[[Love To Life]]

[[Love To Life]]
Prolog


__ADS_3

Perempuan yang tidak pernah memiliki beban apapun di hidupnya, selalu bebas menyeimbangi irama semesta. Gelak tawa dan senyumannya yang ceria selalu terpahat sempurna di wajahnya.


Gadis pemilik nama Valenzi itu membuka matanya, dan melihat cahaya yang perlahan berpendar melalui jendela kamarnya. Sang mentari pagi sudah menyapa, waktunya ia bersiap untuk menyapa semesta.


"Zizi! Bangun!" Gadis yang enggan menyibak selimut tebalnya hanya mengerang kecil, sebagai tanda bahwa ia sudah bangun.


"Hari ini, pengumuman kelulusan kamu, 'kan?" tanya wanita paruh baya yang sudah terlebih dahulu memasuki kamar putrinya, dan menyibak selimut tebal yang membungkus tubuh manusia di dalamnya.


"Zizi udah bangun, Ma," keluhnya.


"Cepat mandi!" perintah Diana-mama Valenzi.


Valenzi, gadis pemilik paras dan tubuh sempurna, kehidupan yang sempurna, dan kebebasan yang sempurna. Semua terasa sempurna bagi gadis ini. Tidak ada penghalang apapun di hidupnya. Hidup dalam kebebasan, itulah sosok Valenzi. Orang tuanya dengan senang hati memberikan kebebasan itu. Apapun mereka berikan kepada putri semata wayang mereka. Valenzi adalah hidup mereka.


"Hai, hai!" sapanya dari ambang pintu kelasnya.


Sapaan itu sontak membuat tiga gadis yang duduk bergerombol menoleh serempak ke arah pintu kelas. Tersenyum menyambut kedatangan Valenzi.


"Berasa ratu ya, Zi," kata salah satu temannya-Karina.


"Ck. Telat dikit, elah," elaknya.


Kedua temannya yang lain hanya menggeleng melihat Valenzi dan Karina yang tengah adu mulut-Putri dan Nadia.


Karina, Putri, dan Nadia, adalah sahabat Valenzi. Tiga gadis yang sama cantiknya seperti Valenzi sudah berada di samping valenzi sejak kelas 10. Keempat gadis yang selalu bersama sejak mereka bertemu. Saling bertukar cerita, suka dan duka bersama.


"Cabut mading sekarang, skuy!" ajak Valenzi. Ketiga sahabatnya mengangguk.


Hari ini pengumuman kelulusan bagi kelas 12. Hari menegangkan yang ditunggu-tunggu oleh siswa-siswi kelas 12.


"Zi! Tungguin napa. Mentang-mentang sendirinya tinggi," kesal Nadia.


"Makannya cepet tinggi," jawab Valenzi yang sedikit menyeruak, dan mendongak melihat mading. Sedikit memicingkan matanya, mencari namanya dengan teliti.


Putri, Karina, dan Nadia turut menyeruak ke samping Zizi. Ikut mencari namanya di mading.


"Yup! Kita lulus!!" Seru Nadia.


Mereka berempat saling memandang, sepersekian detik selanjutnya mereka tertawa.


Di sepanjang koridor mereka berbicara tanpa henti, dan mulai membahas apa yang akan mereka lakukan setelah ini.


"Eh, eh! Kalian mau kuliah di mana?" tanya Putri.


"Ah, Karina pasti di UI deh. Dia kan, pengen banget masuk situ, nilainya juga cukup," timpal Valenzi. Yang ditanggapi anggukan mantap oleh Karina.


"Kalau, lo?"

__ADS_1


Nadia meringis. "Gue kayaknya lanjut di LA, deh."


"HAH?!" seru mereka bertiga kompak.


...🍁...


"Lo harus jelasin! Kok lo mau kuliah jauh enggak ngasih tau kita jauh-jauh hari, sih?" kesal Putri.


Selaku teman satu bangkunya selama 3 tahun bertutut-turut. Nadia tidak pernah bercerita, ataupun bilang jika dia akan melanjutkan sekolahnya di luar negeri.


