WORLD RESET!

WORLD RESET!
Kekacauan


__ADS_3

Keadaan ayah Genma yang kian memburuk pun membuat ibu Genma merasa khawatir. Pagi itu, tak seperti biasanya, ayah Genma yang sedari pagi sudah rewel memberontak memanggil manggil ibu Genma tak lagi melakukannya. Ibu Genma yang sudah terbiasa merasakan adanya sebuah kejanggalan. Tak ada suara bising yang dibuat oleh ayah Genma seperti hari hari sebelumnya.


Merasa ada yang tidak beres, ibu Genma yang tengah memasak air kemudian memutuskan untuk datang ke kamar sang suami. Alangkah sangat terkejutnya dia mendapati suaminya terbujur kaku di atas kasur dengan mata yang melotot.


Ibu Genma yang terkejut pun histeris.


"TOLONG! TOLONG! SIAPAPUN TOLONG! KUMOHON TOLONG AKU! TOLONG SUAMIKU!"


Ia berlari keluar rumah dengan tergesa gesa. Berkali kali ia hampir jatuh tersandung karena tak melihat jalan. Kakinya bahkan terluka karena tak mengenakan alas kaki. Begitu paniknya ia melihat kondisi suaminya itu.


Seluruh tetangga yang mendengar teriakan ibu Genma keluar dati rumah. Air matanya terus bercucuran dipenuhi kesedihan. Tanpa sepatah katapun, ibu Genma langsung memegang tangan tetangganya itu.


"Ya tuhan, kenapa kau sampai menangis dan menjerit se begitunya? Ada apa? Apa suamimu memperlakukanmu dengan kasar lagi?"


Tanya seorang tetangga dengan wajah penuh ibu melihat kondisi ibu Genma.


"AYO BU, AKU MOHON TOLONG AKU! SUAMI- UHUK! SUAMIKU! DIA BUTUH BANTUAN!"


Teriak ibu Genma.


Begitu mendengar suamiku butuh bantuan, para tetangga sontak langsung berpikir kembali untuk menolong ibu Genma.


Para tetangga merasa iba, namun disisi lain, mereka tak sudi dan merasa berat hati untuk menolong ayah Genma yang merupakan seorang bajingan. Mereka semua sudah mengetahui bagaimana sifat dan perlakuan kasarnya terhadap ibu Genma.


"CEPAT -UHUK! SUAMIKU! DI-DIA-"


Sambil terisak isak, ibu Genma terus berusaha meminta tolong. Namun, begitu ia melihat wajah para tetangga yang memalingkan muka tak sudi mereka, ibu Genma langsung terdiam dan termenung. Kepalanya dipenuhi pikiran tentang nasib suami yang dicintainya itu.


Tiba tiba, ibu Genma menunduk dan kemudian terus menunduk ke bawah. Ibu Genma kemudian bersujud di kaki para tetangganya itu.

__ADS_1


"SAYA MOHON! SAYA RELA MELAKUKAN APAPUN! SAYA AKAN MEMBALAS JASA KALIAN! SAYA MOHON!"


Air matanya menetes. Mengenai kaki seorang tetangga. Usaha dan tangisan ibu Genma kemudian mulai menggerakkan hati para tetangga. Mereka mulai saling menatap. Para tetangga pun setuju untuk membantu ibu Genma. Dengan perlahan, ibu Genma di bantu bangun oleh para tetangga.


"Baiklah, kami akan membantumu."


"TERIMAKASIH BANYAK!"


Air mata ibu Genma semakin deras. Mereka pun berlari dengan tergesa gesa menuju rumah Genma. Air mata ibu Genma masih terus bercucuran bahkan saat dalam perjalanan ke rumah. Ia sangat sangat khawatir dengan kondisi suaminya. Pasalnya, ia meninggalkan rumah cukup lama. Ia takut suaminya itu mengalami hal yang tak diinginkan saat ia tengah pergi ke luar rumah.


Di saat yang sama. Saat ibu Genma dan para tetangga tengah menuju rumah, Genma yang kala itu berusia 5 tahun terbangun karena tangisan dan teriakan ibu Genma pun berjalan ke luar dari kamarnya. Kaki kecilnya mengarahkannya menuju dapur.


