![[[Love To Life]]](https://asset.asean.biz.id/--love-to-life--.webp)
'Acara garden party client. Jam 8.'
Pesan singkat yang sangat berefek pada dirinya.
Valenzi membaca secara berulang-ulang kalimat yang ditulis suaminya. Membayangkan jika suaminya yang berbicara langsung kepadanya. Hanya membayangkan saja sudah membuat Valenzi merona, apalagi jika hal itu terjadi sungguhan?
Valenzi melirik jam dinding. Dua jam lagi, suaminya akan pulang dari kantor. Untuk hari-hari penting seperti ini, Raka tidak akan memutuskan untuk bekerja hingga larut, dia akan pulang sesuai jamnya, jam 18.30 malam. Itu pun jika tidak terjebak macet.
Valenzi mencoba dress dari Raka. Sepuluh menit Valenzi tersenyum di depan cermin besar. Berulang kali berputar untuk mematutkan dirinya sendiri. Apalagi saat dia berpikir jika Raka sengaja memilihkan dress ini untuknya, dress selutut berwarna blue sky, dan heels yang senada.
Valenzi terus menebarkan senyumannya, hingga dia selesai menyajikan makan malam.
Hari ini, Raka pulang tepat waktu. Valenzi dengan segera menghampiri Raka yang sudah menenteng jas juga tasnya saat masuk ke dalam rumah.
Raka mengikutinya ke dalam kamar.
Valenzi yang sadar kehadiran Raka, menoleh. "Kamu, mau makan dulu?" tanyanya.
Raka hanya mengangguk singkat, dan melepaskan dasinya.
"Aku udah siapin di meja makan. Aku mau siapin pakaian kamu dulu," kata Valenzi.
Raka mengangguk singkat, dan berjalan turun menuju meja makan.
Valenzi masih sibuk di lemari, dia sibuk menyiapkan baju untuk suaminya. Dan setelah selesai, dia pergi dari kamar dan menyusul suaminya yang sudah selesai makan malam.
Valenzi dan Raka berpapasan di anak tangga. Valenzi hendak membuka mulut, namun Raka berjalan begitu saja melewatinya, seperti tak melewati apapun.
Valenzi yang menyadari hal itu hanya mengalihkan pandangannya, dan tersenyum kecut. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Dia harus selalu menguatkan hatinya, agar tidak selalu merasa sakit dengan hal-hal kecil seperti itu.
Valenzi mengenyahkan rasa sakit yang mulai menjalar di hatinya. Dia melanjutkan langkahnya, dan membereskan meja makan, juga mencuci piring Raka.
Dirinya tertahan cukup lama di dalam dapur. Pikirannya sibuk ke sana ke mari mencari kesalahan dirinya. Mencari sesuatu yang mungkin dia lewatkan, hingga membuat Raka seolah membenci dirinya.
Tatapan Valenzi kosong menatap ke depan lepas. Kali ini tidak ada air mata yang mengiringi. Dia hanya menatap kosong dengan mata yang menyendu.
Lamunannya buyar, saat mendengar suara langkah kaki yang berjalan pada anak tangga.
Valenzi mendongak, melihat Raka yang mengenakan kaos polos hitam, dan juga celana selutut berwarna hitam.
Raka menoleh ke arah Valenzi sesaat, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang santai.
Raka menyempatkan dirinya untuk menonton televisi. Terlepas dari tugasnya yang berat, dan pekerjaan yang menumpuk, Raka juga ingin merasa santai, dan melakukan kegiatan sesuka dirinya.
__ADS_1
Terlintas di hati Valenzi untuk menghampiri Raka, namun, dia menahan diri dan menuruti egonya.
Valenzi justru pergi ke kamarnya. Meraih ponsel di atas meja nakas, dan mengetuknya sebanyak 2 kali.
Sudah pukul 19.00, Valenzi segera bersiap. Memakai dress dan heels pemberian Raka, mengubah style rambutnya agar senada dengan dress yang dia pakai, dan tidak lupa dengan polesan make up tipis di wajahnya.
Raka sudah sejak sepuluh menit yang lalu selesai bersiap, dia menunggu Valenzi di ruang tamu.
Valenzi segera menyambar tas kecilnya, dan turun menghampiri suaminya.
Raka mendengar suara heels yang beradu dengan anak tangga menoleh. Dirinya menatap lekat Valenzi hingga Valenzi sampai tepat di hadapannya. Dia melihat istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Valenzi yang sudah mengharapkan pujian dari Raka itu tak henti-hentinya tersenyum di depan suaminya.
Hening beberapa saat. Lalu Raka berjalan mendahului Valenzi yang masih berdiri dengan senyum yang perlahan memudar.
