![[[Love To Life]]](https://asset.asean.biz.id/--love-to-life--.webp)
"Emang lo pikir kita ****?"
"Enggak. Tapi **** banget," jawab Valenzi.
Putri dan Karina mencibir. "Kita tau dari Nadia."
Valenzi terdiam sejenak. "Kok, bisa tau?"
Putri mengangguk. Sedangkan Karina tengah sibuk dengan camilan yang masih dia pilih dari dalam lemari pendingin milik Valenzi.
"Katanya sih, bokap Nadia rekan bisnis mertua lo. Ya ..., udah kaya temen deket gitu."
Valenzi kembali mengingat dimana dia mengenakan gaun putih, dan Raka mengenakan setelan jas berwarna hitam.
Valenzi larut dengan pikirannya, sehingga dia terlihat melamun cukup lama.
"Dor!"
Valenzi mengerjap, menoleh ke arah Putri.
"Ngalamunin apaan, sih?" tanya Putri. Valenzi hanya menggeleng sebagai respon.
Setelah Karina datang dengan membawa banyak camilan, ketiganya larut dalam pembicaraan hangat. Saat-saat yang sudah lama Valenzi rindukan, dia bisa tertawa dengan lepas bersama ketiga sahabatnya, bertukar cerita bersama mereka.
Dengan kebohongan yang sudah Valenzi ciptakan, hubungan keempatnya tidak bercelah sedikitpun, justru terlihat semakin erat.
"Zi ..., kita pamit, ya."
Valenzi mengangguk. Dia mengantar kedua sahabatnya ke depan pintu rumah.
"Ah, padahal mau liat suami Zizi kaya apa. Kalo ganteng kan-"
"Mau lo embat, gitu?" sergah Karina, sambil menoyor kepala Putri yang mengaduh kesakitan.
"Temen lo nih, melihara laba-laba kok di otak," kata Karina mengadu.
Valenzi terkekeh. "Suami gue pulangnya malem, mau nunggu?"
"Gak ah. Nunggu kok suami orang. Kita balik, Zi. Dadah," kata Karina, yang berjalan lebih dahulu menghampiri Santa Fe berwarna purple wine miliknya.
Valenzi melambaikan tangannya ketika melihat Karina dan Putri menyembul dari balik kaca mobil.
Valenzi kembali ke dalam rumah, juga menutup pintunya.
Valenzi kembali ke kamarnya, membereskan kekacauan yang kedua sahabatnya tinggalkan.
Valenzi cukup berkeringat, padahal dia hanya membereskan kamarnya saja. Membuang sampah-sampah plastik, menata kursi dan bean bag jumbo ke tempat yang semestinya. Menata kasurnya agar enak dilihat, dan menyapu kamarnya.
Valenzi memutuskan untuk membersihkan dirinya. Kemudian turun ke dapur, menyiapkan makan malam untuk dirinya juga suaminya.
Hari ini mba Marni tidak dia suruh datang, meski dia tahu Raka akan pulang larut malam ini. Dia hanya ingin menjadi istri yang baik, dan melayani suami sepenuhnya.
Valenzi masih menunggu suaminya di meja makan, sambil terus melirik ke arah jam dinding.
Malam sudah semakin larut, sudah berulang kali pula Valenzi menguap. Dia menopang kedua pipinya menggunakan tangannya. Matanya terasa amat berat.
Valenzi tertidur di meja makan, saat pintu rumah terbuka.
Raka melihat istrinya yang tertidur di meja makan, dia pun segera menghampirinya. Namun, kakinya tak sengaja menendang vas besar di sudut ruangan saat ia meletakkan sepatunya. Sontak hal itu membuat Valenzi terbangun.
Valenzi terlihat mengerjapkan matanya berulang kali, menatap Raka yang mendekat dengan mata yang memicing.
Setelah memastikan jika itu suaminya, dengan sigap Valenzi menghampiri Raka dan mengambil alih tas juga jasnya. "Kamu tunggu di meja makan, nanti biar aku siapin makan malamnya."
