![[[Love To Life]]](https://asset.asean.biz.id/--love-to-life--.webp)
Valenzi menyibak selimut tebalnya. Dan beranjak duduk serta mengerjapkan matanya berkali-kali agar kesadarannya lekas kembali.
Valenzi merangkak dan menurunkan kedua kakinya dari kasur. Melangkah kecil menuju pintu balkon kamarnya. Dia membukanya dan berdiri di atas balkon kamar. Valenzi merentangkan kedua tangannya, menikmati kesiur angin yang menyapu wajah serta anak rambutnya.
Valenzi selalu menikmati pagi-pagi damai seperti ini, jika weekend tiba. Tanpa ada suara Diana yang berteriak lantang membangunkannya, dan tanpa kesibukan pagi yang lainnya. Dia sudah memimpikan setiap pagi yang damai seperti ini.
Tok... Tok... Tok... Tok...
Valenzi menoleh. Setelah mendengar ketukan lembut pada pintu kamarnya.
“Sarapannya sudah siap, Zi,” ucap Diana. Setelah mendapat anggukan dari Valenzi, Diana berlalu dari kamar Valenzi, dan tidak lupa menutup kembali pintu kamarnya.
Setelah satu tarikan nafas panjang, Valenzi memutuskan untuk menyusul Diana ke dapur. Menikmati sarapan lezat buatan Diana.
“Mama sekarang jadi hobi masak, ya, Ma?” tanya Valenzi sembari menuruni anak tangga. Matanya terus memperhatikan Diana dengan celemek pastelnya. Yang terlihat lihai bergerak ke sana kemari mengambil bahan masakan dan menyiapkannya .
Diana mengangguk, dan tersenyum ke arah putrinya yang sudah duduk memperhatikan. “Mulai saat ini, Mama yang akan membuat makanan,” ucapnya mantap.
Valenzi terkekeh melihat semangat Diana saat memasak. Bahkan anak rambut Diana dibiarkan menghalangi wajah cantiknya.
“Papa pulang ....” Diana dan Valenzi serempak menoleh ke arah pintu utama. Melihat pria paruh baya yang berjalan gontai menghampiri mereka berdua.
Dengan sigap, Diana menghampiri suaminya yang terlihat amat letih itu. Mengambil alih jas juga tasnya yang sudah sejak masuk rumah ditenteng di kedua tangannya.
“Papa mau ikut sarapan?” tanya Diana. Suaminya hanya menggeleng lesu.
Setelah menyapa Valenzi, dirinya langsung pergi ke kamar. Sepertinya membersihkan diri, lalu setelah itu pergi tidur.
Valenzi dan Diana tahu jika Reno pasti tadi malam tidak sempat tidur.
Pagi ini, setelah mereka selesai sarapan, langit menjatuhkan air yang mulanya jatuh perlahan, hingga tak beraturan menjadi deras.
Saat paling tepat untuk menikmati secangkir cokelat panas dan biskuit. Dan juga ditemani dengan novel favoritnya.
Valenzi sudah kembali ke kamarnya beberapa saat lalu. Dia kembali dengan membawa secangkir cokelat panas yang sudah ada di genggamannya sekarang. Dia kali ini tidak membuka pintu balkon, dia justru membuka tirai yang menutupi jendela besar kamarnya. Menyibaknya perlahan, dan menyeret bean bag besar. Kemudian menaruhnya di depan jendela yang mengarah ke halaman rumahnya yang luas.
Secangkir cokelat panas, dan sebuah buku novel di genggamannya, sudah cukup untuk menikmati suasana hujan pagi ini.
Valenzi hendak mengembalikan cangkir yang sudah tandas sejak tadi ke dapur. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara bising di dekat kamarnya. Valenzi menoleh ke kanan dan ke kiri, dan tatapannya jatuh kepada pintu kayu bercat putih yang berjarak beberapa meter dari kamarnya. Itu adalah kamar orang tua Valenzi.
“Kita tidak punya pilihan lain, Diana!”
“Semuanya terjadi begitu saja. Aku yakin dia bisa!”
“Dan aku yakin dia akan setuju.”
Samar-samar Valenzi mendengar suara papanya yang mengeras. Lalu setelah itu, tidak ada suara yang terdengar lagi. Daripada memperdulikan hal seperti itu, Valenzi kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Valenzi tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk apapun. Jika mereka bertengkar, pasti ada alasan dibalik itu semua. Atau mungkin, karena papanya tengah lelah, jadi emosinya mudah terpancing. Valenzi benar-benar tidak terlihat peduli akan hal seperti itu.
