[[Love To Life]]

[[Love To Life]]
LTL Part 5


__ADS_3

Setiap hari sikap Raka semakin terlihat tidak peduli kepada Valenzi. Sikapnya benar-benar sedingin es. Valenzi selalu berusaha melakukan banyak hal, agar Raka luluh. Setidaknya mau berbicara kepadanya, bukan malah seperti patung berjalan. Tapi, tetap saja tidak pernah berhasil. Jika dikatakan lelah, Valenzi sudah amat lelah dengan semuanya. Tapi, apa boleh buat? Semesta memberikan takdir yang seolah-olah seperti kutukan untuknya.


Pagi hari Valenzi terbangun dari tidurnya, dia meraba meja nakas, mengetuk layar ponsel sebanyak dua kali, hanya untuk melihat jam. Di dalam dirinya sudah terpasang alarm otomatis, dia selalu bisa bangun pagi setiap hari.


Valenzi meraih celemek pastel, dan memulai aksinya di dapur. Valenzi memasak menu sesuai yang diberitahukan oleh Riri. Makanan kesukaan Raka, karena ini adalah salah satu cara meluluhkan hati Raka, pikir Valenzi.


Raka yang sudah mengenakan pakaian rapi, lengkap dengan tasnya, berjalan menuruni anak tangga, dan menghampiri meja makan.


Sarapan mereka berdua hanya di isi dengan suara dentingan sendok dengan dasar piring. Tidak ada pembicaraan hangat di antara pasangan suami istri ini.


Valenzi mengunyah makanannya dengan senyum getir. Dia tidak berani mengangkat wajahnya. Sekali saja ia mengangkat wajahnya sekarang, mungkin air matanya akan menerobos jatuh tanpa seizinnya.


Melihat Raka yang beranjak dari duduknya, Valenzi cepat-cepat menghampiri Raka. Mengambil alih tasnya, dan mengantar suaminya ke depan pintu rumah.


Meski tak ada tanggapan dari Raka, setidaknya Valenzi sudah sedikit demi sedikit mengambil peran istri yang baik.


Menunggu Raka pulang dari kantor, adalah saat-saat paling membosankan. Jika dia sudah selesai membersihkan rumah, tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dia kerjakan. Semenjak Valenzi menjadi seorang istri, pekerjaan adalah sesuatu yang bisa menghilangkan kebosanan.


Setelah itu ia mandi dan bersiap-siap menuju ke rumah mertuanya dahulu yaitu orang tuanya Raka, dia ke sana naik taksi, tidak lama kemudian Valenzi sampai


Tok tok tok


Valenzi mengetuk pintu rumahnya.


"Eh Zizi, ada apa? Tumben, kok ke sini?"


"Enggak ada apa-apa kok, Ma. Kangen aja, hehe. Oh iya, nih, Ma. Aku buat kue tadi."


"Wah ..., yaudah yuk masuk. Raka di mana?"


"Kerja, Ma."


Keduanya berjalan memasuki rumah.


Valenzi sempat tersenyum lega. Dulu, di sini kebebasannya dimulai. Dan di sini juga kebebasannya direnggut.


"Ada apa, Zi? Ayo sini!" ucap Diana yang melihat Valenzi masih terdiam di ruang tamu.


Valenzi berjalan menghampiri Diana yang sudah membuka bingkisan yang dia bawa.


"Gimana, Ma. Enak, 'kan?"


Diana mengangguk dengan senyum yang mengembang.


"Anak Mama udah jago masak, nih," goda Diana.


Valenzi hanya tersenyum malu, dan berjalan mengelilingi dapur. Hanya sekedar berkeliling saja, rasanya dia sudah amat rindu dengan tempat ini.


"Gimana? Enak 'kan menikah itu?"


Valenzi menoleh dan tersenyum miris


"Jadi istri yang baik ya Nak, jangan durhaka sama suami," lanjut Diana.


"Iya, Ma"


Tidak ada kata selain 'iya' yang bisa Valenzi ucapkan.


Setelahnya, mereka berdua larut dengan pembicaraan layaknya seorang ibu dan anak yang sudah lama tidak bertemu.


