Unexpected Dream

Unexpected Dream
sulit menerima


__ADS_3

Zain Anastasya Calvin pov


Apa-apaan cerita tadi. Yang bener aja. Jadi keluarga Caca benar-benar kembali? Ah menyebalkan. Jika mereka benar-benar keluarga Caca, aku bakalan terpisah darinya.


Ga mau. Aku lagi berjuang demi cinta dan mereka datang waktu yang tidak tepat. Aku ga mau terpisah dari Caca. Bagaimana kalau disana dia menemukan cowok lain. Bisa gawat.


Tapi, aku melihat kebahagiaan di wajahnya ketika dia bercerita tadi. Apa dia benar-benar pengen akan rasa namanya keluarga.


Tapi, apa dia ga cukup dapat kasih sayang dari kami. Terutama Mama sama Papa yang udah anggap anaknya. Sulit diterima.


Aku melihat Mama yang sedang duduk diam menatap bunga kesayangannya. Memang setelah kami selesai makan, kami langsung menuju ke kamar masing-masing. Kecuali Caca yang langsung pulang diantara mang Udin.


Aku duduk disebelahnya. Tatapannya penuh kekosongan. Aku tau, dia pasti memikirkan Caca.


"Ma," panggilku.


Mama masih dalam keadaan diamnya. Aku tau dia sedih. Dan memang begitu Mama jika sedang bersedih. Dia akan diam dan tidak memikirkan sekitarnya. Walaupun sudah dipanggil beberapa kali.


Ca, lihatlah Mama. Dia diam sekarang. Tak seperti biasanya yang cerewet. Ayu Ca, jangan ikut sama mereka. Ikut kami aja.


"Ma, yuk masuk. Udara dingin di sini. Ditambah lagi mama ga pake jaket," bujukku.


"Tadi mama bahagia. Mama sudah mendapatkan putri baru di dalam keluarga kita. Tapi dibalik kebagiaan, Mama ditinggal pergi putri kesayangan Mama," ucapnya sedih.


"Ma, mama jangan gitu. Lagian belum tentu benar kan mereka keluarga aslinya Caca. Kalau bukan, Caca ga bakalan pergi dari Kita,"


"Kalau itu benar gimana? Caca akan pergi kan,"


"Iyah kalau dia ikut keluarganya. Kalau dia ikut kita gimana ma?" tanyaku


Aku bisa melihat tatapan Mama yang penasaran dengan pertanyaan ku.


"Ma, Zain akan berusaha memikat Caca. Zain akan buat dia menikah dengan Zain. Di pertunangan Keano, akan ada pertunangan Zain dan Caca," ucapku.


"Maksudnya?" tanya Mama yang masih bingung.


"Beri waktu pada Zain. Zain ingin ingin melamar sekaligus bertunangan dengan Caca waktu Keano dan Ais juga bertunangan. Kalau itu terjadi, Caca akan ikut Zain kan. Bearti kita ga akan terpisah,"


"Kamu beneran?"


"Iyah Ma,"


Mama begitu girang mendengar ucapan ku. Ca, lihatlah sebegitu sayangnya Mama padamu yang notabene bukan anak kandungnya.


Beberapa menit kemudian, wajah Mama langsung menekuk. Seperti seseorang yang memikirkan hal yang sedih.


"Kenapa ma?" tanyaku.


"Mama akan merasa bersalah kalau memisahkan Caca dengan keluarganya. Kamu lihat kan tadi, dia sangat bahagia waktu menceritakan tentang keluarganya,"


"Ma, tenang. Kami akan berkunjung ke keluarganya. Zain juga merasakan kebahagiaan pada Caca. Kebahagiaan yang beda dari biasanya,"

__ADS_1


Kami diam seketika. Hanya pikiran kami yang berjalan. Memikirkan keadaan gadis yang kucintai. Siapa lagi kalau bukan Caca.


Aku sedang mencari cara agar Caca mau bersama ku. Agar dia menerima ku untuk selamanya. Sebagai suami istri tentunya.


Suami istri yah. Ah, ga sabar sekali aku membuat hari-hari romantis bersamanya. Ah, jadi ga sabar untuk hari itu.


  Aku membuka hp. Untuk sekadar melihat, siapa yang sedang memerlukan diriku. Ketika aku membuka. Ada sebuah chetan yang membuat aku bahagia dan yang paling ku cintai. Chet dari Caca, gadis cintaku.


                       Calon istri 💕


A', makasih untuk kemarin


dan tadi.


 


                                                   Sama-sama


A', kapan fitting?


                     .         Fitting baju pengantin


                                            . kita?


AA', ada-ada aja.


