WAHAI TAKDIR INDAH AIDA

WAHAI TAKDIR INDAH AIDA
Berduaan makan seblak.


__ADS_3

BAB 7


" Gimana? Enak gak Seblak nya?" Tanya Almansyah memandang Aida. " Enak pollll. Mau Aida suapin gak?" Tiba-tiba keduanya Ter diam. Aida membuang pandangannya.


Heh da, sadar da, kamu ngomong apa ini? Astaghfirulah.


Batin Aida dengan sedikit tersenyum.


" Boleh boleh." Tanpa keberatan Alman memakan seblak hasil dari suapan Aida. " Enak nih seblak, bisa jadi langganan."


" Loh iya mas, kok hari ini mas nraktir Aida banyak, padahal juga baru kenal." Tanya Aida heran. " Ya gimana, kita ga terlalu Baru kenalnya. Hehe mas abis dapet langganan Rice bowl banyak. Alhamdulillah dapet lumayan." Ujar Alman Lembut kepada Aida. " Wahhhh Alhamdulillah, Di tabung gak nih? Haha." Aida dan Alman terlihat sangat akrab. Tiba-tiba ada Teman Alman yang datang.


" Woylah So sweet banget kalian." Ucap lelaki itu menepuk pundak Almansyah. " MasyaaAllah Lukman." Mereka berdua kemudian bersalaman sambil menanyakan kabar. " Eh Man, Pacar kamu Cantik amat sih, boleh aku rebut gak nih?" Ucap Lukman dengan wajah Senang melihat Teman Lama nya Ber kabar sehat. Aida dan Alman terkejut.


" Pacar?!" Tanya keduanya bersamaan.


Lukman pun ikut kaget. " I-iya."


Aida dan Alman tertawa Terbahak-bahak mendengar perkataan Lukman. " Hahaha kita ini gak pacaran astaghfirulah." Ujar Alman dengan terbahak.


Saking so sweet nya mereka berdua di anggap pacaran, Aida Pun terbawa perasaan, tiba-tiba ia berpikir bagaimana jika ia benar-benar menjadi pacar Almansyah.


Astaghfirulah gak mungkin, pacaran kan haram, ya ampun da kamu berpikir terlalu jauh, ingat kamu masih bocil.

__ADS_1


Ucapnya dalam hati sembari Meringis. Aida tersenyum manis melihat senyum Alman yang Terngiang-ngiang di benak pikiran nya. " Awas candu da, nanti kena diabetes." Kata Lukman. " Loh darimana tau nama ku?" Tanya Aida heran. " Tau dong, kamu kan adiknya Rizal. Kita dulu satu sekolah, Satu madrasah Aliyah."


Almansyah juga baru mengetahui hal ini, tiba-tiba Lukman bergabung dan menjadi nyamuk penggoda bagi mereka berdua. Aida hari ini sudah kembali seperti normal, ia hanya tersenyum tak lagi diam.


" Sama siapa kamu?" Tanya Alman. " Oh sama temen, itu ada di gerobak seblak, yang pakai Hoodie sweater abu abu."


Setelah berbincang cukup lama Lukman pamit izin pulang, begitupun Aida yang ingin kembali ke masjid untuk pamit pulang. " Mas, ayo balik." Ajak Aida. " Oh iya da, mau dhuhur juga nih.


Keduanya pun langsung menuju masjid dan izin pamit untuk pulang ke rumah masing-masing. Aida sendirian? Gak kok tadi boncengan sama Almansyah berduaan upssss....


Sesampainya di rumah.


" Assalamu'alaikum kakak akuu, nih liat Adia bawain Bakso." Sembari menyeret kakaknya pergi ke meja makan. " Ke sambet apa kamu di jalan?" Tanya Rizal. " Ih jahat, kok gitu? Nih Aida bawain Bakso malah di gituin." Aida berkerut.


" Oalah, tak kirain sama Almansyah."


Aida pun lebih terkejut lagi. Batin nya kenapa bisa Rizal mengetahui bahwa MC pengganti nya adalah Almansyah. Aida ingin jujur namun takut, ia lebih memilih melupakan. Eitss bukan melupakan waktu berduaan nya....


Ya udahlah, penting Aida Seneng, hmmm kamu udah bohong Sama kakak nih awas aja ya haha. Kamu pikir kakak gatau apa, kakak juga abis beli seblak di gerobak yang sama.


