
Genma Geonaru, seorang anak laki laki yang kurang beruntung. Lahir di keluarga yang serba kekurangan dan terjerat hutang membuat kehidupan orang tua Genma menjadi berantakan bahkan sejak 1 tahun usia pernikahan mereka. Ayah Genma adalah seorang pemabuk yang gemar berjudi, hal itu menyebabkan hutang ayah Genma menumpuk.
Tidak hanya itu, ayah genma juga tidak memiliki pekerjaan, alias pengangguran. Selain gemar berjudi dan mabuk mabukan, ayah Genma juga adalah seorang pengedar narkoba yang baru saja terjun ke dalam dunia jual beli dan distribusi obat obatan terlarang itu.
Sementara ibu Genma adalah seorang wanita yang tabah dan sabar. Sejak awal pernikahan mereka, ayah Genma sering memperlakukan ibu Genma dengan kasar. Memukul, menampar, bahkan mencekik ibu Genma saat ibu Genma sedang hamil karena pengaruh minuman keras. Tidak jarang para tetangga mendobrak masuk ke dalam rumah karena mendengar jeritan dan tangisan ibu Genma yang sedang di aniaya oleh ayah Genma.
Tak jarang juga ibu Genma keluar dari rumah dan pergi ke tempat berjudi ayah Genma. Bukan untuk ikut berjudi atau mabuk, ibu Genma dengan ketabahan dan kesabaran hatinya terpaksa harus memapah suaminya itu pulang ke rumah. Jika tidak, maka suaminya itu tidak akan pulang. Sesampainya di rumah pun, ibu Genma sudah menyiapkan makanan dari lauk seadanya agar suaminya itu tidak kelaparan.
Ia menyiapkan semua itu dengan harapan agar hati suaminya terbuka dan tersadar atas semua kesalahannya. Ia masih memiliki secercah harapan bahwa suaminya akan kembali menjadi orang yang dicintainya dulu.
Namun, semua itu hanyalah sebuah omong kosong bagi ayah Genma yang temperamental. Begitu ia melihat wajah ibu Genma setelah tersadar dari mabuknya, ia kembali memukuli dan menganiaya istrinya itu seperti yang biasa ia lakukan setiap hari. Lebam dan luka adalah sesuatu yang sudah bagaikan makanan sehari hari bagi ibu Genma. Bahkan tak jarang kaki ibu Genma pincang dibuatnya.
__ADS_1
Dalam kondisi tersebut, ibu Genma masih harus berkeliling mencari uang untuk membeli sesuap nasi agar anaknya dapat makan walau hanya sesendok nasi. Ia menawarkan banyak jasa dan mendatangi rumah rumah untuk meminta pekerjaan. Tak jarang orang orang yang di datangi rumahnya oleh ibu Genma itu malah mencaci maki dan mengusirnya karena penampilan ibu Genma yang kumuh dan lusuh.
Nasi yang ia beli untuk keluarganya dengan susah payah itu juga terkadang hanya dibuang atau bahkan di diamkan hingga basi karena suaminya yang tak pulang ke rumah berhari hari karena terlalu asyik berjudi. Untungnya, tak sedikit tetangga yang memberikan beras dan bahan bahan makanan mereka untuk keluarga Genma karena tak kuasa melihat ibu Genma yang berjuang setengah mati.
Dimasa masa sulit itu pun, ibu Genma harus melakukan semua pekerjaannya sambil membawa Genma kemanapun ia pergi. Usia Genma yang belum sampai 5 tahun juga tak memungkinkan untuk di tinggal sendirian di rumahnya yang bisa kapan saja rubuh.
Rumah Genma bahkan hampir tak layak di sebut rumah. Tempat mereka tinggal tersebut merupakan bekas gudang yang sengaja disumbangkan oleh seorang tetangga yang berempati pada keluarga Genma karena rasa iba. Rumah tersebut terbuat dari kayu lapuk yang sudah usang dan sering bocor. Luasnya bahkan tak sampai 6 meter, dan atapnya sangat pendek, hanya setinggi 2 meter. Belum lagi ayah Genma yang terkadang membuat rumah itu berkali kali hampir rubuh dipukulnya.
