
Chandra Cassandra (Caca) Pov
Membosankan, sungguh membosankan hari yang ku lalui kini. Sebenernya sejak aku lulus SMA adalah hari yang membosankan buatku. Benar-benar membuatku bosan setengah mati.
Hari Senin,hari yang paling dibenci semua orang. Termasuk diriku ini. Sebenernya sih, dari hari Senin sampai minggu adalah hari yang paling ku benci. Kecuali hari dimana aku melakukan hobiku. Halu.
Hei, jangan kira halu ku tidak bermanfaat. Sangat bermanfaat, yaitu aku bahagia. Yah, bahagianya sih cuman ketika aku sedang melangsungkan ke haluan ku. Jayalah rakyat halu, jaya jaya jaya.
Sebuah deringan telpon mengangetkan ku. Aku langsung mendekat dan mengambilnya. Apa dirinya ga tau kalau aku sedang sibuk. Sibuk menyiapkan diri untuk ke haluanku yang akan menjadi nyata.
"Apa?" ketus ku.
"Dengan enteng-nya lu bilang ap? Woi, tinggal setengah jam mulai masuk Cok," ucap seseorang diseberang telpon.
"Apa sih? Lu boong yah?" tanyaku untuk memastikannya.
"Liat jam ogeb,"
Aku langsung menoleh kan kepala dan melihat jam. Ohh, jam 8.30. Tunggu, 8.30? Aku masuk kelas jam 9.00. Tinggal setengah jam dong. Astaga, jangan sampai telat lagi. Sekarang giliran dosen killer lagi. Mati lah aku, Mak tolong anakmu ini.
"Coy, lu kenapa ga bilang dari tadi," marahku.
"Adehhh, gw udah nelpon berkali-kali. Lu nya aja ga angkat, palingan lagi ngehalu,"
"Lu tau kan hobi gw. Yasudah gw pergi dulu, byeeee," ucapku dan menutup panggilan telpon.
Aku langsung memencet sebuah apk. Apk ojek online. Tanpa ku sebut merek kalian pasti sudah taukan. Ah menyebalkan, tidak ada yang mengambil pesanan ku. Apa mereka tidak ingin aku memberikan mereka rezeki.
Aku langsung mengunci pintu dan langsung menuju gang depan. Kost ku harus melalui sebuah gang yah. Untungnya saja, ada beberapa bapak-bapak sedang duduk didepan sebuah angkringan. Angkringan anak muda sih katanya, walaupun yang datang udah tua-tua.
"Pak, boleh anterin saya ke kampus?" tanya ku.
__ADS_1
"Boleh neng," ucap salah satu dari mereka.
Kami langsung menaiki motor bebek jadul bewarna kuning. Sepertinya motor ini motor kesayangan. Lihatlah, terpampang jelas ada beberapa sticker. Stiker berbentuk kartun. Kartun yang biasanya aku nonton sebelum masuk. Sampe diomelin Mak gara-gara belum siap-siap.
"Cepetan dikit pak, nanti saya diomelin pak dosen," ucapku dengan sedikit teriak. Berharap bapak-bapaknya dengar.
"Sop? Sop apa neng? Neng mau beli Sop? Katanya mau ke kampus," teriaknya juga.
Sop? Sejak kapan aku bilang sop. Dari dosen, kok langsung sop yang dibahas. Apa bapaknya sedang lapar? Atau baru habis makan sop?. Ada-ada aje ni bapak.
Aku hanya diam dan membiarkan bapak tersebut fokus akan jalan. Walaupun pikiran dan hatiku deg degan. Takut telat dan mendengar omelan pak dosen yang panjang lebar. Sampai kadangkala aku memikirkan masa lalu. Apa dimasa lalu aku memiliki kesalahan sampai-sampai aku dapat dosen killer seperti itu. Entah.
Beberapa menit kemudian, kami sampai di gedung tinggi. Gedung yang bertuliskan "universitas XX". Maaf yah, aku ga bilang. Ntar dimarahin dosenku. Bisa bahaya.
Aku langsung memberikan sebuah goceng pada bapak-bapak. Dan aku langsung berlari menuju gedung tinggi. Sebenernya sebelum beberapa langkah, tangan yang mulus ini ditahan bapak ojek. Di karenakan uangnya kurang.
Aku langsung memberikan uang sepuluh ribu padanya. Dan melanjutkan kegiatanku lari-lari di pagi hari. Lari di koridor kampus dari lantai satu sampai lantai lima. Capek, karena harus menggunakan tangga.
