WORLD RESET!

WORLD RESET!
Ritual Muzzerac


__ADS_3

Setelah keheningan itu, tiba tiba sang penasihat berbicara.


"Tuanku, izinkan saya untuk melakukan ritual Muzzerac."


Semua orang masih terkejut lagi. Mereka mulai memikirkan sesuatu setelah mendengar saran sang penasihat.


"Apa kau yakin Ue? Peluang keberhasilan ritual ini adalah hampir 1 persen. Jika gagal, maka keita akan kehilangan salah satu batu monster tingkat surgawi dan kalian akan menghabiskan kekuatan yang sangat besar."


Ucap Greogoda.


Lagi lagi ruangan itu hening.


"Tak apa tuanku. Kami siap mempertaruhkan segalanya demi anda, tuan kami. Walaupun peluang nya nol sekalipun, saya akan tetep berusaha melakukan ritual ini jika itu demi anda tuanku."


"Itu adalah cara satu satunya! Tak perlu berpikir panjang! Ayo kita segera bersiap untuk melakukan ritual!"


Teriak adik Greogoda dengan lantang.


FYI : ritual Muzzerac adalah ritual untuk memindahkan jiwa seseorang, dari satu tubuh, ke tubuh lainnya. Wadah yang dijadikan tubuh juga tak menentu atau dalam arti lain acak. Peluang keberhasilan ritual ini adalah hampir 1 persen. Dalam sejarah alam semesta Rennaive, hanya ada 4 orang dalam 1 juta tahun yang berhasil menjalankan ritual ini. Jika gagal, jiwa yang bereinkarnasi akan melayang layang di dalam alam ruh. Tak mampu untuk keluar dan akan terjebak disana untuk selamanya. Kemungkinan yang paling buruk adalah kehancuran jiwa saat proses reinkarnasi. Namun, jika ritual itu berhasil, maka kekuatan, ingatan, dan jiwa yang bereinkarnasi akan mengalami peningkatan dalam aspek apapun. Besar biaya dan kekuatan yang diperlukan untuk melakukan ritual ini bergantung pada jumlah kekuatan yang dimiliki oleh orang yang akan bereinkarnasi.


Setelah berpamitan kepada semua orang di Gefadve, Greogoda pun memulai ritual Muzzerac. Ritual itu memakan energi dan waktu yang tidak sedikit. 10 hari 10 malam dihabiskan untuk mempersiapkan ritual, 30 hari digunakan untuk proses inti ritual. Seluruh anggota petinggi menggunakan kekuatan mereka hingga nyaris habis. Sumber daya Gefadve juga digunakan secara besar besaran, hal itu dikarenakan Greogoda memiliki daya dan kekuatan yang luar biasa.


"Tuanku Greogoda, kami akan selalu menunggu kedatangan anda kembali. saya berharap pada saat itu, kita akan mampu kembali berjuang dan melewati segalanya bersama. Selamat jalan, tuanku."


Penasihat Greogoda mengucapkan salam perpisahan pada Greogoda sambil tersenyum.


Sementara itu di Kasino.


"Vivi, kira kira hal menarik apa yang akan terjadi jika aku mencekoki mu minuman ini?"


Segelas anggur disodorkan pada Vivi tepat didepan wajahnya. Bau menyengat alkohol itu sontak membuat Vivi tak nyaman dan menghindarinya.


"Hey, tidak boleh begitu, aku tidak menyuruhmu untuk menghindar bukan?"


Dagu Vivi dipegang, direktur rumah sakit itu kemudian menarik wajah Vivi agar menghadap ke arahnya. Bermaksud untuk mencekoki minuman keras itu pada Vivi.


"Kring! Kring! Kring!"


Tiba tiba, suara telpon berbunyi dari handphone sang direktur.


"Tch! Mengganggu saja!"


Direktur tak jadi melakukan aksinya itu dan lalu menjawab telepon.

__ADS_1


"Halo, ada apa? Katakan dengan cepat, aku memiliki urusan penting."


Ucap sang direktur sambil menenggak minuman yang sedari tadi masih terus ia pegang.


"Kami telah membawanya bos, apa yang harus kami lakukan selanjutnya?"


Laporan sang bawahan direktur.


"Hah? Membawa siapa?"


Direktur rumah sakit itu bingung, ia lupa akan suatu hal karena sedikit mabuk setelah menenggak anggur.


Setelah terdiam sesaat, ia kemudian mengingatnya.


