Why Must I LOVE YOU (Perlu Perbaikan)

Why Must I LOVE YOU (Perlu Perbaikan)
9.Pindah??? itu tidak mungkin


__ADS_3

Keesokan harinya


Cyrene terbangun karena aroma masakan yang memenuhi penciumannya yang membuatnya segera bangun karena rasa penasarannya.


Setibanya di dapur, Cyrene tertegun melihat Bernardo tengah memasak sesuatu. Gesturnya saat memasak sungguh kontras dengan penampilannya yang terlihat garang dan tegas.


"Selamat pagi,!" sapa Bernardo saat menyadari Cyrene memandanginya.


"Pagi," balas Cyrene.


"Aku ingin menyiapkan sarapan untukmu, kuharap kamu tidak keberatan," papar Bernardo.


"Sama sekali tidak," jawab Cyrene.


"Apakah ada sesuatu yang aneh diwajahku?"tanya Bernardo saat menyadari tatapan Cyrene yang tertuju padanya.


"Tidak ada," jawab Cyrene mengelengkan kepalanya. "Hanya saja, aku tidak menyangka melihatmu memasak," lanjutnya.


"Apakah itu hal aneh?" tanya Bernardo tersenyum lembut.


"Sejujurnya, itu terlihat manis," jawab Cyrene tersenyum lebar.


"Apakah kamu mengolokku, Ren?" tanya Bernardo menaikkan alisnya.


"Tidak,, tidak,, tidak,," jawab Cyeren mengibaskan kedua tangannya. " Aku mana berani mengolokmu," sanggahnya.


"Tapi melihat orang sepertimu memasak itu adalah hal yang sangat unik," sambungnya.


"Orang sepertiku?" Brnardo menaikkan alisnya.


"Jangan salah paham, yang ku maksud adalah,, Errr,," Cyrene mengaruk kepalanya yang tidak gatal dan menatap lekat Bernardo.


"Kamu berbadan besar dan tinggi, juga berwajah garang, tapi melakukan hal lembut seperti memasak,,, ehh tidak bukan begitu maksudku. Aku tidak mengolokmu_,, sungguh," Cyrene berkata dengan panik menyadari apa yang baru saja ia katakan.


Bernardo tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Cyrene yang menurutnya lucu di matanya. Wajah Cyrene yang bersemu merah membuat Bernardo ingin terus mengodanya.


" Jika ada yang melihatmu saat ini, mereka akan berpikir aku mengancammu, Ren," ucap Bernardo setelah tawanya mereda.


"Karena perawakanmu lebih cocok kearah itu_,,, Hepp," Cyrene menutup mulutnya dengan cepat.


"Ha ha ha,,, kau orang yang sangat terus terang, bukankah begitu?" sindir Benardo kembali tertawa.


"Maaf," sesal Cyrene.


"Hei,,, aku tidak mengatakan kamu melakukan hal yang salah," sambut Bernardo kemali tertawa.


"Ishh,,, apa yang membuatmu tertawa begitu,?" cetus Cyrene memajukan bibirnya.


"Kamu," jawab Bernardo.


"Aku?" Cyrene menunjuk dirinya sendiri dengn kening bekerut. "Apa yang salah denganku?" sambungnya.


"Ya. Kau yang sangat berterus terang mengatakan apa yang ada di pikiranmu," jelas Bernardo.


"Apakah itu buruk?" tanya Cyrene masih cemberut.


"Sejujurnya,,,, tidak semua buruk, namun ada kalanya hal itu bisa menempatkanmu dalam bahaya," jelas Bernardo.


"Apa maksud--,,,"

__ADS_1


"Ssshhh,,,," Bernardo memotong ucapan Cyrene dengan meletakkan telunjuk di bibirnya.


Tangannya dengan cekatan mematikan kompor dan meletakkan kain basah di atasnya.


Peralatan yang semula ia gunakan di sembunyikan dibawah peralatan yang masih bersih.


Dan makanan yang ia masak di simpan di belakang bahan makanan kering.


Bernardo menghampiri Cyrene setelah lebih dulu menyingkirkan kain basah di atas kompor dan menyimpannya di bawah wastefel.


Tangannya segera meraih tangan Cyerne dan menariknya, memintanya untuk bersembunyi diatap baklon.


"Aahh,,,!" pekiknya saat Bernardo dengan mudah mengangkat tubuh Cyrene hingga mencapai atap.


"Tetap disini,! Aku akan segera kembali," perintah Bernardo.


Cyeren hanya mengangguk, memutuskan untuk percaya sepenuhnya atas tindakan Bernardo adalah untuk melindunginya.


Bernardo kembali kekamar Cyrene dan menghilangkan semua jejak bahwa Cyrene kembali pulang. Memberikan kesan bahwa Cyrene telah pergi dari apartemennya beberapa hari.


Siasat terakhir yang bisa ia lakukan adalah menjatuhkan ponsel Cyerena di dekat meja. Memberikan kesan ponsel itu terjatuh dan rusak di apartemennya, bukan di tangan pemiliknya dan menghindari pemasangan alat penyadap lain.


Setelah semua selesai, Bernardo keluar menuju balkon dan mengunci pintu lalu naik ke atap, bergabung bersama Cyrene.


"Apakah mereka kembali?" bisik Cyrene mulai gemetar.


"Ya," jawab Bernardo.


"Bagaimana kamu bisa tau?" bisiknya lagi.