Hujan hari ini bertahan hingga malam. Banyak sekali aktivitas yang terganggu. Namun bagi Valenzi, aktivitasnya tak ada satupun yang terganggu.
Valenzi dan kedua orang tuanya kembali berkumpul saat makan malam.
“Oh iya, Zi. Tadi Mama lupa tanya. Hasil kelulusan kamu, gimana?”
Valenzi yang masih mengunyah, mengangguk mantap dengan tatapan berbinar. Diana dan Reno yang melihat itu terkekeh dan tak kalah antusias akan mendengarkan cerita dari putrinya itu.
“Valenzi lulus Ma, Pa. Putri, Nadia, sama Karina juga. Kita semua lulus. Dan nilai Zizi juga bagus, Ma,” ucapnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
“Oh, ya? Kamu mau lanjut sekolah di mana, sayang?” tanya Reno.
Valenzi menurunkan raut wajahnya. “Itu dia, Pa. Zizi bingung mau lanjut di mana.”
“Sudah-sudah, kita bahas lain kali saja, ya?” ucap Diana menengahi.
Makan malam mereka berakhir setelah beberapa kalimat saling mengucapkan selamat malam dengan sayang.
__ADS_1
Valenzi pergi ke kamarnya. Seharian ini dia hanya keluar kamar jika sarapan, makan siang, juga makan malam. Atau jika ada keperluan di dapur saja. Valenzi lebih senang bermalas-malasan ketika sedang hujan, daripada harus menyibukkan diri.
Saat dirinya tengah mengambil novel di atas meja belajarnya, ponselnya tiba-tiba berdering.
Valenzi menyambar ponsel yang tergeletak di atas kasur dan menekan tombol berwarna hijau yang tertera di layar ponsel.
“Halo, Zi.”
“Hm. Ada apa?”
“Lo di rumah?”
“Hm.”
“Keluar, yuk. Anak-anak katanya bosen, nih.”
“Males ah hujan. Di rumah aja. Daripada sakit ntar hujan-hujanan.”
“Ck. Iya juga, sih. Yaudah kita otw rumah lo, ya?”
“Ngapain, sih?”
“Minta makan.”
“Bawa duit. Gue beli makanan pake duit.”
“Perhitungan banget ya, sekarang."
Valenzi menjauhkan ponselnya. Dan memutuskan panggilannya sepihak.
Valenzi menggelengkan kepalanya. Dirinya meresa heran terhadap ketiga sahabatnya. Mereka bahkan sudah bersama selama 3 tahun, tapi ada saja tingkah mereka yang membuat Valenzi geleng kepala.
“Permisi, paket!”
Valenzi mendongak dan melihat ke arah pintu kamarnya. Melihat ketiga gadis yang langsung berlari ke arahnya seperti anak TK, melihat mainan bagus.
“Gue kalo jadi Zizi enggak bakalan keluar kamar satu minggu,” tutur Nadia. Sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur king size milik Valenzi.
“Bengek, Put.” Karina yang sejak tadi berdiri mondar-mandir di sisi kasur berhasil mengalihkan perhatian Valenzi.
“Kenapa, sih? Bisulan, lo?” tanya Valenzi.
“Ck. Gue lagi nyari mini kulkas lo, mana sih?”
Valenzi menghela nafas sebentar, lalu mengarahkan dagunya ke tembok dekat pintu kamar.
“Mana ada sejarahnya Valenzi punya mini kulkas,” ucap Nadia.
“Ada, tuh,” ujar Valenzi santai.
“Itu bukan mini, tapi oversized.” Ucapan Putri mengundang gelak tawa di antara mereka berempat.
Meskipun mereka sudah sering berkunjung ke rumah Valenzi, tetap saja, barang-barang Valenzi selalu menjadi perhatian mereka, dan terasa seperti hal yang selalu baru bagi mereka.
Karina melenggang pergi ke arah refrigerator oversized yang dibilang mini oleh Valenzi. Dan membukanya setelah berada tepat di depannya. Lemari pendingin yang memiliki tampilan mewah, memiliki 2 pintu yang memiliki sensor.
“Bujuk buset!” Karina sedikit terlonjak dari tempatnya semula.
“Apa sih, Kar?” tanya Nadia. Yang menjadi terduduk karena terkejut dengan pekikan Karina.
“Gue dateng, tiba-tiba kulkas ini nyala,” kata Karina, sembari membuka lemari pendingin di depannya.
“Gue kalo jadi Valenzi bisa obesitas sih, kalo kayak gini,” lanjut Karina. Dia mengambil beberapa camilan dan minuman ringan dari dalam sana.
