
Hari ini, hari yang begitu cerah. Matahari memperlihatkan cahaya yang terang. Cahaya yang membuat semua orang bahagia. Dan tentunya sadar bahwa sudah waktunya untuk melanjutkan aktivitas yang tertunda.
Aku melihat wanitaku, Caca. Yah, setelah adegan nangis kemarin. Selain bertekad untuk berusaha, aku sudah membuatnya menjadi milikku dengan sebuah kecupan di bibir manisnya.
Astaga, apa pipiku sedang memerah sekarang. Aaaa (teriak), rasanya aku tidak sabar untuk menjadikannya milikku. Sebenernya aku bisa saja menyuruh Mama untuk menjodohkan ku dengannya. Tapi, aku memilih untuk tidak melakukannya.
Aku ingin dia benar-benar memiliki ku dengan sepenuh hati. Bukan dengan dorongan namanya 'paksaan'.
"A'A disini?" tanya Gea.
"Iya, kenapa?" tanyaku balik.
"Tidak. Kalau begitu A'A ajak Caca ke bawah. Udah ditungguin sama yang lain. Oh yah, bilang ke Caca yah. Untuk kuatkan diri nanti," ucap Gea dan dibalas dengan kebingungan ku.
Nanti? Apa ada sesuatu yang bakalan terjadi?
"Nanti?" tanyaku.
"Yah, nanti Mas Keano sama Mbak Ais datang. Kan mau tunangannya dibali. Jadi mereka datang cepat untuk menyiapkan semuanya. Oh yah, A'A cepetan ambil hati si Caca. Biar bisa nikah cepat. Kasian sama Mas Keano yang harus nunggu A'A nikah dulu," canda Gea.
"Hm," balasku malas.
Apa dia ga tau A'A-nya ini sedang berjuang. Tidak segampang itu wahai adikku. Apalagi shabat mu baru merasakan patah hati. Jadinya ga gampang membuka hati. Ditambah A'A mu ini baru pertama kali berurusan dengan namanya cewek selain kalian.
Aku menatap pergi adikku. Setelah merasakan adikku pergi jauh. Aku menoleh pada Caca. Posisinya sama seperti aku melihatnya kemarin. Duduk di atas kasur dan membelakangi diriku.
Aku masuk dan tak lupa mengucapkan salam. Kata Mama sebelum memasuki kamar atau rumah haru mengucapkan salam. Mama ku emang jos.
Aku duduk di sebelahnya. Dia masih diam dan tidak merasa terganggu akan kehadiran diriku.
"Ca, ayu ke bawah. Udah ditungguin sama yang lain. Kayaknya Mama sudah masak yang enak buat kita," ajak ku.
Dia masih diam. Ah, sepertinya aku harus banyak belajar pada si kembar akan namanya mengambil hati wanita.
"Ca, ayuk. Nanti kasian Mama udah nungguin kita. Udah masakin makanan kesukaan mu," ajak ku lagi.
__ADS_1
"Mas Keano dan Mbak Ais bakaln kesini yah A'A?" kegetku mendengar pernyataannya.
Bagaimana dia bisa tau. Apa dia seorang cenayang. Astaga, aku lupa dia mesti mendengar obrolan ku dengan Gea tadi. Makanya, dia tau. Dasar Zain.
"Iyah, nanti kita jemput Mas Keano. Kamu kalau tidak mau ikut juga tidak papa. Kamu disini saja bersama bibi," ucapku.
"A'A kok cerewet yah dari kemarin. Panjang sekali kata-kata yang dikeluarkan dari kemarin. Caca jadi bingung. Padahal A'A itu dikenal dengan cueknya. Kok sekarang cerewet sih," herannya padaku.
Jika dipikirkannya benar juga yah. Dari kemarin kenapa aku agak cerewet. Tapi apa dia ga sadar atau pura-pura ga sabar bahwa karena aku dialah aku cerewet. Aku khawatir padamu Ca.
"Benarkah? Tidak lah," elak ku padanya.
"Bener. Yasudah ayu kita makan. Aku juga sudah lapar," ajaknya.
"Hm baiklah ayu. Tapi kamu sudah lupakan Keano kan? Masalah kemarin?" tanyaku tiba-tiba.
Ah, sial. Untuk apa aku bertanya. Seharusnya saat melihatnya gembira aku terus mengiyakan ajakannya tapi bertanya lagi. Aduh, kok bisa bodoh aku di dalam situasi begini.
