
Genma dijalani hari hari nya dengan normal seperti anak pada umunya. Pandangan aneh tetang wajahnya kini sudah bukan menjadi mimpi buruk lagi bagi Genma. Ketakutannya akan tatapan aneh orang orang mengenai wajahnya, rasa percaya diri Genma yang menurun sudah tidak ada lagi. Semua perasaan negatif itu sudah hilang dan tak akan pernah kembali lagi. Genma kini sudah tak perlu memikirkan pemikiran orang lain terhadapnya.
Begitu pikirnya, sampai suatu ketika Genma menemui takdir yang merubah seluruh persepsinya tentang dunia.
Hari itu, cuaca berubah secara tiba-tiba. Awan hitam memenuhi langit, membuat sinar matahari tak dapat masuk, gerimis air hujan mulai berjatuhan. Membasahi kota kecil itu dengan perlahan. Angin badai dengan lancang menyapa, mereka datang secara tiba-tiba, tampaknya hujan badai akan segera melanda. Tak ada yang mengira badai akan tiba, sebuah badai dahsyat yang mengerikan.
"Hari ini sangat menyeramkan. Semoga kakak baik baik saja dan pulang ke rumah dengan selamat."
Tepat pukul 5 sore, Genma melihat gelapnya dunia luar lewat kaca jendela. Ia menutup semua gorden di rumahnya, mengunci pintu dan jendela. Ia merasa takut terhadap badai mengerikan itu, perasaannya tidak enak.
Vivi masih berada di tempat kerjanya. Mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum ia selesaikan. Seharusnya ia pulang sebentar lagi, tepatnya pukul 6 sore. Hanya tinggal satu jam sebelum kepulangan Vivi.
Genma merasa takut, oleh karena itu ia pergi ke kamar untuk tidur lebih awal. Setelah beberapa menit mencoba untuk tidur, ia gagal. Pikirannya dipenuhi awan mendung yang mengerikan itu, bagaimana keadaan Vivi di luar sana, kapan kakaknya itu akan pulang. Pikiran itu berputar putar di kepala Genma, membuatnya semakin sulit untuk terlelap.
Ia pun memutuskan untuk menonton tv. Sambil berbaring, Genma memutar berbagai saluran tv. Ia masih terus mencari, tak ada satupun acara tv yang menarik menurutnya. Ditengah tengah rasa bosannya, Genma tiba-tiba menemukan saluran yang menarik perhatiannya.
"Hujan lebat dan angin kencang tiba-tiba terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Hal tersebut diutarakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dan mengingatkan warga untuk selalu waspada."
"BMKG juga memperkirakan bahwa Hujan lebat dan angin kencang itu berpotensi menimbulkan badai. Badai tersebut dikatakan dapat berlangsung selama beberapa hari kedepan."
Genma tercengang. Ia menjadi benar benar khawatir dengan kondisi kakaknya. Di luar sana, badai mulai melanda, dan hantaman air hujan juga sudah berjatuhan. Membuat suara bising yang semakin lama semakin keras. Rasanya, suara hantaman air hujan itu bak ratusan batu yang di lempar ke atap genteng tempat tinggal Genma.
Genma membungkus dirinya dnegan selimut sambil memeluk guling kesayangannya di atas kasur. Ia berusaha mengurangi rasa takutnya, namun tidak dengan rasa khawatirnya. Dalam lamunan pikiran yang memenuhi kepalanya, Genma pun terlelap.
__ADS_1
Di tempat lain, tepatnya tempat Vivi bekerja, Vivi terlihat tengah disibukkan oleh tugas yang bertubi tubi. Hawa dan suasana mencekam membuat beberapa pasien merasa ketakutan dan khawatir. Mereka berulang kali memanggil perawat rumah sakit untuk diminta menemani mereka dalam ruangannya masing masing.
Tak sedikit pasien yang histeris ketakutan, memaksa para perawat harus berkali kali menenangkan pasien yang tentu saja tak sedikit jumlahnya. Berbagai reaksi yang unik di tunjukan oleh pasien, para perawat semakin kebingungan dan kerepotan. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk Vivi dan teman temannya.
