
Beberapa tranportasi udara ditangkap oleh panca indra ku. Ada yang berada di landasan, ada yang sudah berterbangan membawa penumpang, dan ada juga yang menunggu penumpang naik, termasuk pesawat yang akan ku tumpangi.
Aku menatap keliling. Semua pada sibuk dengan urusan masing-masing. Aku manatap tike pesawat yang tertulis 'Bali'. Yah, kami akan ke Bali. Tempat dimana menjadi saksi bisu pertunangan Mas Keano dan Mbak Ais.
Tangan kiriku mengangguk tiket, sedangkan tangan kananku di genggam oleh seseorang. Seseorang yang mencintaiku tiga tahun terakhir, seperti aku mencintai Mas Keano tiga tahun terakhir juga.
Aku manatap dirinya yang sedang fokus pada sebuah benda segi empat di tangan kanannya.
Aku tak henti menatapnya. Bertanya-tanya, bagaimana lelaki secuek dirinya bisa jatuh cinta pada wanita seperti ku ini. Jika dipikirkan banyak yang menyukai ketampanannya, kekayaannya dan kecuekannya.
Jika dipikirkan lagi, banyak wanita yang cantik dan berkarir sepertinya yang ingin dirinya. Tapi, bagaimana dia bisa suka dengan gadis yang hanya anak kuliahan semester 6 ini. Yang sebentar lagi lulus dan bingung mau kemana.
"A'," panggilku.
"Hm," balasnya.
"A'A kok bisa suka sama Caca, kan banyak cewek cantik dibanding Caca. Berkarir, cantik, dan sempurna lah pokoknya," tanyaku padanya.
Sepertinya pertanyaan ku bukan hanya mendapatkan sebuah tatapan dari A'A Zain, tapi dari keluarga A'A. Termasuk Papa dan Mama yang kaget mendengar pernyataan ku.
"Entahlah, tiba-tiba perasaan itu hadir. Disaat A'A melihat Caca waktu pertama kali di tempat kerja Caca," jawabnya sambil memandang ke arah atas.
"Kenapa A'A melihat ke atas, apa di atas lebih menarik dari Caca?" tanyaku kesel.
Dasar A'A Zain. Apa dia ga peka. Seharusnya dia menatapku saat berbicara padaku. Dasar lelaki cuek.
Jika diingat-ingat, aku pernah membaca buku tentang seorang lelaki yang cuek tapi perhatian. Seperti A'A Zain. Aku juga pernah menghalu seperti itu.
Seorang pangeran tampan yang cuek tapi perhatikan pada seorang gadis biasa. Memberi perhatian dan kasih sayang secara diam-diam. Dan si gadis tidak peka akan perhatian secara diam-diam tersebut.
Sebuah tangan mengusap mukaku. Siapa lagi kalau bukan si Dion, si pengecut mengutarakan perasaan.
"Apa?" tanyaku dengan kesal.
"Halu lagi yah, palingan halu tentang pangeran tampan yang datang dan memberikan kasih sayang yang banyak. Emangnya setampan apa sih tuh pengeran, palingan masih tampan A'A Zain," ujarnya dengan nada mengejek.
"Yalah, orang ngahalu A'A Zain," beberku tanpa sengaja.
Ah, sial. Seharusnya aku belajar meng-filter mulutku sendiri. Lihatlah, aku mendapatkan sebuah tawa dari mereka. Ah, kan jadi malu.
Aku menatap A'A Zain, dia juga tertawa kecil. Walaupun kecil aku bisa melihatnya dengan kepala mataku sendiri. Dia jarang tertawa, tapi sekarang dia tertawa dan tawanya lucu dimataku.
"Lucu nan indah," pujiku tanpa sadar.
"Apa yang lucu dan indah?" tanya Mama.
Aku sadar dari lamunanku. Aku menundukkan kelapa. Malu sekali rasanya. Biasanya aku malu-maluin, sekarang aku malah malu sendiri.