Tidak sampai 3 menit Valenzi sudah kembali berada di dapur setelah meletakkan jas ke dalam keranjang cucian, dan tas Raka ke dalam kamar.
__ADS_1
Valenzi sibuk memanaskan makan malam Raka di dalam microwave.
Valenzi menunggui Raka yang tengah menyantap makan malamnya dengan diam. Tidak pernah sekalipun Raka terlihat mencuri pandang kepada Valenzi. Hingga terbesit rasa di dalam hati Valenzi, dia amat ingin berbicara dengan suaminya. Membahas pekerjaan suaminya, pekerjaannya di rumah, dan banyak hal.
"Raka ..., kantor kamu, gimana?" tanya Valenzi takut-takut.
Tidak ada jawaban dari Raka, dia sibuk mengunyah makanannya yang ada di dalam mulutnya.
Valenzi menggigit bibir bawahnya. Dia berharap agar yang dia lakukan ini benar.
"Raka ...-"
"Bisa diem gak, si!" bentak Raka.
Valenzi yang terkejut dengan respon Raka, semakin menciut dan menundukkan kepalanya merasa seolah dirinya yang patut disalahkan.
Raka pergi tanpa menghabiskan makanannya. Dia berlalu begitu saja meninggalkan Valenzi dengan berkali-kali lipat rasa sakit.
Valenzi tersenyum kecut, dan membereskan piring juga gelas yang Raka pakai.
Valenzi menarik nafas panjang dengan satu tarikan. Semakin hari, rasanya semakin dia merasa tidak betah tinggal di rumah seperti ini. Mungkin bagi orang lain 'Rumahku Istanaku' itu benar. Tapi tidak bagi Valenzi. Rumah tempat tinggalnya ini, juga rumah tangganya ini seperti jeruji besi. Tidak ada hal membahagiakan untuknya, yang ada hanya hal-hal yang menyesakkan.
Valenzi mengambil satu cangkir bersih, dan mulai membuat teh untuk Raka. Apapun yang Raka lakukan, Valenzi adalah istri Raka. Seorang istri yang sudah seharusnya mengabdi kepada suaminya.
Meskipun tak luput rasa sakit yang diberi Raka akan bertahan setidaknya selama 2-3 hari baginya. Tapi sungguh, hal itu tidak bisa menghalangi Valenzi untuk tidak mengabdi kepada suaminya.
Valenzi selesai membuat tehnya, dia terdiam sesaat. Menarik nafas panjang dan membuangnya secara perlahan. Dan setelahnya dia melangkah menuju ruang kerja Raka.
Valenzi mengetuk pintu kayu dengan cat warna coklat mengkilat di hadapannya dengan lembut sebanyak tiga kali. Kemudian membukanya perlahan.
Sekarang, dia sudah sepenuhnya berada di ruang kerja suaminya. Dia melihat Raka yang tengah sibuk dengan monitor komputernya. Kedua alisnya beradu, seperti sedang membaca sesuatu yang amat serius.
Valenzi berjalan dan meletakkan secangkir teh yang dia bawa di atas meja kerja suaminya.
"Gak usah dirapihin."
Valenzi menoleh, dia masih melihat suaminya yang masih dengan wajah seriusnya menatap monitor.
"Beneran?" tanya Valenzi. Dan dijawab gumaman oleh Raka.
Valenzi mengangguk singkat, dan berjalan keluar dari ruangan Raka.
Malam ini sudah terlalu larut bagi Valenzi. Biasanya selesai membereskan semuanya, Valenzi akan tertidur pukul 22.00, tapi sekarang, pukul 23.30 saja dia belum beranjak tidur.
Karena suaminya pulang terlalu larut, jam tidurnya jadi berantakan. Valenzi segera berbaring di atas kasur, dan menutup matanya.
...🍁...
Mentari menyapa Valenzi melalui celah di jendela besar kamarnya.