Batin Rizal dengan menutup mulutnya menahan senyum. " Dek, jiwa jomblo kakak tadi meronta ronta lihat drakor." Goda Rizal. " What? Drakor apa? Sejak kapan suka nonton drakor?" Tanya Aida sembari mengaduk kopi di cangkir kecil berwarna putih. " Korean drama in true story." Kode itu masih membuat Aida tidak paham.


Aida terlihat sangat lelah, ia ingin sekali tidur siang, sehabis mandi ia pun tertidur pulas. " Mimpi indah." Ucap kakaknya sembari mengelus dahi adik nya ini. Namun Rizal Masih ingin tertawa di setiap melihat adegan manis Aida dan Almansyah.

__ADS_1


Bagaimana Rizal tidak terkejut. Almansyah yang terkenal cuek dengan seorang wanita, kini malah menjadi friendly dengan sikap Aida yang feeling nya suka berubah drastis.


Jam setengah lima Aida terbangun, ia segera bersiap siap mandi untuk sholat ashar. Ia tertidur pulas cukup lama. Entah apa yang ia mimpi kan di dalam tidurnya.


Ia mengambil handuk Berwarna Lilac kesayangan nya itu. Memasuki kamar mandi lalu keluar dengan wangi sabun yang sangat membahana.


" Da....! Sholat Maghrib di Masjid yuk." Ajak Rizal kepada Aida. " Bentar cari cincin dulu." Kata Aida sembari menggeledah kotak cincin dan kalung yang ada di meja rias nya. Aida sudah menemukan cincin itu, Mereka berdua segera berangkat pergi ke masjid an Nuur untuk menunaikan shalat berjamaah.


Sesampainya di Masjid mereka langsung menunaikan shalat, lalu semua jama'ah yang menduduki karpet sholat dan sajadah berwarna itu pun berzikir. Tidak ada ceramah untuk hari ini, pak Kiai sedang keluar kota untuk mengisi acara Di Masjid besar milik kota Jakarta. Semua Anggota ke organisasi an turun ke basement, mereka memenuhi aula besar ber tirai kan Warna Emas.


" Untuk besok, saya menghimbau Madin An Nuur hanya akan masuk tiga hari, berkaitan dengan perancangan kubah. Tidak berkemungkinan Santri bisa belajar dengan tenang." Ujar Abah Haryanto kepada semua orang yang ada di aula. " Saya akan mencatat semua perintah Bah, hanya saja kita harus mempercepat waktu belajar santri. Apakah kita harus batasi satu jam saja?" Tanya Mudirul Madrasah, Ustadz Renaldi Ismail.


" Mohon maaf sebelumnya." Ucap Aida. " Jika saja kita membatasi waktu satu jam mungkin tidak akan cukup bagi para santri hafalan. Dalam satu kelas ada puluhan santri, bisa di perkirakan bila satu jam untuk 100 santri lebih, sisanya mungkin tidak punya waktu belajar dan hafalan." Jelas Aida kepada semua orang. " Mantab." Ucap Lana.


" Baiklah, apa rencana kamu nak?" Tanya Abah Ilham. " Struktur kubah ada di lantai paling atas. Jadi saya mengusulkan Untuk kelas satu, dua, tiga A, B, C semuanya ada di lantai dua. Cukup luas untuk kita jadikan tempat sementara."


Semuanya sedikit berfikir dengan ide dari Aida. Lio menatap Aida dari kejauhan. Aida yang tau bahwa ia sedang di lirik oleh pria tertampan di Madin itu malah menjadi risih, Abah Haryanto menyetujui ide Aida tersebut. " Ustadzah Aida, untuk kelas takhasus di mana? Apa di liburkan?" Tanya Lio dengan memanggil Aida Ustadzah. Semuanya tersenyum jail melihat Aida dan Lio.


" Astaghfirullah Ustadz." Ucap Aida menggeleng-gelengkan kepalanya. " Jadi untuk kelas takhasus ada di aula basement, karena tidak mungkin cukup meskipun ruang Dua luas." Imbuhnya.


BERSAMBUNG....


Terimakasih, jangan lupa tanda Like dan jejak komentarnya 👑

__ADS_1


Instagram : @nazzahraa_878


__ADS_2