Unexpected Dream

Unexpected Dream
A'A Zain


__ADS_3

Chandra Cassandra pov


Kamar bernuansa putih menangkap mata indra ku. Ah, aku akan kangen padamu kamar. Maaf, aku harus meninggalkan mu untuk semantara. Yah, karena aku akan pergi ke rumah Gea.


Gea, shabat satu-satunya yang ku punyai. Aku punya dulu dua shabat cowok tapi mereka hilang entah kemana. Perbedaan umur yang cukup jauh, membuat kami terpisah demi masa depan.


Sebuah ketukan mengangetkan ku. Ketukan dari balik pintu kamarku. Apa mereka sudah datang?


Iyah mereka, Gea and the family. Sebelumnya Gea sudah bilang akan kesini. Katanya sih mau bantu beresin pakaian. Walaupun sebenarnya ga usah, tapi tidak baik juga menolak kebaikan mereka.


Aku menghampiri dan membuka pintu. Ketika itu juga aku melihat Gea and The Family, minus Mas Keano, plus Dion. Kenapa ni bocah ke sini? Bukannya ada kelas. Palingan gara-gara ada Gea.


Aku mempersilahkan mereka masuk. Dan menyuruh mereka duduk sebentar. Sementara itu aku membuat air kopi dan teh untuk mereka.


"Makasih udah mau datang ke kostnya Caca," ucapku sambil memberikan mereka gelas satu-persatu.


"Apa sih Ca, kan gw pernah kesini sebelumya," ucap Gea.


"Iyah itu lu sama Dion. Yang lainnya belum kan?," tanyaku sedikit kesal.


Dan apa yang kudapat, hanya cengengesan dari dua shabat ini. Dasar mereka.


"Ada yang boleh kami bantu sayang?" tanya Mas Alfin dengan panggilan kesayangannya itu untukku.


"Udah mau beres sih mas, tinggal beberapa baju aja yang belom di masukkan," jawabku.


"Iyah sih, dilihat-lihat. Semuanya udah hilang yah, padahal di sini cuman ada beberapa koper yang sepertinya baju kamu," heran Mas Alfan.


"Iyah mas, aku cuman bawa koper yang warna ijo itu ke rumah kalian. Yang lainnya nanti di jemput seseorang," jawabku.


"Ohh, lu manggil seseorang untuk angkat barang lu? Seharusnya ga usah, kan kami bawa dua mobil. Bolehlah masukkan ke mobil. Mesti muat kok," celetuk Gea.


"Ga ge, gw ga manggil seseorang untuk bawa barang ke rumah lu. Cuman koper ijo kok, bingkai gambar dan barang yang lu pernah liat dirumah ini dan beberapa koper lainnya bakalan di bawa ke rumah Ayah. Soalnya nanti, setelah seminggu gw di sana. Gw ke rumah ayah," jelas ku.


Aku melihat tatapan bingung dari mereka. Memang benar aku bilang akan membawa pakaian ini ke rumah Ayah. Makanya mereka heran.


Ayah adalah ayah kandung ku. Dia yang akan membawa ku pergi dari sini setelah pertunangan Mas Keano. Maaf, aku harus pergi setelah ini tanpa izin dari kalian.

__ADS_1


Aku menatap A'A Zain. Kami saling menatap sebentar. Ketika menatapnya, aku tau tatapan tidak suka akan maksud ku. Aku tau juga hanya dia yang mengerti ucapanku.


A'A Zain. Lelaki cuek tapi perhatian. Aku tau dia menyukaiku, ah bukan. Dia mencintai ku. Dari tatapan, dan perlakuan yang baik ke diriku. Ditambah aku mendengar ucapannya cintanya langsung ketika mengobrol dengan Mas Rizal, sekertarisnya.


Perhatiannya yang baik membuat ku bahagia. Dan merasa tidak sendiri. Tapi sayang hati ini malah membuka untuk seseorang yang tidak mencintai ku. Tidak menerima seseorang yang mencintaiku.


Perhatiannya membuat ku teringat akan setiap momen. Dimana dia diam-diam menaruh beberapa makanan di motor kesayangan ku selesai dari kelas. Dimana dia membelikan obat maag ketika aku telat makan.


Namun sayang, semua perhatian itu aku anggap sebagai seorang saudara. Yah, aku sudah menganggap A'A Zain seperti abangku.


"Kamu bakalan ikut mereka setelah kita pulang dari Bali?" tanya A'A Zain.