"Setelah ini Caca ga usah pake cara halu, kalau mau lihat wajah tampan si pangeran tinggal vc atau ketemuan. Kalian kan sudah pacaran," kata Papa.
__ADS_1
Emang benar kami sudah berpacaran sejak aku menyuruhnya untuk meluluhkan hatiku. Dan bagaimana Papa tau? Si Pengecut langsung membeberkannya didepan Mama dan Papa setelah sampai dirumah.
Sebuah teriakan tak luput ketika itu. Bahkan Mama ingin merayakan pesta akan hal ini. Namun sayang karena penerbang ke Bali hari ini, Mama harus menundanya dan akan mengadakannya di Bali sana.
Suara seorang wanita terdengar di ruang tunggu. Suara yang berisikan pengumuman pada calon penumpang untuk menaiki pesawat.
Setelah selesai pengumuman. Kami semua langsung bersiap-siap dan menuju pesawat.
A,'A Zain duduk ditengah diantara aku dan Mas Alfin. Sedangkan Gea duduk diantara Mas Alfan dan Dion yang berada di belakang kursiku. Didepan ku ada Mama dan Papa.
"Caca tau, kenapa A'A menatap ke atas. Karena A'A ingin meyakinkan diri, bahwa A'A udah mendapatkan cinta, walaupun Caca belum mencintai A'A," bisiknya di telinga ku.
"Kalau begitu A'A buat Caca jatuh cinta sama A'A," pintaku dengan nada berbisik.
A'A hanya tersenyum dan mengangguk padaku. Seolah mengatakan dia akan berusaha untuk meluluhkan hati ini. Jangan lupa senyuman yang indah.
"Senyuman A'A sangat indah. Jangan hilangkan senyuman itu yah A," pintaku lagi padanya.
Dan untuk kedua kalinya. Dia hanya mengangguk. Kemudian menyuruh ku untuk tidur selama perjalanan. Aku hanya menuruti perintahnya saja.
\*\*\*\*\*\*
Tepat jam 6 kami sampai di Bali. Kami dijemput oleh kenalan Papa. Papa yang seorang pengusaha pasti banyak kenalan seperti A'A Zain.
Kami berjalan menuju ke salah satu vila yang ada dibali. Ternyata kami sudah ditunggu Mbak Ais dan Mas Keano sejak tadi. Memang Mbak Ais dan Mas Keano pergi duluan dibandingkan kami yang baru datang.
Selesai beres-beres kamar dan pakaian. Kami menyantap hidangan makan malam. Makanan khas Bali.
"Ca," panggil Mbak Ais ketika berada disamping ku.
"Iyah mbak," sahutku sambil mencoba untuk duduk.
"Mbak denger kamu pacaran dengan A'A Zain?" tanyanya.
"Iyah mbak,"
"Kenapa kamu pacaran dengannya?"
"Maksudnya mbak?"
"Kamu ga ga buat A'A Zain jadi pelampiasan kan?"
"Ga lah mbak,"
"Bukannya kamu menyukai Mas Keano, kok bisa langsung jatuh hati ke A'A Zain?"
"Kalau jatuh hati sih belum mbak. Tapi sayang iya. Aku juga lagi berusaha untuk jatuh hati padanya,"
"Kamu beneran kan ngak buat A'A Zain sebagai pelampiasan? Sampai-sampai kamu bikin drama keluarga, biar kamu tak terpisah dari keluarga ini?"
__ADS_1
Apa maksud Mbak Ais? Kenapa Mbak Ais jadi menyuduh ku? Jika diartikan, bisa saja dia menganggap ku matre sampai-sampai bikin drama tentang keluarga. Karena dia tau keluarga ini sudah menganggap ku sebagai putri mereka.
