WORLD RESET!

WORLD RESET!
Kasino


__ADS_3

Setelah sampai di rumah dengan selamat, Vivi langsung melakukan semua hal yang harus ia lakukan. Memasak sarapan untuk Genma, membersihkan rumah, mencuci baju, dan lain sebagainya. Ia melakukan semuanya sendirian karena Vivi tinggal jauh dari kedua orang tuanya.


Pekerjaan rumah Vivi pun selesai. Ia kemudian langsung berbaring di kasurnya bersama dengan Genma yang masih tertidur pulas.


"Dasar, kamu membuatku khawatir, ternyata saat aku sampai ke rumah, kau tengah tertidur pulas dengan nyamannya."


Vivi melihat wajah Genma yang tengah tertidur pulas sambil tersenyum tenang.


"Ting!"


Handphone Vivi tiba tiba berbunyi, menandakan ada pesan yang masuk. Vivi yang baru saja hendak tertidur mengecek handphonenya dengan keadaan mengantuk. Sepertinya tubuhnya masih membutuhkan sedikit waktu lagi untuk beristirahat.


"A-apa?.."


Vivi tercengang. Ia mendapati sebuah pesan di handphone nya. Pesan itu adalah sebuah pesan dari rumah sakit yang dikirim melalui email. Dalam pesan itu, terdapat sebuah surat berisi pemecatan Vivi dari rumah sakit sebagai perawat. Tak lama setelah pesan itu, sebuah pesan lainnya muncul dari nomor yang tidak dikenal.


"Bagaimana? Kau pasti terkejut karena tiba tiba dipecat dari pekerjaanmu ya? Ahahaha! Maafkan aku, habisnya kau sangat sombong kepadaku. Oh ya, setelah aku perhatikan lagi, wajah mu cukup cantik, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk memperkerjakan mu lagi jika kau bersedia menjadi salah satu simpananku. Tertarik?"


"Oh, satu hal lagi. Jika kau masih ingin bekerja di rumah sakit itu, maka pergilah ke **** pukul 9 malam ini. Kita akan bertemu disana, dan mungkin kau bisa membujukku untuk memperkerjakan mu kembali. Selamat tinggal, semoga harimu menyenangkan."


FYI : tempat yang dimaksud adalah casino yang menjadi salah satu pusat perjudian di daerah Vivi.


Vivi gemetar, ia benar benar terkejut dan dibuat syok keheranan. Pasalnya ia tidak tahu alasan mengapa ia tiba tiba dipecat. Sementara menjadi perawat rumah sakit adalah pekerjaan Vivi satu satunya yang menjadi mata pencahariannya. Pekerjaan itu juga lah yang membuat Vivi beserta orang taunya dapat terus hidup hingga saat ini. Vivi juga masih harus menanggung biaya pendidikan Genma di sekolah dasar, hal itu menambah beban pikiran Vivi.


Tiba tiba, saat Vivi tengah termenung, Genma bangun dari tidurnya. Seketika, kesedihan di wajahnya berubah menjadi senyum ceria yang dipaksakan. Di dalam hatinya, Vivi merasa takut dan bingung mengapa hal seperti ini bisa terjadi padanya. Padahal, ia telah bekerja di rumah sakit itu selama 5 tahun lebih dan tak mendapati masalah apapun sebelumnya.


"Aku harus pergi menemui orang itu."


Tanpa pikir panjang, Vivi langsung membulatkan keputusannya. Vivi akan menemui orang yang mengiriminya pesan aneh itu malam ini di tempat yang telah ditentukan. Ia tau tempat apa itu dan tahu resiko yang menunggunya ketika ia datang kesana. Tempat itu sudah sangat terkenal di daerah Vivi, tak ada orang yang tak tahu betapa tak bermoral nya tempat itu.


Waktu terus berjalan, dan jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Vivi sampai di tempat itu tepat waktu sesuai dengan perjanjian.


"Tempat ini sangat ramai. Uh! Bau alkohol dimana mana! Aku harus segera menyelesaikan masalah ini."


Vivi masuk ke kasino itu dan duduk di sebuah kursi. Ia membuka handphonenya, bermaksud untuk menghubungi orang yang menyuruhnya datang ke kasino itu.


"Tep!"


Seorang pria mabuk tiba tiba merangkul Vivi.


"HEH! KURANG AJAR!"


Vivi menghindar dari rangkulan pria mabuk itu. Ia terkejut karena diperlakukan seperti itu secara tiba tiba. Seperti yang diduga dari sebuah pusat perjudian, banyak laki laki nakal yang mencoba menggoda Vivi. Wajah Vivi yang tergolong cantik memancing para bajingan itu untuk melancarkan aksinya.

