Unexpected Dream

Unexpected Dream
kenyataannya


__ADS_3

Chandra Cassandra pov


Aku melihat kearah depan. Melihat mobil-mobil yang berjalan entah kemana tujuannya. Melihat aktivitas seseorang di dalamnya.


  Aku menatap A'A Zain yang menyetir disampingku. Diriku terfokus pada wajahnya yang sedikit lebam. Itu semua salahku. Seharusnya aku tidak jujur pada Mama dan Papa soal kemarin.


"Maaf," ucapku.


"Ap?" tanya A'A Zain.


"Maaf, coba saja Caca ga bilang ke Mama sama Papa. Mungkin muka A'A ga bakalan begitu," ujar ku.


"Gapapa, itu juga salah A'A. Seharusnya A'A ga melakukan hal begituan ke Caca," ujarnya.


Kami diam kembali. Fokus pada tugas masing-masing. Tugas A'A pada mengemudi. Tugasku memikirkan bagaimana membuat ekspresi bak tidak terjadi apa-apa ketika sampai di bandara.


   Aku memang berdua bersama A'A Zain. Sedangkan yang lain satu mobil. Kenapa begitu? Karena mobil yang aku tumpangi akan menambah dua penumpang lagi. Mas Keano dan Mbak Ais.


  Bahas Mas Keano dan Mbak Ais. Mereka memang sahabatan sejak kecil. Mas Keano yang hanya dua tahun lebih tua dengan Mbak Ais, membuat Mbak Ais merasa perlindungan dari Mas Keano.


  Kata Mama sih gitu. Sepertinya aku akan murung di kost untuk beberapa hari. Yah, menyembuhkan hati yang patah ini.


  Kami sampai di bandara. Kami tak usah turun. Karena sebelum mobil ini berhenti, kami sudah menemukan mereka berdua yang sedang menunggu.


  A'A Zain dan yang lainnya langsung turun dari mobil dan mengnapiri mereka. Sedangkan aku, hanya menatap dari jauh.


  Mata Mas Keano langsung berpaling menatap ku. Aku juga menatapnya. Sepertinya mereka sudah bilang bahwa aku juga ikut bersama mereka.


  Papa dan A'A menghampiri mobil yang ku tumpangi ini. AA langsung membuat jok belakang mobil. Dan papa menolong Mas Keano menyimpan koper di dalamnya. Mbak Ais? Dirinya langsung duduk di kursi bagian belakang tentunya.


  Setelah semuanya, Papa langsung menuju mobilnya sendiri. Begitu juga dengan AA dan Mas Keano yang langsung masuk ke mobil.


  Selama perjalanan, hanya bunyi musik yang terdengar di telinga. Biasanya aku akan menyambut mereka dengan antusias. Aku bertemu mereka di tempat kerjaku atua di taman bunga. Sekadar berkumpul.


"Caca, gimana kabarnya?" tanya Mbak Ais tiba-tiba.

__ADS_1


"Baik mbak," ucapku.


"Sekarang udah gede yah, dulu waktu aku pulang kamu masih kecil," ucapnya lembut.


"Iyah mbak. Masak aku kecil terus," ujarku dengan sedikit senyuman.


"Iya sih, udah semester berapa?" tanyanya lagi.


"Semester 6 mbak,"


"Ouhh, sebentar lagi udah lulus yah,"


"Masih lama mbak,"


"Nanti kemana habis selesai lulusan kuliah,"


"Hmm sebenarnya..."


"Sebenernya?"


Aku diam seketika. Aku mempunyai rencana sebenarnya. Sebelum lulus aku memiliki rencana untuk pergi dari sini.


  Kami keluar dari mobil. Para lelaki mengambil koper. Sedangkan wanita langsung memasuki rumah sambil berbicara. Lebih tepatnya, Mama, Gea dan Mbak Ais.


  Setelah selesai. Papa menyuruh Salah satu ART untuk membawa koper milik Mas Keano dan Mbak Ais ke kamar mereka masing-masing. Yah, disini memang ada kamar khusus Mbak Ais.


  Kami duduk sambil meminum teh buah buatan Mama. Ah, enak sekali. Rasanya pikiran ku tenang seketika. Mama emang The Best.


  Kami mengobrol. Lebih tepatnya lagi, merek mengobrol kecuali aku. Aku hanya mendengarkannya.


"Ca," panggil Mbak Ais.


"Iyah mbak?" tanyaku.


