WAHAI TAKDIR INDAH AIDA

WAHAI TAKDIR INDAH AIDA
Ketegangan membingungkan


__ADS_3

BAB 3


Berhari-hari Aida terdiam. Bak sedang berakting di sebuah film Horror, ia hanya melamun dan memikirkan sesuatu. Di dalam kamar ia termenung, melihat jendela yang terbuka dengan tiga burung yang sedang memakan jagung di atas wadah berwarna hijau muda.


Ia duduk bersandar di atas ranjang empuknya, matanya berkeliling melihat tempat yang sedang di tempati nya. " Belakangan ini aku aneh." Ucapnya tanpa sengaja. Rizal pun menghawatirkan keadaan adiknya. Ia pun memasuki kamar Aida, membuka pintu melihat adiknya duduk termenung.


" Adek, ayo makan, kakak masak Nasi goreng enak, yaaa meskipun agak gosong, tapi its okay'lah." Ucapnya lembut.


Aida menoleh, namun tak bergerak. Ia kembali melamun. " Enggak makasih kak, aku lelah pengen istirahat aja." Aida menolak. " Kamu kenapa? Berhari-hari makan cuma satu kali, ayo makan! Hari ini kamu belum makan, tadi cuma makan biskuit aja masa'udah kenyang?."


Rizal menggenggam tangan adiknya erat,


Ia mulai benar-benar khawatir kepada adiknya ini. " Yang bilang kenyang siapa kak? Aida cuma ngomong mau istirahat haha." Ucap Aida tertawa kecil. " Sakit? Ayo ke dokter." Aida hanya mendengus.


Ia turun dari ranjangnya, melepaskan genggaman tangan kakaknya. Pergi begitu saja tanpa menjawab apapun dari sang kakak.


" Mau kemana, mau makan kan? Nasi goreng gosong kakak siap menanti di meja makan, plis ya makan bareng adik aku yang cantik." Goda Rizal agar adiknya yang keras kepala ini nakal.


Aida menoleh dingin. " Mau mandi, hari ini ada kegiatan remas." Ucapnya dengan dingin. " Iya, kakak anterin ya. Tapi makan dulu oke cantik?"


Aida mengangguk sembari tersenyum, mengambil handuk di depan pintu lalu pergi. Rizal yang berada di dalam kamar melihat sekeliling, ia mengeledah ranjang Aida. Melempar selimut dan bantal, mencari sesuatu yang membuat adiknya hanya terdiam.


Selang beberapa menit, ia tak menemukan apapun. Ia menoleh, terlihat kamar Aida berantakan.


" Astaghfirulah, kenapa aku buat ini kamar jadi berantakan?" Ucapnya dengan menggaruk-garuk kepalanya. Rizal merapikan kamar itu seperti semula, dia terheran padahal dia sendiri yang membuat kamar Aida berantakan. Setelah selesai, ia kembali ke kamarnya untuk ganti baju.


***

__ADS_1


Sebelum berangkat mereka makan terlebih dahulu. " Nasi goreng gosong yang aesthethic." Ucap Aida. " Ya tapi enak kan? Ini kakak juga pemula Masak nasgor nya, kamu sih ngajarin nya dikit dikit." Kini Rizal yang cemberut. " Haha, kakak ini, kan Aida ngomong kalau ngoseng api nya sedang aja, ini pasti di gedein." Makan sembari bercanda akhirnya selesai.


Di perjalanan kembali melamun, menatap pepohonan rindang di tepi jalan.


Seperti biasa Aida langsung memasuki basement masjid, kakaknya tidak ingin menunggu lama, Karena Rizal sendiri tak punya pekerjaan. Dan ia pun meninggalkan nya untuk mencari tahu alasan Aida terdiam berhari-hari.


Terpikirkan lah ia ingin pergi bertanya ke Seorang kakek tua yang menjadi ahli ibadah di desa kecilnya.


Apa aku tanya Mbah itu ya?


Udah lama juga gak kesana. Mau silahturahmi juga deh, entar Aida kapan-kapan aja.


Ucapnya dalam hati, ia langsung menuju tempat yang di tuju nya. Sebelumnya ia pergi mampir ke toko sembako untuk membeli sesuatu. Rizal mengebut di jalanan, tetapi ia tetap mematuhi peraturan lalu lintas yang padat.


