba deh nanti malam aku konsentrasi penuh, mungkin kakek buyutku bisa membantu menyebrangi tabir misteri yang menutupi penelusuran gaib ku." Ucap Rania seraya memegangi tasbih pemberian kakek buyutnya.
"Lantas pekerjaan mu gimana Ran?"
"InsyaAllah gak apa-apa mas, pak bos bisa ngerti kok. Yang penting aku harus selalu ada aja kalau ada berita yang bersangkutan dengan hal gaib. Sampaikan pada ibunya Sintia, kalau malam ini aku akan berusaha mencari tau apa yang sebenarnya terjadi."
Adit menghubungi ibu Sintia, sementara Rania memilih berkonsultasi dengan pak Jarwo. Ia tak mau gegabah melakukan sesuatu, karena seperti yang diceritakan pak Jarwo jika kelompok sesat itu tersembunyi. Bisa saja mereka sebenarnya ada di sekitarnya, dan mengetahui pergerakannya.
"Hallo Assalamu'alaikum pak." Ucap Rania.
"Waalaikumsalam nduk, apa yang membuatmu menghubungi ku kali ini?" Kata pak Jarwo dengan suara beratnya.
Rania menceritakan mengenai Sintia, gadis yang ia ceritakan tempo hari. Terdengar nada bicara pak Jarwo berubah, seakan ada bahaya besar yang mengancam.
__ADS_1
"Kau jangan melakukan penelusuran gaib dulu Rania. Kau bisa terjebak perangkap, karena mereka sepertinya sudah mencurigaimu. Apa kau pernah bertemu dengan orang-orang baru belakangan ini?" Tanya pak Jarwo diseberang telepon sana.
"Tentu saja Rania sering bertemu orang-orang baru pak! Pekerjaan Rania kan selalu berhubungan dengan orang baru yang gak dikenal sebelumnya. Apa pak Jarwo mendapat penglihatan bagaimana rupanya orang itu. Mungkin saja Rania bisa ingat, dimana dan siapa orang yang pak Jarwo maksud." Jawab Rania seraya mendongakkan kepala ke atas.