"Ternyata susah, ya," gumamnya. Dan segera menyusul langkah Raka yang semakin menjauh darinya.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil, tidak ada pembicaraan apapun. Valenzi sibuk melihat sekeliling kota, menyibukkan dirinya agar tidak merasa sakit hati karena tidak pernah ada kepedulian dari Raka untuknya.
Mereka sampai, dari kejauhan sudah terlihat dimana lampu-lampu yang dipasang indah untuk menerangi tempat itu.
Valenzi dan Raka turun dari mobil setelah Raka selesai parkir. Valenzi mendekat ke arah Raka yang berdiri di seberangnya.
Valenzi menatap lengan Raka dengan tatapan berbinar. Dengan hati-hati yang mengalungkan tangan kanannya di lengan Raka.
Mereka berdua berjalan dengan posisi seperti itu sejak dari parkiran.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh client Raka. Dengan cepat Valenzi beradaptasi dengan rekan-rekan Raka. Tak jarang Valenzi ikut larut di dalam pembicaraan Raka dan client-nya.
Valenzi dan Raka terpisah, Valenzi sibuk dengan istri dan rekan bisnis Raka, dan Raka sibuk dengan rekan bisnisnya.
Valenzi dengan leluasa tersenyum dan tertawa bersama orang-orang yang baru saja ia kenal.
Malam ini, Valenzi akan selalu mengingat, dimana setiap dia menoleh ke arah Raka, ternyata dia juga tengah melihat ke arahnya. Hanya saja, Raka langsung memalingkan wajahnya, seolah tengah sibuk berbincang dengan rekannya.
Malam yang cukup indah, yang mampu menyapu seluruh luka di hatinya.
Garden party itu berlangsung hingga larut. Namun, tak sampai usai, Raka sudah membawa Valenzi pulang.
Valenzi mengikuti suaminya, berjalan mengapit lengan Raka menuju parkiran.
Pesta yang cukup melelahkan. Valenzi tertidur kelelahan di mobil.
__ADS_1
Raka yang menyadari jika istrinya itu tertidur, sedikit menurunkan kecepatan laju mobilnya.
Raka mulai memikirkan sesuatu, dan hal yang tidak pernah dia ucapkan kepada siapapun, adalah dia mengakui jika istrinya sangat cantik.
Untuk sekedar membuka mulut di depan istrinya saja terasa sulit, apalagi memujinya.
Mereka berdua sudah sampai di garasi rumah. Raka sudah mematikan mesin mobilnya. Pun sudah melepas sealt belt yang dia pakai. Dia menoleh ke arah Valenzi yang tertidur amat pulas. Bagaimana caranya membangunkan Valenzi?
Raka membuka pintu di seberangnya. Menggendong Valenzi ala bridal style, dan membawanya ke kamar.
Raka menatap lekat wajah istrinya sebelum membantu melepas heels, juga menyelimutinya hingga sebatas leher.
Raka pun sama, mengganti pakaiannya, dan beranjak tidur di kamar yang sama dengan Valenzi. Hanya saja, dia tidur di atas sofa lipat dengan bantal dan juga selimut yang sudah istrinya siapkan.
Dirinya juga merasa bingung, kenapa Valenzi masih tahan dengan dirinya, padahal dia sudah amat kasar kepadanya.
Raka tertidur dengan membawa sejuta duka dan pertanyaan yang belum sempat terjawab. Kehadiran Valenzi seharusnya membuat Raka lupa dengan sesuatu yang membuatnya membenci dirinya sendiri. Dia seharusnya lebih merasa bahagia, bukannya malah lebih merasa tersiksa.
Satu bulir bening mengalir dari sudut mata Raka yang tertutup. Dan air mata itu, adalah awal dari mimpi buruknya kembali muncul.
"Jangan ..., tidak ..., tidak mungkin ..., TIDAK!!!"
Raka terbangun dan terduduk setelah meracau. Raka membuka matanya dengan nafas yang memburu juga keringat yang membanjiri tubuhnya.
Raka menghembuskan nafasnya perlahan. Dia meraih segelas air putih di meja, meminumnya hingga tandas.
Raka melihat ke atas kasur. Valenzi masih tertidur dengan lelap. Dirinya kembali menghembuskan nafas dengan berat.
Raka beranjak dan berjalan mendekati kotak P3K di lemari penyimpanan.
Raka membawanya ke atas sofa, dan mengambil beberapa obat penenang miliknya.
Namun, tangannya tak sengaja menyentuh sebuah kertas di dalamnya.
Raka meraihnya, dan membalik kertas kusam tersebut.
Matanya membelalak tidak percaya, nyaris desakan air mata di balik kelopaknya keluar.
Kenapa bisa ada di dalam sini? Batinnya.
...🍁...
...salam,...
__ADS_1
...Ika & Anggitya...