Di dapur, ada sebuah kompor yang masih menyala. Ibu Genma yang tengah memasak air lupa mematikan kompor. Mereka tak memiliki wastafel atau meja untuk memasak. Alhasil, ibu Genma terbiasa memasak di bawah lantai. Begitu pula dengan kompornya, ia letakan di lantai.


Genma pun sampai di dapur. Ia melihat sebuah benda asing yang berwarna merah dan biru, itu adalah api dari kompor yang digunakan ibu Genma untuk memasak.


FYI : kompor itu adalah pemberian salah seorang tetangga.


Dapur ibu Genma tidak rapi dan tergolong berantakan. Hal itu disebabkan tempat yang kecil dan alat yang tidak memadai. Kala itu, botol minyak yang biasa digunakan oleh ibu Genma untuk memasak berada di lantai saat itu. Dekat dengan kompor yang sedang menyala.


Tepat sebelum kompor itu di sentuh oleh Genma, ia tersandung oleh botol minyak milik ibunya. Botol minyak yang masih terbuka itu pun tumpah dan membuat Genma terpeleset. Sialnya, Genma terpeleset ke arah kompor berisi air panas yang di rebus ibunya sebelumnya.


"Brak!"


Genma terpeleset. Panci berisi air panas tumpah bersamaan dengan botol minyak di dekatnya. Nasib malang menimpa Genma, air panas itu tumpah dan mengenai wajahnya serta tubuhnya. Sementara minyak yang tumpah itu terkena api kompor yang tengah menyala.


"Blar!"


Api mulai menjalar dan Genma yang saat itu tengah menangis menjerit kesakitan. Setelah terkena air mendidih, nasib sial menimpanya lagi. Genma kembali terkena luka bakar karena tumpahan minyak yang tersulut api. Seketika, bagian belakang rumah Genma terbakar. (aku menyebutnya bagian belakang rumah Genma karena ia dan keluarganya tak memiliki cukup ruang untuk dijadikan dapur.)

__ADS_1


Beberapa menit sebelum kebakaran bagian belakang rumah Genma.


Para tetangga dan ibu Genma yang sudah sampai di rumah Genma pun masuk. Dengan tergesa gesa, ibu Genma segera berlari menuju kamar sang suami sambil menggandeng tangan salah seorang tetangga.


"AYO CEPAT BANTU AKU! CEPAT!"


Para tetangga kemudian secara beramai-ramai menggotong tubuh kaku ayah Genma dengan hati hati. Baunya menyengat dan sangat kotor. Mau tak mau, mereka tetep menggotongnya, karena ibu Genma yang sangat sangat sudah terlihat hampir kehilangan akalnya.


Ia terlalu menyayangi suaminya sehingga ketika suaminya mengalami hal yang membuat nyawanya terancam, ibu Genma tak dapat mengontrol emosinya karena kekhawatirannya.


Wajahnya tak karuan. Ia seolah hampir kehilangan akalnya, sangat berbeda jauh dari sosok ibu Genma yang sabar dan lemah lembut. Rasanya, para tetangga belum pernah dan tidak menyangka ibu Genma akan bertingkah seperti ini karena sosok bajingan yang telah berulangkali menganiaya dan membuat hidupnya sengsara.


Tiba-tiba, dari arah dapur terdengar suara keras bersamaan dengan teriakan seorang anak kecil.


"BRAK!"


Para tetangga sontak terkejut.


"Suara apa itu? Sepertinya berasal dari belakang sana?"


Ibu Genma yang sangat sangat khawatir dengan kondisi suaminya sama sekali tidak mendengar suara tersebut. Telinganya seolah olah ditutupi oleh sesuatu, ia hanya terfokus pada satu orang, yaitu suaminya.


Setelah para tetangga yang lain menggotong keluar ayah Genma, para tetangga yang mendengar suara keras tersebut segera menuju bagian belakang rumah Genma.


Ada sebuah cahaya terang dari bagian belakang rumah Genma. Hal itu membuat para tetangga semakin penasaran.


"YA TUHAN!"


Setelah di dekati, alangkah terkejutnya mereka mendapati Genma tengah menangis sambil meringkuk kesakitan di dekat kobaran api yang mulai melahap sebagian rumah Genma.

__ADS_1


...Chapter selanjutnya ◉⁠‿⁠◉...


...>>>>>...


__ADS_2