
Aku sudah bertekad untuk mengejar Caca dalam seminggu. Biar waktu pertunangan Keano, aku bisa langsung melamarnya.
Aku berjalan di koridor menuju kantor. Disela jalanku, mataku bergerak kesana kemari untuk mencari pujaan hatiku. Gadis yang kucintai, Caca. Tapi sayang, sejak ku injak kaki di kampus. Aku belum menemuinya.
Salaman dari beberapa mahasiswa yang ku dengar. Rata-rata sih mahasiswi yang menyapaku. Tapi, aku hanya balas dengan anggukan.
Aku memasuki ruang ku sendiri. Ruang ku memang di lantai dua sama seperti dosen yang lain. Tapi tidak seruang. Kenapa? Aku pake orang dalam. Yah begitulah, Papa seorang donatur pada kampus miliknya ini. Mengerti lah yah.
Aku melihat adik perempuan kesayangan ku yang duduk di sofa. Dengan tangan yang penuh dengan hadiah. Katanya sih dari mahasiswi di sini.
Memang, semenjak semua tau bahwa Gea adalah adikku. Sejak itu banyak mahasiswi yang mendekatinya. Mentraktirnya makanan, baju dan sebagainya.
Aku sedikit kasihan sama mereka. Mengeluarkan banyak uang untukku. Untuk seseorang yang belom jodohnya. Karena jodoh ku adalah Chandra Cassandra. Si gadis yang ku cintai. Hahahaha. Sombong dikit ga ngaruh.
"Ada apa sayang?" tanyaku. Aku memang memanggilnya sayang, karena dia adik kesayanganku.
"Mau anterin ini aja A, oh yah sekalian mau bilang. Caca ga masuk hari ini," jawaban yang membuat hati ku kaget mendengarnya.
"Kenapa?" tanyaku lagi.
"Katanya sih mau menenangkan hati buat besok. Besok kan Mas Keano sama Mbak Ais fitting baju. Kita juga kesana, kata Mama bikin baju sama juga. Kembaran lah gitu sekeluarga,"
"Terus apa hubungannya dengan Caca?"
"Mama nyuruh Caca untuk tinggal sementara di rumah kita. Yah, katanya sih biar kita bisa bersama sebelum Caca pergi ninggalin kita," ucapnya sedih di akhir kalimat.
Ah, begitu yah. Ca, apa sungguh hatimu benar-benar belom bisa kebuka. Kalau begitu aku akan sulit menerobosnya.
"Yasudah, sayang letak kadonya di situ. Lalu masuk kelas," suruhku.
__ADS_1
"Katanya pak dosennya ga masuk A?"
"Iyah, jadi A'A yang gantikan sekarang,"
"Terus gimana dengan Caca?"
"Nanti habis ini kita ke kostnya. Bantuin dia beresin bajunya untuk dibawah ke rumah kita,"
"Siap A," katanya dengan semangat 45.
Tungguin aku Ca. Habis ini aku akan kesana. Dan setelah ini, aku akan mengobati hatimu dengan cintaku.
\#\#\#\#\#\#\#
Suara riuh terdengar di penjuru kampus. Suara itu disebabkan tiga adik lelakiku yang datang ke sini secara tiba-tiba saat ku mengajar. Untungnya saja sudah selesai mengajar mereka ke kelasku.
Tanpa banyak bicara, aku mengajak mereka ke ruangku. Untuk membicarakannya secara kekeluargaan. Diikuti Gea dan Dion dibelakang. Kalau si Dion sih bilangnya males mau ke kelas, ada dosen killer. Aku hanya pasrah akan alasannya.
Aku kaget waktu itu, melihat Mama pulang dengan seorang anak kecil ditangannya. Sekitaran umur 5 tahun waktu si Dion datang ke rumah.
Dulu aku tidak terima, karena dia jahil pada Gea. Tapi sesuatu terjadi. Membuat aku yakin untuk menyuruh nya menjaganya. Masih ingat aky waktu Dion dengan lantang mengatakan bahwa dirinya mencintai Gea. Jagain Gea yah Dion.
