[[Love To Life]]

[[Love To Life]]
LTL Part 10


__ADS_3

Di dalam ruangan yang terbalut cat berwarna pastel, Valenzi masih menatap heran kotak yang sedari tadi dia pegang.


"Obat penenang?" gumamnya. Sembari mengambil botol obat yang berisi banyak kapsul. "Tapi buat apa?" lanjutnya.


Valenzi menggelengkan kepalanya dengan cepat, mengesampingkan opini-opini yang membuat kepalanya pusing.


Valenzi bergegas mengambil gagang telepon di atas meja nakas.


"Halo, Ma. Ada apa?"


"Kamu di rumah, Zi?"


"Iya, Ma."


"Kesini ya, Zi."


"Iya, Ma. Zizi kesana sekarang."


"Hati-hati, Sayang."


"Iya, Ma."


Valenzi kembali meletakkan gagang telepon ke tempat semula. Riri menelpon Valenzi, hal itu membuat Valenzi segera bersiap dan pergi ke rumah orang tua Raka.


Sebelum dia melangkah keluar rumah, dirinya sudah menyempatkan untuk memesan taksi online.


Valenzi mengunci pintu, dan menunggu taksi pesanannya di depan gerbang.


Otaknya tiba-tiba mengajaknya untuk kembali memikirkan tentang foto yang tiba-tiba hilang, dan obat penenang. Valenzi bekerja keras merangkai semua yang ada di otaknya.


"Apa jangan-jangan, Raka--"


"Mbak Valenzi, ya?"


Valenzi sedikit terkejut. Namun, sepersekian detik selanjutnya mengangguk, dan menempatkan dirinya di kursi penumpang.


Valenzi mengetuk pintu rumah perlahan. Tidak lama menunggu, sosok wanita paruh baya sudah muncul di hadapannya.


"Masuk dulu, Zi," tawar Riri. Dengan cepat, Valenzi mengangguk dan mengikuti langkah Riri yang menuju ruang tamu.


"Ada apa, Ma?"


"Gak ada apa-apa, sih."


"Tumben nyuruh Zizi ke sini."


"Emang nyuruh anak buat kerumah orang tuanya salah ya, Zi?" Riri mengerucutkan bibirnya. Yang membuat Valenzi terkekeh.


"Hehe. Gak gitu si, Ma."


"Mama kesepian, makanya nyuruh kamu ke sini buat nemenin Mama. Mama kangen tau, pengen ngobrol-ngobrol gitu sama kamu," jelas Riri.


Valenzi mengangguk. "Emang Papa kemana, Ma?"


"Los Angeles," jawab Riri singkat.


Valenzi hanya ber 'oh' sebagai responnya.


"Mama udah masak?" tanya Valenzi.


"Udah, kok. Tadi dibantu sama bi Asih."


"Eh, gimana, Zi?" tanya Riri dengan nada menggoda.


Valenzi yang tidak mengerti yang dimaksud oleh Riri hanya bisa mengerutkan dahinya. "Apanya, Ma?"


Riri berdecak, lalu setelahnya terkekeh. "Mama udah mau gendong cucu apa belum?"


Pertanyaan Riri membuat Valenzi terdiam untuk beberapa saat. Di satu sisi, pipinya merona. Di sisi lain, hatinya patah. Bagaimana bisa Valenzi tengah mengandung, jika menyentuhnya saja Raka sangat enggan.


Valenzi menggeleng lemah, sembari tersenyum kecut ke arah Riri.


Riri yang tahu akan perubahan garis wajah Valenzi berusaha menenangkan. "Udahlah, Zi. Kalo waktunya udah tepat, pasti dikasih."


Valenzi tersenyum, kali ini senyumnya sedikit lebih bernyawa daripada senyumnya beberapa saat lalu.


"Halo, Tasya bawakan saya dokumen perbendaharaan."


Raka kembali meletakkan gagang telepon ada tempatnya. Matanya terus tertuju pada monitor komputer di depannya. Bahkan, secangkir teh yang sedari tadi ada di mejanya, belum sempat dia sentuh sama sekali.

__ADS_1


Terdengar ketukan kecil pada pintu ruangan kerja Raka. Setelah pintu terbuka, menampilkan tubuh ramping, dan kaki jenjang milik seorang perempuan. Dengan rambut sepunggung berwarna pirang yang dia gerai.


Lipstik merah senada dengan blouse yang dia pakai hari ini.


"Ini, Pak."


"Terimakasih. Tolong bacakan jadwal saya hari ini."


"Baik, Pak. Pukul 10 ada meeting dengan dewan perbendaharaan, makan siang bersama client di restoran Chilli. Dan menghadiri peresmian perpustakaan kota. Itu saja, Pak."


