[[Love To Life]]

[[Love To Life]]
LTL Part 4


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Valenzi sudah berada di dapur, menyiapkan segala makanan yang akan dia hidangkan sebagai sarapan untuk keluarganya.


Hari ini adalah hari kepindahan Raka dan Valenzi di rumah baru mereka. Rumah baru mereka tidak terlalu jauh dari rumah kedua orang tua Raka. Bagas sengaja mempersembahkan kepada kedua anaknya, sebagai hadiah pernikahan mereka.


"Kamu bangun pagi sekali, Nak."


Valenzi menoleh dan tersenyum. Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Mama memang tidak salah pilih menantu," ucap Riri, sembari menoel pipi Valenzi gemas.


"Wah, menantu Papa rajin sekali."


Valenzi lagi-lagi menoleh dan tersenyum. Kedua orang tua Raka tidak seburuk yang dia pikirkan beberapa hari lalu. Bahkan kedekatan mereka bertiga sudah seperti anak dan orang tua kandung. Sangat dekat.


"Suamimu mana, Nak?" tanya Bagas.


Baru saja Valenzi akan membuka mulut, matanya melihat pria jangkung tengah meniti anak tangga.


Valenzi tersenyum dan menunjuk Raka yang tengah mendekat.


"Kamu harus bangga, punya istri seperti Valenzi, Raka." Bagas merangkul Raka yang tak berekspresi, dan hanya merespon dengan gumaman.


Valenzi menundukkan kepalanya. Bagas dan Riri saling tatap, menyadari perubahan sikap Valenzi.


"Ah ..., masakannya sudah jadi, Zi?" tanya Riri.


Valenzi mengangguk pelan dan tersenyum. "Hampir, Ma."


Valenzi baru saja selesai membuat teh untuk suaminya. Semenjak pernikahan mereka, Raka terus disibukkan dengan pekerjaannya. Suaminya ini sudah diberi kepercayaan oleh Bagas untuk mengelola salah satu perusahaannya. Alih-alih membantu putranya agar bisa menghidupi keluarga kecilnya.


Baru saja dia hendak mengetuk pintu kayu bercat putih, tiba-tiba dia mendengarkan sesuatu.


"Raka ..., perbaiki sikap kamu, jangan seperti itu kepada istrimu. Bersikap ramah lah kepadanya. Jangan buat dia larut dengan hal itu."


"Raka gak bisa, Pa."


"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Dan semuanya akan baik-baik saja."


Valenzi tidak sengaja mendengar pembicaraan Bagas dengan Raka. Jantungnya berdegup kencang, dia kali ini ragu untuk mengetuk pintu di depannya.


Namun, setelah dia rasa tidak ada pembicaraan lagi, dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruang kerja suaminya.


Bagas dan Raka yang ada di dalam, menoleh ke arah pintu.


Valenzi menyembulkan kepalanya. Setelah mendapatkan senyuman dari Bagas sebagai respon, Valenzi seutuhnya berada di dalam ruangan bersama Bagas dan Raka.


"Aku hanya membawa satu teh tawar, apa Papa mau? Biar Zizi buatkan," tawarnya.


Bagas menggeleng. "Tidak usah, Nak. Papa akan pergi setelah ini."


Valenzi mengangguk, dan berjalan menghampiri meja Raka. Menaruh secangkir teh di atas meja kerjanya.


Valenzi melirik Raka yang tengah sibuk dengan berkas-berkas pentingnya. Raka tidak sedikitpun menoleh ke arah Valenzi. Padahal Valenzi sudah terang-terangan menatapnya.


Valenzi tersenyum. Dan pergi setelah mengucapkan satu-dua kata kepada Bagas dan Raka. Meskipun tetap saja tidak ada tanggapan apapun dari suaminya.


Hati Valenzi sesak. Dia berlari ke kamarnya, dan terduduk di tepi kasur. Valenzi mencengkeram kuat seprei di tepi kasur. Meluapkan emosinya, dan menahan desakan dari air matanya yang sudah berada di pelupuk matanya.


Valenzi menarik napas panjang, dan membuangnya kasar. Padahal pernikahan mereka baru berjalan 2 hari. Jika karena sikap Raka, Valenzi akan lemah. Bagaimana dengan kehidupan selanjutnya?


Valenzi mengusap air mata yang mengalir di sudut matanya.


Gue udah janji sama Papa. Gue gak boleh lemah. Batinnya.


"Kan mau pindahan," gumamnya.


Valenzi segera beranjak dan menghampiri lemari pakaiannya dengan Raka. Dia menaruh semuanya ke dalam koper.


Setidaknya dengan menyibukkan dirinya, Valenzi bisa melupakan hal yang telah Raka perbuat.


Valenzi bisa sejenak melupakan sikap Raka yang tidak ramah terhadapnya.