Berlari sampai lantai dua. Dan sesuatu terjadi, tangga di lantai dua tidak bisa dilewati karena ada perbaikan. Jangan lupa umpatan kecil di hati mungilku ini. Umpatan yang pantas untuk hari ini.
Dengan gegabah aku berlari kesamping. Tepatnya koridor lanatai dua menuju tangga tengah. Tangga ke-dua.
Wah, tidak segampang itu aku melewatinya. Di karenakan tatapan dosen yang tajam. Tatapan bak seekor burung elang melihat mangsanya. Aku berjalan secara pelan-pelan sambil menundukkan pandangan ke bawah. Untuk kedua kalinya aku mengumpat di dalam hati yang mungil ini.
Dosen memang sering lewat lantai dua. Sebab disini lah terjadinya perkumpulan para dosen. Yang suka mengghibah tentang mahasiswanya. Yang hanya sekadar menggumpul. Iyah, namanya juga kantor untuk dosen kan.
Aku naik ke tangga dengan pelan sampai lantai tiga. Lalu berlari sampai ke lantai lima.
Dan terjadi drama lagi. Hari ini penuh dengan drama. Aku menabrak salah satu anak Akuntansi, sekaligus anak terpopuler di kampusku. Sandra Banzoz anzoz and the geng. Aku mengucapkan maaf padanya.
"Maaf? Lu kira ga sakit apa ditabrak?," marahnya.
__ADS_1
Apaan, cuman nabrak doang. Ga sampe jatuh atau luka atau lecet sedikitpun. Tapi marahnya, udah kayak orang benar-benar melakukan kesalahan yang fatal.
"Maaf banget kak, saya benar-benar minta maaf. Maafin saya yah kak. Kalau kakak mau marah sama saya silahkan. Tapi nanti, saya lagi sibuk. Soalnya sebentar lagi dosen bakalan masuk ke kelas saya. Dosennya killer lagi kak. Nanti masalahnya kita obrolin setelah saya selesai kelas yah kak," ucapku.
Tanpa menunggu balasan aku langsung lari menuju lantai lima. Jangan lupa teriakan kak Sandera mengiringi lariku.
Sesampainya di depan kelas. Aku merasa aneh, kenapa teman-teman ku pada di depan. Seharusnya mereka sudah didalam dan pintu kelas sudah dibuka. Memang di kampusku, pintu akan dikunci sebelum dan sesudah memulai pelajaran. Ditambah lagi, sekarang udah jam 9.05, yang bearti sudah waktunya belajar dimulai.
Aku menghampiri teman ku yang tadi meneleponku. Aku melihatnya sedang berbicara dengan yang lain. Aku menepuk pundaknya, dan hasilnya dia menoleh padaku.
"Kok kalian ada disini? Bukan seharusnya kalian didalam. Kan sudah lewat lima menit," tanya ku penasaran.
"Pak dosennya tiba-tiba ga bisa. Katanya sih kucingnya lagi lahiran. Dia sibuk ngurus kucingnya," jawabnya.
Astaga, setelah banyak drama yang harus ku lalui. Hasilnya zonk. Ya ampun, kalau tau gini mendingan lanjut ngehalu ga sih.
"Kok lu ga bilang sih ke gw sih?" tanyaku dengan kesel.
"Gw udah nelpon tapi lu-nya ga angkat. Udh berapa kali gw nelpon lu," ucapnya.
Ge atau Gea Anastasya. Sahabat sejak SMA. Anak orang kaya, lembut, baik dan perfect lah untuk dipacari. Jangan lupa kalau dirinya Anak pemilik sekolah ini Aku juga ga tau kenapa dia ingin berteman denganku. Dia kan anak orang kaya sedangkan aku biasa saja.
Tapi, selama tiga tahun lebih ini aku bersahabat dengannya. Aku masih kurang tau tentang kehidupannya. Tentang keluarganya. Karena aku simpan di dalam hati untuk tidak membahas tentang keluarga, kecuali dirinya yang bercerita.
"Yuk ke kantin," ajak ku.
"Jangan deh, gw mau pulang. Gimana kalau kita kerjakan dirumah gw. Lagian kita ada tugas dari pak dosen. Ditambah lu ga pernah tuh ke rumah. Kalau gw ajak, ada aja alasan lu," ajaknya balik.
"Hmm baiklah. Tapi, selepas ketemu kak Sandra yah. Gw ada perlunya sama dia,"
"Lu ngapain, sampai-sampai berurusan dengan kak Sandra?"
__ADS_1
"Ntr gw kasih tau deh. Sekarang ke kantin haus gw lari-lari dari lantai satu ke lantai lima," ajak ku dan dibalas anggukan darinya.