Why Must I LOVE YOU (Perlu Perbaikan)

Why Must I LOVE YOU (Perlu Perbaikan)
Camp.Pelatihan


__ADS_3

Sebuah lapangan dengan rumput setinggi mata kaki membentang sejauh mata memandang.


Langit yang terlihat kelabu, dengan angin berhembus menerbangkan daun-daun kering yang berguguran.


Disana...


Seorang wanita,berdiri dengan tubuh tegap. Rambut coklat panjangnya di ikat kebelakang. Helaian poni panjangnya menjuntai digaris pipinya. Baju tanpa lengan yang hanya menutupi sebagian perutnya memperlihatkan otot perutnya yang terlatih. Mata tajamnya melirik kesekeliling dimana lima pria berbadan dua kali dari tubuhnya mengepung dirinya bersiap menyerang.


Angin berhembus kencang,bersamaan dengan dua pria yang bergerak maju dengan cepat dan kepalan tangan yang meluncur kedepan.


Wanita itu tetap bergeming,memusatkan mata dan telinganya dengan suara dan apa yang dia lihat melalui sudut matanya.


Ketika tangan itu meluncur untuk mengenai wajahnya,dengan gerakan lembut yang nyaris tak terlihat,dia mengeser sedikit kepalanya. Dengan cepat tangannya mencengkram lengan pria itu, Ia segera memutar tubuhnya dan menghantam punggung pria itu dengan sikunya.


Tepat setelah pria itu terdorong akibat pukulan siku dipunggungnya,wanita itu merundukkan kepalanya dan pukulan pria lain dibelakangnya mengenai angin. Dengan cekatan wanita itu memutar tubuhnya dengan posisi jongkok dan kaki terulur hingga dengan telak mengenai belakang lutut pria itu diikuti dengan jatuh tersungkur akibat hilang keseimbangan.


Tiga pria yang tersisa pun mulai menyerang,disusul dengan dua orang yang tadi berhasil bangkit lagi.Wanita itu terlihat tenang,seolah sedang menari,gerakannya begitu gemulai namun mengenai titik lumpuh lawannya.


Tak butuh waktu lama,lima pria tumbang tak sanggup berdiri lagi. Wanita itu tersenyum, perlahan mendekati pria yang pertama kali menyerangnya. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu pria itu berdiri.


"Menakjubkan,,, gerakanmu sangat sulit kuprediksi. Aku benar-benar kalah telak,"ujarnya menerima uluran tangan si wanita.


Suara tepuk tangan mengema.


Seorang pria yang menjadi pelatih mereka berjalan mendekat dengan senyum puas dibibirnya.


"Apa kau masih meragukannya Barny?"tanyanya pada pria yang dibantu berdiri.


"Tidak,,,Tidak,,, Aku akan babak belur jika melanjutkan, Cyrene benar-benar mengerikan. Gerakannya terlihat gemulai tapi mematikan," ucapnya dangan tangan terangkat.


"Terima kasih sudah menahan diri saat melawanku Cyrene," tutur Barny.


Wanita bernama Cyrene yang tadi berhasil melawan bahkan menjatuhkan lima pria yang berbadan dua kali lebih besar dari badannya.


Semua orang yang berada di Camp.pelatihan memandang penuh rasa hormat. Mengagumi kemampuan yang dimiliki wanita itu. Selain bela diri yang unggul,kemampuan menembak juga mendapat decakan kagum dari semua orang.


Bagaimana bisa tidak?


Cyrene,wanita yang terbilang baru ditempat itu, dimana ketika dia datang, dia hanya wanita biasa dan memiliki fisik yang lemah. Namun secara mengejutkan dia bisa mengejar orang-orang yang telah lama berada disana bahkan melampaui sebagian besar pria yang berlatih disana.


Camp.pelatihan khusus adalah sebuah tempat tersembunyi yang melatih orang-orang untuk menjadi seorang agen rahasia. Dimana tugas mereka adalah membantu para polisi yang kesulitan untuk menangkap penjahat yang selalu lolos dari pengejaran, dan mereka yang sulit tersentuh hukum.


Kedudukan mereka yang berada diatas para polisi namun tidak mengungkapkan diri mereka didepan publik.


Posisi dimana mereka melakukan tugas mereka tanpa seragam,namun mengambil resiko terbesar.


Pelatih mereka Carlo bahkan mengakui kemampuannya, dan mengagumi kemauan keras yang dimiliki Cyrene.


Cyrene menatap Barny dengan alis terangkat.


"Jadi kau sadar aku menahan diri?" tanyanya seraya melepaskan perban yang melilit tangan kirinya.


