
BAB 8
Ustadzah Nadia duduk di depan papan tulis putih memegang spidol warna warni di tangannya. Doa pun di mulai, semuanya memberikan salam. " Semuanya sudah nadhoman?" Tanya Nya dengan tersenyum. " Sudah Ustadzah, tadi baca kitab Alala dan jurumiyah. Alhamdulillah lumayan hafal." Terang ketua kelas.
Pembelajaran Fi'il, Fa'il di mulai, kelas yang paling ingin di hindari Aida. Karena ia tak pernah bisa menghafal semua nya sekaligus, favorit nya adalah Shorof dan Mukhafadoh jurumiyah. Kelas yang tenang masih membuat Aida nyaman meskipun terdengar sedikit suara reruntuhan dari atas saat pengambilan kerucut kubah.
Jam kedua di mulai, kini waktunya Mukhafadoh jurumiyah, Aida yang tadinya malas langsung maju ke depan Ustadzah nya untuk memulai hafalan. " Ustadzah jurumiyah saya khatam kan hari ini." Semuanya terkejut mendengar perkataan Aida. " Yang bener mau khatamin? Busett nih anak." Ucap Anita Melongo.
" Sudah sudah haha, Aida yuk mulai baca bismillah dulu yaa." Nadanya kalem. " Bismillah ya Allah luluhkan lah hatinya..."
Ustadz AdeLio....!!!
Teriak semua Santri kelas 2B. Kelas yang lain ikut terkejut, sehingga itu membuat kelas Latifah terganggu. Latifah menghampiri kelas Nadia. " Mbak Nadia maaf, lain kali santri nya di kontrol." Ucap Latifah tegas. " Astaghfirulah maafkan, mereka ini bercanda." Namun wajah Latifah terlihat begitu kesal sehingga membuat santri ini Memulai pembicaraan. Latifah meninggalkan Kelas Nadia dengan tatapan tidak suka.
" He kalian kenapa malah teriak? Aida lain kali jangan di ulangi!" Tiba-tiba sikap kalem Nadia sama kesalnya dengan sikap Latifah.
Semua yang mendengar suara Nadia membentak pun terdiam, begitu pula Aida yang tidak tahu akan mengalami kejadian apes seperti ini. Nadia duduk kembali dan menyimak hafalan santri, semua teman Aida hanya diam sibuk menghafalkan Hafalannya masing-masing. Bel terakhir berbunyi..... Waktunya pulang untuk membeli jajan yeyyy.... Semua santri segera berdoa dan turun, halaman parkir masjid di penuh i oleh jemput an santri yang sangat ramai.
Beberapa teman Adia belum mendapatkan jemputan, mereka pun ngobrol santai di depan bedug besar kesayangan masjid berwarna coklat ke emasan itu. " Ustadzah Nadia tadi jahat banget ya." Ucap Anita. " Astaghfirulah Gaboleh seperti itu. Ini juga salahku ya ngapain aku bucin kayak gitu." Ujar Aida dengan penuh rasa bersalah.
__ADS_1
" Pasti heran semua kan kalau Ustadzah Nadia kayak gitu? Jadi ilfel sama Ustadzah karena sikap nya tadi." Perghibahan pun di mulai. Aida hanya terdiam mendengarkan ia tak ingin berbicara karena tak mau mendapatkan dosa ghibah. " Astaghfirulah istighfar Ukhtie." Saut Aida menutup mulut Anita dan Salsa. " Ghibahhhh terosss Sampek sukses." Yang di pikirkan Aida bukan Nadia. Melainkan Latifah, sikapnya yang di kenal kalem ternyata bisa meluapkan emosi saat pembelajaran kelas seperti itu. Tak terpikirkan Aida bahwa dia bisa ber seteru dengan Ustadzah nya sendiri karena teriakan penyebut nama Lio di sana. Aida ingin meminta maaf, namun Latifah malah terus menghindari Aida. Ia heran kepada Latifah untuk apa marah karena masalah sepele seperti ini. Pada saat selesai sholat Maghrib. Aida pergi ke basement untuk me momong anak anak kecil di sana. tiba-tiba ada Latifah lewat di depan pintu belakang basement.
" Anggun sekali." Ucap Rifqi teman Aida. " Siapa? Mbak yang barusan lewat?" Tanya Aida melihat sekeliling. " Iya, siapa sih yang pakai baju pink tadi, cakep amat jadi orang wahh kalau aku jadi pacarnya...."
" Awas nyungsep." Sela Aida agar Rifqi tak berpikir kejauhan.
Perkumpulan bocil bocil di basement pun bermulai, Rifqi dan Aida yang di tugaskan untuk menjaga cucu cucu takmir ini pun kewalahan. " Anak anak Nakal!" Rifqi kesal melihat bocah mungil umur 4 tahun berlari ke sana dan ke sini. Menjaga 5 anak kecil sama saja menjaga Pengunjung alun alun bagi Rifqi. Bocah berbaju biru dan ber Kopyah putih itu pun tak henti-hentinya berlari, Rifqi ingin mengejar bocah itu agar diam. Namun Aida melarangnya.
" Biarkan, namanya anak kecil rif. Udah jangan emosi mumpung dia teman nya banyak yakan." Aida menarik tangan Rifqi yang bersiap untuk mengejar bocah bocah berisik itu. " Oke sekarang aku mau tanya, siapa Mbak cantik pink tadi." Gerutu Rifqi menatap Aida.
