
BAB 4
Mbah Maridjan hanya tersenyum.
Ia mengambil Peci Putih dan menghadiahkan nya ke Rizal. Dengan lengan tangannya yang sudah berkeriput ia letakkan ke tangan Rizal. " Kenapa barang kesayangan Mbah, Mbah kasih ke Ijal?" Tanya Rizal.
" Jadi gini nak. Setiap sebelum tidur, ajak Aida Dzikir pakai tasbih ini. Jangan sampai bolong. Karena perubahan nya sangat kuat terhadap Nak Aida." Ucapnya. " Owalahhh jadi gitu toh? Iya Mbah, Ijal paham. Tapi sangkut pautnya sama tasbih apa?"
" MasyaaaAllahhhh, hmmmm." Mbah Maridjan mengusap usap kepala Rizal. " Mbah...." Rizal memegang tangan Lelaki tua itu. " Hahahaha.... Maafkan Mbah ya nak, kamu lucu sekali...." Ucapnya meringis. " Keajaiban tasbih dan dzikir itu banyak. Tasbih gak sekedar di buat dzikir, manfaat nya lebih dari itu. Mbah yakin setelah ini Aida insyaallah atas seizin Allah, dia bisa sembuh." Imbuhnya. " Wahhhh jadi bener Aida kerasukan jin?" Matanya melebar. " Astaghfirullah ya Rabb, nak Aida itu gapapa nakkk. Kamu dari tadi jin Jan jin terus."
" Hahaha iya Mbah, Ijal bercanda. Insyaallah Ijal terapin apa kata Mbah." Keduanya kembali berbincang santai, memakan kripik pisang dan sepotong brownies. " Matur nuwun sanget nggeh Mbah. Mugi sehat terus." Ia mencium tangan Mbah Maridjan. " Insyaallah aminnn Allahumma aminn, kamu juga sama nak Aida jaga diri yaa." Ucapnya lemah lembut. " Oh iya Mbah, Ijal bawain beberapa makanan sama bahan pokok buat Mbah." Ia pergi ke mobil untuk mengambil 3 kardus yang di bawanya.
" Subhanallah ini kayaknya berat sekali nak." Mbak Maridjan berusaha membantu Rizal. " Iya Mbah, ini ada beras 15 Kilogram, terus gula 3 Kilogram, Minyak goreng, Mie Instan, Tepung terigu, tahu, tempe, Tapioka, baking powder, baking soda sama tepung serbaguna, Mbah kan suka bikin kue jadi aku beliin lengkap bahannya." Ucapnya sambil membuka kardus itu dengan senyum sumringah. " Kalau yang di sini ada 3 sirup marjan, 4 Bungkus teh sama kopi, Margarin sama butter, terus 5 Bungkus nata de Coco yang ini lumayan gede kok. 4 botol Kecap sama saus sambel terus tepung roti." Ujarnya lengkap sembari membuka Kardus lainnya. " MasyaaAllah banyak sekali nakkk, kamu ke sini aja gak bawa apa apa juga gapapa kok nakkk, Mbah udah seneng."
" Jangan di tolak, ini rezekinya Mbah, Mbah sendiri kok yang ngomong rezeki gaboleh di tolak." Terlihat ia sangat bahagia memberikan barang-barang itu. " Oh iya kalau di kardus yang Itu ada baju baru buat Embah sama alat sholat juga, masing masing aku beliin 5 Pasang Mbah hehee..." Mbah Maridjan tiba-tiba menitihkan air mata Saat menatap Wajah Rizal. Pria tua itu langsung memeluk rizal dengan sangat erat
Mbah bersyukur masih punya kalian,
Nak Aida dan cucuku Ijal.
__ADS_1
Kapan lagi Mbah bisa bertemu dengan kalian, semoga Mbah di wafat kan dalam keadaan baik dan Istiqomah Aminnn Allahumma aminn.
Ia berdoa dalam hati, Rizal yang bingung langsung menenangkan hati lelaki tua itu.
" Ijal bentak kakek ya? Atau ada salah kata dari Ijal, mohon maaf Mbah, Mbah jangan sedih lagii, hadiahnya kurang?" Ijal menunduk memeluk lutut Mbah Maridjan, dan Mbah Maridjan mengusap usap kembali kepala Rizal dengan sepenuh kasih yang ia punya. " Hanya saja, Berapa uang yang kau keluarkan demi membelikan kebutuhan Embah, Embah tidak ingin kamu susah nakk, hadiah ini berjumlah puluhan sedangkan hadiah dari Embah hanya sekedar peci putih yang lusuh seperti ini, maafkan Embah nakk tidak bisa memberikan kamu sepenuhnya kebahagiaan." Lantas perkataan itu menyakiti hati Rizal sampai dari lubuk hati terdalam, keduanya sama sama menangis deras saling meminta maaf.
***
Hari menjelang Malam, Rizal pamit ingin menjemput Aida juga Pulang. Selesainya berpamitan Rizal langsung menuju ke masjid seperti biasa, Masjid terlihat sangat ramai dikunjungi wisatawan. Tidak seperti biasa hari ini sangatlah padat. Rizal mencari Aida ke basement.
" Assalamu'alaikum."
" Iya tadi ada kerjaan dikit, ada dokumen ilang tadi gara-gara Belinda." Ucap Dany.
Berbincang-bincang lah mereka dengan santai, tidak terdengar suara ribut.
***
" Ustadz, Aida izin pulang." Ucap Aida dengan nada lemah. " Kok pulang duluan, mau bareng Ustadz? Atau di jemput Mas Rizal?" Tanya Lio. " Enggak, Aida pulang sendiri."
__ADS_1
" Kalau mas Rizal nyariin Aida, bilangin udah pulang ya." Imbuhnya. Aida pergi meninggalkan ruangan, hanya tersisa Lio dan Belinda di dalam ruangan itu.
" Eh Lio, kamu ngerasa gak sih? Aida tuh kayak Horror gitu." Ucap Belinda. " Heh Horror gimana maksud kamu?"
" Ya, Horror gitu, dari tadi diem Mulu sampai Takut aku Deket dia." Belinda cemberut. " Jangan mikir aneh aneh, Aida Biasa aja menurutku, mungkin lagi gak enak badan dianya. Negatif thinking aja hehe."
" Positif kali pak yai." Belinda Kesal. " Yai siapa? Yai yang ngisi ceramah udah pulang hahaha." Hari mulai larut. Rizal heran Aida tidak muncul sedari tadi, ia mulai mencari Lio, dan mereka bertemu di Penitipan barang. " Ehhh Lio!" Panggil Rizal. " Mas Rizal? Iya mas kenapa?"
" Lihat adik ku gak? Dari tadi gak ada tanda kemunculan. Aku cariin di seluruh masjid gak ada." Tanya nya cemas. " Ohh Aida nya udah pulang duluan."
Mendengar pertanyaan Itu Rizal mulai benar-benar kesal dengan sikap adiknya.
Adik gak ada akhlak!
Ucapnya dalam hati dengan nada Tinggi. Ia ber ucap di dalam hati tak ingin membentak Lio, ia langsung pulang tanpa berkata apapun.
BERSAMBUNG....
Terimakasih, Jangan lupa tanda Like dan jejak komentarnya 👑
__ADS_1
Instagram : @nazzahraa_878