"Tentu saja! Jika tidak,pukulan siku tadi seharusnya dengan telak mengenai leherku, dan aku tak akan bisa berdiri sekarang," jawab Barny.


"Bagaimana kamu bisa merubah arah pukulanmu bahkan ketika kau sudah bergerak Cyrene?" tanya Kenzo menyela.(pria yang menerima tendangan dibelakang lutut).


"Aku bersumpah melihat kamu berniat melayangkan kakimu ke lenganku,tapi yang terjadi adalah kamu mengenai kakiku," sambungnya.


"Jika aku melayangkan kakiku keatas kau akan menagkap kakiku dan melemparku bukan?" tanya Cyrene mengangkat alisnya dan tersenyum.


"Haaahh,,," desah Kenzo. "Apa kau bisa membaca pikiranku?" tanya Kenzo.


"Bukan membaca pikiran, tapi membaca gerakan lawan," sela Carlo menjawab kebingungan Kenzo.


"Latihan cukup untuk kali ini. Istirahatlah!" perintah Carlo.


Mereka dengan patuh mengikuti perintah Carlo. Ketika tempat latihan kosong,Cyrene mendekati Carlo.


"Kak,,bolehkah aku_,,,"


"Tidak,,,!" potong Carlo sebelum Cyrene menyelesikan kalimatnya.

__ADS_1


"Cedera yang kau alami belum pulih sepenuhnya,aku tak mengijinkanmu berlatih ditebing setelah misi yang kau ambil memuatmu terluka parah walaupun misi itu berhasil," kata Carlo tegas.


Cyrene memajukan bibirnya,tapi Carlo memutuskan untuk mengabaikannya.


"Latihan kali ini cukup. Jangan memaksakan fisikmu lebih dari ini sebelum kau benar benar pulih.Tapi aku tak melarangmu jika ingin berlatih menembak dangan syarat Barny menemanimu dan setelah kau mengganti perban dibahumu," ucap Carlo dengan nada tidak bisa dibantah.


Kecewa, Cyrene pun beranjak dari tempatnya menuju pondok dimana semua orang beristirahat.


Dengan lesu, Cyrene memasuki kamarnya, meletakkan perban dikeranjang pakaian kotor dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Cyrene menatap dirinya sendiri dipantulan cermin wastafel, membasuh wajahnya pelan dan melepas bajunya.


"Aahh,,,sial,,,!" desisnya saat mendapati noda darah pada pakaiannya terletak dibagian bahu bawah.


"Lukanya terbuka lagi," gumamnya pelan seraya melempar kasar baju ditangannya ketempat pakaian kotor lain tergletak.


Sebisa mungkin,Cyrene membersihkan bercak darah yang menyebar dengan bantuan cermin. Masuk ke bilik yang berada disamping wastefel, Cyrene mengalirkan air ketubuhnya menghindari bagian yang terluka dengan perlahan.


Babarapa menit kemudian Cyrene keluar dari kamarnya mengenakan celana pendek dan kemeja yang dibiarkan terbuka dengan baju tanpa lengan didalamnya.


Langkahnya terhenti didepan sebuah pintu dengan tulisan #Ruang Medis# diatasnya.Perlahan dia pun mengetuk pintu.


Tok,,,


Tok,,,


Tok,,,


"Masuk," suara serak terdengar menjawab dari dalam. Tanpa ragu, Cyrene memasuki ruangan yang disambut dengan senyum ramah seorang pria mengenakan kemeja putih dengan komputer didepannya.


"Ganti perban Ren?" tanyanya dengan nada akrab.


"Bukan ganti,tapi luka ku terbuka lagi," jawab Cyrene santai.


Menoleh dengan cepat dan mata yang melebar,dia pun berdiri dan meminta Cyrene duduk dikursi tanpa sandaran.


"Jangan menatapku seperti itu, Glen!" ucap Cyrene dengan senyum dibibirnya.


Cyrene mengangguk dan duduk seraya menurunkan kemejanya. Sementara itu Glen menyiapkan perban baru,kapas dan cairan disinfektan.


"Kau sangat hobi melukai diri sendiri bukan?" sindir Glen mulai membersihkan darah yang telah menyebar. Dengan hati-hati,dia mulai membuka perban dibahu Cyrene.


"Apakah aku mendapatkan rekor baru?" jawab Cyrene terkekeh.


"Tolonglah Ren,itu bukan pujian, dan kau tau itu?" ucap Glen mulai memberikan obat pada luka Cyrene setelah darah dibersihkan.


Cyrene menegakkan badannya ketika obat yang diberikan Glen mengenai kulitnya.