"Oh! Sudah sampai? Baiklah! Saat yang tepat! Hahahaha! Aku akan memberikan bonus pada kalian nanti karena telah membuat hatiku senang. Langsung bawa dia ke ruangan VIP, jangan sampai ada yang curiga. Sejarang juga."


Ekspresi wajahnya yang semula tampak terganggu, kini berubah.


"Sret."


Pintu dibuka.


Vivi yang sedari tadi mencoba mencari cara untuk melepaskan diri langsung melihat ke arah pintu. Ia berharap ada seseorang dapat ia mintai tolong untuk menyelamatkannya. Tapi sangat disayangkan, yang datang dari balik pintu itu adalah bawahan dari direktur rumah sakit. Mereka membawa seorang anak kecil yang kepalanya di tutupi karung. Tangan dan kakinya diikat hingga ia tak mampu bergerak. Mereka membawanya menggunakan alat yang digunakan untuk menyajikan makanan.


"Hah? Genma? Apa itu dia? Bagaimana bisa?"


Vivi bergumam.


"Hey nona, tampaknya kau mengenali suara itu ya? Kalau kau mengira dia adalah anak kesayanganmu, maka kau benar! AHAHAHA!"


Direktur rumah sakit itu tertawa puas. Ia tampak begitu senang melihat wajah terkejut Vivi.


"Genma?! Hey! Apa yang telah kau lakukan padanya! Lepaskan!"


Vivi mendorong direktur. Mencoba mendekat ke arah Genma.


Genma yang mulutnya ditutupi lakban hanya bisa meronta ronta tanpa kata.


"Hey kau ingin kemana? Kita belum selesai. Duduklah dan diam disini, atau kau ingin menyaksikan anak tersayang mu itu kehilangan nyawa tepat di depan matamu."


Tangan Vivi digenggam kuat. Ia lalu ditarik paksa kembali ke tempat duduknya.


"Anak pintar, diam dan duduk manis saja disana, jika kau bergerak, dia akan mati."

__ADS_1


Vivi gemetar. Ia takut terjadi sesuatu terhadap Genma, namun dirinya tak bisa melakukan apapun.


"Buka."


Karung yang menutupi wajah Genma dibuka, begitu pula lakban yang menutupi mulutnya.


"Vivi!"


Genma langsung berteriak. Ia makin memberontak setelah melihat Vivi diperlakukan kasar dihadapannya.


"Uwah! Menjijikan! AHAHAHA!"


Direktur itu tertawa begitu keras. Tampaknya kulit wajah Genma yang hancur membuatnya tertawa setelah melihatnya.


"Hey nak, apa kau begini sejak lahir? Bagaimana kau bisa hidup hingga hari ini dengan wajah jelek seperti ini? Sungguh kasihannya."


Ejek sang direktur.


"Di-"


Vivi geram dan tak tahan. Ia mencoba membela Genma.


"Plak!"


Direktur rumah sakit itu menampar Genma.


"Nona manis, bukankah aku sudah bilang jangan bergerak? Kenapa kau mencoba untuk berbicara? Duh~, tanganku jadi terpeleset kan. Lihat, aku jadi tidak sengaja menamparnya."


Lagi lagi direktur itu mengambil kesempatan untuk memegang wajah Vivi. Kali ini ia memiliki maksud keji dibaliknya, tapi sang direktur menahannya, ia memiliki maksud lain yang lebih keji di dalam pikirannya.


Genma berdarah. Tamparan sang direktur begitu keras hingga membuat Genma terjatuh ke lantai. Walaupun begitu, tatapan mata Genma tertuju pada sang direktur yang terus menempel pada Vivi.


Melihat kejadian itu, Vivi tak mampu berkata apapun. Air matanya menetes, ia menyesal karena mencoba berbicara.


"Akh! Sakit sekali! Ibu tolong aku huhu! Seharusnya kau menangis dan mulai menjerit seperti itu nak. Kenapa kau diam saja? Apa kau sudah ingin mati? Oh! Atau tamparan dariku kurang keras untuk membuatmu menangis ketakutan?"


Genma tak merespon, ia terus diam sambil menatap tajam sang direktur. Matanya sama sekali tak berkedip, ia benar benar berada dalam amarah.


"Bukankah matamu terlalu tidak sopan? Jangan menatapku seperti itu, aku tidak nyaman di tatap oleh orang jelek sepertimu, itu membuatku risih. HAHAHAHA!"


Lagi lagi direktur itu tertawa terbahak bahak.


...Chapter selanjutnya ◉⁠‿⁠◉...

__ADS_1


...>>>>>...


__ADS_2