"Tadi kamu belum menyelesaikan ucapan mu, jadi mbak pengen denger yang tadi. Sebenernya?" tanyanya.

__ADS_1


Aku diam seketika. Aku melihat ekspresi penasaran mereka. Terutama Mas Keano dan A'A Zain. Aku menarik nafas dan memulia perbincangan yang tertunda tadi.


"Tadi Mbak bilang kalau aku bakalan selesai kuliahku sebentar lagi. Tapi kayaknya aku ga bakalan selesai deh,"ucapku.


"Kenapa? Tiba-tiba lu bilang begitu," tanya Gea.


"Caca bakalan ke luar negeri. Sebenernya caca mau selesaikan perkuliahan disini. Tapi, apa boleh buat. Keluargaku sudah memaksa ku untuk ikut mereka secepatnya," ujarnya.


  Udah ku duga sebelumnya akan ekspresi mereka. Tentu saja, yang mereka tau aku anak yatim. Dan ditinggali oleh keluarga ku di panti asuhan.


"Apa maksud mu sayang? Keluarga?" tanya Mama dengan penuh terkejutnya. Aku hanya mengangguk.


"Bagaimana bisa? Bukannya kamu anak yatim?" tanya Papa juga untuk memastikannya.


"Apa karena Mas bertunangan sama Mbak Ais. Kamu bikin drama itu. Maafkan mas kalau begitu. Mas sebenarnya tau kamu suka sama mas selama ini. Tapi mas ga bisa balas, karena hati mas sudah penuh dengan cinta untuk Mbak Ais. Maafkan mas. Mas mohon, jangan karena mas kamu bikin drama ini," ucapnya dan berhasil membuat ku kaget.


  Mas Keano tau soal perasaan ku? Tentu saja dia tipikel anak peka. Makanya tau.


"Bener kata Mas Keano. Kalau soal itu, mbak itu ga minta maaf yah. Jangan karena kami akan bertunangan, kamu malah pergi. Kamu ga kasihan sama Gea? Apalagi kamu bikin skenario tentang keluarga," tuturnya lembut.


  Aku melihat tatapan Gea yang berkaca-kaca. Dia anak cengeng, mudah nangis. Lihat aku luka saja, air matanya udah keluar. Siapa yang terluka, siapa juga yang nangis.


  Aku menatap Dion. Sedikit kaget melihatnya juga mantap dengan penuh kaca-kaca. Anak kuat bisa nangis ternyata.


"Bukan masalah mas Keano dan Mbak Ais Caca bikin drama. Terutama soal keluarga. Kalian semua tau kan caca anak panti asuhan. Ga tau dimana keberadaan keluarga Caca sendiri. Tapi satu bulan lalu Caca pergi ke pantai untuk melepas rindu akan anak-anak panti. Dan disitu Caca ketemu dengan sebuah keluarga yang sedang cari anaknya. Dan itu adalah Caca sendiri. Caca ga percaya sebenarnya. Tapi, mereka tau tanggal waktu Caca ditarok di depan pintu. Mereka tau marga Caca yang seorang Chandra. Setelah itu Caca cerita kan semuanya tentang Caca selama ini, dan merka menyuruh Caca ikut mereka ke luar negeri. Caca bahagia menemukan keluar Caca yang asli," ceeitaku panjang lebar dan wajah yang penuh dengan antusias.


  Aku menatap mereka. Sepertinya mereka kaget mendengar cerita ku. Tentu saja. Tiba-tiba aku bercerita tentang keluarga dan akan mengikuti mereka.


"Caca yakin itu keluarga Caca yang aali?" tnya A'A Zain.


"Iyah A', kata ayah kalau Caca ga percaya Caca boleh tes DNA,"


"Dan Caca melakukannya?"


"Tidak. Tapi Caca yakin mereka keluarga Caca yang asli. Ditambah lagi mereka tau tentang tanda lahir Caca,"

__ADS_1


"Yasudah. Caca, untuk sementara ini Caca jangan ketemu sama mereka. Ataupun mengobrol dengan mereka. Setelah pertunangan mas Keano dan Mbak Ais, kita cari informasi tentang mereka. Jika mereka benar-benar keluarga asli Caca. Caca boleh ikut mereka ke luar negeri," ucap Papa.


  Aku hanya mengangguk. Aku menatap wajah A'A Zain yang sepertinya ingin berkomentar. Tapi sadar, ini Papa. Tak mau perintahnya ditolak dan dikomentari. Kalau A yah A.


__ADS_2