
BAB 1
Di suatu sore yang terik, awan memutari matahari yang sangat cantik. Terlihat lah Aida berjalan ter buru-buru pergi ke toko buku untuk membeli sebuah bingkisan yang akan ia berikan kepada Salwa sahabatnya. Ia berlari kencang menuju toko untuk segera mendapatkan series kecil dari toko buku tersebut.
Sesampainya di toko ia tak berhenti ngos-ngosan, ia melihat tangannya yang berkeringat memegang uang, sungguh perjalanan yang melelahkan.
" Permisi, mbak bingkisan nya masih ada gak?" Aida bertanya sambil ngos-ngosan.
" Bingkisan isi gelang dan coklat itu? Maaf dek udah habis. Barusan tadi di beli sama mas di pojokan itu." Kata pegawai kasir dengan ramah.
" Yahh udah habis? Iya deh makasih mbak, nanti kalau ada series lagi kasih tau aku ya biar gak ketinggalan hehe."
Aida berkata dengan nada kecewa.
Saat Aida mengamati seseorang yang di tunjuk oleh mbak kasir di pojokan itu, dan ternyata pria itu adalah.
" Loh Aida. kamu ada di sini?" Sapa Lio dengan tersenyum.
" lah pakek nanya, Ustadz juga udah liat aku di sini, yakali aku jin qorin. tadi mau beli bingkisan tapi keburu habis. Ustadz sendiri ngapain di sini?"
" waduhhhh maaf haha, Bingkisan ini maksudnya?" Tanya Lio sembari menunjukkan bingkisan berisi coklat kepada Aida.
" Eh iya bener. Jadi tadi barusan di beli sama Ustadz? Yahh tadi mau aku beli padahal udah pesan dari lusa kemarin."
" Maaf udah aku beli duluan. Buru buru juga ini hehe." Lio tersenyum malu.
__ADS_1
" Mau di kasih ke mba Latifah ya?" Aida menggoda Lio sembari tersenyum manis dan jail.
Aida mulai membuat Lio gugup. Sebelumnya Aida tidak pernah menggoda Lio seperti ini, Aida terkesan anak yang tak suka jail. Tapi semenjak kenal dengan teman-teman Madin nya, ia mulai sedikit suka memancing Emosi orang lain.
" Heh enggak.... ini buat itu. Itu Loh.... buat Salwa." Ujar Lio dengan malu.
" Ngapain di kasih ke Salwa? Hayoo ada hubungan apa Ustadz sama Salwa?" Aida tersenyum sinis melihat wajah Ustadz nya yang tidak yakin dengan perkataan nya.
Hanya Tuhan yang tau isi hati Lio Sekarang. Pertanyaan singkat Aida sudah membuat Lio berkeringat dingin.
" Itu, aduh. Ituu bukan Salwa Madin tapi Salwa adik ku, iya hehe...., adik."
" Tapi Ustadz gapunya adik, punya nya kakak." Aida semakin membuat kegugupan Lio memuncak, ia tak percaya dengan perkataan Lio dan hanya nama Latifah lah yang terlintas di pikiran nya.
" Emmm udah. Nah loh sekarang udah jam setengah dua, buruan ke Madin sana biar gak telat, kamu juga punya pr Aswaja sama jurumiyah yakan." Ucap Lio.
" Waallaikummus'salam, iya, bareng naik motor sama Ustadz yuk." Ajak Lio kepada Aida.
" Ngapain? Madin dari sini cuman 20 langkah doang hahaha, ya mungkin aku gapernah ngitung begituan." Aida tertawa kecil.
***
Sambil berjalan Aida hanya menggerutu. Ia sedikit kesal karena bingkisan itu telah di rebut oleh Lio, namun Aida juga agak sedikit gugup saat berdialog dengan nya tadi. Ia berpikir kenapa bisa menggoda Ustadz nya seperti itu. Kurang ajar? Tidak, Lio saja friendly kepadanya.
Kini waktunya pembelajaran Madin, seperti biasa ternyata asatidzah Ustadzah Nadia yang datang.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 17.05. Aida dan teman-teman nya sudah memasuki jam pulang. Pembelajaran pun telah usai. Mereka semua segera berdoa dan turun dari lantai tiga setelah bersalaman.
" Salwa... Maaf banget ya, tadi bingkisan nya di ambil sama Ustadz Lio, padahal ini series terakhir, kesel banget." Aida cemberut.
" Apa? Heh yang bener hahaha, kamu artinya habis ketemu tadi sama beliau. Cie kata-katanya ada yang bikin baper gak? Kamu kan baperan." Salwa malah menggodanya.
" Hih apa'an sih? Gak ada." Ucap Aida. " Udah yuk pulang, sampai ketemu tahun depan."
" Astaga jangan gitu dong lah kok ngamuk?." Salwa tertawa sembari pergi menuju gerbang masjid.
***
Persiapan Sholat Maghrib
Saat di tempat wudhu, Aida berkaca merapikan hijabnya. Ia pun berbicara sendiri.
" Tapi bener juga, Ustadz Lio hampir buat aku baper. Tapi aku gak sepolos itu sehingga aku tergoda lagian di masjid banyak buaya, apalagi anak anak remas." Ucapnya.
Waktu berlalu singkat.
Keesokan nya. Ia mendapatkan Surat dari kantor ranting IPNU bahwa ia di undang untuk mengikuti Rutinan Burdah yang di selenggarakan di Masjid As Syams.
Saat mengikuti Rutinan itu. Ia bertemu dengan seseorang, dan Alhasil yang di temuinya adalah.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Terimakasih Readers, kawal sampai akhir yaa hehe.... salam dari kota batu, Malang Jawa timur. jangan lupa tanda Like dan komentarnya semoga kalian sukađź‘‘