[[Love To Life]]

[[Love To Life]]
LTL Part 6


__ADS_3

Valenzi menggeliat pelan, setelah dirinya hampir tak bisa tidur hingga pagi hari.


Dia meraba ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas. Mengetuk layarnya sebanyak dua kali.


Valenzi segera bangun, dan berjalan perlahan menuju kamar mandi, sembari mengumpulkan kesadarannya.


Valenzi berjalan santai meniti anak tangga, dan bersiap memasak di dapur.


Melihat mba Marni yang sudah sibuk di dapur, membuatnya sadar, jika kemarin malam Raka tidak pulang ke rumah.


Valenzi mengurungkan niatnya untuk menghampiri mba Marni. Dia berjalan cepat menuju pintu dengan warna coklat yang mengkilat.


Tanpa mengetuk, Valenzi langsung masuk begitu saja. Pandangannya beredar ke seluruh penjuru ruangan.


Tanpa sengaja ekor matanya menangkap sesuatu di atas sofa.


Dia mendekat. Begitu dia tahu, seulas senyum terukir di wajahnya. Bukan, suaminya kemarin malam pulang ke rumah. Dia rasa, Raka tidak semarah itu kepadanya.


Valenzi berbalik, dan memutuskan untuk pergi ke dapur menyusul mba Marni.


"Jangan pergi ...."


Valenzi menghentikan langkahnya. Tubuhnya masih membelakangi suaminya yang tadi masih terlihat tidur dengan sangat nyenyak.


Jantungnya berpacu dua kali lipat. Dengan susah payah juga, Valenzi meneguk ludahnya.


"Jangan pergi, aku mohon ...."


Degup jantungnya semakin tidak karuan.


"A-aku tidak akan pergi ...," jawabnya.


"Tidak ..., tidak ..., jangan!!!"


Valenzi dengan cepat menoleh ke arah suaminya.


Matanya membelak, dan segera bergerak mengambil segelas air di atas meja kerja suaminya.


"Ini," ucapnya.


Keringat membanjiri tubuh Raka. Deru napasnya pun sampai terdengar tidak beraturan. Matanya menatap awas sekitarnya.


Valenzi yang turut panik, tidak tahu harus berbuat apa.


"A-apa kamu baik-baik saja?" tanya Valenzi.


Raka menatapnya sekilas, lalu mengangguk singkat.


Dengan susah payah Raka mengendalikan napasnya yang masih terasa memburu, juga degup jantungnya yang masih berpacu sangat cepat.


Valenzi menatap suaminya nanar. Ingin sekali dia memeluknya, agar suaminya merasa lebih tenang. Namun, dengan cepat ia menepis keinginan itu. Dia masih mengingat kejadian kemarin malam. Saat dia tak sengaja memeluk Raka.


Daripada hatinya semakin sakit, Valenzi beranjak dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Jika kamu sudah membaik, a-aku akan ke dapur," ucap Valenzi.


Tanpa menunggu tanggapan dari Raka, Valenzi sudah berbalik dan pergi ke dapur. Kakinya berjalan meniti anak tangga, namun otaknya entah pergi kemana. Sejak keluar dari ruang kerja Raka, Valenzi lebih sering melamun.


Sebenarnya apa yang terjadi pada suaminya? Apa setiap malam dia juga mengigau seperti itu? Dan dia tidak tahu. Selama ini, semalam pun tidak pernah Raka tidur bersama Valenzi. Hanya dalam satu ruangan, namun tempat yang berbeda. Valenzi di kasur, dan Raka di sofa. Atau jika tidak, Raka akan tidur di ruangan kerjanya. Sungguh kehidupan rumah tangga yang menyedihkan.


Namun, apa karena hal semua itu Valenzi akan menyerah? Tentu tidak. Dia akan selalu mengingat janjinya kepada Reno, juga janji yang dia buat untuk dirinya sendiri.


"Eh, Non Zizi. Ada apa, Non?" tanya mba Marni.


Valenzi menggeleng. "Kalau Non Zizi tidak sedang enak badan, lebih baik Non istirahat saja. Biar Mba yang masak."


Valenzi tetap menggeleng. "Aku gak apa, Mba."

__ADS_1


"Mba ...."


"Iya, Non?"


"Mba, kerja di rumah papa Bagas, udah lama, Mba?"


Mba Marni mengangguk tanpa ragu sama sekali. "Mba sudah bekerja di sana sejak den Raka masih SD. Tapi, lebih lama bi Asih sih, Non. Memangnya ada apa?"


"E ..., anu, Mba- eh gak jadi, hehe."


