WORLD RESET!

WORLD RESET!
Spesial


__ADS_3

Setelah bersama sama selama 4 tahun. Hubungan Genma dan Vivi semakin dekat, mereka sudah saling menumbuhkan rasa percaya satu sama lain. Genma menganggap Vivi seperti ibu dan kakak perempuannya sendiri, sementara Vivi menganggap Genma sebagai anak dan adik laki lakinya sendiri. Mereka telah benar benar menjadi sebuah keluarga yang saling menyayangi.


Sebelum Vivi hendak berangkat menuju rumah sakit tempat ia bekerja, Vivi selalu mengantar Genma pergi ke sekolah terlebih dahulu. Setiap pagi, Vivi selalu bangun untuk membuatkan Genma sarapan, serta menyiapkan semua kebutuhan Genma sebelum ia berangkat ke sekolah. Buku, tas, pensil, dan biaya sekolah Genma ditanggung oleh Vivi.


Orang tua Vivi juga menerima Genma sebagai anggota keluarga. Mereka merasa iba dan kasihan terhadap Genma yang bernasib malang. Mereka menyambut Genma dan menganggapnya sebagai salah satu anak mereka, walau hubungan Genma dan Vivi adalah orang tua dan anak angkat. Genma juga kerap mengunjungi Kakek dan nenek angkatnya selama liburan musim panas.


Semuanya baik baik saja selama 4 tahun itu. Apakah benar benar baik baik saja? Tentu tidak.


Dibalik kebahagiaan dan keceriaan Genma di rumah dan di sekitar tempat tinggalnya, ia menyimpan sebuah rasa sakit untuk dirinya sendiri. Tempat ia bersekolah, ternyata bukanlah tempat yang benar benar baik dan indah seutuhnya seperti apa yang dibayangkan oleh Vivi. Di sekolah, ia adalah seorang pecundang yang sangat sering mengalami bulian.


Karena fisiknya yang berbeda, Genma mengalami berbagai macam tindakan kurang mengenakkan. Diantaranya adalah berulang kali dilemparkan pertanyaan pertanyaan yang menyindir, dijauhi oleh teman temannya, tak diperhatikan oleh guru, sering kali di kucilkan, dimaki dan dicaci, bahkan dirundung di depan gurunya sendiri.


Tak jarang Genma menerima beberapa bekas luka dan lebam di tubuhnya. Tak jarang juga ia menangis karena menahan rasa sedih di dalam hatinya. Tak ada satupun orang di sekolah Genma yang merasa kasihan atau mengerti keadaan Genma.


Pernah suatu hari Genma berkelahi oleh salah satu murid yang mengejek kekurangan fisik Genma. Mereka berkelahi hingga murid yang mengejek Genma kabur dan mengadu ke guru. Akhirnya Vivi dipanggil ke sekolah karena sang guru mengira Genma merundung teman sekelasnya.


Genma sudah sering pulang ke rumah dengan pakaian yang berantakan dan lebam di wajahnya karena dirundung, namun Vivi mengira ia berkelahi dengan teman sekelasnya lagi dan lagi. Vivi tidak marah, ia memberi tahu Genma dengan perlahan dan lembut, Vivi berusaha menjadi penengah agar Genma tak lagi berkelahi.


Yang Vivi tau, Genma hanya sering berkelahi dengan teman di sekolahnya, bukan dirundung. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Perundungan itu dimulai sejak Genma kelas 1 sd, dan berlanjut sampai sekarang, saat Genma sudah duduk di bangku kelas 3 sd. Dan semakin parah dari tahun ke tahun.


Suatu hari saat perjalanan pulang dari sekolahnya setelah dilaporkan merundung teman sekelasnya, tiba tiba Genma bertanya kepada Vivi.


"Kak, apakah aku jelek?"


Vivi terkejut. Karena tiba tiba Genma menanyakan hal yang belum pernah ia tanyakan sebelumnya.

__ADS_1


"Tidak Genma, kamu tidaklah jelek. Kamu sangat tampan, kamu adalah orang paling tampan di dunia."


Jawab Vivi sambil tersenyum lebar.


"Bohong. Kakak berbohong."


Genma termenung. Ia sama sekali tak terhibur dengan kata kata Vivi.


