
Seorang pria berperawakan tinggi besar dan berkulit coklat melangkah gontai memasuki apartemen yang terlihat kosong namun terawat. Rambut ikal berwarna hitam yang sepanjang bahu diikat kebelakang, serta janggut dan kumis diwajahnya menambah kesan garang dalam dirinya.
Pria itu memasuki salah satu ruangan yang ternyata adalah sebuah kamar yang tampak bersih dan terawat, namun pria itu menatap kosong pada kamar itu seolah telah kehilangan pemiliknya.
"SRUGHHH,,,!!"
Pria itu menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur dengan mata menerawang menatap langit. Segera pria itu meraba lehernya dan mengeluarkan kalung yang ia kenakan, menatap kalung itu dengan tatapan bersalah. Wajah kerasnya melembut hanya dengan melihat kalung itu, lalu tersenyum getir.
"Kamu ada dimana sekarang? Apakah kamu baik-baik saja?"
Ia bergumam pelan sembari menatap kalung dengan tulisan 'Renerdo' sebagai mata kalung itu.
"Aku terus mencarimu, tapi sedikitpun tidak mendapatkan informasi apapun. Kamu bahkan tidak pulang setelah lima tahun berlalu. Kemana sebenarnya kamu pergi, Ren?" gumamnya lagi.
"Rasa bersalah ini terus menghantuiku, apa kau tau itu? Membayangkan mereka melakukan hal buruk padamu, membuatku semakin tengelam dalam rasa bersalaku. Satu-satunya hal yang membuatku bertahan hidup dan menjalani kehidupanku sekarang hanyalah rasa percaya bahwa kau akan kembali. Entah dari mana rasa itu datang, aku tidak bisa menjelaskannya,"
Pria yang tidak lain adalah Bernardo kembali bergumam kepada diri sendiri. Menatap kamar yang sebelumnya adalah kamar Cyrene.
"Aku akan menerima semua kemarahanmu, tapi kumohon, jangan benci aku," ucapnya getir.
Bernardo mengenggam kuat kalung itu dengan harapan Cyrene segera kembali. Meski itu hanya dalam hitungan menit.
Ia memasuki apartemen Cyrene dengan menyelinap setelah berhasil membuat duplikat kunci melalui kenalannya. Berhasil meretas semua informasi penting tentang Cyrene hingga mempermudah dirinya jika seseorang memergokinya berada di apartemen yang ditinggalkan Cyrene dan bisa memberikan jawaban.
Bernardo mendesah pelan, lalu bangun dari berbaringnya dan melangkah ke dapur. Ia menyeduh kopi yang ia beli untuk ia nikmati sendiri.
Dirinya selalu membersihkan apartemen semenjak Cyrene pergi meninggalkan kota. Mereka yang berada di lantai bawah hanya mengatakan Cyrene tidak pindah, dan akan kembali, hanya saja tidak ada yang tau apakah Cyrene benar-benar akan kembali atau tidak.
Setelah beberapa waktu berlalu, Bernardo keluar dari apartemen Cyrene. Menghampiri mobil yang ia parkirkan tak jauh dari gedung apartemen Cyrene, dan pergi setelah melihat jendela kamar untuk terakhir kali.
Sementara itu, di sisi lain,
Cyrene mengemudikan jeep dengan perasaan puas yang terlihat jelas di wajahnya.
"Kau tidak mencoba alatnya, Ren?" tanya Glen memecah keheningan.
"Disini terlalu ramai, Glen. Aku akan mencobanya saat perjalanan pulang," jawab Cyrene tanpa menoleh.
"Jadi, apa yang ingin kamu lakukan sekarang?" tanya Glen.
"Apakah kau lapar, Glen? Bagaimana kalau kita makan sesuatu?" tawar Cyrene masih terus fokus mengemudi.
"Bukan ide buruk," sambut Glen tersenyum.
"Baiklah, kita ke bistrot yang ada di depan sana," ucap Cyrene mulai mengurangi kecepatan jeep nya.
Mereka berdua masuk dan memilih tempat duduk ternyaman bagi mereka, memesan makanan yang mereka inginkan saat pelayan menghampiri mereka, lalu menunggu.
"Apakah aku boleh menanyakan sesuatu padamu, Ren?" Glen bertanya sekaligus meminta ijin.
"Tanyakan saja," jawab Cyrene.
__ADS_1
"Apakah kamu benar akan mengambil tawaran Carlo untuk kembali ke kota tempat tinggalmu?" tanya Glen.
"Apakah itu buruk?" jawab Cyrene balas bertanya.
"Tidak sama sekali, hanya saja, jika kamu pergi, bisakah aku bersamamu sebagai doktermu?" tanya Glen sedikit berharap.
"Itu bukan wewenangku untuk memutuskannya," jawab Cyrene datar.
"Kau memiliki wewenang untuk itu, karena kamu memiliki kesempatan untuk memilih siapa yang akan kamu percaya jika sebuah kecelakaan terjadi di tempat kamu berada," jelas Glen.
"Jika memang akan seperti yang kamu katakan, maka aku tidak keberatan," jawab Cyrene.
"Kau serius?" tanya Glen memastikan.
"Permisi,, silahkan pesanan anda,"
Seorang pelayan menyela mereka dengan memberikan pesanan mereka. Setelah meletakkan semua menu yang mereka pesan, pelayan itu pergi.
Mereka menikmati makan siang dalam diam, ketika sebuah suara tembakan terdengar keras, membuat semua orang yang berada didalamnya berteriak panik, kecuali Cyrene dan Glen.
"DORR,,,!!"
Cyrene hanya melirik dengan ekor matanya untuk melihat siapa yang membuat keributan ditempat ramai menggunakan senjata berbahaya.