"Terimakasih. Silahkan kembali."


"Baik, Pak."


Senyum Tasya seolah tidak pernah memudar. Sepanjang perjalanannya menuju meja kerjanya, dia terus tersenyum.


"Tinggal atur jadwal buat pak Raka," gumamnya. Tasya memberi peregangan untuk sendi-sendinya.


Raka mengecek berkas dari dewan perbendaharaan. Setelahnya, dia menghembuskan napas panjang, sembari membanting punggungnya di sandaran kursi putar miliknya.


Raka memberi bantalan kepalanya menggunakan kedua tangannya. "Apa gue udah kelewatan, ya?" gumamnya.


Raka terdiam, dan menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Otaknya seperti tidak pernah istrahat. Pagi, siang, malam, otaknya terus bekerja. Kantornya, dirinya, dan mimpi buruknya. Semuanya terus menjadi beban di dirinya, juga pikirannya.


Raka meraih sebuah kartu nama yang dia sembunyikan di dalam lacinya.


dr. Mita Utami.


"Gue harus ke sana."


Raka mengambil gagang teleponnya.


"Halo, ada apa, Pak?"


"Apa saya ada jadwal untuk besok?"


"Ada, Pak."


"Lusa?"


"Tidak ada, Pak."


"Baik. Terimakasih."


Raka berharap, keputusannya kali ini benar. Dia harus mengakhiri semuanya.


Di sisi lain Valenzi tengah berjalan-jalan di kamar Raka yang dulu. Suasana di ruangan ini amat menenangkan. Tidak aneh, jika dulu Raka begitu tenang, kata Riri.


Di temani Riri yang duduk di tepi kasur milik Raka dulu, Valenzi sibuk melihat-lihat koleksi Raka di dalam etalase kacanya. Dan lagi, Raka juga suka membaca buku. Valenzi mengembangkan senyumnya, dan melangkahkan kakinya ke arah perpustakaan kecil di kamar Raka. Di sini bukunya tertata sangat rapi.


"Raka dari dulu suka banget baca, apalagi buku-buku fiksi."


"Iya, Ma?" tanya Valenzi dengan tatapan antusiasnya. Riri mengangguk dan turut tersenyum melihat menantunya.


Valenzi masih asik membaca buku-buku koleksi Raka, sebelum ekor matanya menangkap sesuatu di meja nakas di dekat tempat tidur.


Valenzi meletakkan bukunya kembali ke tempat semula, dan berjalan menuju sesuatu yang dia lihat tadi, kemudian mengambil dan menggenggamnya.


"Itu Raka waktu kecil. Lucu, ya?" kekeh Riri.


Valenzi tersenyum tipis sambil terus memandangi wajah seorang anak laki-laki yang tersenyum dengan memamerkan deretan giginya yang rapi.


Riri mendekati Valenzi yang masih berdiri di tepi kasur. "Itu ..., waktu usia Raka 9 tahun. Dia anak yang pintar. Dia juga anak yang ceria, dan sopan." Mulanya, Riri mengatakan hal tentang Raka dengan wajah bersemangat. Namun, saat bagian kalimat terkahir yang dia ucapkan, Riri menurunkan garis wajahnya.


Valenzi tahu akan perubahan raut wajah Riri. "Oh ya, Ma?"


Riri mengangguk. "Kamu mau liat ruangan rahasia Raka?"


Valenzi mengangguk dengan antusias.


"Sini, Nak." Riri mengajak Valenzi agar mendekat ke arahnya. Kemudian menyibak sedikit selimut tebal yang menutupi sisi kasur.


Riri menarik sisi kasur. Valenzi membulatkan kedua matanya. Dia kira, sisi kasurnya tidak bisa ditarik. Tapi, lihatlah. Ada sebuah tombol berwarna merah yang dilindungi dengan kotak kaca.


Riri menyingkirkan kotak kaca tersebut, dan memencet tombolnya. Lantai yang mereka pijak sedikit bergetar, lalu tidak lama setelah itu, lantai kamar Raka terbuka dengan bentuk lingkaran. Dengan diameter kurang lebih 3 meter. Kecil, jika dibandingkan dengan luas kamar Raka.


Valenzi terperangah, bahkan mulutnya terbuka cukup lama. Setelah melihat anak tangga berbahan dasar kayu di bawahnya.


"Ayo, Zi," ajak Riri.

__ADS_1


Valenzi meneguk salivanya, dan mengekori Riri.


Di sini, Valenzi sampai menutup mulutnya. "Di atas hanya sebagian dari koleksi Raka," ucap Riri. Dia terkekeh melihat Valenzi yang masih melihat dengan tatapan tidak percaya.


"Ruangan ini, masih nyambung sama ruang tengah, Ma?" Riri mengangguk.


