
"YA TUHAN!"
Para tetangga syok melihat Genma yang terbaring dilantai. Hampir seluruh tubuh Genma terbungkus oleh luka bakar yang cukup parah. Sebagian besar disebabkan oleh air mendidih yang kemudian tumpah dan terkena kulit. Ia terbaring di lantai sambil meringkuk kaku karena menahan rasa sakit.
Tak jauh dari tempat Genma terbaring, ada sebuah tabung gas yang masih terhubung dengan kompor yang juga masih menyala. Hanya tinggal beberapa meter lagi api yang menjalar itu akan terkena tabung gas. Beruntungnya, salah satu tetangga berani dan tahu penanganan yang tepat dan benar untuk segera menyelamatkan Genma dan membawanya menjauh dari tempat yang sudah terbakar tersebut.
Mengetahui api yang menjalar akan segera menjangkau tabung gas dan berpotensi besar meledakkan rumah tersebut, para tetangga langsung berbondong bondong berlari keluar menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan rumah Genma yang beberapa saat setelah mereka keluar benar benar meledak. Rumah itu langsung berbentuk tak karuan, sudah tak tampak seperti rumah.
"Ya tuhan, kenapa nasibmu begitu malang nak? padahal usiamu baru menginjak 5 tahun."
Ucap salah seorang tetangga dengan wajah sedih dan penuh rasa iba. Tak lama setelah ayah Genma, Genma pun menyusul ke rumah sakit yang sama untuk perawatan dan pengobatan. Sekali lagi Genma juga beruntung karena para tetangganya mengenal ibu Genma sebagai pribadi yang baik dan jujur. Mereka sudah menganggap Genma sebagai anak mereka sendiri, sehingga para tetangga bersedia menolong dan membiayai biaya rumah sakit Genma.
Di tempat ayah Genma dirawat
"Maaf, tapi sepertinya suami anda tidak bisa diselamatkan. Kami memohon maaf sebesar besarnya."
Nasib malang menimpa, ayah Genma tak dapat di selamatkan.
"Ha... Ha..... Ha..... Ha..."
Ibu Genma tertawa kecil. Sebuah reaksi yang tak terduga, atau bahkan sebuah rekasi yang tak wajar. Ia tersenyum dan mengeluarkan air mata di saat yang sama. Wajahnya memerah dan air matanya semakin lama semakin deras mengucur.
Para tetang yang menyaksikan hal itu kemudian saling menatap keheranan. Mereka bingung. Ada yang mengira ibu Genma akhirnya telah terlepas dari kekangan seorang bajingan gila yang merupakan suaminya, sehingga ibu Genma merasa lega lalu akhirnya menangis bahagia sambil tersenyum. Ada yang mengira ibu Genma terlalu berlarut dalam kesedihannya sehingga tak dapat mengekspresikan emosinya lalu malah mengeluarkan senyuman yang di hiasi air mata.
Namun, tak ada satupun yang tepat. Kenyataannya jauh lebih tidak terduga daripada sekedar sedih dan bahagia atau tangis dan tawa. Satu kata yang dapat mewakili kondisi yang dirasakan oleh ibu Genma saat ini.
__ADS_1
..."Gila"...
Yap. Ibu Genma menjadi gila. Ia menjerit, tertawa, menangis, senang, sedih, takut, dan bersemangat disaat yang sama. Tatapannya kosong. Ia tertawa, kemudian menangis, lalu tertawa lagi. Begitu terus selama lebih dari 10 menit. Kemudian dia diam dan mulai berjalan perlahan.
Para tetangga yang berada di dalam ruangan pun merasa takut dengan tingkah tak normal ibu Genma. Perlahan demi perlahan, ibu Genma berjalan mendekati salah satu suster yang berada dekat dengan laci berisi berbagai macam alat kedokteran. Suster tersebut merasa ngeri, ia memutuskan untuk pindah dan menjauh dari Ibu Genma yang tengah bertingkah menyeramkan tersebut.
Dengan perlahan-lahan pula ia membuka laci tersebut. Ia lalu terdiam sesaat lagi. Tiba tiba dengan cepat, ibu Genma menengok kebelakang dengan tatapan yang menyeramkan seraya tersenyum sambil menangis.
"Ha.. Ha.. Ha.. HAHA HAHAHAHAHA!"
Tawa anehnya kembali keluar. Tanpa diduga, ia ternyata tak melakukan apapun. Ia menatap seluruh orang yang ada dalam ruangan itu dan kembali menutup laci. Suasana tegang dan mencekam. Mereka semua khawatir ibu Genma akan melakukan bunuh diri atau hal yang bahkan lebih buruk dari itu.
Ibu Genma kembali berjalan perlahan menuju pintu keluar. Tak ada satupun orang di dalam ruangan itu yang mengetahui apa yang hendak dilakukan ibu Genma. Rupanya, tanpa disangka sangka, ibu Genma mengunci pintu kamar tersebut dan langsung mengeluarkan sebuah jarum suntik yang besar beserta gunting operasi di kedua tangannya.