Valenzi menggeliat kecil sebelum turun dari kasur.
Dia terkejut dengan apa yang dia lihat. Jadi, kemarin malam saat Raka mencegahnya untuk merapikan selimut juga bantal, Raka tidur di kamar?
Valenzi menghampiri Raka yang masih terbalut selimut tebalnya di atas sofa lipat.
Meskipun begitu, pagi Valenzi masih sama dan akan terus sama, melayani suaminya. Menyiapkan sarapan lalu mengantarkannya ke depan pintu rumah.
Valenzi kembali ke kamarnya untuk beristirahat setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah.
Valenzi tiba di kamar, dan langsung duduk di tepi kasur. Dia memegangi bahunya yang terasa sedikit pegal karena kelelahan.
Valenzi beranjak dan mengambil kotak P3K, mencari krim pereda nyeri.
Saat dia sibuk mencari, tiba-tiba sebuah kertas jatuh tak jauh dari dirinya. Sepertinya dia tidak sengaja menggesernya, dan membuatnya terjatuh.
__ADS_1
Valenzi menatap sebentar kertas kusam yang terjatuh di atas lantai itu. Cukup lama sebelum dia memutuskan untuk mengambilnya.
Valenzi memicingkan kedua matanya. Menatap lekat ke arah kertas foto yang ada di genggamannya.
Valenzi kembali ke kasur, setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Belum sempat mengoleskan krim, Valenzi sudah terlanjur larut dengan kertas foto itu.
Dia masih mencoba untuk mengingat sesuatu. Sepertinya dulu dia yang membawa kertas itu. Kertas yang dia temukan di gudang, bersama bi Asih.
Ya. Kali ini Valenzi mengingatnya. Dia menyimpan kertas foto itu agar satu waktu dia bisa melihat dan mengamatinya.
Valenzi cukup lama melihat kertas foto yang masih dia genggam.
"Ini, Raka?" gumamnya.
"Terus, ini siapa?" ucapnya bermonolog.
Valenzi terus mencocokkan wajah dua anak laki-laki yang saling merangkul di dalam foto tersebut.
"Iya. Ini Raka. Lucu banget, ih."
Valenzi masih terus mengamati foto itu, tapi hanya wajah lucu Raka yang terus dia pikirkan.
Valenzi menoleh saat bel pintu rumahnya dibunyikan. Valenzi meraih ponselnya, mengecek CCTV di teras depan. Valenzi melihat seorang wanita membawa sebuah kotak lumayan besar.
Valenzi menyimpan kertas foto itu di dalam kotak P3K kembali. Dan bergegas turun menghampiri pintu rumah.
Valenzi membuka kamera bel rumahnya.
"Siapa?"
"Oh, selamat siang, Bu. Saya dari Naura's boutique. Saya disuruh untuk mengantar ini untuk Ibu."
"Baik, sebentar."
Valenzi meletakkan ibu jarinya pada door handle, dan menghampiri wanita yang membawa kotak tersebut.
"Ini, Bu."
"Oh, terimakasih. Kalau boleh tau, ini dari siapa ya, Mba?" tanya Valenzi.
"Pak Raka, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu, Bu."
Valenzi mengangguk. Dan kembali ke dalam rumah dengan kotak yang ada di pelukannya.
Otak Valenzi terus dia paksa untuk berpikir. "Kok, tiba-tiba ngasih ginian?" gumamnya.
Valenzi membuka kotak yang beberapa saat lalu dia bawa ke kamar.
Ada dua kotak di dalamnya.
Valenzi membuka salah satu kotak yang lebih kecil.
Valenzi terdiam, dan mengambil isinya. "Dress?" gumamnya.
Belum selesai sampai di situ. Tangannya berganti meraih kotak yang lebih besar, dan membukanya. "Heels?"
Valenzi sempat bertanya-tanya sebelum dia mendapati sebuah kertas yang terselip di atas kotak besar.
...🍁...
...salam,...
...Ika & Anggitya...
__ADS_1