Why Must I LOVE YOU (Perlu Perbaikan)

Why Must I LOVE YOU (Perlu Perbaikan)
Penguntit.


__ADS_3

Keesokan harinya......


Cyrene keluar dari apartemennya untuk berangkat kerja seperti biasanya.Dengan menaiki taksi,Dia menuju tempatnya bekerja.


Entah apa yang membuatnya menoleh kebelakang beberapa kali,Cyrene merasakan dirinya tengah diawasi.Mencoba mengabaikannya,Cyrene melajutkan perjalanannya.


Taksi berhenti di depan sebuah Cafe yang masih tutup.Setelah membayar ongkos taksi,Cyrene berjalan kearah Cafe seraya tangannya merogoh kedalam tasnya dan mengeluarkan kunci.


Tak lama,Cyrene masuk dan meletakkan tasnya.Mengenakan apron hitam dan mengikat rambutnya,Cyrene mulai mebersihkan alat alat,meja,dan lantai cafe.


Merasa semua telah siap,Cyrene membalik papan yang tergantung di pintu,'OPEN'.


Lonceng yang berada diatas pintu cafe berbunyi membuat Cyrene mengarahkan pandagannya ke pintu lalu tersenyum ramah.


"Maaf kak,aku telat."ucap pria itu.


"Tak apa.kau tidak terlalu terlambat karena pengunjung belum datang."jawab Cyrene tersenyum.


"Tapi,omong omong,apa yang terjadi?kau bukan orang yang akan terlambat tanpa alasan?"tanya Cyrene.


"Motor ku mogok."jawabnya seraya mengosok belakang lehernya.


"Dan kau terpaksa mendorong motormu mencapai bengkel?"tanya Cyrene.


"Benar."jawabnya tersipu.


"Baiklah..itu hal yang tak bisa dihindari.Aku bisa mengerti Gavin."kata Cyrene.


"Terima kasih."kata Gavin lega.


Dia pun bergegas mengenakan apron miliknya.Mempersiapkan cangkir cangkir kopi serta memasukkan biji kopi pada mesin dan mengoprasikan mesin itu.


Lonceng diatas pintu kembali terdengar dan terlihat beberapa pengunjung memasuki cafe.Dengan sigap Gavin menghampiri mereka,sementara Cyrene mulai menuangkan kopi pada cangkir yang telah disiapkan Gavin ketika mendengar bunyi 'Bib'.


"Oke..Ini yang terakhir"kata Gavin ceria.


Gavin meletakkan kopi di meja terakhir dan kembali duduk di kursi yang ada didepan minibar.


Lonceng kembali terdengar,dan seorang pria berperawakan tinggi besar melangkah masuk.Gavin bersiap berdiri untuk melayani pria itu.Namun,pria itu berjalan mendekati bar dan berdiri didepan Cyrene yang sedang memeriksa laporan penjualan kemarin.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?"tanya Gavin ramah.


"Yah..tentu..satu Picollo untukku"jawab nya datar.


"Baik.mohon tunggu sebentar."jawab Gavin ramah.


Gavin segera menyiapkan pesanan pria itu.Cyrene merasa familiar dengan suara yang baru saja dia dengar,mendongak dan tatapan mereka bertemu.Pria itu tersenyum melihat Cyrene yang melebarkan matanya.


"Bernardo?"desis Cyrene terkejut.


"Aku sempat berfikir kamu tak mengingat namaku."kata Bernardo.


"Eh..kak Ren mengenalnya?"tanya Gavin saat menyiapkan cangkir.


"Ehmm..Ya."jawab Cyrene ragu.


"Kenapa kamu menjawab ragu begitu Cyrene?"tanya Bernardo tertawa ringan.


"Bu-bukan begitu.."jawab Cyrene terbata."tapi...."Cyrene tidak melanjutkan kalimatnya.


"Ragu bahwa aku akan bersikap tak mengenalmu?"tanya Bernardo seolah bisa membaca pikiran Cyrene.


Cyrene mengosok belakang telinganya dengan jari telunjuk,tersipu.


"Ini pesanan anda."Gavin menyela menyodorkan cangkir kopi pada Bernardo dengan sopan.


"Terima kasih."kata Bernardo tersenyum kecil pada Gavin lalu duduk di salah satu kursi yang ada didepan Cyrene.


"Apakah kamu ingin makan sesuatu sebagai pendampimg?"tanya Cyrene ramah.