Fitting baju pengantin


Mas Keano dan Mbak Ais


Ok. Udah malam, Caca


bobo dulu. Selamat malam


A'A. Sampai ketemu besok


di kampus.


                                        Malam juga syg


Aduh, ketekan. Gimana ni. Udah dibaca dan lagi ngetik lagi. Astaga, malu rasanya.


Iyah A'A sayang


Apa? Aku ga salah baca kan? Dia panggil aku sayang kan. Fiks, ini tanda bahwa aku harus cepet menghalalkannya.


"Kenapa si? Ada apa? Dari tadi tersenyum terus," tanya Mama.


  Maaf Ma, aku lupa lagi ada Mama disampingku. Gara-gara fokus ke hp.


"Ga Ma. Udah malam ayu tidur Ma. Besok Zain mau ke kampus. Ada pelajaran,"

__ADS_1


  Mama hanya mengangguk dan berdiri dari tempat duduknya. Dirinya langsung berjalan masuk diiringi diriku.


   Aku mengantar Mama samapai ke pintu kamarnya. Diriku melihat Papa yang sudah menunggu Mama. Buktinya dengan tatapan Papa yang tak henti menatap ke arah pintu. Entah sudah berapa lama di melakukannya.


"Kami dari mana aja sayang? Aku sudah nunggu dari tadi loh," tanya Papa dengan wajah khawatirnya.


"Maaf Mas. Aku tadi di taman. Habis ngobrol sama A'A," ucap Mama lembut.


"Hmm, ngobrol apa?" tanya Papa. Dasar tukang kepo.


"Tentang Caca. A'A bilang mau berjuangin Caca sampai pelaminan. Katanya mau lamar Caca waktu pertunangan Keano,"


"Hmm. Yasudah ayu bobo,"


  Lihatlah mereka begitu romantis. Tangan papa yang tak pernah lepas dari tangan Mama. Terus menggenggamnya. Kata papa sih, kami udah bedar dan udah waktunya bagi mereka berdua untuk beromantis. Karena selama ini mengurus kami tentunya.


  Aku berjalan menuju ke kamar. Tapi, aku berhenti didepan kamar adik kembarku. Aku melihat Alfin yang sedang membaca buku, sedangkan Alfan bermain basket kesayangannya.


"Kok belum tidur?" tanya ku dan dibalas tolehan dari mereka.


"A'," panggilan mereka.


"A', beneran soal tadi? Yang Caca akan pergi dan ikut keluarganya?" tanya Alfin.


"A'A ga tau. Tapi, A'A usahin supaya Caca tetap disamping kita,"


"Iyah A'. Alfan harap Caca jadi adik ipar kita. Ya kan Fin," ucapnya dan dibalas anggukan oleh kembarnya.


  A'A juga berharap begitu dik. Doain aja yah. Semoga perjuangan A'A berhasil dengan baik.


"Sudah. Sekarang kalian tidur yah. Udah malam. Good night," ucapku lalu pergi meninggalkan mereka setelah mendapatkan balasan.


Aku melanjut perjalanan menuju ke kamar ku. Memang sudah kebiasaan ku melihat adik-adik ku sebelum tidur. Takutnya mereka memerlukan sesuatu. Dan sebagai seorang A'A. Aku harus memberi yang terbaik buat mereka.


  Langkahku berhenti menatap seorang lelaki bersama dua gadis. Siapa lagi kalau bukan calon pengantin dan adik perempuan satu-satunya. Tidak, setelah ini aku akan dapat adik perempuan lagi.


  Sebenernya aku sudah lama menganggapnya sebagai adikku. Tapi, kali ini dia benar-benar menjadi adikku. Walaupun statusnya adalah calon adik ipar ku.


"Kalian belom tidur?" tanyaku tiba-tiba. Dan hasilnya membuat mereka kaget setangah mati.


"A', kagetin kami aja deh," kesel Gea.


"Dimana si Dion? Biasanya selalu disamping kamu. Bagaikan perangko dan surat,"


"Udah bobo A, habis nangis tadi dia. Biasalah A, soal Caca. A'A tau kan dia sayang sama Caca," ujarnya.


"Iyah A, kami juga sedih dan sedang memikirkan cara membuat Caca tetap bersama kami," ucap Ais dan diikuti anggukan dari duanya.


"Udah bobo gih. Udah malam. Soal Caca A'A yang urus. Kalian bobo, besok kalian harus melihat gedung kan," suruhku.


  Mereka mengangguk dan berjalan menuju ke kamar masing-masing. Aku menatap mereka dengan sedikit kesedihan. Lihatlah Ca, banyak yang menyayangimu.

__ADS_1


  Aku menatap bulan. Berharap semoga kedepannya lancar-lancar saja.


                                                  


__ADS_2