Valenzi menoleh saat dia tengah berusaha menutup resleting koper besarnya. Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, menampakkan sosok pria dengan tatapan datar yang mengarah kepada Valenzi.


Tanpa berbicara apapun, Raka menghampiri Valenzi.


Valenzi yang tidak tahu harus berbuat apa, terus mencoba menarik resleting, meski sia-sia, karena sudah lima menit dia hanya berkutat pada resleting yang macet.


Jantung Valenzi semakin berdegup, saat melihat Raka semakin mendekat ke arahnya, dan berlutut di sampingnya.

__ADS_1


Dengan satu tarikan, resleting koper sudah tertutup sempurna. Raka segera bangkit dan meninggalkan Valenzi yang masih mematung di tempatnya.


Valenzi yang masih terpaku dan menatap koper, masih tidak percaya. Dia merasa sudah mengeluarkan seluruh tenaganya hanya untuk menutup resleting koper yang macet, tapi tetap saja tidak mau tertutup.


Tapi saat Raka menutupnya, itu terlihat sangat mudah, hanya dengan satu tarikan saja.


Valenzi segera bangkit, dan menyibukkan dirinya dengan hal lain.


Raka yang terlihat santai merapikan berkas-berkas pentingnya ke dalam satu tempat, terlihat berbeda dengan Valenzi yang terlihat gugup.


Valenzi merapikan barang-barangnya dan juga Raka dengan terburu-buru. Padahal mereka masih memiliki banyak waktu untuk bersiap.


Gue kenapa, sih? Batinnya.


Valenzi terus mencuri pandang terhadap Raka yang sama sekali tidak meliriknya.


Valenzi tersenyum kecut, dan kembali mengemasi barang-barang mereka berdua.


Apa mama sama papa dulu kayak gini, ya? Batinnya.


Kali ini dadanya kembali terasa sesak. Ada sesuatu yang memaksanya untuk mengeluarkan air mata di depan suaminya.


Tapi Valenzi tetap menahan mati-matian desakan air mata yang memaksa Valenzi untuk mengeluarkannya.


Valenzi pergi dari kamarnya. Dirinya ada bersama suaminya, bersama pelindungnya. Tapi kenapa dirinya tidak bisa merasa aman, dan nyaman di sisi suaminya sendiri?


Valenzi menggeleng kuat. Dia tidak boleh menyerah. Dia masih ingat janjinya akan terus berada di sisi suaminya apapun yang terjadi.


"Sayang ..., kamu sedang apa di sini?" tanya Riri.


Valenzi yang berdiri di depan pintu kamarnya itu terkejut melihat Riri tiba-tiba ada di depannya.


"E ..., mau ke dapur, Ma," ringisnya.


Riri mengangguk, dan menepuk pundak Valenzi pelan.


Valenzi menatap kepergian Riri. Dia menghembuskan napas lega, dan berjalan meniti tangga menuju dapur.


Dia memang ingin pergi ke dapur. Meski tidak tahu alasannya apa.


"Eh, Non. Ada yang perlu Bibi bantu?"


Bi Asih membalas senyuman Valenzi. "Jika perlu sesuatu, Bibi ada di gudang ya, Non."


"Gudang? Ngapain, Bi?"


"Oh, nyonya tadi menyuruh Bibi segera membuang barang-barang yang sudah rusak, Non."


Valenzi mengangguk. "Aku boleh ikut, Bi?"


Bi Asih terlihat seperti menimang sesuatu.


"Boleh 'kan, Bi?" tanya Valenzi sekali lagi.


Bi Asih mengangguk. Dan mempersilakan Valenzi untuk mengikutinya.


Keputusan yang tepat, daripada harus kembali ke kamar dan bertemu suaminya yang mengesalkan itu.


Valenzi melihat pintu kayu dengan cat berwarna putih di depannya.


"Non mau tunggu di sini aja, atau ikut Bibi ke dalam?"


"Ikut aja deh, Bi. Siapa tau ada yang bisa aku bantu."


Bi Asih mengangguk. Dan membuka pintu gudang.


Yang terlihat kali ini hanya ruangan yang terlihat remang karena menerima cahaya dari luar pintu.


Bi Asih menyalakan saklar lampu yang tertempel di dinding dekat pintu. Membuat ruangan yang disebut gudang ini, terlihat hingga sudut-sudut ruangan.


Bi Asih beranjak dari sisi Valenzi, dan mulai memilah barang-barang yang sudah rusak.


Valenzi yang tidak tahan hanya dengan melihat bi Asih bekerja sendirian. Akhirnya dia ikut turun tangan membantu bi Asih.


Tangannya lihai memeriksa setiap barang yang dia ambil. Apakah rusak, atau tidak.


Tak jarang pula, bi Asih melontarkan lelucon yang membuat Valenzi tertawa.


