Unexpected Dream

Unexpected Dream
Sandra


__ADS_3

Keabuan menghias langit. Angin yang sepoi-sepoi membuat badan dingin merasakannya. Air hujan yang turun secara cepat membuat suhu semakin dingin. Ahh, enaknya makan bakso hangat di cuaca begini.


Puisi yang indah bukan. Itu karangan ku sendiri. Karangan Caca. Sombong dikit ga ngaruh.


"Jadi lu habis nabrak kak Sandra. Makanya lu berusuran dengannya, gitu?" tanya Gea.


Aku hanya mengangguk. Aku sudah menceritakan drama yang kulalui hari ini. Drama yang sangat mengesalkan. Dari bapak-bapak ojek, larian, tangga pertama lantai dua rusak dan menabrak kak Sandra.


"Begitulah nasib. Nasib yang sial hari ini. Nanti apa lagi yang terjadi, merepotkan sekali. Dan kenapa pak dosen itu ga datang hanya karena kucing kesayangannya itu. Agaknya cucunya cewek atau cowok. By the way busway, gw ga kena hukum dong. Syukurlah. Tapi, habis ini harus berurusan dengan kak Sandra. Masuk mulut buaya keluar mulut harimau," omelku.


"Keluar dari mulut harimau, masuk mulut buaya,"


"Itu maksudnya,"


"Sekarang gimana urusannya. Lu harus mikirin cara biar bisa terhindar dari kak Sandra,"


Aku bingung bagaimana caranya. Ah, aku malas bila disuruh memikirkan hal ginian, kecuali halu. Aku jagonya. Tapi, untuk sekarang mikirkan urusan ku dengan kak Sandra. Oh tentu, tidak bisa.


Kak Sandra. Sandra Banzoz. Anak kaya seperti Gea. Ayahnya juga seorang  yang menyalurkan uang pada kampus ku. Ah apa entah itu namanya.


Kak Sandra tipikel anak angkuh, sombong dan merasa terpintar. Padahal ada beberapa anak lebih pintar darinya termasuk Gea. Dirinya memang cantik dan populitasnya yang tinggi di kampus membuat orang ingin pacaran dengannya. Tapi dirinya ga mau, karena lagi ngejar salah satu dosen muda. Sekaligus AA Gea, Zain Anastasya Calvin.


Kak Sandra. Dirinya dikenal dengan julukan tukang bansos. Karena nama marganya Banzoz. Sangat lucu dan kasian. Dirinya memiliki dua shabat. Sherina Abra dan Seano Fans.


Sherina Abra dan Seano Fans. Mereka bukan anak kaya seperti Kak Sandra, tapi karena kak Sandra yang akan menanggung kehidupan mereka. Makanya mereka menjadi anak buahnya. Mereka melakukannya demi nafsu mereka sebagai wanita yang suka berfoya-foya.


"Oh yah, bagaimana keadaan mas lu tu. Mas keano? Ah, jadi kangen deh," ucapku.


"Mas gw mulu dah yang lu tanyain. Awas ntar ditangkap sama mas keano baru tau. Nanti lu ga bisa bebas lagi,"


"Gapapa. Sumpah gapapa. Ntar kayak dicerita novel-novel. Yang cewek di tangkap dan dijadikan kekasihnya,"


"Halu terus. Kayaknya habis ini gw mau bakar tu buku dah. Ga baik untuk otaklu kayaknya,"


Halu, udah ku bilang halu termasuk hobiku. Kemarin baru baca tentang mafia gitu yang nangkap cewek cantik. Kan aku jadi mau.


Jangan bilang haluku adalah kegiatan gila yah. Para wanita juga banyak kok yang begitu. Ah, Mas Keano. Dia ganteng, badannya bagus, seorang dokter muda. Ahhh(teriak), jadi pengen pacaran sama pak dokter deh.

__ADS_1


Enak-enak halu. Sebuah tangan menyentuh muka ku. Bukan menyentuh sih, lebih tepatnya mengusap mukaku. Kan ewww.


Aku manatap kesal padanya. Dion Jeremy, sahabat Gea. Lelaki ini selalu bikin aku kesal. Dia anak yatim, tapi setelah diangkat orang tua Gea. Dia menjadi anak orang kaya.


"Apa sih lu, ganggu orang terus," keselku.


"Sorry. Lu juga sih pake acara halu segala. Palingan ngehalu pacaran sama mas Keano yah. Ngaku lu,"


"Kalau iya kenapa?"


"Oh yah. Lu ga ada kelas Dion? Kok disini?" tanya Gea.


"Ada kelas sih, tapi gw denger si tukang halu ini lagi berurusan dengan si bansos," jawabnya sambil minum air milik Gea.