Memasuki jalan lurus di mana desa itu tertancap menjadi desa yang paling indah di kota itu. Hawanya sejuk dan pegunungan terlihat seperti tersusun rapi di atas nan bawah sana, Bunga dan pepohonan di sepanjang jalan menjadi destinasi yang amat wajib di lestarikan oleh warga setempat dan Masyarakat luas kota itu.


Desa Kembang Sari....


***


" Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh. Mbah..." Panggil Rizal dari luar rumah.


" Waallaikummus'salam. Hmmm.... Siapa sampean ini?" Tanya Mbah itu dengan lemah lembut.


" Ini Rizal Mbah, masa' Mbah lupa sama bocah yang dulu suka ngambil pisang di pekarangan rumah Embah? Terus suka nginep di rumah ini sampai bolos sekolah? saking sayangnya sama Mbah." Lelaki tua itu masih lupa ingatan tentang Bocah kesayangan yang ia anggap cucunya sendiri itu.


" Nak Ijal?" Ia mulai ingat satu persatu. " Cucu ku sayang...." Matanya berkedip kedip.

__ADS_1


Nada bicara nya membuat hati Rizal sangat hancur karena Memang Mbah Maridjan sudah bertambah usia dan semakin menjadi tua. Namun wajahnya masih nampak awet muda. " Ya Allah nakk, Mbah rindu sekali sama sampean.... Alhamdulillah sampean bisa ke sini yaa." Keduanya berpelukan, dan Rizal menahan tangisnya Karena lama tidak bertemu dengan kakek kesayangan nya ini.


" Mari masuk, Mbah ada camilan buanyak kok hehe." Ucap mbah Maridjan Meringis.


" Haha pasti kue kesukaan ijal nih."


" Iya nak, keripik pisang sama brownies kukus Buatan embah." Mbah Maridjan tersenyum. Perbincangan mereka sangat menyenangkan, sampai-sampai Rizal lupa apa yang ingin di katakan nya.


Mereka tertawa dengan wajah yang sangat bahagia, Rizal bersyukur masih bisa menatap wajah Ceria Mbah Nya ini. " Hahaha.... Kamu ini sek sama wae kayak dulu.... Kamu ke sini punya tujuan tanya ya kan sama Embah?"


" MasyaaAllah iya Mbah, Ijal Sampai lupa saking senengnya hehe. Tadi makanya ada yang kelupaan." Rizal menggaruk kepalanya. " Subhanallah inilah anak jaman sekarang, jadi pelupa.... Kok kalah sama embah yang sudah tua ini, masih inget semuanya, Apalagi nostalgia masa kecil dulu." Mbah Maridjan meringis sembari meminum secangkir kopi.


" Embah ini.... Tua tua masih ngelawak, lucu nya minta ampun haha." Keduanya terbahak bahak karena kegirangan, Mbah Maridjan sampai kecapekan karena mulutnya sedari tadi hanya tertawa bersama cucu kesayangannya itu.


Mbah Maridjan berdiri meninggalkan Rizal di ruang tamu. Ia kembali lagi dengan membawa 3 tasbih berwarna Coklat tua dan muda, lalu di letakkan nya di atas meja. " Jadi bagaimana kabar nak Aida sekarang?" Tanyanya.


" Aida Alhamdulillah kabar baik Mbah, cuman yang Ijal heran. Aida berhari hari gak mau makan nasi. Sampai kadang Ijal mikir loh, ini anak jin atau manusia di suruh makan nasi gamau."


" Astaghfirullah MasyaaAllah hahaha... Kamu ini lucu sekali, adiknya kok di sama sama in kayak jin ini gimana toh? Gak boleh kayak gitu haha."


" Ya gitu Mbah, Ijal sampai takut loh Deket Aida, gak jelas ni anak ya tapi Alhamdulillah masih di suruh Sholat masih bisa."


" Kesurupan pernah?" Tanyanya. " Kalau mimisan ataupun Pingsan karena hal gak jelas?" Rizal hanya menggelengkan kepalanya. " Berarti Adik kamu gapapa nak.... Hanya saja.... Hehe capek mungkin." Mbah Maridjan langsung memberikan tasbih berwarna coklat tua itu kepada Rizal. " Loh kok di kasih Ijal?" Tanya nya heran.


BERSAMBUNG....


Terimakasih, jangan lupa tanda Like dan jejak komentarnya 👑

__ADS_1


Instagram : @nazzahraa_878


__ADS_2