
Zain Anastasya Calvin POV
Aku Zain Anastasya Calvin. Seorang lelaki yang berasal dari rahim Mama ku. Vera Anastasya, dan tentu dari Papa juga. Michele Calvin.
Anastasya dan Calvin memang di ambil dari marga Mama Dan Papa. Karena hubungan Mama dan Papa yang tidak direstui oleh Kakek dan Nenek dari bagian Mama. Membuat mereka memilih menikah tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Setahuku orang tua Mama sudah menjodohkan Mama dengan pria yang lebih kaya. Tapi, sayang Mama memilih Papa yang diketahui hanya seorang rakyat miskin. Namun, Mama begitu menyayangi Papa. Sebab hal itu, Mama menyuruh kami menikah dengan pasangan yang kami mau.
Sebab hubungan tidak direstui itu lah. Marga Mama dan Papa di satukan. Anastasya Calvin. Mendengar hubungan mereka membuat ku bertekad mendekati shabat adikku. Chandra Cassandra, atau dipanggil Caca.
Seusai makan, Caca memilih di kamar Gea. Sejak mendengar sebuah berita tentang Keano, wajahnya menjadi sedih.
Biasanya jika Mama bertemu dengan Caca, mereka akan mengobrol tiada hentinya. Mereka sering bertemu di luar. Lebih tepatnya, tempat kerja Caca.
Aku kasian padanya. Dia mencintai Keano sejak tiga tahun lalu. Apa dia ga sadar aku menyukainya. Dibandingkan adikku. Yah, aku dan Keano saudara. Aku memiliki lima saudara termasuk diriku. Aku anak pertama.
Anak ke-dua, Keano Anastasya Calvin. Seorang dokter bedah di salah satu rumah sakit miliknya sendiri. Dia anak yang ramah. Di bandingkan diriku yang cuek ini.
Anak ke-tiga dan ke-empat. Mereka kembar. Alfin Anastasya Calvin dan Alfan Anastasya Calvin. Si Alfin seorang polisi, sedangkan kembarnya seorang TNI.
Dan anak terakhir sekaligus bontot. Gea Anastasya Calvin. Adik yang paling ku sayangi setelah Mama. Dia memperkenalkan Caca pada ku tiga tahun lalu. Semenjak itu hati ini tidak berpaling darinya.
Aku menatap bunga tulip kesayangan Mama. Walaupun mataku memandang bunga tersebut. Tapi, pikiran ku melayang pada kejadian setengah jam yang lalu.
Flashback
"Bahagia banget lu Ca," ucap Gea ketika masuk ke mobil.
__ADS_1
"Palingan udah berharap bertemu dengan Mas Keano," ujar Dion malas.
"Emangnya kamu belum di bagi tau tentang Mas Keano yah ," ucap ku.
Aku mantap wajah Caca dari kaca spion yang berada di mobil. Aku melihat wajahnya yang terkejut dan sepertinya banyak pertanyaan. Melihatnya membuat ku sadar. Apa mereka tidak bagi tau padanya tentang Keano?.
Aku merasa bersalah. Seharusnya aku tidak mengucapkan kata itu. Aku menatap wajah yang lainnya. Sepertinya mereka sedang mencari jawaban untuk pertanyaan di benak Caca.
"A', apa maksud A'A tadi?" tanya Caca padaku.
"A', jawab dong jangan diam terus. Jangan kayak Gea sama Dion yang hanya diam. Apa yang kalian tutupi selama ini ke Caca. A'A kan tau kalau Mas Keano adalah orang yang Caca cintai tiga tahun terakhir ini," mohonnya.
Sedih rasanya melihat orang yang kucintai. Melihatnya dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Tak tega sekali diriku. Tapi, aku takut menyakiti hati mungilnya. Maafkan A'A, tapi sudah waktunya kamu tau.
"Kamu kenalkan dengan Ais, shabat Keano. Mereka akan bertunangan minggu ini di bali," ucapku sambil menyetir. Rasanya aku ingin sekali melihat wajahnya, tapi ku urungkan. Aku tidak mau sedih melihat wajahnya kini.
"A'A jangan bercanda," ucapnya dengan menaikkan satu nada.
Aku tak mendengar suara dari Caca. Aku mantap ke arah spion, dan melihat tatapan kosong darinya. Ah, aku menyakiti hatinya. Maafkan ku sayang, tapi setelah ini aku akan berusaha membukakan hatimu untukku.