Valenzi menumpahkan segala yang dia rasa, kecuali rumah tangganya. Dia menumpahkan segala keriduannya kepada Diana.


"Oh iya, Zi ...."

__ADS_1


"Iya, Ma?"


"Beberapa hari lalu, teman kamu telfon ke rumah."


Valenzi terkejut. "Mama angkat?"


Diana mengangguk. "Dia bilang, katanya kita lagi liburan."


Valenzi menelan ludahnya susah payah. "Jadi ..., Mama jawab apa?"


"Mama jawab iya. Tapi Mama sama Papa pulang duluan, dan kamu masih liburan."


Valenzi melemaskan kedua pundaknya. "Makasih, Ma."


Diana mengangguk. "Kenapa, sih? Kenapa gak kamu kasih tau aja mereka? Mereka 'kan sahabat kamu. Mereka juga bakalan paham sama keadaan kamu, kok."


Valenzi menggeleng lemah. "Zizi gak tau, Ma. Zizi gak tau kenapa Zizi harus bohong sama mereka. Zizi cuma takut mereka ikutan susah gara-gara Zizi."


Diana yang mengerti keadaan putrinya itu mendekat dan merengkuh Valenzi dari samping.


"Jangan sedih, ada Mama, ada Papa, ada Mama Riri, Papa Bagas, dan tentunya suami kamu, Raka. Kalo suatu saat mereka tau, Mama yakin, sahabat-sahabat kamu bakal ngertiin kamu. Mereka bakalan ngerti keadaan kamu."


"Zizi gak tau harus cerita sama siapa lagi, Ma. Zizi udah gak kuat," batinnya.


Valenzi menutup erat kedua matanya. Berusaha menahan air matanya. Dia terus mengontrol emosinya. Dia tidak boleh menjatuhkan air mata di depan kedua orang tuanya.


"Ah iya, Zi. Mama hampir lupa. Mama punya bola-bola ubi. Mama kangen sama kamu, jadi Mama beli makanan kesukaan kamu."


"Beneran, Ma?" tanya Valenzi dengan suara yang sedikit serak.


Diana mengangguk antusias.


Valenzi yang tak kalah antusias, terus mengekori Diana yang berjalan kembali ke dapur, dan membuka kulkas besar di depannya.


Valenzi menerima satu box bola ubi dari Diana dengan senyum lebarnya. "Kenapa gak dianterin ke rumah Zizi aja, Ma?" keluhnya.


"Kata Mama Riri kamu udah pindahan. Mama mana tau alamat rumah kamu."


Valenzi terkekeh di sela-sela kunyahannya. "Mama Riri sama Papa Bagas juga tau kok, Ma. Kan Papa Bagas yang ngasih rumah buat Zizi sama Raka."


Valenzi semakin asik memakan bola ubi kesukaannya, tanpa menyadari perubahan raut wajah Diana.


"Mama gak mau-- Mama kenapa?" tanyanya.


"Maafin Mama sama Papa, ya, Zi. Mama sama Papa gak bisa ngasih kamu sama Raka apapun," ucap Diana sembari menundukkan kepalanya.


"Ma ..., maksud Zizi bukan kayak gitu. Mama jangan sedih, restu Mama sama Papa yang paling utama, Ma."


"Jika bukan karena kamu, mungkin perusahaan Papa sudah hancur, Zi."


"Ma ..., Zizi udah bahagia sekarang, dan perusahaan Papa kembali baik-baik aja. Semuanya udah bahagia, Ma."


Valenzi mati-matian menahan puluhan tetes air mata yang terus mendesak kelopak matanya.


Valenzi menarik Diana ke dalam pelukannya.


"Ma ..., kasih sayang Mama sama Papa bahkan gak sebanding dengan apa yang Mama Riri dan Papa Bagas kasih buat kita berdua. Mama jangan pernah ngerasa gak enak sama Zizi ataupun Raka. Kita berdua sayang sama kalian, tanpa membedakan siapapun."


Diana membalas pelukan Valenzi tanpa menjawab apapun.