__ADS_1


"Itu terdengar enak,tapi sayang sekali aku harus menolaknya.Maaf ya"kata Bernardo hati hati.


"Ah,,kamu tak perlu meminta maaf hanya karena menolak tawaranku.Kamu bisa menolak jika tak ingin.Tidak semua pengunjung menerima tawaran makanan pendamping.Itu hanya untuk mereka yang menginginkannya."kata Cyrene ramah.


"Terima kasih."kata Bernardo lalu menyeruput kopinya.


"Omong omong apakah kalian hanya berdua yang bekerja disini?"tanya Bernardo.


"Sebenarnya bertiga,tapi satu orang ijin hari ini karena urusan keluarga."jawab Cyrene.


Lonceng yang ada diatas pintu cafe kembali berbunyi menandakan seseorang masuk.Beberapa pengunjung datang secara bersamaan dan memilih tempat duduk masing masing.


"Aku akan urus ini,Kak Ren yang urus kopinya tak apa kan?"tanya Gavin.


"Tentu."jawab Cyrene.


Gavin mendekati mereka untuk menanyakan pesanan mereka.


"Maaf ya,aku tinggal sebentar."kata Cyrene pada Bernardo.


"Tentu,apakah aku perlu pindah?"tanya bernardo.


"Tidak.Siapapun bisa duduk disitu,karena itu juga di siapkan untuk pengunjung."jawab Cyrene tanpa menoleh.


Tangannya bergerak cepat menyiapkan beberapa cangkir dan mulai meracik kopi.Disaat tangannya meletakkan penyaring kopi,tangan lain yang bebas menekan tombol mesin.


"lima Latte, dua Espreso dan tiga Flat White.Oh juga satu Picollo."kata Gavin lalu pergi lagi saat ada pelanggan yang memanggilnya.


Cyrene menyesuaikan bahan bahan pelengkap yang diperlukan dan menuang kopi ke masing masing cangkir dengan cepat dan mulai meletakkan di meja bar untuk memudahkan Gavin mengantarkan tiap pesanan.Terakhir,Cyrene melukis art pada latte yang telah siap.


'Dia sangat cekatan dan terampil.aku banar benar terkesan dengan keahliannya.' Bernardo berkata dalam hatinya.


'Sayang sekali,yang menyiapkan minumanku bukan dia.Apakah jika dia yang membuatnya akan membuat perbedaan pada rasanya?' bisik hatinya.lalu mendesah pelan.


"Apakah semua baik baik saja?"tanya Cyrene mendekati meja dimana Bernardo duduk.


"Tidak"bernardo mengelang pelan."Kenapa kamu bertanya.?"tanya Bernardo.


"Tidak,hanya memikirkan pekerjaan."jawab Bernardo mengelak.


"Benarkah?"tanya Cyrene kurang percaya.


"Tentu saja."jawab Bernardo.


"Omong omong aku masih belum tau pasti pekerjaanmu.Kamu hanya mengatakan berhubungan dengan mobil."tanya Cyrene.


"Dua Doppio." Gavin kembali menyela obrolan mereka.


Cyrene tersenyum meminta maaf,Bernardo hanya mengangkat bahunya dan tersenyum penuh pengertian.


Cyrene kembali meninggalkan Bernardo.Pandangan Bernardo terus tertuju pada Cyrene tanpa sekalipun mangaihkan perhatiannya.


'Sepertinya tempat ini cukup ramai ketika pagi." pikirnya.


Setelah menghabiskan minumanya,Bernardo melihat jam tangannya berniat pergi meninggalkan cafe setelah meletakkan uang dibawah cangkirnya lalu pergi tanpa mengatakan apapun saat melihat Cyrene sibuk menyiapkan kopi dan kudapan untuk pengunjung yang datang.


Suasana Cafe berangsur angsur lenggang.Gavin membereskan meja katika pengunjung meninggalkan meja mereka.Sementara Cyrene mencatat semua pemasukan di komputer miliknya.


Gavin dan Cyrene saling membantu memastikan semua pengunjung puas dengan minuman dan kudapan mereka.


"Haahhh...akhirnya beres."kata Gavin setelah selesai mencuci gelas terakhir.


"Sepertinya hari ini lebih ramai dari kemarin"kata Cyrene sambil membersihkan meja dengan serbet.


