WAJAH KU TAK SECANTIK HATI KU

WAJAH KU TAK SECANTIK HATI KU
BAB 17


__ADS_3

6 BULAN TELAH BERLALU.......


Aku duduk memangku, Seorang balita yang ditinggalkan oleh ibunya didepan panti asuhan ini, Aku merawatnya dan menyayangi nya layak nya putri kecilku yang sedang aku kandung. Dia kuberi nama alisya sekaranga dia sudah berumur 1 tahun.


Dia bahagia sekali ketika ku letakkan diatas pangkuanku untuk melihat kakak kakak asuhmya yang bermain dengan ceria, Dia terus antusias dalam melihat dan aktif dalam merespon semua  yang ada disekitarnya. Alisya adalah bayi yang memiliki paras cantik dan asia dengat kulitnya, Tetapi bule dengan mukanya. Dia perpaduan yang sempurna untuk ukuruan kulit asia.


Dia mungkin mewakili wajah wajah dominan kedua orang tuanya, Agar  mereka ketika mencari nya  tidak susah terutama ayahnya kelak. Tetapi itu semua tidak akan pernah lepas dari semua pengawasanku, Untuk mengambilya secara seenaknya. Aku ingin keluarga alisya mempertanggung jawabkan semua yang mereka  lakukan terhadap bayi tanpa salah dan tanpa tahu sepertiii apa  figur keluargnya.


Aku mulai kurang betah untuk memangku alisya dengan bobot yang seperti itu, dan dengan keadaanku yang sudah memasukin kehamilan ke 9 bulan, ukuran untuk  hamil tua yang mengharuskan istirahat dan mempersiapkan untuk mental dan fisik untuk proses melahirkan. Apalagi aku melahirkan tanpa suami yang mendapingiku, Aku bersyukur tuhan masih mau menitipkan sebuah kebagiaan yang di nantikan untuk semua orang wanita yaitu seorang putri.


Alisya yang sudah bisa berdiri dan melakukan langkah langkah kecil nya  membuatkku harus ekstra menjaga dan mengikutinya untuk waktu yang  hampir 24 jam nonstop. Karena alisya tidak mau dengan  pengasuhnya untuk masalah keperluannya. Aku senang dia hanya mau disentuh olehku kalau masalah keperluan pribadinya, Sampai akhirnya alisya tidurpun harus aku timang dan pok pok bokongnya untuk lekas dia tidur.


Aku tinggal di panti selama kehamilanku, Aku merasa hormon kehamilanku lebih sensitif untuk aku tinggal dirumah abang, karena itu  memicu aku untuk menangisi ayah dari bayiku ini. Terakhir pemeriksaan aku akan melahirkan kurang lebih satu minggu dari sekarang. perkiraan dokter tersyata salah aku sudah mengalami kontraksi secara bekala, Dan ada rembesan darang diarea paha dalamku.


Aku terus mencoba tenang dan selalu membuang nafas sesuai perintah saat senam hamil. Apa saja yang harus kulakukan untuk keadaan yang seperti ini. Aku sudah merapikan semua keperluan ku untuk melahirkan dan menatanya di mobil serta menunggu untuk abang datang dan mengantarkanku untuk kerumah sakit. Karena sebelunya aku sudah mentelphon abang untuk datang ke panti agar aku bisa cepat melahirkan.

__ADS_1


Dan benar saja ketika abang sudah sampai di depan IGD dan aku turun di depan pintu gedung itu ketubanku langsung pecah dan para perawat langsung membawaku ke ruang untuk bersalin, Dan mulai menggunakan semua tekhnik mereka untuk memasang infus dan semuanya. Lalu mba sahara masuk dimana dia adalah dokter kandungan yang saat ini menyandang status kakak iparku. Mba sahara lalu membantu ku untuk melahirkan dengan cara normal.


Anakku adalah seorang laki laki yang memeng persis seperti ayahnya. Tidak membuang wajah ayahnya yang memang mendambakan seorang anak laki laki. Anak laki lakiku di adzanin oleh abangku dia nyaman di gendongan pamanya, Mungkin dia merasa nyaman dan merasa terlindungi dengan semua perilaku pamannya terhadapku dan dia ketika masih di nadungan.


"Selamat .... yaaa adikku, Kamu sudah menjadi ibu dan memilki dua orang anak yaitu putrimu yang cerewet itu dan putramu yang kalem ini." Sambil terus menciumi wajah putraku.


"Terimakasih bang.... Anggaplah itu anak abang dan mba hara nantinya". Aku sambil memandangi putraku dalam dekapan abangku dan elusan tangan mommy hara.


Aku pun melakukan IMD dan putraku sangat lahap dalam menyusuku. Aku senang karena air asiku sangat banyak dan berllimpah untuk bayi gembulku ini, Yang selalu menyusu itu. Sampai malampun tiba abangku kembali ke ruang inapku untuk menjagaku, Abang sambil memabawa putriku karena dia rewel dan menangis mulai pagi karena tidak mendapati ku ketika bangun tidur.


"Nuna,... kenapa nuna menangis ...? cari bunda ya nak....?", Dan putriku itu hanya mengangguk dan melihat dengan mata yang berkaca kaca yang menggambarkan bahwa dia mencari terus dan takut bundanya pergi dari hidupnya.


#sudah dulu ya harrri ini.....


.

__ADS_1


.


.


.


.


JANGAN LUPA BERI AKU LIKE


JANGAN LUPA KOMENTAR


JANGAN LUPA SUBSCRIBE


JANGAN LUPA BERI AKU GIVE UP

__ADS_1


__ADS_2