Flashback off
Sebuah tepukan di bahu menyadarkan ku. Aku mantap ke arah sososk yang menepuk bahuku.
Dia adalah wanita yang ku cintai sebelum Caca dan adikku. Mama. Mama tau akan perasaan ini pada Caca. Bahkan dia orang pertama yang mengatahuinya dan mendukung ku untuk memperjuangkan Caca.
Mama duduk disebelah ku. Tanpa pikir panjang aku langsung memeluknya. Aku meletakkan kepala di atas bahunya. Menumpahkan air mata yang tertahan sejak di mobil.
__ADS_1
"Yang sabar yah A'," ucap Mama lembut.
Suaranya yang merdu membuat ku sedikit tenang. Seperti suara Caca yang entah kenapa hati ini rasanya tenang bilang dia cerewet. Tapi, ketika dirinya diam. Hati ini sakit sekali. Bak seperti ditusuk beribu pedang.
"Sekarang giliranmu. Dulu kau mencintainya dalam diam. Sekarang buktikan bahwa kau mencintainya. Dukunglah dirinya. Bagilah kekuatan baginya. Bagilah dia kesempatan untuk membuka hatinya untukmu. Tunjukkan cintamu padanya. Sudah waktunya juga memperjuangkan cintamu. Kau tau kan, dia hanya memiliki kita sebagai keluarganya. Dirinya seperti Dion yang hanya hidup sebatang kara. Jangan sakiti dia ya sayang. Sembuhkan lah hatinya," ucap Mama sambil mengusap punggung ku.
Mungkin Mama benar. Sudah waktunya aku menunjukkan cinta ku pada Caca. Akan ku perjuangkan cinta ini.
"Pergilah ke kamar Gea. Di sana Caca sendiri. Adikmu minta izin tadi bersama Dion ke toko buku. Kamu taulah kalau Dion menyukai adikmu itu. Kau juga harus berjuang seperti Dion. Dirinya tak pantang menyerah," ucap Mama.
Aku hanya diam. Bener kata Mama untuk ke-dua kalinya. Udah waktunya aku memperjuangkan cinta ini. Seperti Dion yang tak menyerah akan cintanya pada adikku.
Aku berdiri dan menuju kamar Gea. Tentu setelah berpamitan dengan Mama. Hati ini sedikit gelisah akan sambutan dari Caca nanti ketika aku bertemu dengannya.
Aku berada di depan pintu. Dengan perlahan aku mengetuk untuk beberapa kali. Tapi, hasilnya tiada yang membukanya. Lalu aku membuka knop pintu. Ternyata tidak dikunci. Maafkan A'A mu ini Gea, sudah masuk ke kamarmu tanpa sepengetahuan mu.
Aku melihat sosok wanita yang sedang memperbelakangi diriku. Dirinya duduk dia di atas kasur. Dia adalah Caca, orang yang kucintai. Aku menghampirinya, dan duduk disebelahnya.
Aku kira dia akan memarahiku, karena butuh akan kesendirian. Namun dugaan ku salah, dia hanya diam dengan tatapan kosongnya. Lagi-lagi hati ini sakit melihatnya.
"Maafkan A'A. A'A ga tau kalau Gea sama Dion belom bagi tau kamu soal Keano. Maafkan A'A, seharusnya A'A ga menjawab pertanyaan mu," mohonku.
"A', kenapa semua orang meninggalkan Caca. Dari dulu sampai sekarang. Dulu orang tua, sekarang Mas Keano. Apa Caca ga bisa mendapatkan kebahagiaan," ucapnya lesu.
"Ga, itu ga bener. Caca pantes mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan yang akan membuat seorang Caca tiada hentinya tersenyum. Inget, disin ada A'A, Mama, Papa, Dion, Mas kembar kesayangan mu dan Gea. Kami ga akan ninggalin kamu sampai kapanpun," ucapku.
"A'A janji yah, jangan ninggalin Caca," ucapnya sambil menatap ku. Aku hanya membalas sebuah anggukan.
__ADS_1
"A'A, Caca boleh minta pelukan," pintanya.
Tanpa menjawab permintaannya. Aku langsung memeluknya. Dan tentu saja dirinya membalas pelukan ini. Aku berjanji tidak akan meninggalkan mu wahai perempuan ku. Cintaku.