"Tidak, kakak mengatakan yang sebenarnya kok, untuk apa kakak berbohong."


Vivi tersenyum lagi. Mencoba menghibur Genma.


"Tapi teman sekelas ku mengatakan bahwa wajahku menyeramkan. Menakutkan. Buruk rupa.. "


Genma sangat sedih. Ia merasa sangat tidak percaya diri.


Vivi terkejut. Ia bingung harus berkata apa.


"Mereka mengatakan padaku bahwa aku seperti monster. Mereka bahkan berkata bahwa aku bukanlah manusia. Wajahku aneh."


Genma mulai meneteskan air mata.


"Mereka bilang aku jelek, mereka bilang aku seperti iblis. Mereka bilang bahwa aku berbeda. Apakah aku seburuk itu?"


Hati Genma hancur, ia tak mampu membendung air matanya yang semakin deras mengucur.

__ADS_1


Vivi terdiam, ia membatu. Ia tak menyangka Genma dilempari kata kata yang sangat menyakitkan. Ia bahkan baru berusia 9 tahun, namun mentalnya hancur karena teman teman sekelasnya. Hati Vivi ikut merasakan sakit, ia merasakan kesedihan yang dirasakan Genma.


Genma menangis. Semakin dan semakin deras. Mereka terhenti di sebuah trotoar di tengah padatnya kota di sore hari.


"Genma."


Suara yang lembut. Kesedihan menyelimuti kata kata Vivi.


"Kau tidaklah buruk rupa, kau tidaklah jelek, kau bukanlah iblis ataupun monster, kau juga tidak mengerikan, kau hanya spesial. Kamu memiliki sesuatu yang tidak teman temanmu miliki."


Kata kata Vivi masuk ke dalam hati Genma. Menyalakan kembali api semangat yang hampir padam di dalam hati Genma.


Nada penuh kesedihan. Vivi memeluk Genma dengan penuh kasih sayang. Genma semakin menangis menjadi jadi. Vivi juga tak kuasa menahan tangisnya. Mereka benar benar tenggelam dalam kesedihan Genma. Selama beberapa saat, mereka seperti garam yang larut dalam air, perasaan mereka menyatu dan bercampur.


Di hari itu, suara tangis Genma dan Vivi ikut mengisi ramainya jalanan kota bersamaan dengan terbenamnya mentari.


Setelah hari itu, Genma dan Vivi menjalani hari hari seperti biasanya. Vivi berangkat ke tempat kerjanya setelah mengantar Genma, dan Genma berangkat ke sekolah. Hari hari yang Genma jalani sama sekali tak berubah, ia masih dirundung dan dijauhi oleh teman temannya, namun, ia tak lagi meneteskan air mata karena merasa tidak percaya diri dengan kondisi fisiknya. Kata kata Vivi hari itu mengubah pemikiran Genma, kata kata Vivi yang singkat itu tertanam jauh di dalam hati Genma dan selalu menjadi cahaya penerang disaat ia merasa gelap karena kesedihan.


Setiap teman temannya melontarkan kata kata tak mengenakkan, Genma hanya membalasnya dengan sepatah atau dua patah kata, yaitu, "Aku tidaklah jelek! Aku tidak buruk rupa! Wajahku tidak menyeramkan! Aku juga bukanlah anak iblis ataupun monster! Aku spesial!" sambil tersenyum lebar.


Mental Genma kembali membaik dari hari ke hari. Ia mulai jarang dirundung dan mulai didekati oleh teman temannya. Hari hari Genma yang dipenuhi rasa sedih dan pikiran tentang seburuk apa dirinya kini telah berubah 360°.


FYI : jika kalian perhatikan kembali, dalam cover novel ini wajah Genma hanya aku ambil dari sisi samping saja. Hal itu disebabkan wajahnya yang rusak karena luka bakar yang ada di sisi lain wajahnya aku sengaja sembunyikan. Alasanya? tidak ada, itu hanya sebuah ide yang aku bahkan tidak tahu alasannya . Hehe (⁠。⁠•̀⁠ᴗ⁠-⁠)⁠✧


...chapter selanjutnya ◉⁠‿⁠◉...

__ADS_1


...>>>>>...


__ADS_2