"Mereka? Maksudnya keluarga mu Ca?" tanya Mas Alfin juga.


Aku hanya bisa mengangguk dan menundukkan kepala. Aku akan sedih melihat wajah mereka. Terutama shabat ku, Gea.


"Kenapa Ca? Apa lu akan meninggalkan kami?" tanya Gea.


"Ga, gw ga bakalan ninggalin lu kok. Kata ayah rencana keluar negeri dibatalkan untuk sementara ini. Setelah gw lulus, baru kita pergi," jawabku pada pertanyaan mereka bertiga.


Iyah, aku teringat akan ucapan ku beberapa bulan lalu.


"Kita akan selamanya, ga akan terpisah sampai Kakek nenek atau Sampai maut memisahkan."


"Sudah, sekarang kita tolong Caca beresin pakaiannya. Nanti kita ngobrol lagi. Lagian, kita harus cepat. Tinggal 3 jam waktu berangkat kita ke Bali," suruh A'A Zain dan dibalas anggukan dari yang lain.


Semua berdiri dan melakukan tugas yang diberikan oleh A'A Zain. Mas kembar dan Dion mengangkat koper yang berisikan baju dan membawanya keluar. Sedangkan Gea, dia melipat pakaian ku yang tertunda akibat kedatangan mereka.


Aku berjalan menghampiri A'A Zain. Berdiri disampingnya. Aku bisa melihat wajah tampannya yang lebih sedikit dari Mas Keano. Astaga Ca, apa lu baru sadar setampan apa A'A Zain.


"A'A," panggilku.


"Hm,"


"Makasih udah mau nolongin Caca,"


"Hm,"

__ADS_1


"Caca tau kok, A'A suka sama Caca. Jadi Caca mohon jangan, buatlah hati Caca bisa luluh sama A'A. Biar kita ga kepisah untuk selamanya,"


Aku melihat ekspresi kagetnya. Yah, apa dia ga tau selama ini aku tau akan perasaannya. Lihat dari wajahnya sih, emang begitu.


Aku melihat senyuman kecilnya. Sepertinya dia bahagi mendengarnya. Buktinya tanpa basa basi, dia langsung memeluk ku dengan erat. Aku juga membalas pelukan tersebut.


Pelukan kami terhenti dikarenakan panggilan dari Dion yang berada di luar kost. Kami berjalan keluar dan melihat seorang wanita yang memakai dres warna ijo.


"Kak Cici," panggil ku.


"Iyah Ca," sahutnya.


Aku menghampirinya dan langsung memeluknya denga erat.


Kak Cici, atau aslinya Chandra Cinomi. Kakak kandungku yang terpisah selama 22 tahun. Dia wanita yang ku sayangi dan paling ku rindu setelah sebulan terakhir aku bertemu dengannya.


"Kakak dengan siapa kemari? Lagian ngapain kakak kesini?," tanyaku.


"Kakak sama Cakra. Kami kesini mau ambil barangmu dik. Ayah suruh kakak bawa barangmu," jawabnya dengan sebuah senyuman.


Kak Cici memang orang mudah senyum dan ramah. Beda dengan Chandra Cakra. Anak terakhir sekaligus adikku. Kami berbeda sekitaran 4 tahun. Kini dirinya menalanjutkan kuliah di Landon. Karena alasan itu juga keluarga ingin pergi ke luar negeri.


Astaga, aku lupa memperkenalkan mereka dengan dengan keluarga shabatku.


"Gea, kenalankan ini kakak gw, Cici. Dan adik gw Cakra," ucapku.


"Kak, kenalankan ini Gea dan ini Dion, shabat ku. Kalau ini mas kembar, Mas Alfin dan Alfan. Yan ini A'A Zain, anak pertama sekaligus kakaknya Gea."


"Salam kenal, terima kasih yah udah jagain Caca selama ini," ucap Kak Cici.


"Hm, sama-sama," ucap A'A Zain.


"Yasudah kalau begitu, Cakra tolongin kakak angkat barang. Nanti letak di bagasi mobil," perintah kakak Cici ke Cakra.


Cakra langsung mengangkat dan memasukkan ke dalam bagasi mobil. Ditolongi Mas kembar dan Dion.


Selesai semuanya, mereka pamit pulang. Sedangkan kami, langsung membereskan semua barang dan langsung menuju ke rumah Gea.

__ADS_1


__ADS_2