"Tidak papa. Selama ada A'A aku yakin bisa melupakan Mas Keano. A'A janji yah jangan tinggalkan Caca. Kalian semua jangan tinggalin Caca,' pintanya.
"Iyan A'A janji. Ayu ke bawah," ucapku.
Aku hanya membalasnya dengan anggukan. Kenapa? Dia tersenyum dengan manisnya. Rasanya aku ingin memasukinya ke dalam sebuah karung agar tidak ada yang bisa melihat senyumannya itu. Senyumannya hanya untuk ku seorang. Egois dikit ga ngaruh.
Kami menuruni tangga dan menuju ke meja makan. Aku melihat semua orang sudah berkumpul. Sepertinya mereka sudah menunggu dari tadi. Buktinya sepasang shabat mengoceh karena sudah menahan lapar dari tadi.
Kami memakan makanan buatan Mama dengan seksama. Di keluarga ku memang begitu aturannya. Harus makan dengan tertib tanpa mengeluarkan sebuah kata.
Selesai makan, kami berkumpul di ruang tamu. Untuk sekadar bercerita akan terjadinya sesuatu seminggu terakhir. Kami memang meluangkan waktu untuk sekadar berkumpul.
"Caca, nanti ikut kami ke bandara yah. Kita jemput Mas Keano," ucap Mama.
"Iyah Ca, ada Mas kembar juga. Mereka pulang," ucap Gea juga.
"Jangan dipaksa Ma, kalau Caca ga mau juga gapapa. Caca disini saja yah. Sama bibi," ujar Papa pada Mama sama Gea.
__ADS_1
Aku setuju dengan Papa. Aku tidak mau usaha ku membujuknya dari kemarin zonk karena melihat Keano dan Ais bermesraan didepan Caca.
Aku juga terkejut ucapan Mama dan Gea untuk mengajak Caca ke bandara. Aku takut saja hatinya patah untuk sekian kalinya. Dan yang paling kaget adalah jawaban si Caca.
"Gapapa Pa. Aku mau kok, lagian aku kangen sama Mas kembar. Udah dua tahun ga ketemu karena saking sibuknya mereka. Selama ada A'A di samping ku. Aku tidak masalah," ucapnya sambil tersenyum.
Ah, jangan begini Ca. Kalau mau bikin anak orang salting, bilang dulu atuh. Jangan langsung di bikin salting. Udah ucapannga, ditambah lagi dengan senyumannya. Astaga, hatiku deg degan rasanya.
"Hm," balasku sambil menetralkan hati ini.
"Yasudah kalau begitu. A'A, kok kupingnya warna merah sih?" tanya Mama.
Kuping ku merah. Astaga, semua ini karena mu Caca. Tapi gapapa, aku menyayangimu.
"Gapapa Ma," balasku.
"Nahan salting lah tu," ledek Gea padaku.
"Biasalan Ma, sedang jatuh cinta tu. Jadinya salting terus," ledek Dion juga.
"Loh, emangnya A'A lagi jatuh cinta sama siapa?" tanya Caca.
Wahai Cacaku yang manis. Apa kau tidak sadar akan cinta ku padamu. Ditambah lagi aku mengecup bibir mabis mu kemarin. Apa di lupa?
"Ada deh," elak ku.
"Loh, kalau ada. Kenapa A'A cium bibirku kemarin?" tanyanya.
Ya ampun sayang. Kok mulutnya ngak di filter sih. Kan A'A dapat tatapan tajam dari Mama dan yang lainnya. Habislah muka genteng ku habis ini. Ya ampun, kok bisa nya aku suka sama cewe berbentuk Caca sih.
"Maksudnya?" tanya Mama. Kan kan kan.
"Iyah Ma, habis mengobrol sama A'A. Tiba-tiba bibirku di cium sama A'A," jawabnya.
"Astaga, kamu itu A'. Nikah dulu baru langsung jos," tegur Papa sambil memukul punggung ku.
__ADS_1
Sudah di pukul sama Papa. Aku mendapatkan pukulan sandal dari Mama. Apakah semua Mama di dunia memakai sandal untuk memukul anaknya. Sakit tau, walaupun ga sakit amat sih.
Sepertinya habis ini aku harus mengajar kan si cintaku ini. Agar meng-filter kan mulut manisnya itu.