Valenzi mendengar langkah kaki Raka yang tengah meniti anak tangga. Karena itu, pembicaraannya dengan mba Marni, dia urungkan.


Raka sudah turun dengan pakaian rapinya. Dan wajah yang sama, tanpa ekspresi, ataupun senyum untuk mantap istrinya di pagi hari.


Valenzi kali ini sudah cukup lihai menangani hatinya. Dia sudah tidak mempedulikan tentang Raka yang akan tersenyum kepadanya atau pun tidak. Hatinya juga sudah mulai membatu karena Raka, suaminya.


Kehidupan mereka berjalan tanpa ada sapaan ataupun pembicaraan hangat layaknya pasangan suami istri.


Valenzi mengambilkan makanan untuk sarapan suaminya dengan tulus.


Valenzi selalu melakukan segala hal untuk Raka dengan tulus, namun tetap saja, ketulusannya tidak pernah terlihat di mata Raka.


Valenzi tersenyum getir setelah menaruh piring di depan Raka. Tanpa berbicara ataupun melihat Valenzi, Raka menyantap sarapannya dalam diam.


Meskipun Raka tidak menyuruh istrinya untuk mengantarnya, namun Valenzi tetap bersikukuh mengantar suaminya ke depan pintu rumah.


"Setidaknya, izinkan aku untuk mengantar kamu ke depan pintu rumah. Bantu aku agar jadi istri yang baik buat kamu," ucapnya.


Dan Raka yang tidak pernah mau memperpanjang masalah dengan siapapun, hanya mengangguk dan berlalu dari hadapan Valenzi yang sudah meluruh di lantai dengan isak tangisnya.


Valenzi menatap kepergian mobil Santa Fe berwarna hitam keluar dari halaman rumah.


Dia menghembuskan napas dengan amat berat. Rasanya semakin hari, hatinya semakin terasa hambar. Valenzi tidak tahu apa yang harus ia rasakan. Entah sedih, atau biasa saja.


"Non ..., maaf kalo saya lancang. Tapi Non, saya cuma mau ngasih tau Non Zizi. Semua yang terjadi, pasti punya alasan tersendiri, Non. Saya tau, saya bukan siapa-siapanya Non Zizi ataupun den Raka. Tapi saya pengen banget ngasih tau Non Zizi hal itu, Non."


Valenzi tersenyum getir, desakan air mata kali ini dia biarkan jatuh. Dia berbalik dan mendekat ke arah mba Marni.


Valenzi menangis hingga tergugu dan isakannya terdengar patah-patah. Dia akhirnya bisa meluapkan rasa sesaknya selama ini.


"Nangis aja sepuas Non Zizi. Dan janji sama diri Non Zizi, kalo besok dan seterusnya, Non Zizi bakal bahagia dan gak nangis lagi," ucap mba Marni, sembari mengusap rambut Valenzi.


"Nothing is impossible, Non."


Ucapan mba Marni mengundang kekehan dari Valenzi. "Mba Marni hype ya, ternyata."


"Pasti, Non. Gini-gini saya mainnya sama anak-anak hits, Non," ucap mba Marni dengan bangganya.


Hal itu justru membuat Valenzi tertawa. "Sudah, sudah, Mba. Ah, aku jadi ketawa, nih. Kan lagi sedih, Mba."


"Jangan lama-lama atuh sedihnya, Non. Kasian matanya nanti gede. Eh, udah ya, Non. Mba mau pulang dulu, kalo ada apa-apa telfon Mba, ya, Non."


Valenzi mengangguk. "Makasih ya, Mba."


...🍁...


Kali ini, Valenzi sudah ada di kamarnya, setelah membereskan beberapa ruangan.


Dia menatap lekat pantulan dirinya di depan cermin. "Heh, lo. Valenzi gak boleh cengeng. Nothing is impossible." ucapnya bermonolog. Dan kata terakhir membuatnya terkekeh, dia ingat betapa yakinnya mba Marni mengucapkan kalimat itu.


Ponselnya tiba-tiba berdering. Valenzi menghampirinya dan melihat nomor yang tertera di ponsel. Nomor tidak dikenal menelponnya. Dengan ragu Valenzi mengusap tombol berwarna hijau.


"Halo ...."


"Halo, Zi. Ini gue, Nadia."


"Ada apa, Nad?"

__ADS_1


"Lo bohongin kita semua, 'kan?"


" ...."


Valenzi membeku. Apa Nadia tahu kalau dia sudah menikah? Dan, apa dia juga tahu jika dia beralibi pergi berlibur, untuk merahasiakan ini semua?