"Gue udah lama pengin di sana, dan orang tua gue juga setuju. Gue juga mau bilang ke kalian, tapi nunggu waktu yang tepat aja."


"Dan lo kira saat ini waktu yang tepat?" tanya Putri. Nadia hanya mengangguk lesu.


"Maafin gue, gue gak bakal lupa sama kalian, gue gak bakalan lupa dan gak bakalan bisa lupa," ucap Nadia mantap.


"Sepik lo. Baru masuk kuliah di sana juga pasti lo bakal lupa sama kita-kita," ucap Putri. Dia masih tidak bisa menerima jika mereka akan berpisah. Setelah 3 tahun mereka bersama-sama.


"Put .... Biarin lah, itu juga keinginan dia, masa iya lo mau nyegah," kata Karina, sembari memegang pundak Putri.


"Pilihan lo udah paling terbaik, Nad. Gue harap lo bisa pegang omongan lo," ucap Valenzi, seraya memegang kedua pundak Nadia.


Hening beberapa saat, sampai Putri menarik Nadia ke dalam pelukannya.


"Gue marah, gue kesel sama lo. Kenapa lo pergi jauh dari kita? Kenapa lo gak bilang dari awal? Kenapa lo harus pisah sama kita? Gue marah sama lo. Gue temen lo, sahabat lo. Teman satu bangku lo. Tega lo enggak ngasih tau gue!" ucap Putri di sela-sela isakannya.


Valenzi dan Karina saling memandang sebelum mereka menarik diri untuk ikut bergabung bersama Putri dan Nadia.


Jadilah mereka berempat saling menumpahkan kerinduan mereka. Saling berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain.


"Eh, Zi. Lo mau lanjut di mana?" tanya Karina.


Valenzi menggeleng dan tersenyum. "Gue .... enggak tau."


"Zizi mah, tinggal bilang juga langsung dikasih sama bokapnya," kekeh Putri.


"Lo abis mewek jadi tambah rese ya Put," ucap Valenzi.


"Lo .... bawa mobil sendiri, Zi?" tanya Nadia.


"Iya, biasanya bokap lo yang jemput," lanjut Putri.


Valenzi mengangguk. "Akhir-akhir ini bokap sering sibuk. Pulang kantor larut, di rumah juga masih kerja. Jadi gue disuruh bawa mobil sendiri deh," jelasnya.


Mereka bertiga hanya mengangguk mengerti.


"Ada yang mau ikut?" tawar Valenzi.

__ADS_1


"Nggak, Zi. Bentar lagi gue dijemput, kok," ujar Putri.


"Gue juga."


"Gue sama."


Valenzi mengangguk dan melambaikan tangannya kepada mereka bertiga.


"Ma ...."


"Udah pulang, Zi?" Valenzi hanya mengangguk, dan menghampiri Diana yang tidak biasanya berada di dapur.


"Tumben, Ma?"


Diana mengangguk. "Mama bosen, jadi bantuin bibi masak."


Valenzi mengangguk-angguk mengerti. Dia pamit ke kamar, berganti pakaian dan kembali turun untuk menikmati masakan mamanya.


"Papa belum pulang, Ma?"


Diana menggeleng. Sepersekian detik selanjutnya, ponsel miliknya berdering.


"Halo, Pa."


"...."


"Begitu ya, Pa."


"...."


"Enggak papa, Pa. Papa jangan sampai telat makan, Pa."


"...."


"Iya, Pa."


Diana menghembuskan nafasnya. Matanya menangkan sosok gadis di depannya yang menatap dirinya dengan tatapan tidak mengerti.


"Papa hari ini menginap di kantor. Ada sesuatu yang gawat," ucap Diana. Setelah mengucapkan hal tersebut, dia meninggalkan putrinya di dapur dengan raut wajah masih tidak mengerti.


"Perusahaan papa gawat?" gumamnya.


...🍁...


...Salam,...


...Ika & Anggitya...

__ADS_1


__ADS_2