"Apa maksud Mbak? Aku ga pernah boong, apalagi soal keluarga. Mbak tau kan kalau aku tidak memiliki keluarga kandung selama ini. Dan Sekarang aku bertemu dengan mereka. Asli bertemu dengan mereka, bukan hanya drama. Mbak kalau ngak percaya, yasudah," ucapku dengan sedikit membentaknya.
"Apa kamu, membentak calon istri saya?" tanya seorang lelaki dari arah belakang.
Siapa lagi kalau bukan Mas Keano.
"Apa maksud mu membentaknya? Kamu tidak punya hak untuk membentak calon istri saya," bnetaknya padaku.
"Caca ga bentak Mbak Ais. Caca cuman kasih tau bahwa Caca ngak maksud untuk menjadikan pelampiasan ke A'A Zain,"
"Kalau bukan karena pelampiasan, lalu apa? Karena uang, dasar matre, pembawa sial,"
Hati mungil ku kaget mendengar ucapannya. Baru pertama kali mendengar Mas Keano berbicara seperti itu.
Mas Keano yang ku tau anak yang ramah dan sopan. Malah berkata seperti ini.
"Apa maksud mu Keano? Mencaci kekasih ku?" tanya A'A Zain yang sejak kapan berada di pohon kolam.
"A'A, sejak kapan A'A disitu?" tanya Mbak Ais balik.
"Anda tidak usah melakukan kesopanan didepan saya. Saya lihat dari tadi, bahwa anda yang memulainya," ucap A'A Zain dengan tegas.
Aku melihat semua keluarga keluar setelah mendengar keributan disini. Aku melihat Papa dan Mam khawatir akan takutnya terjadi sesuatu pada kami.
"Ada apa ini?" tanya Papa.
"Tidak pa, hanya saja sepasang calon pengantin ini mengatakan yang tidak-tidak pada kekasihku," ucap A'A Zain.
"Apa itu benar Keano, Ais?" tanya Papa dan balas anggukan dari mereka.
"Apa yang kalian katakan pada putriku?" tanya Mama dan hanya sebuah keheningan yang dia dapatkan.
Sekali lagi mama bertanya dan hasilnya sama, hanya sebuah keheningan yang mereka dengar. Sekali lagi Mama betanya dan dijawab oleh Mas Keano.
"Ais cuman tanya pada Caca kalau dia ga mendekati A'A Zain hanya untu menjadikan pelampiasan. Eh, Caca malah membentaknya. Dan Keano idak terima," jawab Mas Keano.
"Apa itu benar Ca?" tanya Papa.
"Iyah Pa itu benar. Tapi Caca bentak Mbak Ais karena Mbak Ais bilang bahwa Caca melakukan drama tentang keluarga kandung Caca biar Caca ga jauh dari kalian. Dan Mas Keano bilang Caca seorang gadis matre dan pembawa sial," jawabku.
"Bohong pa," elak Mbak Ais.
"Jujur," bentak A'A Zain.
Mendengar bentakan itu Mbak Ais menggangukkan kepala. Seolah mengatakan bahwa yang diucapkan ku adalah kebenaran.
"Papa ga nyangka kalian melakukan begitu pada Caca. Papa sudah check dan benar, mereka adalah keluarga Caca yang asli. Kalau kalian begini, papa ingin rasanya membawa Caca ke keluarganya. Papa malu tidak bisa menjaga dirinya dari putra papa dan calon mantu," tegas Papa.
__ADS_1
"Gea, kamu bawa Caca ke kamar. Kalian semua tidur juga, sudah malam. Besok kita harus fitting baju untuk pertunangan mereka nanti. Dan kalian berdua, pikirkan kesalahan kalian," suruh Mama dan semua orang langsung bergegas menuruti perintah Mama.
Aku berdiri dan langsung berjalan menuju ke kamar bersama Gea. Sebelum itu aku menyalami tangan Mama, Papa dan A'A Zain. Dan mengucapkan selamat malam pada mereka.