"Gue anggep diem lo sebagai jawaban, Zi. Tega lo bohongin kita-kita. Apa susahnya sih, tinggal bilang kalo lo nikah? Kita gak akan manfaatin lo, Zi. Lo lupa, lo dulu pernah ngasih tau gue sama Putri kalo apapun yang terjadi, kita-kita yang harus tau pertama kali. Lo lupa, Zi?! Pas gue tau lo bohongin kita bertiga, hati gue sakit, Zi. Gue nangis, gue ngerasa kalo lo udah ngekhianatin kita, Zi. Gue ngerasa kalo lo sendiri yang ngejauhin kita. Well. Kalo itu mau lo, persahabatan kita berempat cukup sampe di sini!"


"Stop, Nad! Lo gak boleh ngambil keputusan sepihak lo kayak gitu! Fine! Maafin gue, gue gak maksud buat gak ngasih tau ke kalian. Gue bingung, Nad. Pernikahan ini sama sekali gak pernah sedikitpun terlintas di otak gue. Gue gak tau harus gimana, gue gak mau buat kalian jadi ikut campur urusan gue. Gitu aja."


"Lo nyuruh gue buat gak ngambil keputusan sepihak, tapi lo sendiri ..., lo sendiri ngambil keputusan sepihak, Zi! Lo udah bohongin kita! Dan di antara persahabatan kita, kebohongan adalah hal paling dijauhin, Zi! Lo tau sendiri, karena lo yang ngomong kaya gitu ke kita! Soal perjodohan, lo. Kita siap bantu apapun semampu kita. Lo lupa kita ini SAHABAT?! Udah gue tekankan berulang kali. Masalah lo masalah kita juga, Zi! Gue ngehargain karena ini masalah pribadi lo, privasi lo. Tapi gak gini juga caranya, Zi!"


Valenzi tidak tahu harus berbuat apa lagi. Apa yang Nadia katakan semuanya benar. Dia tidak seharusnya membohongi sahabat-sahabatnya selama ini. Yang dia lakukan hanya menangis dan kembali meluruh di atas lantai.


Hatinya semakin sakit, bahkan lebih terasa sakit di bandingkan dengan sikap Raka kepadanya selama ini. Sahabatnya tidak akan semarah ini jika dia tidak salah. Valenzi mengakui kesalahannya.


"Ma-maafin, gue."


Valenzi menangis tergugu. Dia memeluk ponselnya setelah Nadia memutuskan sambungan ponselnya secara sepihak.


Valenzi memukul lantai putih pualam dengan keras. Meluapkan segala rasa sakitnya di sana. Valenzi menggigit bibirnya, dengan tangis yang terus memenuhi kamarnya.


Dor!


Valenzi menghentikan isak tangisnya, meskipun masih tergugu. Jantungnya berpacu lebih cepat, deru napasnya pun terdengar tak beraturan. Valenzi enggan menoleh ke belakang, tiba-tiba ia merasa lemas di sekujur tubuhnya.


"SELAMAT ULANG TAHUN MAMA MUDA!!"


Valenzi membelalak. Dengan cepat dia menoleh dan melihat kedua gadis yang tertawa riang di ambang pintu.


Valenzi menarik kedua ujung bibirnya ke bawah, dan kembali menangis.


Kurang ajar, batinnya. Namun, sesaat kemudian, air matanya yang jatuh bukan lagi perwakilan dari hatinya yang hancur, tapi hatinya yang merasa tersentuh dengan kehadiran dari kedua sahabatnya.


"Cengeng, lo!" ucap Karina, menoyor kepala Valenzi yang sudah ada di pelukannya.


Valenzi kembali melihat ponselnya yang berdering. Kali ini dia mengangkatnya sedikit lama.


"Angkat, dong," ucap Putri.


"Biarin. Orang kurang ajar kayak dia itu, harusnya dipiting."


Putri dan Karina hanya tertawa melihat Valenzi yang kali ini terlihat amat kesal.


Karena tidak tega, Valenzi mengangkat panggilan dari Nadia.


"Kurang ajar lo sama, gue."


"Gue mau ngucapin habede baik-baik, Zi."


"Yaudah buruan."


"Video call aja ya, Zi."


"Lah, kan jadi pengen ikut ngumpul, ih."


"Buruan katanya mau ngucapin habede ke gue!"


"Habede Mama muda! Maafin gue gak bisa ikut kumpul bareng kalian."


"Gak usah sok sedih, barusan aja marah-marah ke gue."


"Yang itu becanda kali, Zi."


"Eh, ngomong-ngomong. Kalian kok tau?" tanya Valenzi.


...🍁...

__ADS_1


...salam,...


...Ika & Anggitya...


__ADS_2