Anak ini kenapa sih. Malah tanya Ustadzah Latifah, aku kasih tau aja lah yang ku tau, lagian dia juga bagian cucu takmir.
Kini Aida yang kesal mendengar perkataan Rifqi. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari atas yang ingin menuju turun ke basement. Sepatu futsal Adidas Berwarna merah putih yang di pakai Dany untuk melawan Lio waktu sore tadi. " Assalamu'alaikum." Dany ngos-ngosan memberi salam. " Waallaikummus'salam, mas Dany habis futsal ya?"
" Bener, dapet lawan yang gak sebanding tuh haha." Kata Dany sembari menoleh ke belakang. " Awas!" Ucap Lio sembari melotot ke arah depan. Dua sahabat ini sangat suka bermain dengan yang bersangkutan dengan bola, semua mereka kuasai. Meskipun begitu olahraga yang paling di cintai Lio adalah memanah.
" Kok pulangnya malem tumben." Aida meletakan dua gelas air putih di belakang Lio. Dengan cepat Dany me minum air itu. Dia sangat kehausan seperti orang yang ber olahraga di Padang Mahsyar dengan cuaca begitu panas. Lio yang pendiam hanya bersikap dingin kepada Aida, tak di ucapkan nya kata Terimakasih. Ia langsung mengajak Dany untuk pergi ke atas. Dengan sikap Lio Aida merasa terganggu, bagaimana tidak sesekali saja Aida ingin mendengarkan kata terimakasih dari bibir Lio. Namun sepatah kata pun tidak ada.
" Sok cool si kulkas." Ujar Rifqi mengambil bola di tempat Lio melepaskan sepatunya. Aida hanya terdiam melihat Rifqi sambil menoleh ke belakang, di toleh nya lagi ke depan tiba-tiba bocah imut mungil itu duduk manis terdiam. Aida yang gemas melihat Bocah itu langsung memeluknya. Betapa lucu nya saat Aida membersihkan Rambut anak kecil yang kotor karena Kertas kertas yang di robek mereka itu.
__ADS_1
Suara nada dering berputar, handphone milik Rifqi bergetar, Aida segera mengambil handphone itu dan mengangkat teleponnya. " Assalamu'alaikum." Ucap seorang takmir masjid. " Waallaikummus'salam, ini Aida bah ada apa ya?" Rifqi malah terlihat santai, dia hanya melihat Gerobak mie ayam yang berdiri di atas sana. Aida dan Abah takmir yakni sekretaris dari Abah Fikar meminta Aida Untuk menenangkan bocah-bocah kecil itu. Akan ada rapat dadakan oleh Takmir Dan semua organisasi masjid. Semua orang Aida undang di grup masing masing.
Di sisi lain Aida dengan sigapnya merapikan dan menyapu basement sampai bersih, setelah itu di ulurkan karpet merah itu kembali. Mendengar kata rapat Aida tak bisa terdiam, ia seperti ketua panitia yang harus mengurus segalanya.
Sebuah pemberitahuan dadakan di beritahukan oleh Takmir bahwa akan di buat organisasi baru di Masjid. Mereka mendengarkan dengan teliti dan tidak ingin melewatkan satu kata pun, Aida yang menunduk tegas yang hatinya sudah mengantuk itu hanya bisa mencatat kata-kata di pikiran nya satu per satu. Luapan di mulutnya ia tahan sampai selesai.
Malam yang seharusnya Aida ber istirahat malah menjadi malam di mana dia mengantuk berat mendengarkan rapat, Abah Fikar yang terlihat serius. Membuat Aida menjadi ikut serius mendengar lontaran Kata-kata ber bait itu. " Duhhh aku ngantuk." Ucap Aida meluap. Daniah yang ada di sebelah Aida hanya tersenyum, " sttt, di atas ada gerobak mie ayam loh." Tiba-tiba mata Aida terbuka lebar lebar. Menunggu rapat selesai hingga bisa menyantap se mangkok mie ayam.
Jam menunjukkan pukul 22.30 rapat pun mulai selesai, mereka semua segera mengambil mangkok mie ayam di atas dan menyantap hidangan bersama di aula besar itu, canda tawa riang berkumpul dan suasana tegas tegang rapat ter usir jauh. Yang awalnya mengantuk menjadi senang karena ada sedikit oleh oleh pasca rapat.
Saat selesai makan, semua nya di perbolehkan pulang, remas putri dan asatidzah Madin sudah mulai kelelahan.
" Abah, terimakasih untuk malam ini, kami izin pamit assalamu'alaikum." Ucap Yolanda selaku sekretaris Di remas. Semuanya mengangguk, tapi yang Ter sorot hanya Aida dan Latifah. Perseteruan Masih ada di benak pikiran mereka, Aida menunduk menjauhkan pandangan nya dari Latifah. Ketimbang menatap lalu menjadi fitnah. Latifah melirikan matanya tajam, ia seperti mengawasi Aida yang tak henti-hentinya berbicara dengan Lio saat rapat. Ini benar-benar menjadi pertanyaan melelahkan bagi Aida.
BERSAMBUNG....
Terimakasih, jangan lupa tanda Like dan jejak komentarnya 👑
Instagram : @nazzahraa_878
__ADS_1