“Mulut lo kayak abis dikasih oli baru ya, Kar. Banyak omong,” celetuk Putri, yang masih duduk nyaman di atas bean bag besar yang menghadap ke luar jendela.
Valenzi dan ketiga temannya menghabiskan waktu bersama hingga petang. Dan mereka akhirnya pulang setelah Karina mengadu jika dia kekenyangan.
__ADS_1
“Guys! Pulang skuy. Gabisa lama-lama di sini gue. Liat nih, perut gue udah melar,” adunya.
Ketiga temannya terkekeh dan pamit kepada pemilik rumah.
“Kita cabut, Zi. Gausah kangen. Kita enggak bakal pergi dari lo, kok.”
“Jangan ngomong kayak gitu. Jadi sedih entar,” ucap Putri menepuk pundak Nadia yang baru saja mengucapkan kalimat yang seolah-olah mereka tidak akan bertemu lagi.
“Udah, ah. Sana pergi,” usir Valenzi.
“Eh, kalian bawa mobil?” tanya Valenzi.
Ketiganya mengangguk. Lalu menunjuk Nadia. “Dia yang bawa, kita berdua sih, nebeng,” ucap Putri.
...🍁...
“Zi, ambilin Mama pisau dong, itu di depan kamu,” pinta Diana.
“Lah, bagaimana ceritanya pisau sampe ke ruang tamu?” gumam Valenzi. Dia beranjak mendekat ke arah Diana yang ada di dapur. Sama seperti jam-jam menjelang makan malam beberapa hari sebelumnya. Diana sudah sibuk meracik masakan di dapur.
“Selesai, Ma?” tanya Valenzi. Dia melihat Diana yang bertepuk tangan kecil diiringi wajah yang berbinar dan senyum yang melebar.
Diana mengangguk mantap. “Panggil Papa, Sayang,” titah Diana. Valenzi mengangguk, segera beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju ruang kerja Reno—papanya.
Setelah Vio mengetuk pelan pintu kayu berwarna cokelat mengkilat, dia membukanya perlahan. “Pa .... Makan malam sudah siap,” ucapnya sambil menyembulkan setengah badannya ke dalam ruangan.
Reno mengangguk dan tersenyum. Meski sudah amat kentara, wajahnya terlihat letih dan banyak pikiran, dirinya tidak pernah menyembunyikan senyumnya dari putri tersayangnya.
“Tadi, sepertinya ada teman-temanmu ke sini, Zi?” tanya Reno. Yang merupakan pembuka dari pembicaraan panjang malam ini.
Valenzi mengangguk.
“Ah .... Mama terlalu sibuk di dapur, jadi tidak menemui mereka,” keluh Diana.
“Iya. Semenjak Mama hobi memasak, semuanya dilupain,” kesal Valenzi.
Diana dan Reno terkekeh. Kemudian Valenzi yang melihat mereka jadi tertawa. Meja malam hari ini diisi dengan tawa renyah dari mereka bertiga.
Reno dan Diana saling pandang, sebelum keduanya menatap Valenzi lekat dengan sayang.
“Zi ....” panggil Reno.
Valenzi yang masih sibuk menyuapkan makanannya yang tinggal tersisa sedikit itu mendongak ke arah Reno.
“Kamu akan Papa jodohkan.”
Valenzi membeku. Dia masih menatap Reno dengan tatapan kosongnya.
"Zi ...-"
“Apa maksud Papa?” tanyanya.
Reno menghembuskan nafasnya yang terdengar berat sebelum melanjutkan ucapannya. “Perusahaan Papa bangkrut, Zi. Dan tidak ada cara lain selain menerima bantuan dari rekan bisnis Papa.”
“Jadi .... Urusannya sama Zizi apa?”
“Rekan bisnis Papa meminta agar putra tunggalnya dijodohkan denganmu.”
“Dan Papa menerimanya tanpa meminta izin dariku?!” Suara Valenzi terdengar bergetar, dan kedua matanya yang cantik sudah meloloskan bulir bening pertamanya.
“Ma .... Zizi enggak mau dijodohin,” rengeknya. Diana yang duduk di seberan Valenzi hanya bisa menutup mulutnya dengan telapak tangannya, menyembunyikan tangisnya yang sudah pecah.
“Pa. Zizi enggak mau,” rengeknya sekali lagi. Kali ini air matanya tumpah. Tubuhnya bergetar. Yang semula memberikan kebebasan kepadanya, hari ini kembali menarik kebebasan itu. Seakan kebebasannya adalah sebuah titipan semata.
“Kenapa harus aku yang menanggung beban berat ini?” batinnya.
...🍁...
__ADS_1
...Salam,...
...Ika & Anggitya...