Di tengah kesibukannya, Vivi juga merasakan hal yang sama dengan Genma. Ia khawatir akan keadaan Genma yang ditinggal sendirian di tengah badai menyeramkan ini.
"Ya tuhan, mengapa cuaca hari ini sangat buruk? Genma sendirian, aku khawatir ia merasa takut, semoga ia baik baik saja dan badai ini cepat berlalu. Aku harap semuanya baik baik saja."
Waktu berlalu dengan cepat. Jam sudah menunjukan pukul 12 malam, badai masih belum juga berakhir. Vivi benar benar khawatir dengan keadaan Genma. Ia ingin segara menyelesaikan seluruh pekerjaannya dan pulang ke rumah untuk melihat keadaan adik angkatnya itu.
Badai terus menerpa daerah tempat tinggal Genma. Tak terasa pagi hari telah tiba, badai dahsyat itu sudah sedikit mereda. Setelah melewati malam yang melelahkan itu, Vivi terbangun dari tidurnya. Seluruh perawat dan dokter rumah sakit itu bermalam di rumah sakit, mereka juga tak dapat pulang karena badai.
Vivi membuka matanya. Ia terbangun dari tidurnya.
"Uh.. Tubuhku kaku, kepalaku terasa sakit, sepertinya aku salah bantal."
"!"
Vivi terkejut. Matanya terbelalak setelah melihat jam di handphone nya.
"HAH?! SUNGGUH?! SEKARANG SUDAH JAM 9 PAGI?! YA TUHAN!"
Vivi kesiangan, ia panik dan langsung buru buru untuk bersiap. Bukan bersiap untuk bekerja, tapi untuk pulang ke rumah. Ia benar benat mengkhawatirkan Genma, lebih dari pekerjaannya.
__ADS_1
"Ya tuhan, Genma sendirian di rumah semalaman penuh! Dia pasti belum makan dari kemarin! Genma pasti kelaparan! Tunggu kakak, Genma! Kakak akan segera pulang!"
Ia sama sekali tak terpikirkan tentang pekerjaannya. Ia bahkan lupa bahwa ia sedang berada di tempat kerjanya. Vivi sangat terburu buru, ia bahkan belum mencuci wajahnya. Beberapa rekan kerjanya menyapa Vivi, namun ia seolah tak mendengar sapaan temannya itu.
Bahkan saat senior Vivi menyapanya (seorang direktur muda di rumah sakit itu), Vivi tak menghiraukannya. Padahal orang yang menyapa Vivi tersebut adalah seorang direktur rumah sakit, orang yang sangat dihormati dan dipandang sebagai orang dengan kedudukan tertinggi di rumah sakit itu. Vivi melewatinya begitu saja tanpa reaksi apapun, membuat harga diri sang direktur terluka.
"?"
Direktur rumah sakit itu terkejut. Ia belum pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya.
"Apa apaan itu? Reaksi macam apa itu? Tunggu, apa dia bahkan sadar aku ada di depan wajahnya? Huh, angkuh sekali, belum pernah ada orang yang memperlakukan aku seperti ini. Aku adalah seorang direktur lho! Seorang dokter senior bahkan hormat kepadaku! Dan wanita itu yang merupakan seorang perawat berani memperlakukan aku seperti ini? Aku? Yang merupakan seorang direktur?! Menarik!"
Direktur muda itu menggerutu di dalam hatinya.
Reaksi Vivi yang dingin dan terkesan sombong membuat sang direktur tertarik. Sepertinya tanpa sadar, Vivi telah membuat suatu masalah yang cukup serius bagi sang direktur.
…
Vivi kembali ke rumah. Mendapati Genma yang masih terlelap dalam tidurnya dengan nyenyak. Hal itu membuat Hati Vivi kembali tenang. tiba-tiba handphone Vivi berbunyi. Vivi membuka handphone nya. Sesaat setelah itu, Vivi tiba-tiba tercengang tak percaya.
"Apa.. "
Tangannya gemetar, ia syok dengan apa yang dilihatnya di handphone miliknya.
__ADS_1
...Chapter selanjutnya ◉‿◉...
...>>>>>...