Jangan heran, mereka memang begitu. Lebih tepatnya Dion sih. Dia memang suka minum punya Gea. Alasannya mah, mereka shabat jadi gapapa. Padahal mah, si Dion aja yang modus sama Gea. Dasar lelaki, ngaku kek kalau suka. Pakai cara takut hubungan shabatnya musnah.


"Ouhh gitu, Iyah nih lagi nyari cara biar ni bocah ga bertengkar sama kak Sandra,"


"Ouhhh,"


"Woi," teriak seseorang dari arah keajauhan.


"Dicariin Sandra tu di ruangan musik," ucapnya.


"Siapa kak?," tanyaku.


"Lu lah. Siapa lagi," ucapnya kesel.


Dikit-dikit kesel ni orang. Kok bisa kak Sandra punya shabat kayak ni orang. Ga bisa apa bilang secara baik-baik gitu. Sabar ca, mereka S geng. Sandra, Sherina dan Seano.


Kami menuju ke ruangan musik. Ruangan khusus untuk anak-anak musikal di kampusku. Mereka akan latian beberapa hari sebelum pentas dimana-mana. Tak heran, mereka memang terkenal di kampus ku. Kebanggaan kampus.


Sesampainya disini, aku melihat Kak Sandra yang sedang melihat kak Seano bermain piano. Kak Seano adalah salah satu diantara para musikal itu. Pantes saja bisa seenaknya masuk ke ruangan ini.


"Kalian sudah datang ternyata," ucap Kak Sandra.


"Ada apa yah kak?" tanyaku.

__ADS_1


"Lu lupa, lu udah nabrak gw tadi. Sampai gw diamarahin dosen lain" ujarnya dengan penuh kemarahan.


Lah, apa urusannya dengan dimarahin dosen. Aku hanya menabrak dirinya bukan dosen lain. Lagian, kalau dipikirkan ga ada orang lain selain kami berempat.


"Kok bisa sih kak?" tanyaku untuk memastikannya.


"Waktu lu kabur, Sandra panggil lu dengan teriakannya. Yah, jadinya kedengaran sampai ke kantor. And then kami diomelin oleh dosen," jawab Kak Seano yang sedang memainkan piano.


"Lalu apa hubungannya dengan tabrakan itu?" tanya Gea.


"Tanggung jawab lah," bentak Kak Sandra.


"Aku bakalan tanggung jawab. Tapi aku tanggung jawab karena udah nabrak kakak. Tapi aku ga bakalan tanggung jawab soal kakak dimarahin dosen. Jelas-jelas itu salah kakak. Kakak yang tiba-tiba teriak. Bearti bukan salah aku dong," tegasku.


Aku tidak boleh biarkan. Bisa jadi aku terkena hukuman dari si bansos ini. Aku bakalan tanggung jawab tapi bukan soal teriakan yang membuatnya dimarahin dosen.


  Sebuah suara terdengar dari arah belakang. Suara tersebut membuat kami menoleh ke arah sumbernya. Disana terdapat dosen yang di incar oleh para perempuan. Pak Zain atau aku panggil sih AA Zain. Kakak dari Mas Keano dan Gea.


"Kalian ngapain disini?" tanyanya.


"Gini A', tapi waktu Caca mau ke kelas. Caca ga sengaja nabrak Kaka Sandra. Caca udah minta maaf kak, tapi Kak Sandranya yang ga mau maafin. Padahal papa sama mama kan bilang. Kalau kita harus saling memaafkan," jawab Gea. Maksih sayang ku Gea udah mau jawab. Love you sekebon.


"Yasudah. Caca, kamu besok ketemu saya. Kamu juga Sandra. Kita selesaikan besok. Sekarang mendingan kalian bubar. Gea, Dion yuk pulang sama A'A," perintah Pak Zain.


"Baik A', tapi sama Caca yah. Soalnya tadi ada tugas dari dosen sebagai ganti ga masuk pak dosennya," minta Gea.


Aku menatap Pak Zain. Aku berharap agar pak Zain menolaknya. Tapi sayang, jawabannya membuat harapan ku musnah.


"Iyah, Ayuk. Udah ditunggu mama sama papa dirumah," ucapnya.


"Baiklah. Ayu ca," ucapnya dengan semangat.


  Aku hanya mengikutinya dari belakang bersama Dion. Muka menunjukkan ekspresi tidak bahagia. Tapi gapapa asalkan aku bisa bertemu dengan Mas Keano.


"Bahagia banget lu Ca," ucap Gea ketika masuk ke mobil.


"Palingan udah berharap bertemu dengan Mas Keano," ujar Dion malas. Aku hanya senyum.

__ADS_1


"Emangnya kamu belum di bagi tau tentang Mas Keano yah ," ucap A'A Zain.


Apa maksudnya? Aku menatap wajah Gea dari kaca mobil. Sepertinya dia takut akan tatapan ku. Aku menatap kedua lelaki yang berada di dalam mobil. Seakan-akan aku meminta jawaban dari mereka.


__ADS_2