"Kok aku ngak sadar ya saat teman kakak pergi."kata Gavin.


"Aku pun tidak."jawab Cyrene mendekati meja dimana tadi Bernardo duduk.


"Aahhh...Kenapa dia meninggalkan uang sebanyak ini."desah Cyrene ketika mengambil cangkir dan melihat uang dibaliknya.

__ADS_1


"Kenapa kak?"tanya Gavin mendekati Cyrene dan mengambil alih cangkir ditangannya.


"Bagaimana cara memberikan uang kembaliannya kalau begini?kita bahkan tak tau dia akan datang lagi atau tidak."kata Cyrene.


"Dia pasti datang lagi."kata Gavin percaya diri.


"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?"tanya Cyrene.


"Insting"jawab Gavin asal.


"Lagi pula,kak Ren kan bisa menghubunginya.Bukankah itu lebih mudah?"tanya Gavin.


"Benar juga."jawab Cyrene."Tunggu..."Cyrene melirik jam yang tergantung di cafe."Kurasa aku bisa menghubunginya sebentar."kata Cyrene.


Gavin tersenyum jahil.


"Dia terlihat garang sih,tapi berhati lembut."celetuk Gavin.


"Diam deh."kata Cyrene.


"Serius lho.Tadi kak Ren masa tidak sadar dia menatap kak Ren dalam banget."goda Gavin.


"Berisik"jawab Cyrene.


Gavin tertawa gelak.Sementara Cyrene mencoba untuk mengubungi Bernardo.Namun,ketika panggilannya di angkat,Cyrene tidak mengenali suara yang menjawab panggilannya.Dengan cepat,Cyrene mematikan ponselnya.


"Aneh"gumam Cyrene pelan.


"Kenapa kak Ren?"tanya Gavin.


"Aneh sekali,yang menjawab panggilanku bukan dia."kata Cyrene.


Suara lonceng kembali mengalihkan perhatian Cyrene.Tanpa memikirkan apapun,Cyrene meletakkan ponselnya dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.Tanpa disadari,ponsel Cyrene berkedip beberapa kali.Tak lama setelah ponselnya berkedip,sebuah panggilan masuk dengan nama Bernardo tertera di layar ponsel.


Ketika hari berubah gelap dan cafe telah tutup,Gavin dan Cyrene melangkah keluar cafe dan mengunci pintu.


"Kak Ren mau aku antar?"tanya Gavin menawarkan.


"Tidak perlu,aku bisa pesan taksi."jawab Cyrene seraya mengeluarkan ponsel.


"Oh Tidak..."desis Cyrene menyadari ponselnya mati.


"Kenapa kak?"tanya Gavin.


"Gavin,bisakah kau pesankan taksi untukku?ponselku mati entah bagaimana."kata Cyrene.


"Tentu kak.Tunggu sebentar..."Gavin mulai memesan taksi untuk Cyrene dan tetap di sana menemani Cyrene hingga taksi yang di pesan datang.


"Terima kasih banyak Gavin."kata Cyrene.


"Kak Ren tak perlu sungkan padaku.Tapi aku tak mengerti,tak biasanya ponsel kak Ren mati."kata Gavin heran.


"Entahlah.Tapi sudahlah,aku akan isi dayanya begitu tiba diapartemenku.Aku pulang dulu ."kata Cyrene.


"Hati hati kak,hubungi aku kalau ada apa apa ya."pinta Gavin.


"Oke..Bye."Cyrene melambai pada Gavin yang segera membalasnya.


Gavin pun berjalan menuju bengkel tempat dirinya meletakkan motornya.


Tanpa disadari oleh Gavin maupun Cyrene,sebuah mobil hitam mengikuti taksi yang di naiki Cyrene hingga tiba di apartemennya.


Cyrene melangkah menuju apartemennya tanpa rasa curiga hingga saat Cyrene telah berada di dalam apartemen.


"Aahh..capek sekali rasanya.."keluhnya pelan.


Setelah meletakkan tasnya,Cyrene masuk ke kamarnya berniat untuk mengisi daya ponselnya yang mati.Membiarkan ponselnya yang terhubung dengan kabel,Cyrene masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan melepas lelah.


Tepat saat Cyrene menutup pintu kamar mandi,sebuah bayangan orang muncul di balik gorden yang menutupi jendela balkon di kamarnya.

__ADS_1


...##########...


__ADS_2