
"Brak!"
Ibu Genma mendobrak pintu ruangan tempat Genma dirawat. Tak butuh waktu lama, pintu ruangan itu pun terbuka.
FYI : alasan mengapa ibu Genma memilih untuk mendobrak pintu ruangan rumah sakit dan tidak membuka dengan cara biasa adalah karena emosinya yang tak menentu dan meluap luap. Yang ada dipikirannya adalah bunuh, bunuh, dan bunuh saja.
"Ha.. Ha... HaHAHA-"
Ia masuk dengan tawa yang keras. Tangannya sudah bersiap untuk menusuk siapapun yang dilihatnya. Namun, tiba tiba langkahnya terhenti.
"G-Genma?..."
Ibu Genma terkejut. Ia baru mengingat bahwa ia memiliki seorang anak yang ia tinggal sendirian di rumah. Ia terdiam sejenak, mencoba memproses semua yang ada di depan matanya. Ia tak tahu mengapa anaknya bisa berada di rumah sakit dengan kondisi tubuh yang mengenaskan.
Sesaat, ia memandangi wajah Genma yang tengah tertidur. Ia melihat sekujur tubuh Genma yang dipenuhi luka bakar. Ia lalu mulai tersadar. Ibu Genma mulai tenang dan mampu mengendalikan emosinya. Tanpa ia sadari, benda benda tajam yang ia genggam telah jatuh ke lantai.
Tiba tiba, saat tengah melamun karena memikirkan alasan Genma berada di rumah sakit, ia mengingat alasannya berada di rumah sakit juga. Emosinya meluap kembali. Pikirannya yang tenang terganggu dan kembali memanas. Lagi dan lagi, ibu Genma kalut oleh emosinya.
"Siapa? Siapa yang melakukan hal keji seperti ini? SIAPA?! BELUM PUAS KALIAN MEMBUNUH SUAMIKU?! KALIAN INGIN MEMBUAT PUTRAKU MENYUSULNYA?! HAH?!"
__ADS_1
Suara ibu Genma menggema di lorong rumah sakit itu dan hampir membangunkan Genma yang tengah tertidur.
"Maafkan ibu ya nak. Tunggu sebentar disini oke? Ibu pasti akan segera kembali. Tentu saja setelah membunuh semua bajingan bajingan itu."
Dengan nada lembut dan wajah yang tersenyum. Ibu Genma membelai putranya itu dengan penuh kasih sayang. Seperti hubungan ibu dan anak pada umumnya, ibu Genma menyayangi Genma dengan ketulusan hatinya. Sampai sampai mampu membuat emosi ibu Genma menjadi kembali normal, walau hanya beberapa saat; kemudian mengamuk lagi.
Ibu Genma berjalan mendekat ke salah satu lemari di ruangan itu dan mengambil sebilah pisau buah yang ada di atas meja pasien. Ia kemudian mencium kening putranya sambil meneteskan air mata sebelum akhirnya melangkah keluar untuk mencari target selanjutnya.
Ibu Genma melanjutkan aksinya. Ia terus menyusuri lorong rumah sakit, mencari dan terus mencari korban. Ia berjalan dengan tatapan yang kosong, namun pikirannya sangat ruwet. Banyak kata dan hal yang melintas dipikirannya, seperti seseorang yang kerasukan. Ia berjalan dengan pelan, tubuhnya terombang ambing tak kuasa menahan rasa putus asa karena kehilangan sosok yang menjadi harapannya itu.
"DDAAARRR!"
"Bruk!"
Ibu Genma ambruk. Tampaknya ibu Genma telah kehabisan tenaga, adrenalinnya lah yang membuat ibu Genma mampu berjalan dan mengamuk serta berulang ulang kali berteriak membabi buta. Ia tergeletak di lantai lorong rumah sakit dengan tatapan mata yang masih saja kosong. Sepertinya pikirannya sudah benar benar kacau di luar kendalinya.
Para polisi langsung mendekat dan mengamankan ibu Genma. Mereka memborgol lalu membawanya menuju kantor polisi setelah mengoperasi peluru di kaki kirinya. Ibu Genma kemudian menjalani rehabilitasi dan perawatan di rumah sakit jiwa sebelum akhirnya dibawa menuju persidangan beberapa minggu setelah insiden pembunuhan berantai di rumah sakit itu.