Aku manatap tajam pada tiga adikk lelaki yang sedang duduk di sofa. Adik pertama duduk dan membalas tatapku. Si kedua membaca buku. Dan ketiga menjahili Gea dan Dion.
Apa yang mereka inginkan sebenarnya sih. Sampai-sampai kemari tanpa pemberitahuan.
"Kalian mau apa?" tanyaku.
"Mau jemput Caca," jawab Keano dengan santainya.
__ADS_1
Hanya dia yang tak bisa ku baca jalan pikirannya. Apa dia ga sadar, dengan datangnya dia. Caca bisa sakit karenanya. Lagian, bukankah seharusnya dia berada di gedung untuk pertunangan mereka.
"Aku tidak masalah untuk si kembar dan Dion ikut kami jemput Caca. Tapi yang masalah ada kamu Keano. Ngapain kamu mau jemput Caca. Kan kamu harus ke gedung untuk pertunangan kalian nanti. Lagian lima orang saja sudah cukup," ucapku panjang lebar.
"Benar kata A'A Zain. Kasian sama Mbak Ais yang sendirian disana mas. Mas tau kan, Mama sama Papa lagi keluar kota. Kalau ada Mama gapapa Mas Keano kemari," ucap Gea yang menyetujui ucapanku.
Aku manatap dirinya yang sedang memikirkan sesuatu. Apa dia sadar bahwa dia kehilangan senyuman Caca. Makanya dia mau mendekati Caca lagi. Kalau begitu, bagaimana keadaan ku dengan Ais nanti. Ga bisa dibiarkan ini.
"Kalian benar. Ada kalian yang menjemput Caca. Dan untuk A'A Zain, jika kau pikir aku ingin menjemputnya karena ingin melihat senyumannya lagi. A'A salah. Aku kesini gara-gara Ais yang menyuruh ku. Dia sedikit bersalah akan kejadian ini. Dan dia menyuruh ku untuk menggantikan posisinya untuk menjemput Caca. Sebenernya dia ingin sekali kesana, tapi karena gedung kami belum selesai. Jadi dia menyuruh ku. Yasudah kalau begitu aku pergi dulu," ucapnya lalu pamit.
Bagaimana dia begitu tau akan yang kupikirkan sekarang. Apa dia cenayang? Tidak, hanya saja dia seperti Mama yang bisa membaca pikiran seseorang. Hati-hati, kalau ketemu mendingan kalian pergi sebelum dia membaca pikiran kalian.
Aku langsung menyuruh yang lain untuk berdiri dan berjalan menuju parkiran.
Lagi-lagi teriakan mahasiswi terdengar di telingaku. Apa tenggorokan mereka tidak kering meneriaki kami? Tenggorokan mereka terbuat dari apa sih.
Aku hanya diam, begitu juga dengan Gea dan Alfin. Tapi, dibalik itu. Ada dua curut yang tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah mereka. Dasar mereka berdua, katanya sih menghargai Fans. Ya sih, tak dipungkiri.
Sesampainya di parkiran. Aku dan Gea menaiki mobil ku, sedangkan si kembar dan Dion menaiki mobil Alfin.
Aku manatap fokus akan jalan, sehingga sebuah ucapan yang dikeluarkan oleh adik kesayanganku secara tiba-tiba.
"A, A'A kalau benaran suka sama Caca. A'A harus cepat, soalanya ada seseorang yang suka juga sama Caca," ujarnya tiba-tiba.
"Siapa?" tanyaku penasaran.
"Pak Dika. Mantan shabat A'A," ucapnya.
Dika? Mantan sahabat kecilku dulu. Kami bersahabat sejak umur dua tahun sampai beranjak 11 tahun umur kami. Kami berantem dan saling memukul dulu, dikarenakan dia mengambil anak perempuan manis kesukaan ku. Perempuan yang kucari dan kucintai selama ini.
__ADS_1
Tapi setelah hadirnya Caca, aku sadar. Aku mencintainya setelah beberapa tahun aku tidak merasakannya. Dan sekarang Dika ingin merebut gadis ku utuk ke dua kalinya. Oh tidak, kau tidak akan bisa mengambil gadisku lagi. Aku akan membunuhmu jika melakukannya Dika.