"Aku memasang sebuah alat yang bisa mendeteksi seseorang akan datang. Dan itu terhubung ke ponselku," jelas Benardo menunjukan ponselnya.


"Jadi itu sebabya kamu masih memiliki waktu untuk mengecoh mereka?" tanya Cyrene.


"Benar, aku harus memberi kesan bahwa kau tidak pulang, setidaknya itu akan membuat mereka berpikir ulang untuk mencarimu, alih-alih menunjukan diri mereka secara terus menerus di tempat umum," terang Bernardo.


Bernardo memasangkan earphone ditelinga Cyrene dan ditelingannya sendiri, sembari matanya terus tertuju pada ponsel dan memastikan posisi mereka yang berada di atap tetap aman.


Para Pria itu membuka pintu apartemen Cyrene dengan sangat mudah dan mulai menelusuri seluruh ruanagn apartemennya.


Cyrene menutup mulutnya, mencoba agar tidak bersuara. Menyimpan sebaris pertanyaan yang ingin ditujukan kepada Bernardo namun kondisi tidak mendukungnya untuk bertanya.


"Sepertinya wanita itu tidak kembali," ucap salah satu dari mereka.


Cyrene menghitung ada lima orang dengan postur seperti Bernardo.


"Apakah dia sudah pindah?" tanya yang lain.


"Tidak mungkin. Tempat ini tidak terlihat seperti tempat yang di tinggalkan karena pemiliknya pindah," timpal yang lain.


"Atau dia memang tidak tau apapun tentang kita?" tanya yang lain lagi.


"Aku ragu. Itulah sebabnya kita harus mencari tau. Satu hal yang pasti adalah, dia masih datang ke cafe itu," ucapnya.


"Sayangnya kita tidak bisa mendekatinya jika dia berada disana,"


"Disini tidak ada tanda-tanda bahwa dia pulang, dan ponselnya kutemukan rusak di kamarnya," sela salah satu dari mereka yang telah berkeliling.


'Ponsel? Rusak? Sejak kapan? Kenapa ponselku hancur begitu?' batin Cyrene ketika melihat di layar ponsel Bernardo mereka menemukan ponsel miliknya yang telah rusak.

__ADS_1


Cyrene menatap Bernardo penuh tanya. Menyadari itu Bernardo tersenyum meminta maaf dengan wajah memelas.


Cyrene menghembuskan nafasnya dan kembali fokus dengan ponsel Bernardo.


"Kita pergi dulu saja," ucap salah satu dari mereka.


"Benar, akan mencolok jika kita terlalu lama disini,"


"Aku setuju,"


"Jika pagi ini tidak ada, kita bisa kembali lagi nanti malam,"


Mereka saling menimpali ucapan demi ucapan. Hingga setelah tiga puluh menit, mereka pergi meninggalkan aprtemen Cyrene tanpa meninggalkan kerusakan apapun.


Bernardo melompat dari atap. Tangannya terulur keatas dengan posisi akan menagkap Cyrene melompat.


"Apa kau gila? Aku harus melompat begitu saja?" sembur Cyrene.


"Aku akan menangkapmu, jangan khawatir," hibur Bernardo.


"Tapi--,,,"


"Percayalah padaku, aku tidak akan membiarkanmu terluka apalagi terjatuh," bujuk Bernardo.


Cyrene menelan ludahnya dan memejamkan matanya. Menekan rasa takutnya dan berkata sebelum melompat.


"Awas saja jika kau tidak menangkapku,!" ancam Cyrene.


Walalun ia sendiri sadar, ancamannya hanyalah sebuah ucapan tanpa tindakan. Karena ia tau tak bisa melakukan apapun terhadap Bernardo.


Cyrene melompat dan mendarat dengan mulus dipelukan Bernardo.


Cyrene membuka matanya dan bernafas lega menyadari dirinya tidak jatuh karena Bernardo menangkapnya. Untuk sesaat mereka saling menatap satu sama lain.


"Ah,, maaf," ucap Bernardo tersadar dan segera menurunkan Cyrene.


Wajah Crene bersemu merah dan memalingkan wajahnya. Ketika Bernardo mencoba membuka kembali pintu balkon, Cyrene mula membuka suara untuk menghilangkan gemuruh dihatinya.


"Jadi, kau yang sengaja merusak ponselku?" tanya Cyrne.


"Aku minta maaf. Aku hanya tidak ingin mereka menyadap ponselmu lagi. Aku akan mengantinya dengan yang baru," ucap Bernardo.


"Dan sejak kapan kau memasang kamera di apartemenku?" selidik Cyrene.


"Pagi ini sebelum kau bangun," jawab Bernardo cepat.


Cyrene menyipitkan matanya dalam diam.


"Aku bersumpah melakukannya pagi ini, dan hanya di ruangan ini," sambut Bernardo seolah membaca pikiran Cyrene.


"Kenapa kamu sepanik itu? Aku tidak mengatakan apapun," balas Cyrene mulai tertawa.


"Karena dari wajahmu mengatakan aku melakukan hal mesum," jawab Bernardo.


Cyrene tertawa gelak. Tidak lagi merasakan ketakutas seperti sebelumnya hanya dengan kehadiran Bernardo disisinya.


TRiba-tiba Bernardo memasang wajah serius. Menatap mata Cyrene lalu berkata.


"KAMU HARUS PINDAH DARI KOTA INI, REN,,!!"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2