Dalam persidangan itu, ibu Genma pun mengakui seluruh kesalahannya. Ia mengakuinya tanpa mencari satupun pembelaan. Namun, saat persidangan itu hendak di akhiri, ibu Genma meminta satu permintaan. Ia meminta agar putranya dapat dirawat oleh seseorang yang menyayanginya. Ia berharap ada seseorang yang mau menjaga dan membesarkan anak satu satunya itu, karena sekarang Genma menjadi seorang anak yang hidup sebatang kara, tanpa ayah ataupun ibu yang mendampinginya.
__ADS_1
Keputusan hakim pun di keluarkan. Ibu Genma divonis 13 tahun penjara dengan alasan membunuh 7 orang, di antaranya adalah 2 orang perawat, 1 dokter, dan 4 orang tetangganya. Ia juga menyebabkan kerugian yang cukup besar karena rumahnya yang terbakar menjalar sampai ke rumah tetangganya. Masa hukuman ibu Genma seharusnya adalah 20 tahun. Namun, hakim menguranginya karena menurut laporan dari rumah sakit jiwa, ibu Genma melakukan aksinya itu dalam keadaan mental yang tidak stabil alias Gila.
Beberapa bulan setelah persidangan, Genma pun keluar dari rumah sakit. Ia sudah kembali sehat walau kulitnya tak bisa lagi menjadi normal. Luka bakar yang parah menyebabkan beberapa bagian tubuh Genma tampak aneh dan menyeramkan bagi sebagian orang, khusus nya wajah Genma.
Setelah keluar dari rumah sakit, Genma pun tak lagi memiliki tempat tinggal. Para tetangga yang membiayai biaya rumah sakitnya tak mau lagi merawat Genma. Hal itu disebabkan karena ibu Genma telah membunuh beberapa orang anggota keluarga dari tetangga Genma. Mereka mulai menanamkan rasa benci dan ketidaksukaan terhadap Genma. Hal itu disebabkan wajah Genma yang mirip dengan ibunya, orang yang membunuh keluarga mereka. Hal itu mengingatkan mereka kepada insiden rumah sakit saat ibu Genma mengamuk.
Pihak rumah sakit juga tak mau menampungnya, karena alasan yang sama. Namun, ada salah satu perawat yang merasa iba dan kasihan kepada Genma yang bernasib malang saat usianya bahkan belum genap 6 tahun. Walaupun teman baiknya mati dibunuh oleh ibu Genma, namun perawat itu tak membenci Genma, ia malah ingin merawat dan membesarkan Genma yang memiliki banyak kekurangan fisik serta latar belakang yang sangat kelam.
Setelah melewati proses yang cukup panjang untuk memindahkan hak asuh Genma pada sang perawat, kini Genma pun resmi menjadi anak angkat sang perawat. Nama perawat itu adalah Vivi Buuce, seorang perawat muda yang masih berusia 19 tahun.
Walau dengan segala keterbatasannya, Vivi mau dan bersedia merawat Genma di usia Vivi yang masih tergolong sangat muda.
Kurang lebih selama 4 tahun, Vivi membesarkan Genma seperti adiknya sendiri. Walaupun ia mengangkat Genma sebagai anak, namun hubungan mereka malah tampak seperti adik dan kakak. Keduanya saling menyayangi seperti halnya adik dan kakak sungguhan. Kini usia Genma sudah menginjak 9 tahun, dan usia Vivi sudah 23 tahun. Keduanya sudah sangat dekat dan saling mempercayai satu sama lain; mereka telah benar benar menjadi sebuah keluarga.
Genma yang pada awalnya berencana untuk tidak di sekolahkan oleh ibunya karena keterbatasan ekonomi pun kini sudah berada di bangku kelas 3 sekolah dasar. Vivi bahkan membiayai biaya sekolah Genma. Setiap pagi sebelum berangkat ke tempat kerja, Vivi selalu mengantar Genma pergi ke sekolah, sungguh Vivi adalah seorang malaikat tanpa sayap bagi Genma. Permintaan ibu Genma sebelum masuk ke penjara kini telah terkabul, Genma hidup normal seperti anak anak pada umumnya.
...Chapter selanjutnya ◉‿◉...
...>>>>>...
__ADS_1