Tak pernah sekalipun para tetangga mendengar atau melihat keluarga Genma akur dan tenang. Yang kerap mereka lihat adalah tangisan Genma saat melihat ibunya dipukuli hingga babak belur oleh sang ayah yang merupakan bajingan brengsek. Bahkan mereka (para tetangga) terheran heran mengapa kedua orang tua Genma bisa menikah.
Karena hal itu pula, beban yang ditanggung oleh ibu Genma sebagai tulang punggung keluarga bertambah. Setelah seluruh kesulitan yang ia hadapi setiap hari, rasa sakit yang ia rasakan, keringat yang ia cucurkan setiap saat, kini ia harus merawat suaminya yang jatuh sakit. Padahal, setiap harinya ibu Genma bisa saja tumbang karena tak kuasa menahan seluruh beban yang di curahkan suaminya padanya. Tapi ibu Genma tak mempedulikan hal itu karena semangatnya dalam merawat dan membesarkan Genma.
__ADS_1
Di dalam kehebatan dan kekuatan ibu Genma yang luar biasa itu, ternyata ia menahan rasa sedih dan kecewa yang amat besar pada suami nya. Di malam hari, setelah suami dan anaknya tertidur, ibu Genma pergi ke luar sendirian, menuju sebuah bukit di samping rumahnya. Di malam yang sunyi dan sepi itu, di atas bukit, ibu Genma berdiri dan menatap langit. Ia terdiam sebentar lalu menangis sekencang kencangnya. Ia menjerit dan melepaskan semua beban di dadanya yang sudah ia pendam selama ini.
Seolah mengerti, langit mulai menangis bersama dengan jatuhnya air mata. Hujan pun turun, membasahi wajah penuh kekecewaan wanita luar biasa tersebut. Keadaan itu semakin membuat ibu Genma bersedih dan menjadi jadi. Semua duka yang menumpuk dalam pikirannya keluar bersamaan dengan setiap teriakkan teriakkan kesedihan dirinya. Teriakkan dan tangisan itu meramaikan sepi dan sunyi nya malam hari di bukit yang menjadi satu satunya tempat mengeluh sosok wanita hebat itu.
1 bulan sejak saat itu. Ibu Genma kembali menjalani hari harinya seperti biasa. Kali ini, tanpa lebam dan luka, ia kembali melangkah keluar mencari uang sebagai tulang punggung keluarga.
Di satu sisi, ia menjadi lebih kuat dan sehat karena tak ada lagi luka yang membebani tubuhnya. Namun, disisi lain, ia mengalami kesulitan saat merawat suaminya. Hal itu disebabkan karena suaminya tak mau dan tak sudi di rawat olehnya. Entah apa yang dipikirkan oleh pria tersebut. Bahkan saat ibu Genma hendak menyuapinya yang tak mampu bergerak di atas kasur, ayah Genma masih memberontak dan berkali kali menolak untuk makan. Akan tetapi, ibu Genma tetap sabar dan tabah, ia percaya suatu saat nanti, suaminya itu akan kembali menjadi sosok yang dicintainya dulu.
Karena sifat keras kepalanya itu, dari hari ke hari, keadaaan ayah Genma semakin memburuk dan terus memburuk. Suatu hari, dia tak bangun dari tidurnya seperti biasanya. Tubuhnya kaku dan dingin. Ibu Genma yang menyadari hal itu pun langsung berteriak histeris dan memanggil para tetangganya untuk meminta tolong. Namun, para tetangga yang sudah tau mengenai sikap dan kebiasaan ayah Genma itu merasa ragu untuk menolongnya. Mereka merasa akan sia sia mengeluarkan uang untuk menolong seorang bajingan seperti ayah Genma.
Kemudian, hal yang ditakutkan oleh ibu Genma pun terjadi. Suaminya itu tak kunjung bangun hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
__ADS_1
...Chapter selanjutnya ◉‿◉...
...>>>>>...