"Percayalah Glen,,, Aku tau lebih dari siapapun yang mengetahuinya," jawab Cyrene.


"Dan aku tau itu bohong," balas Glen.


Cyrene terkekeh dan menegakkan badan lagi.


"Sakit?" tanya Glen khawatir.


"Sedikit," jawabnya singkat.


Sebuah luka memanjang yang lebih terlihat seperti sayatan pisau yang dalam membelah bahunya. Jahitan yang belum kering sepenuhnya dan sebuah luka bekas peleru bersarang di sisi bahu yang lain.


"Apakah masih lama waktu yang diperlukan hingga jahitan dilepas?"tanya Cyrene.


"Dengan melihat hal ini sekarang, aku khawatir jawabannya adalah ya,masih lama. Bahkan membutuhkan waktu lebih lama dari yang seharusnya," jawab Glen.


"Tidak bisakah kau libur dari semua yang berhubungan dengan misi atau latihan Ren?setidaknya hingga jahitan ini dilepas," tanya Glen khawatir.


"Tidak," jawab Cyrene datar.


Glen mendesah panjang.


"Bahkan seorang Carlo kesulitan menghadapi keras kepalamu,apa kau tau itu?" sindir Glen.

__ADS_1


"Aku tak meminta dia untuk menghadapiku," jawab Cyrene.


"Berhentilah bersikap kau tak tau sementara kau tau jelas apa yang terlihat jelas didepanmu, Ren!" sambut Glen sedikit kesal.


"Baik,,,baik,,, aku tak akan berlatih apapun setelah ini.Kau senang?" dengus Cyrene.


"Apa kau bisa menjanjikannya, Ren?"tanya Glen tidak percaya.


"Astaga,,,Glen,,,Tidakkah kau percaya padaku?" Cyrene mengerang.


"Sejauh yang ku tau,kau tak akan melakukan apa yang kau katakan ketika kau tak menjanjikannya," jawab Glen.


"Ohh,,,Begitukah?" tanya Cyrene.


"Ren,,," Glen mengingatkan.


"baik,,,baik,,, aku janji,oke?" jawab Cyrene sedikit kesal.


"Berkatalah lebih jelas Ren!" kata Glen, seringai kecil tumbuh disudut bibirnya.


"Aku janji tak akan berlatih apapun setelah ini. kau senang?" kata Cyrene kesal.


"Sangat,,," jawab Glen tersenyum.


"Setidaknya hingga hari ini berakhir," tambah Cyrene.


"Dasar keras kepala!" dengus Glen.


Cyrene tertawa mendengar jawaban Glen.Sayangnya dia dalam posisi membelakangi Glen, jadi tidak bisa melihat wajahnya ketika Glen kesal.


"Oke,,,selesai," ucap Glen.


Cyrene pun menaikkan lagi kemejanya dan berbalik menatap Glen.


"Melihatmu benar benar obat mata terbaik," ungkap Cyrene tersenyum.


Glen menaikkan alisnya.


"Apa yang sedang ingin kau katakan?" tanya Glen.


"Apa yang terlintas dipikiranku," jawab Cyrene mangangkat bahunya.


"Hampir semua waktuku hanya melihat mereka yang bertelanjang dada atau mengenakan kaos ketat mereka dengan keringat membasahi tubuh mereka," papar Cyrene.


"Dan melihatmu yang seperti ini benar benar berbeda," tambahnya.


"Apa kau sedang mengodaku?" tanya Glen menyipitkan mata.


"Aku tak akan menarik ucapanku untuk memintamu istirahat hanya karena kau berkata manis padaku," ucap Glen.


"Cih,,"cibir Cyrene.


"Kembalilah kekamarmu!" perintah Glen.


"Iya,,,Iya,,, aku kekamar sekarang,"jawab Cyrene lesu.


Glen tersenyum dengan anggukan kepala.


Dengan lesu, Cyrene beranjak dari duduknya menuju pintu, kemudian menoleh sekali lagi kebelakang.


"Glen,,," panggil Cyrene.


"Apa.?" Glen menjawab dan menatap Cyrene heran.


"Yang aku katakan tadi itu benar,bukan untuk mengodamu ataupun untuk memintamu menarik ucapanmu. Tapi, aku mengatakannya karena memang begitulah adanya. Malam Glen!" kata Cyrene lalu berbalik dan menutup pintu.


Meninggalkan Glen yang terpaku ditempatnya menatap pintu.


'Menyebalkan,,,dia berkata begitu tanpa peduli dengan aku yang mendengarnya,' rintih hatinya.


Sementara Cyrene berjalan dangan langkah ringan meninggalkan ruangan Glen menuju kamarnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2