"Bahkan, tangga itu, sebelahan sama kamar mandi di ruang tengah."


"Terus kalo Raka ke sini pas ada yang di kamar mandi. Orang itu tau?"


Riri kembali terkekeh. "Ya gak, dong. Raka mendesain ruangannya itu kedap suara. Suara sebesar apapun gak bakalan kedengeran dari luar.


Valenzi manggut-manggut. Kali ini dirinya mulai mengerti dengan semua hal yang menurutnya aneh.


Valenzi menemukan banyak koleksi peraga tata surya. Banyak juga buku-buku yang membahas tentang rasi bintang, peredaran bumi, dan masih banyak lagi.


"Raka biasanya di sini kalo dia lagi sedih. Dia mencoba buat memecahkan banyak teori, dan apapun yang berhubungan dengan tata surya."


"Raka suka sama benda-benda langit, ya, Ma?" Riri mengangguk.


"Tapi, kerjanya di kantor."


"Awalnya sih, permintaan Papanya, buat nerusin perusahaan keluarga. Tapi, lama-lama dia sendiri yang minta."


Valenzi tersenyum, begitupun Riri.


Riri pergi menjauh dari Valenzi yang sibuk dengan alat peraga milik Raka.


Tidak lama, Riri kembali mendekat ke arah Valenzi sambil membawa dua bean bag berukuran sedang, dan menaruhnya berhadapan.


"Sini, Zi. Duduk," ajaknya.


Valenzi mengangguk, dan mendekat. "Pantesan Raka betah banget di sini. Tempatnya nyaman banget," ucap Riri.


Valenzi pun mengangguk, tempat ini memang terasa sangat nyaman dan menenangkan. "Emangnya kenapa, Ma?"


"Belum lama setelah Papanya memberikan ruangan ini sebagai hadiah ulang tahun yang ke 9, Raka bermain di sini seharian. Mama sama Papa sampai pusing mencari Raka ke seluruh penjuru ruangan. Tapi tidak ketemu."


"Tapi kan, ruangan ini? Bukannya Papa ngasih ruangan ini ke Raka, Ma? Kok gak langsung dicari di sini?"


"Itu dia. Raka mindahin tombol buat buka pintu ruangan ini. Kita berdua sampe capek nyari. Pas Mama sama Papa mau nyerah buat nyari tombol itu, gak sengaja Mama liat sisi kasur Raka sedikit kebuka. Terus Mama tarik sekalian. Di situ, Papa sama Mama ketawa. Kenapa gak dari tadi ngecek sisi kasurnya Raka."


Valenzi ikut larut dalam pembicaraan Riri. Dia ikut tertawa geli membayangkan Raka kecil yang jail itu.


"Terus, Ma."


"Dugaan kami bener, dong. Raka ada di bawah, dan dia tidur di bean bag ini, kaya kepompong."


Valenzi dan Riri tertawa. Ruangan yang sudah lama menyimpan sesak itu kembali bernapas lega dengan adanya tawa di dalamnya.


"Ma ..., Zizi pamit, ya? Makasih udah diajak keliling kamar Raka, hehe."


Riri menggenggam kedua tangan Valenzi. "Harusnya Mama yang bilang makasih udah mau nemenin Mama hari ini."


Valenzi tersenyum dan memeluk Riri sebentar. "Kalo gitu, Zizi pamit, Ma."


"Beneran gak mau dianter supir?" Valenzi menggeleng.


"Hati-hati, Zi!"


Valenzi mengacungkan jempol kanannya. Lalu melambaikan tangannya ke arah Riri.


"Semoga Raka gak kasar sama kamu, Zi," gumam Riri disertai senyum kecutnya.


Valenzi sudah menyiapkan makan malam sekarang. Baru saja dia menarik kursi, pintu rumahnya terbuka.


Valenzi mengurungkan niatnya untuk duduk dan menikmati makan malamnya sendirian. Dia menghampiri Raka yang tengah melonggarkan dasinya. Dan menerima jas serta tas yang diberikan oleh Raka.


Tanpa ada sedikitpun ekspresi yang Valenzi ubah. Valenzi menyiapkan makan malam untuknya juga suaminya dengan hati yang di penuhi bunga yang bermekaran.


"Selimutnya aku bawa ke kamar, ya," ucap Valenzi setelah memberikan secangkir teh untuk Raka.


Raka hanya bergumam tanpa membalas sepatah katapun.


Rasanya seperti lelah Valenzi selama ini terbayarkan oleh hari ini. Meski tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Raka. Hari ini, hati Raka sedikit melunak.


Seperti tanpa dia ketahui, tidak ada kebahagiaan yang abadi.


...🍁...

__ADS_1


...salam, ...


...Ika & Anggitya...


__ADS_2