"Tetap duduk ditempat kalian jika kalian tidak ingin terluka!" perintah seorang pria mengenakan topi ski dan penutup wajah.
Seluruh pengunjung bistrot menurut duduk dengan wajah takut mereka, beberapa orang meletakkan tangan diatas kepela mereka ketika suara tembakan kembali terdengar.
Glen bersiap berdiri, namun dengan cepat dicegah Cyrene yang mengeleng pelan. Saat salah satu pria mendatangi meja mereka, dengan santai Cyrene menyerahkan dompet miliknya.
Glen hanya bisa mengikuti apa yang di lakukan Cyrene meski hatinya menolak. Hingga, para perampok itu berhasil menjarah semua barang berharga dari pengunjung bistrot dan bistrot itu sendiri.
"Kenapa kau diam saja, Ren?" tanya Glen sedikit kesal.
"Apa kau sadar mereka ada sebelas orang?" jawab Cyrene balas bertanya dengan intonasi tenang.
"Apa? Sebelas? mereka hanya berlima," sanggah Glen.
"Ada dua mobil diluar yang menunggu mereka, mengawasi jika polisi tiba," jelas Cyrene.
"Aku bisa menghadapi mereka, tapi aku tidak ingin," papar Cyrene.
Cyrene kembali memakan makanan didepannya.
"Bagaimana bisa kau membirakan ini terjadi begitu saja? Dan itu tepat didepan matamu?" tanya Glen tidak puas.
"Tenanglah,,!" jawab Cyrene. "Nikmati saja makan siangmu," imbuhnya.
"Entahlah, aku bahkan tidak bernafsu untuk itu," dengus Glen.
"Sikap tidak sabar yang kau miliki bisa menjerumuskanmu kapan saja, Glen," tutur Cyrene.
__ADS_1
Glen hanya mendengus kesal, lalu memalingkan wajahnya.
Cyrene menghela nafas panjang, lalu bangun dari duduknya. Ia mendekati kasir yang masih tampak syok dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Hubungi polisi, dan mintalah mereka untuk mengejar mereka kearah timur menuju ngarai, kalian akan mendapatkan kembali apa yang sudah mereka rampas," ucap Cyrene seraya meletakan beberapa lembar uang.
"Untuk makanan yang telah kami makan," ucap Cyrene lagi.
Setelah mengatakan itu, Cyrene segera pergi, meninggalakn raut wajah bingung dari pegawai kasir, namun dia tetap melakukan apa yang di intruksikan Cyrene padanya.
"Apa maksudmu mengatakan hal tadi?" tanya Glen.
Cyrene menaikan bahunya, lalu melangkah keluar dari bistrot diikuti Glen. Tanpa menjawab pertanyaan Glen, ia segera masuk kedalam jeep nya, dan menyalakan mesin.
Tanpa disadari Cyrene, seseorang tampak berlari berusaha mengejar Cyrene yang telah masuk kedalam mobil. Namun saat orang itu mencapai mobil, Cyrene telah lebih dulu menjalankan mobil jeep nya.
Cyrene mengemudi dengan mengambil arah berlawanan dengan para perampok yang merampas barang berharga milik pengunjung.
Glen menjadi lebih terkejut lagi saat jalan yang di tuju cyrene adalah sebuah ngarai. Seolah telah memperhitungkan segalanya, Cyrene segera memasukan chipdisk sekaligus menarik tuas transmisi.
Tiba-tiba, kecepatan mobil bertambah, dan cukup untuk membuat Glen terkejut hingga membuat ia mencengkram seatbelt yang melekat di tubuhnya.
"Pastikan saja lidahmu tidak tergigit," gumam Cyrene tersenyum percaya diri.
"Ngarai adalah tempat latihan terbaik," imbuhnya.
"Ren,, apa kau gila?" seru Glen tampak syok.
"Dalam hitungan mundur, dua puluh detik, maka kau akan mengerti," ucap Cyrene masih fokus mengemudi.
Lembah curam dikanan kiri di jalan yang mereka lalu membuat Glen bergidik. Namun, ia tetap menghitung mundur.
Tepat di detik ke lima, Glen melihat mobil yang dinaiki para perampok di bistrot tadi. Cyrene segera mendahului mobil itu, dalam hitungan detik, ia memutar kemudi, membuat mobil menukik dan berputar, berbalik arah menghadap mobil mereka.
Memanfaatkan keterkejutan mereka, Cyrene mengeluarkan pistol dari balik bajunya dan mengarahkan ke mesin mobil mereka, membuat mobil hilang kendali dan menabrak tebing.
"BBRRAAKKK,,,,,, !!!!"
Suara keras lain berasal dari mobil dibelakang mereka, yang merupakan rekan mereka dalam merampok.
"Tetaplah di dalam mobil jika kau ingin membantu," tegas Cyrene.
"Apa,,,??? Hei,, Ren,," Glen melebarkan matanya saat Cyrene turun dan menemui mereka.
Ajaibnya, mereka tidak ada yang terluka parah, mereka segera keluar dari mobil. Tepat seperti dugaan Cyrene, mereka berjumlah sebelas orang.
"Sial,,, aku lupa kalau Ren tidak akan bergerak jika itu didepan umum, kecuali dalam keadaan terdesak," umpat Glen kesal pada dirinya sendiri.
"Sekarang apa? Jika aku keluar, itu akan berakibat sama seperti waktu itu, Ren terluka lebih parah," gumam Glen.
Glen hanya bisa melihat dari dalam mobil dimana Cyrene berdiri tenang sembari mengikat rambut panjangnya. Berdiri didepan mereka yang tampak kesal dan bersiap menyerang.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...