Diana lega dengan apa yang dia dengar. Mendengar jika putrinya bahagia, adalah satu kebahagiaan yang tidak sebanding dengan harta apapun.


Meski dibalik semua ucapan Valenzi, dia menutup rapat kehidupan keluarganya yang jauh dari kata bahagia.

__ADS_1


"Eum ..., Ma, aku pulang dulu ya, udah sore. Takutnya Raka pulang aku belum masak."


Diana mengangguk, dan mengantar putrinya ke depan rumah. "Kamu pulang sama supir, mau?" tawar Diana.


Valenzi menggeleng. "Zizi udah pesen taksi online, Ma!" ucapnya dari halaman rumah.


Diana melambaikan tangannya ke arah Valenzi yang kemudian disambut dan dibalas oleh putrinya.


Valenzi memutuskan untuk berhenti sebentar di _supermarket_ terdekat. Untung dia ingat dengan bahan makanan yang sudah ada yang habis di rumah.


Valenzi tiba di rumah, sudah cukup petang. Tapi masih ada waktu untuk memasak makanan kesukaan Raka, seperti biasanya.


Valenzi menyempatkan untuk pergi membersihkan dirinya, sebelum dia memasak.


Dia melirik jam dinding, dan sesegera mungkin menyiapkan makan malam untuknya, juga suaminya.


Tepat saat dia melepas celemek pastelnya, suara pintu terbuka. Valenzi menoleh, mendapati Raka yang tengah menaruh sepatunya di rak.


Valenzi berjalan menghampiri Raka dengan senyum hangatnya, yang tidak pernah dilirik oleh Raka.


Valenzi menerima tas juga jas yang Raka berikan, dan segera memasukkan jasnya ke dalam keranjang pakaian kotor, serta tasnya ke dalam kamar.


Seperti biasa, mereka menyantap hidangan mereka dalam diam. Tidak ada yang bersuara diantara mereka.


Raka mengakhiri makan malamnya, dan langsung beranjak menuju ruang kerjanya.


Valenzi yang memperhatikan Raka yang berjalan menjauh darinya, hanya bisa tersenyum getir. Menatap makanannya yang masih tersisa banyak dengan nanar. Sikap Raka menghilangkan nafsu makan Valenzi.


Setelah satu tarikan napas panjang, Valenzi membereskan piring kotor dan membuatkan secangkir teh hangat untuk suaminya.


Valenzi masuk ke dalam ruangan Raka. "Ini, aku buatkan teh hangat," ucapnya, sembari meletakkan cangkir yang dia bawa di atas meja kerja Raka.


Raka hanya bergumam tanpa menatap Valenzi, atau hanya sekedar mengucapkan terimakasih pun tidak.


Valenzi berjalan menuju sofa, merapikan selimut tebal, juga bantal yang terlihat berantakan di sana.


Dia yakin, suaminya akan tidur di tempat ini lagi.


Valenzi berjalan keluar ruangan setelah menoleh sekali ke arah suaminya yang masih saja sibuk mengecek berkas-berkasnya.


Seperti malam-malam yang lalu, Valenzi akan mengawali tidur malamnya dengan air mata.


"Raka..., tunggu bentar,"


Raka tidak menjawab ataupun berbalik. Tapi dia menghentikan langkahnya sebagai respon.


Valenzi yang tengah mengelap gelas, beranjak mendekati Raka dan berhenti di hadapannya.


Jarak di antara keduanya hanya tersisa 10 cm saja. Jarak Valenzi sangat dekat dengan Raka. Bahkan hembusan napas Raka terasa di dahinya.


"Nah, udah rapi," ucapnya. Kemudian Valenzi mendongak. Melihat tatapan Raka yang terarah kepadanya.


Mereka berdua tertahan dengan posisi seperti itu selama beberapa menit, sebelum Raka memutuskan kontak matanya dengan Valenzi.


Raka berjalan terlebih dahulu ke depan, dan Valenzi terus mengekorinya dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Kok gue, deg-degan," gumamnya, setelah melihat mobil Raka keluar dari halaman.


...🍁...


...salam,...


...Ika & Anggitya...

__ADS_1


__ADS_2