"Non, bibi teh punya tebakan. Kalo Non Zizi punya donat 6, terus dimakan 3 jadi?"

__ADS_1


"Jadi ..., tinggal 3 dong, Bi."


"Salah, Non. Jadi kenyang."


Valenzi langsung tertawa, begitu juga bi Asih.


"Bibi cocok nih jadi pelawak."


"Ah, Non bisa aja."


Valenzi terkekeh. Tangannya masih sibuk meraih barang-barang yang kini sudah berkurang lumayan banyak.


Hingga tidak sengaja tangannya meraih selembar kertas foto yang tertutup debu.


Valenzi mengusap debu yang menempel di atas kertas foto tersebut.


Valenzi mengernyit. Dia melirik bi Asih yang masih sibuk memilah barang-barang sambil bersenandung.


Valenzi menaruh kertas foto yang ia genggam ke dalam kantong celananya. Dan kembali membantu bi Asih menyelesaikan pekerjaannya.


...🍁...


"Kamu, hati-hati ya, Nak."


Riri memeluk Valenzi dengan erat.


"Raka. Kamu jagain istri kamu, ya," ujar Riri.


Raka hanya bergumam. Lalu Bagas menariknya ke dalam pelukannya. "Jagain Valenzi. Jangan sampai dia terluka."


Raka mengangguk pelan.


"Ma, Pa. Kita pergi," pamit Raka. Valenzi tersenyum ke arah Bagas dan Riri.


Meskipun air mata terus mengalir di kedua pipi Riri, dia tetap tersenyum, dan melepaskan kepergian kedua anaknya.


"Bi ..., Zizi pergi, ya," pamit Valenzi. Bi Asih yang juga menangis menyaksikan kepergian Valenzi dan Raka mengangguk.


Valenzi tersenyum dan menyeka sudut matanya setiap kali ada air mata yang memaksa untuk keluar.


Valenzi sudah masuk ke dalam mobil, dan menunggu Raka selesai memasukkan semua barang-barang mereka.


"Jagain Zizi. Jangan sampai dia terluka," tegas Riri kepada Raka. Dan memeluknya sekali lagi.


Di dalam mobil, tidak ada pembicaraan yang tercipta diantara Raka dan Valenzi. Raka yang memutuskan untuk terus fokus menyetir tanpa bertanya sesuatu kepada Valenzi. Dan Valenzi yang memutuskan untuk tetap fokus menatap jalanan, meski otaknya entah pergi kemana.


Perjalanan mereka terasa amat melelahkan. Selain jarak rumah yang Bagas bilang tidak jauh, tapi tetap terasa jauh bagi Valenzi, dan kenyataan bahwa mereka tidak merasa rileks sama sekali di dalam mobil.


Raka dan Valenzi membawa barang bawaan mereka ke dalam rumah baru mereka berdua.


Sebelumnya, Bagas sudah memberitahu Raka dan Valenzi agar menyuruh orang agar menemani mereka seperti bi Asih. Namun, Valenzi menolak. Dia akan melayani suaminya dengan tangan dan usahanya sendiri.


Namun, Bagas tetap memaksa Valenzi dan Raka, agar di rumah baru mereka ada yang membantu Valenzi.


Akhirnya, setelah berfikir, Valenzi memberikan jalan tengah. Dia berkata, hanya jika Raka pulang larut, atau jika dia ada tugas ke luar kota, baru dia akan membutuhkan seseorang untuk menemaninya di rumah. Dan Bagas menyetujuinya.


Valenzi segera bergegas ke kamarnya setelah melihat Raka berjalan menuju ruang kerjanya.


Valenzi berniat untuk berendam sore ini. Sekedar memberikan kenyamanan dan rileksasi untuk tubuhnya yang lelah.


...🍁...


Valenzi sudah selesai menghidangkan makan malam. Namun, sejak kedatangan mereka sore tadi, Raka belum keluar dari ruang kerjanya.


Valenzi membuatkan secangkir kopi pahit untuk Raka, dan membawanya ke ruang kerja Raka.


Valenzi mengetuk pintu kayu dengan cat berwarna cokelat mengkilat di depannya dengan lembut. Lalu membuka pintunya secara perlahan.


Baru saja tiba di ruangan, dirinya sudah disuguhkan dengan tubuh suaminya yang terbaring lelah di sofa.


Valenzi meletakkan kopi di meja dekat sofa, dan keluar menuju kamarnya.


Dia mengambil selimut tebal, dan menyelimuti suaminya hingga sebatas leher.


Valenzi tersenyum, sebelum akhirnya keluar dari ruang kerja Raka, dan menyantap makan malamnya sendirian.


...🍁...


...salam, ...

__ADS_1


...Ika & Anggitya...


__ADS_2