__ADS_1


"Hey ayolah, kenapa reaksimu aneh begitu? Santai saja nona, kau berada di tempat ini pasti juga mencari hiburan kan?"


Pria mabuk itu melontarkan kata kata yang sangat tidak sopan pada Vivi. Sepertinya ia benar benar dalam pengaruh alkohol.


"Lepaskan!"


Vivi menepis tangan pria mabuk itu dan dengan cepat melarikan diri. Orang orang di sekitar Vivi melihat ke arah Vivi, tampaknya ia telah menarik perhatian orang orang disana.


"Hey nona, tenanglah. Hehehe, apa ini pertama kalinya kau kemari? Jangan khawatir, aku akan me-"


"BUGH!"


Seseorang memukul pria mabuk yang tengah berbicara itu.


"HEY! BERANINYA KAU-"


Orang mabuk itu terdiam, ia tak berkutik, kepalanya menunduk. Nyalinya ciut bersamaan dengan perginya sekelompok orang yang perhatiannya tertuju pada Vivi sebelumnya. Tampaknya, yang berdiri dihadapan orang mabuk itu bukanlah sembarangan orang.


"Selamat malam nona."


Senyum terukir di wajah pria itu. Ia menyapa Vivi yang saat itu masih terkejut. Mata mereka bertemu, Vivi langsung menyadari siapa pria yang berdiri di hadapannya itu.


"Di-direktur?"


Sang direktur mendekat. Tangannya perlahan meraih wajah Vivi. Dagunya di pegang dengan lembut dan perlahan. Tubuh Vivi membeku tak bergerak, ia ketakutan.


"A-apa yang lakukan! Hentikan atau aku akan lapor polisi!"


Vivi berteriak.


"Ya sudahlah, ayo ikut aku."


Mereka memasuki kasino. Vivi dibawa menuju ke sebuah ruangan. Sepertinya itu adalah ruangan VIP di kasino itu.


"Terimakasih, tolong tinggalkan kami."


Ucap sang direktur pada para bawahannya.


"Nona, Vivi? Benar? Apa kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?"


Tanya sang direktur sambil menenggak segelas anggur.


Vivi hanya diam mendengar pertanyaan sang direktur. Kemudian ia menggelengkan kepalanya perlahan, matanya tak berani menatap sang direktur.

__ADS_1


Mendengar hal itu, sang direktur berdiri sambil membawa segelas anggur yang tengah ia nikmati sedari tadi. kemudian berjalan mendekat ke arah Vivi. Ia berhenti tepat di hadapan Vivi.


"Hey."


Ekspresi direktur berubah drastis. Senyuman santai di wajahnya menghilang, wajahnya serius, ia tengah menahan amarahnya.


"Kau serius tak tahu penyebab kau di panggil kemari? Hah?! Lihat wajahku! tatap aku! Apa kau mengenal siapa aku?!"


Vivi ketakutan, jantungnya berdebar, ia benar benar merasa ngeri. Wajah sang direktur begitu dekat, suara sang direktur terdengar begitu jelas di telinga Vivi, ia semakin dan semakin ketakutan.


"Ti-tidak.. "


Vivi menundukkan pandangannya, ia benar benar tak berani menatap kedepan.


"Baiklah, biar aku perkenalkan diriku sekali lagi dengan cara yang akan membuatmu terus mengingatku bahkan sampai akhir hayat mu. Hahahahahaha!"


"Tep."


Pipi Vivi di usap dengan perlahan oleh direktur rumah sakit itu.


"Hih!"


Vivi yang ketakutan semakin ketakutan karena hal tersebut.


"Haha.. Wajah menawan mu ini memang sudah tak perlu di ragukan lagi. Kulit yang mulus, bulu mata yang lentik, sungguh wanita yang cantik. Namun, sayang sekali, keelokan wajahmu itu menjadi sia-sia karena sifat sombong dan angkuh mu. Mengecewakan!"


Ia mengangkat segelas anggur di tangannya. Lalu mendekatkannya ke wajah Vivi sambil terus berbicara.


"Hey, apa kau tau apa yang sedang aku minum ini? Ini adalah minuman terbaik di dunia! Kau akan merasa seperti di surga setelah meminumnya walau hanya sekali tenggak."


Bau alkohol menusuk hidung Vivi.


"Ugh!"


Vivi membuang wajah, mencoba menghindari bau alkohol yang di sodorkan padanya.


"Menurutmu, hal menarik apa yang akan terjadi jika kau meminumnya Vivi?"


Lagi lagi senyuman menyeramkannya keluar. Kali ini, Vivi benar benar ketakutan setengah mati memikirkan apa yang akan terjadi pada nasibnya.


...Chapter selanjutnya ◉⁠‿⁠◉...


...>>>>>...

__ADS_1


__ADS_2