Sontak orang orang di dalam ruangan tersebut histeris. Mereka berteriak dan menjerit. Suara mereka begitu keras hingga suaranya mampu tembus ke luar ruangan. Suasana lorong rumah sakit yang sunyi itu kemudian dipenuhi suara teriakan dan jeritan.
Orang orang yang berada di luar ruangan kemudian mulai mengintip ruangan tempat ibu Genma berada itu. Mereka dikejutkan dengan pemandangan yang tak bisa mereka percayai. Orang orang itu melihat dan menyaksikan ibu Genma tengah menusuk para tetangga bahkan dokter dan suster dalam ruangan itu tanpa ampun. Darah berserakan, tumpah memenuhi lantai bahkan hingga ke luar ruangan.
"HAHAHAHAHAHAHAHA! RASAKAN! MATILAH! KARENA KALIAN, SUAMIKU TAK BISA DISELAMATKAN! KALIAN HARUS MEMBAYARNYA!"
Ibu Genma tenggelam dalam emosinya. Ia mengamuk dan membabi buta, melukai semua orang dalam ruangan itu hingga gunting tajam yang ia gunakan menjadi tumpul karena dihantam ke tulang para korban. Ia melakukan itu karena merasa bahwa kematian suaminya disebabkan oleh mereka (para tetangga dan dokter)
"SEANDAINYA! SEANDAINYA KALIAN SEGERA DATANG DAN MENYELAMATKAN SUAMIKU! SEANDAINYA KALIAN LEBIH CEPAT! AKU TIDAK AKAN DITINGGAL SENDIRIAN!"
Emosinya meluap luap. Ia berteriak demikian sambil berkali kali menusuk tetangganya. Walaupun sang dokter tak bersalah dalam hal ini, namun ia menganggap sang dokter juga adalah salah satu penyebab kematian suaminya itu.
__ADS_1
Ibu Genma masih menganggap bahwa suaminya itu akan bisa menjadi seperti sedia kala, pada saat mereka masih saling mencintai. Ia masih berharap suatu hari nanti suaminya akan kembali menjadi orang yang ia kenal dan sayangi dulu. Karena harapan dan ekspektasi nya yang terlalu tinggi, mentalnya hancur ketika melihat bahwa kenyataannya yang terjadi tak sesuai dengan apa yang ia bayangkan.
"BAJINGAN! AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA! JIKA SUAMIKU TAK DAPAT KEMBALI, MAKA TAK ADA YANG BOLEH HIDUP! KALIAN SEMUA HARUS MATI!"
Ia bermaksud untuk membunuh semua orang di dunia ini karena rasa kecewanya yang begitu dalam. Ia terlalu menaruh rasa suka dan cinta yang berlebihan pada suaminya. Oleh karenanya, ibu Genma bermaksud untuk membunuh orang-orang yang merubah suaminya terlebih dahulu. Yaitu teman teman se pergaulan suaminya di tempat suaminya biasa mabuk dan berjudi.
"JIKA BUKAN KARENA BERTEMAN DENGAN PARA BAJINGAN SEPERTI KALIAN, SUAMIKU TIDAK AKAN BERUBAH DAN BERNASIB SEPERTI INI!"
Ia mengamuk sambil masih terus menusuk secara membabi buta. Orang orang yang berada di lorong rumah sakit pun segera berlari dan menyelamatkan diri. Alarm darurat berbunyi, salah satu orang di rumah sakit pun segera menelpon pihak berwajib.
Setelah beberapa menit berlalu, ia pun membuka pintu ruangan tersebut. Lorong sudah sepi, tak ada satupun orang yang berada di sekitar ruangan itu. Hanya tersisa beberapa orang di rumah sakit itu, kebanyakan adalah pasien rawat inap yang masih di rawat disana seperti Genma.
Langkah kakinya senyap tak terdengar. Hanya menyisakan jejak kaki yang terbuat dari darah para korban penusukan ibu Genma. Lantai lorong rumah sakit seketika dipenuhi bau dan warna darah. Darah hampir memenuhi seluruh pakaian ibu Genma, perlahan lahan menetes ke lantai lorong.
Ibu Genma yang masih diselimuti emosi pun berjalan menyusuri lorong sambil melihat satu persatu kamar pasien. Ia mencari seseorang untuk menjadi bahan pelampiasan emosinya. Kebanyakan ruangan sudah kosong, namun, sialnya, ruangan tempat Genma dirawat berada cukup dekat dari ruangan ayah Genma.
Ia terus berjalan. Sampai akhirnya ia berada di depan pintu ruangan Genma. Matanya mengintip lewat lubang kecil di pintu ruangan, menatap tajam. Ia sama sekali tak ingat apapun kecuali hasrat untuk membunuh dan terus membunuh, meluapkan emosinya.
"Brak!" pintu ruangan Genma di dobrak. Ia pun masuk dengan perlahan.
"Ha.. Ha.. Hahaha! HAHAHAHAHA!"
...Chapter selanjutnya ◉‿◉...
...>>>>>...
__ADS_1